
Ivanna dengan mata yang mengantuk, terpaksa harus turun untuk makan siang bersama. Dengan manja Ivanna meminta untuk di suapi oleh Fajira karena matanya masih terasa sangat berat.
Bahkan ia tidak menghiraukan kehadiran Bryan yang berada tak jauh darinya. Pria bule itu menatapnya dengan gemas. Wajah bantal Ivanna terlihat begitu cantik dan natural. Ia tersenyum sendiri sambil memakan makanannya.
Sementara Nayla menatap kagum kearah Bryan yang begitu memesona dimatanya. Berbeda dengan Naren, yang memandang Bryan sinis, karena berhasil mencuri perhatian adik kembarnya.
"La, makan dulu! air liurmu menetes kemana-mana!" ucap Naren berhasil mengalihkan pandangan semua orang.
Plak,...
"Ihh, gak ada ya. Nayen kenapa sih?" ucap Nayla kesal dengan wajah yang merona dan memukul bahu saudara kembarnya.
"Cih, apa aku kurang tampan untuk kamu pandang, La?" tanya Naren menatap Bryan dengan sinis.
"Sudah, makan dulu!" ucap Irfan. Sambil menggeleng melihat kelakuan cucu-cucunya.
Mereka makan dengan tenang tanpa ada yang bersuaran. Nayla yang selalu curi-curi pandang kearah Bryan membuat Naren semakin kesal. Ia menyuapi Nayla dan memutar kepala gadis kecil itu agar menghadapi ke arahnya.
Nayla mendelik kesal melihat betapa possesif Naren. Namun ia hanya mengikuti keinginan kembarannya itu agar tidak kembali di tegur.
Sementara Bryan tersenyum kecil melihat tingkah mengemaskan Nayla. Namun ia sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Ivanna yang begitu manja kepada ibundanya.
"Sudah, Bunda. Dede, kenyang!" keluh Ivanna.
Bukan kenyang, tetapi matanya teramat mengantuk saat ini. Ia memilih untuk menyembunyikan wajahnya di balik lengan Fajira sambil memeluk bidadari cantik itu.
"Ya sudah, naiklah dulu ke atas!" ucap Fajira mengelus kepala Ivanna dengan lembut.
"Hmm, Dede ke kamar dulu semuanya!" ucap Ivanna dan berjalan sempoyongan menuju kamarnya.
Mereka kembali menghabiskan makanan yang sudah di hidangkan hingga tandas tanpa tersisa.
πΊπΊ
"Sepertinya, Ivanna akan bangun sore, nak Bryan!" ucap Fajira menemani Bryan yang tengah bermain catur bersama Fajri.
"Gak papa, Nyonya!" ucap Bryan tersenyum manis.
"Panggil, Bunda saja ya!" ucap Fajira tersenyum.
Fajri melotot, namun ia sangat paham bagaimana sifat Fajira ketika bertemu dengan teman-temannya dan Ivanna.
"Iya, Bunda. Apa Bunda masih bekerja di rumah sakit?" tanya Bryan ambil bermain.
"Tidak, semuanya sudah Bunda serahkan kepada sepupu ayahnya Ivanna. Jadi Bunda fokus di rumah saja sambil merawat, Ayah!" ucap Fajira.
"Sama juga seperti Mommy dulu, waktu Daddy sakit!" ucap Bryan tersenyum.
Mereka mengobrol, hingga sore menjelang. Ivanna bangun dengan wajah kusutnya yang masih terlihat cantik. Ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
"Hoaaam, Lama juga aku tidur!" ucap Ivanna sambil menggeliat.
Ia melihat ponselnya sudah sudah cukup banyak mendapatkan notifikasi. Matanya menuju kepada salah satu pesan yang begitu banyak masuk dari satu kontak, siapa lagi kalau bukan Mr. Tono.
π© From Mr. Tono.
"Morning cantik. Udah bangun? ntar siang makan di resto yuk, aku menemukan resep dan menu baru, apa kamu mau mencobanya, calon pacar?"
"Na? apa kamu masih tidur? atau kamu sedang jalan dengan laki-laki bule itu? jawab dong baby!"
