IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Perkara Ayam.


__ADS_3

Pagi menjelang, hari ini Carenza akan kembali menjalani terapi untuk yang kesekian kalinya. Walaupun sudah merasa sangat bosan, tetapi demi kesehatan, ia rela melakukannya.


Apa lagi ketika Noah selalu berkata, kenapa sang ayah tidak bisa berjalan seperti yang lainnya. Kondisi Carenza yang sulit untuk berjalan karena kerusakan yang terjadi semakin parah dan dua kali operasi dalam waktu dekat. Sehingga membutuhkan kesabaran agar bisa sebuh dari sakitnya.


Ivanna begitu sibuk untuk mengurus keperluan Carenza yang akan di bawa pagi ini. Sementara Noah kecil hanya menatap sang Bunda yang berlalu lalang di dihadapannya.


"Apa aku tidak boleh ikut, Bunda?" Tanya Noah.


"Tidak sayang, lokasinya ini gak boleh membawa anak-anak!" Ucap Ivanna. Ia menghampiri Noah dan berlutut menyamakan tinggi mereka. "Nanti kita pergi jalan-jalan habis pulang dari rumah sakit ya!" Ucap Ivanna tersenyum manis menatap sang anak.


Noah tersenyum tipis dengan telinga yang memerah karena melihaat senyum Ivanna yang begitu manis.


"Iya, Bunda!" Ucap Noah lirih.


"Ah, anak pintar bunda ini!" Ucap Ivanna gemas sambil mendaratkan kecupan hangat yang bertubi-tubi kepada Noah.


"Ayah juga mau di cium dong!" Ucap Carenza dengan manja.


"No! Gak boleh!" Ucap Noah posesif sambil memeluk Ivanna.


"Ih, dasar pelit!" Ucap Carenza cemberut.


"Hahah, Ayo kita kebawah!" Ucap Ivanna tersenyum.


Ia menggendong Noah dan meletakkannya di atas pangkuan Carenza lalu mendorong kursi roda itu dengan perlahan dan hati-hati.


Dengan manja, Noah bersandar pada dada bidang sang ayah sambil melihat dan membandingkan kuku jari mereka.


"Ah iya, Nanti nenek mau datang, sayang!" Ucap Carenza mengecup kepala.


"Iya, Ayah. Katanya Nenek membawa hadiah untukku!" Ucap Noah mengedikkan bahunya.


"Bagus dong. Nanti, kalau misalnya Aa' gak suka sama hadiahnya, Jangan sampai membuat nenek bersedih, okey!" Ucap Carenza dengan lembut.


"Okey Ayah!" Ucap Noah kembali bersandar di dada Carenza.


Ivanna tersenyum sambil mendorong kursi roda menuju lift.


Ting!


Kotak kaca itu membawa mereka ke lantai satu dan di sambut dengan teriakan Nayla yang tengah mengejar Nizam.


"Jangan lari kamu anak nakal!" Teriak Nayla ketika Nizam berlari kesana kemari.


"Haha, ayo tangkap aku kak! Haha!" Teriak Nizam tertawa.


Noah menatap mereka dengan cemburu, pasalnya jika ia mendekati Nayla pasti Nizam akan marah dan mereka akan bertengkar.


"Eh, Aa' mau kemana?" Tanya Nayla menghampiri mereka.


"Aku gak kemana-mana, Kak!" Ucap Noah datar.


"Kak, kenapa berhenti?" Ucap Nizam cemberut.


"Nah, dapat kamu!" Ucap Nayla menggendong Nizam.


"Hahaha, Ampun kak, ampun!" Ucap Nizam tertawa.


Noah hanya menatap adegan itu dengan sedih. Sungguh ia begitu ingin memiliki saudara perempuan seperti Nizam.

__ADS_1


"Sabar ya sayang, nanti kalau ayah sembuh, nanti Ayah dan Bunda akan kasih adik perempuan," Ucap Carenza menghibur Noah.


