
Di kediaman Dirgantara, Nayla rengah bermanja dengan sang ibunda. Ia teringat dengan perbincangannya bersama Maren mengenai penerus perusahaan beberapa waktu lalu.
"Kak, tadi siang aku ngobrol dengan Daddy, tentang penerus perusahaan!" Ucap Naren.
"Penerus perusahaan? Maksud abang apa?" Tanya Nayla mengernyit.
"Daddy bilang, kita boleh mengikuti apa pun yang kita inginkan sebelum terjun ke perusahaan!" Ucap Naren.
"Apa pun sebelum kita terjun ke perusahaan?" Tanya Nayla.
"Iya, kemungkinan aku dan Nizam akan berbagi tugas untuk mengurus perusahaan Daddy dan kamu akan mengurus perusahaan kakek!" Ucap Naren.
"Terus Noah, akan mengurus perusahaan Opa?" Tanya Nayla mengernyit.
"Iya, kita akan bekerja sama untuk mengatur tiga perusahaan beserta milik kakek dan nenek kita!" Ucap Naren lirih.
"Aku gak akan bisa, Bang. Kamu tau aku tidak sepintar dirimu!" Ucap Nayla menolak.
"Iya, tetapi semuanya masih bisa dipelajari, kak! Jangan bilang kalau kamu tidak ingin terjun ke Perusahaan?" Tanya Naren menatap Nayla dengan lekat.
"Aku gak tau, Bang," Ucap Nayla lirih.
"Kak, ayolah! Apa kamu tega membiarkan aku mengelola semua perusahaan itu sendiri?" Tanya Naren lirih.
"Bukan begitu, Bang. Aku hanya takut, bukannya membangun malah meruntuhkan nanti!" Ucap Nayla lirih.
"Kak, ayolah, kamu hanya tidak lebih pintar dariku. Kita cucu paling besar di keluarga ini, masih banyak waktu untuk belajar. Aku juga belum bisa!" Ucap Naren memohon.
"Akan aku pikirkan, Daddy bilang tidak akan memaksa kita untuk memilih kegiatan apa pun!" Ucap Nayla.
"Memang, itu bebas sebelum kita mendapatkan tugas untuk terjun ke perusahaan!" Ucap Naren.
Nayla terdiam, ia menonjolkan segala kepandaian yang ia miliki, namun tidak untuk Mengurus perushaan. Tetapi, ia juga tidak ingin membiarkan Naren kesulitan untuk mengurus semuanya sendiri.
"Kita bisa belajar bersama, Kak!" Ucap Naren menggenggam tangan Nayla.
"Baiklah. Kita harus bersiap mempelajari semuanya!" Ucap Nayla.
"Ini resiko kita terlahir dari keluarga kaya, Kak. Mendapatkan pendidikan sedikit berbeda dari siswa pada umumnya. Tapi bukankah ini menjadi sebuah kelebihan yang sangat menguntungkan. Dengan instan kita bisa menjadi orang yang cukup berkuasa!" Ucap Naren.
"Iya, abang benar. Kita harus mempersiapkan diri dari sekarang!" Ucap Nayla tersenyum.
"Ah, kamu memang kembaran terbaik! Aku menyayangimu, sangat menyayangimu!" Ucap Naren bernafas lega karena Nayla mau membantunya.
"Aku juga menyayangimu, Bang!" Ucap Nayla memeluk Naren dengan lembut.
__ADS_1
"Daddy akan mengadakan kelas pelajaran khusus untuk perusahaan setiap hari. Baik itu perusahaan Dirgantara Grub, perusahaan kakek, maupun perusahaan Ayah. Kita akan mempelajari itu semua!" Ucap Naren.
"Apa secepat ini?" Tanya Nayla terkejut.
"Pasrah, kak!" Ucap Naren terkekeh.
Nayla hanya bisa menghela nafasnya. Ingin ia menangis saat ini mengingat perkataan Naren tempo hari.
"Mommy?" Panggil Nayla lirih.
"Iya Sayang?" Ucap Safira mengelus kepala anak gadisnya dengan lembut.
"Bagaimana cara Mommy mempelajari semua hal tentang perusahaan?" Tanya Nayla.
"Mommy belajar bersama Daddy, Opa, sama Bunda, dan Oma juga! Kenapa sayang? Apa Daddy sudah membicarakan tentang penerus perusahaan?" Tanya Safira mengernyit
"Belum, Mommy. Hanya saja Naren mengatakan kalau nanti mau tidak mau, kami akan menjadi penerus perusahaan keluarga kita!" Ucap Nayla lirih.
Safira tersenyum, ia memang masih berdebat dengan Fajri tentang mengenalkan anak-anak dengan perusahaan dari kecil.
"Hidup kita memang berbeda dari yang lain, sayang. Bukankah Daddy bilang, kakak, abang dan adek-adek bebas untuk mengeksplorasi apapun yang kalian inginkan? Nah, disamping itu kakak juga harus siap siaga jika terjadi sesuatu di perusahaan. Seperti Bunda, ketika Opa sakit, dia harus mengambil alih perusahaan untuk di kelola. Padahal, Bunda itu tidak mau untuk mengelolanya, tetapi harus! Jadi, tidak ada alasan lagi untuk menolak!" Jelas Safira membuat Nayla terdiam.
"Makanya dari sekarang kakak belajar apa pun yang kakak inginkan asal tidak berbahaya. Pergunakan kesempatan ini dengan baik, sayang!" Sambung Safira.
"Kakak paham Mommy!" Ucap Nayla membenamkan kepalanya di pangkuan Safira.
Ia masih sangat tidak setuju dengan usulan Fajri mengingat anak-anak masih sangat kecil untuk mempelajari semua hal. Namun harus bagaimana lagi, ini sudah menjadi takdir mereka, lahir di dalam keluarga penguasa.
Tak lama Naren dan Nizam bergabung di ruang keluarga. Mereka mengobrol bersama termasuk membahas tentang pelajaran privat tentang perusahaan.
Walaupun berat, namun apa boleh buat. Mereka hanya bisa menerima semua hal tanpa bisa menolak atau pun mengatakan tidak.
Menjadi dewasa sebelum waktunya, untuk mempersiapkan diri demi masa yang akan datang.
πΊπΊ
Sementara dikediman Hartono, Noah masih setia memasang wajah dingin, datar bercampur kesal. Karena ayam yang ia tangkap tadi telah dipotong dan dimasak.
Ivanna dan yang lain sudah membujuknya sedari tadi, namun pria kecil itu masih diam dan tidak mendengarkan siapapun.
"Sayang ayolah, Kakek gak sengaja membunuhnya!" Ucap Ivanna lirih.
Noah tetap bungkam, bahkan ketika Hartono membawakan seekor ayam baru, namun pria kecil itu tetap menginginkan ayam yang ia tangkap tadi.
Pasalnya, ia melihat sang kakek menyembelih ayam itu dan membuatnya kesal setengah mati. Ingin rasanya ia memaki, namun mengingat pesan Sang ibunda yang melarang untuk berkata kasar membuat Noah lebih memilih untuk diam.
__ADS_1
Ia duduk di atas kasur sambil menopang dagunya. Menatap nanar kandang kosong yang sudah ia bawa dari rumah.
"Besok kita tangkap lagi ayamnya, ya!" Ucap Ivanna memeluk Noah.
"Gak mau!" Ucap pria kecil itu ketus.
"Aa', Kakek minta maaf ya! Kakek gak tau kalau Aa' yang menangkap ayamnya!" Ucap Hartono duduk di sebelah Noah.
"Harusnya kakek nanya dulu!" Ucap Noah mulai meluapkan kesalnya.
"Iya, Kakek salah. Maafin kakek ya!" Ucap Hartono memelas.
Noah tetap bungkam sambil menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Ivanna.
"Gini aja, besok Aa' boleh menangkap dan membawa ayam sebanyak yang Aa' mau, gimana?" Ucap Hartono.
Noah terdiam dan mulai berpikir dengan tawaran yang menggiurkan itu. Ia mulai tergoda, namun tidak semudah itu untuk membujuknya.
"Nanti ayamnya di sembelih lagi, terus dimakan!" Ucap Noah ketus.
"Ayam kalau di biarkan lama-lama nanti mati, Nak. Mubazir!" Ucap Hartono.
"Tapi itu termasuk kedalam bentuk penganiayaan, kek. Nanti kakek bisa masuk penjara karena membunuh hewan!" Ucap Noah.
"Astaga sayang, Ayam boleh di bunuh, nak. Yang ga boleh itu menyiksa!" Ucap Hartono frustrasi ketika Noah selalu memiliki jawaban untuk membalas ucapannya.
"Sayang, gak boleh seperti itu sama kakek!" Ucap Ivanna yang hampir saja tertawa.
"Hiks, tapi ayamnya lucu dan susah untuk di tangkap!" Ucap Noah mulai menangis.
Hartono kelabakan melihat air mata Noah yang mulai menetes. "Begini saja, besok Noah boleh menangkap ayam sebanyak-banyaknya sebagai ganti rugi. Tapi jangan marah lagi sama kakek!" Ucapnya memberikan penawaran.
"Seratus ekor ayam atau aku menolak!" Ucap Noah tergiur.
"Untuk apa nak?" Tanya Ivanna mengernyit.
"Untuk aku bagikan kepada orang yang membutuhkan, Bunda!" Ucap Noah.
"Baiklah! Besok kakek tambahkan jadi seratus lima puluh ekor!" Ucap Hartono.
Noah menatap pria paruh baya itu dengan lekat, "Deal!" Ucapnya mengulurkan tangan.
"Deal!" Ucap Hartono menjabat tangan kecil itu.
Jiwa-jiwa licik Ivanna menurun kepadanya dan membuat Noah bisa mendapatkan keuntungan lebih dari orang lain.
__ADS_1
Sementara Carenza hanya bisa menghela nafas melihat akal bulus Noah yang begitu pandai membuat siapa saja luluh dengan keinginannya.
Memang anak Ivanna banget! Padahal dulu aku yang ngidam!. Batin Carenza.