"Iya, Ayah!" Ucapnya lirih.


Ivanna tersenyum melihat Noah yang memilih untuk diam dan menghindari pertengkaran dengan saudaranya. Sudah banyak cara yang mereka lakukan, namun Nizam tetap tidak ingin mengalah untuk berbagi sang kakak.


Mereka menuju ruang keluarga sambil menunggu kedatangan Ibu, sebelum pergi ke rumah sakit. Noah dengan manja memeluk Ivanna namun tetap memasang wajah datarnya.


"Kenapa, sayang?" Tanya Ivanna tersenyum.


"Apa nenek lama datangnya, Bunda? Aku sudah tidak sabar!" Ucap Noah dengan telinga yang memerah.


"Sabar, ya. Sebentar lagi Nenek datang!" Ucap Ivanna tersenyum dan menggelitik perut Noah hingga pria kecil itu tertawa.


"Nenek datang!" Ucap Ibu alifa membawa sebuah keranjang.


Noah langsung bangkit dan menghampiri sang Nenek dan mencium tangan wanita patuh baya itu dengan lembut, diikuti oleh Nayla dan Nizam.


"Nenek apa kabar?" Tanya Noah datar sambil berdiri tegap dan mendongak menyapa Alifa.


"Nenek baik, sayang. Cucu-cucu nenek apa kabar?" Tanya Alifa mengelus kepala mereka bergantian.


"Baik, Nenek!" Ucap Mereka bersamaan.


"Syukurlah. Ah iya, Nenek bawa sesuatu untuk kalian. Yuk kita ke taman belakang!" Ucap Alifa tersenyum.


"Let's go!" Teriak mereka bersemangat.


Noah berbinar menunggu hadiah yang akan ia dapat nanti. Alifa berbincang sebentar bersama Ivanna sebelum berpamitan untuk pergi ke rumah sakit.


"Nenek bawa apa?" Tanya Nizam berbinar.


"Hehehe, Nenek membawa sesuatu yang sangat bagus, cantik dan mempesona!" Ucap Alifa berbinar.


Pptook, pptook!


Mereka terkejut mendengarkan suara itu. Termasuk Fajira yang sudah terkekeh ketika meneban apa yang tengah di bawa oleh besannya itu.


Ada dua orang yang datang sambil membawa beberapa keranjang dan beberapa buah kandang. Noah mengernyit, ia mulai menebak hadiah apa yang diberikan oleh sang Nenek tersayang.


"Apa Nenek membawa ayam?" Tanya Noah mengernyit.


"Iyap, Seratus Untuk Aa'!" Ucap Alifa terkekeh. "Ini bukan ayam sembarangan, sayang. Nenek membelinya diluar negeri!" Ucap Alifa terkekeh melihat ekspresi bocil-bocil itu.


Noah hanya terdiam dan menatap keranjang itu dengan tidak sabar. Ia tidak merasa kecewa dengan pemberian sang Nenek, karena ia begitu suka dengan binatang jenis apapun.


"Yang pertama! Ini ada Burung Merak Putih yang langka. Nenek dapatnya susah!" Ucap Alifa membuka sangkar yang cukup besar itu.


"Wah!" Ucap mereka begitu terpesona.


"Ijam mau, Nek!" Ucap Nizam berbinar.


"Boleh, sayang. Nanti kita rawat Bareng-bareng ya!" Ucap Alifa tersenyum. "Nah, yang kedua adalah ayam silkie!" sambungnya membuka kandang.


Wajah noah semakin berbinar ketika melihat sepasang ayam yang begitu cantik dengan bulu halus dan lebat cenderung terlihat seperti kucing.


"Aku mau ini, Nek! Aku mau ini!" Pekik Noah begitu senang.


"Boleh dong!" Alifa tersenyum melihat mereka begitu antusias. "Nah yang terakhir, ini anak ayam biasa cuma sudah di warnai bulunya!" sambungnya.

__ADS_1


"Nek, mereka lucu banget!" Ucap Nayla berbinar senang. Namun sebentar wajahnya langsung murung, mengingat ia tidak bisa memegang barang sembarangan.


"Kakak gak boleh pegang, Nak! Ayamnya belum steril," Ucap Fajira mengelus Kepala Nayla.


"Iya, Oma!" Ucapnya cemberut.


Noah mengambil anak ayam itu dengan sangat gemas. Wajahnya berbinar dengan senyum yang perlahan terbit.


Krek!


Piok, piok, piok!


Anak ayam itu memekik karena Noah menggenggamnya dengan begitu keras dan membuatnya tercekik.


"Eh, jangan di gituin sayang! Nanti ayamnya mati!" Ucap Alifa meringis.


Noah terdiam dengan rasa bersalah, ia menatap ayam itu dengan lekat. "Maaf ya, Ayam. Aku menyakitimu!" Ucap Noah mengecup kepala anak ayamnya.


Alifa dan Fajira menahan tawa melihat tingkah polos Noah. Ingin sekali mereka terkekeh, namun takut melukai hati pria kecil itu.


"Ayamnya jangan dicekik lagi ya, Sayang! Bagaimana kalau mereka mati?" Ucap Fajira tersenyum sambil mengelus kepala Noah.


"Oma, apa oma bisa mengobatinya?" Tanya Noah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Gak bisa, Sayang. Ayamnya gak papa, itu!" Ucap Fajira tersenyum.


"Hiks, nanti Ayamnya mati, Oma. Aku telfon Bunda dulu!" Ucap Noah berlari masuk dan meraih telepon rumah dan menelfon Ivanna.


"Halo, Bunda?" Ucap Noah ketika panggilan di angkat.


"Iya sayang? Kenapa nak?" Tanya Ivanna mengernyit mendengar suara Noah yang terdengar serak.


"Hiks, dia mati Bunda!" Ucap Noah menangis.


"Apa yang mati Sayang? Coba tenang dulu, tarik nafasnya dan hembuskan!" Ucap Ivanna mengernyit bingung.


Noah menarik nafasnya dan mengikuti instruksi dari sang ibunda. Sambil memegang anak ayam, Noah menceritakan apa yang tengah ia lakukan kepada hewan kecil nan malang itu.


"Hiks, Bunda pulang ya! Aa' ikut ke rumah sakit, nanti ayamnya mati!" Ucap Noah terisak.


Ivanna menahan tawa mendengarkan Noah ketika bercerita."Sayang, coba lihat dulu ayamnya masih gerak gak?" Ucap Ivanna bertanya.


Noah memperhatikan Ayam itu dengan seksama. "Hiks, Masih Bunda!" Ucapnya.


"Berarti ayamnya baik dan sehat, gak usah di bawa ke rumah sakit!" Ucap Ivanna berusaha untuk menahan tawanya dengan sekuat tenaga.


Noah terdiam, ia menatap ayam itu dengan lekat. "Bunda jangan bohong!" Ucap Noah.


"Beneran sayang! Udah jangan nangis lagi, bunda mau temani ayah dulu ya sayang!" Ucap Ivanna.


"Iya, Bunda!" Ucap Noah berusaha untuk menghentikan tangisnya dan mematikan panggilan.


Ia kembali ke taman belakang dengan wajah sembab.


"Bagaimana kata Bunda, sayang?" Tanya Fajia tersenyum.


"Kata bunda gak papa, Oma!" Ucap Noah masih mengelus anak ayam itu dengan penuh kasih sayang.


Mereka bermain bersama ayam-ayam yang hingga Noah tertidur di pangkuan Alifa sambil memeluk anak ayam tadi.

__ADS_1


"Astaga cucuku!" Ucap Fajira tertawa melihat tingkah lucu Noah yang jarang terlihat.


🌺🌺🌺


__ADS_2