"Na?"
"Cantiknya Tono, balas dong!"
__ADS_1
"Tuhan, kenapa bidadariku tidak membalas pesan dan mengangkat panggilanku!"
Dan masih banyak lagi pesan yang dikirimkan oleh Tono dengan jam yang berbeda. Total ada seratus pesan yang dikirim sedari pagi tadi, termasuk emotikon dan stiker menangis.
π© To, Mr. Tono.
"Aku baru bangun. Sebentar lagi aku akan kesana!" Balas Ivanna.
Ia tersenyum melihat tingkah Tono yang begitu lucu dan bisa membuatnya tertawa. Ia segera bergegas dan bersiap-siap untuk pergi ke salah satu cabang resto Tono yang berada tak jauh dari rumahnya.
Ivanna terdiam sebentar, ia mengingat jika Bryan ada di rumah ketika makan siang tadi. Sayup-sayup, ia mendengar gelak tawa yang ada di dekat kolam berenang yang berada di dekat kamarnya.
Matanya membola, ketika melihat Bryan tengah asik bermain catur dan tertawa dengan ibundanya.
"Apa itu triknya untuk mendapatkan hati, Bunda? huft,... sepertinya ini akan menyulitkanku untuk pergi ke restoran Tono!" ucap Ivanna lesu.
"Apa aku terlalu acuh kepada dia? bukankah kemarin aku memberi dia kesempatan untuk memperbaiki tingkah lakunya. Tapi cintaku sudah terbalaskan! Apa lagi yang aku harapkan dari dia?. Ah cinta ini memang bisa membuat orang gila!" ucap Ivanna kesal.
Hati dan fikirannya tengah berperang untuk menentukan sikap kepada Bryan. Pada akhirnya, ia hanya terdiam sambil mengamati dirinya di depan cermin.
"Bryan dan Tono. Di tambah lagi, kak Ziyyad yang mulai menyukaiku. Aku bisa gila kalau ada yang lain!" ucap Ivanna frustrasi.
"Gini amat jadi orang cantik!" keluh Ivanna menuju ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Ia memilih untuk menggunakan pakaian yang lebih pantas, karena ada orang lain selain keluarganya di rumah. Ketika membuka pintu, ia dikejutkan oleh ART yang hendak memanggilnya.
"Ada apa, Mbak?" tanya Ivanna mengernyit.
"Maaf, Nona. Motor Nona sudah datang!" ucap Mbak itu.
"Benarkah? ya sudah. Saya akan kebawah. Tolong buatkan saya susu hangat ya, mbak!" ucap Ivanna berbinar.
"Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!" ucap Mbak itu pamit.
Ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil helm limited edition, sama dengan helm yang di gunakan oleh para pembalap moto GP.
Ia segera berjalan dengan cepat menuruni anak tangga satu-persatu dan menuju keluar rumah.
"Kemana, dek?" tanya Fajira.
"Mau lihat motor Dede udah sampai, Bunda!" ucap Ivanna tersenyum tanpa menghentikan langkahnya.
"Hati-hati, nanti jatuh!" ucap Fajira tersenyum sambil menggeleng.
Ia juga ikut melihat keluar, motor seperti apa yang di beli oleh anaknya gadisnya ini. Begitu juga dengan Fajri dan Bryan yang ikut penasaran.
"Waah!!" Ucap Ivanna berbinar.
Motor yang berjenis triumph rocket 3 ini memiliki kapasitas 2.500 cc. Ivanna sudah memodifikasi beberapa bagian, agar terlihat semakin keren. Ia menaiki motor itu dengan wajah yang tersenyum senang.
"Apa sudah bisa di hidupkan, pak?" tanya Ivanna.
"Sudah, Nona. Silahkan!" ucap pengantar motor itu.
Ivanna mulai menghidupkan kontak motor dan menyalakan mesinnya.
Brum,... brum,... brum,....
Bunyi motor nan gagah itu membuat Ivanna semakin terpesona. Kenalpotnya menghasilkan suara khas, namun tidak memekakkan telinga.
"Wah, Nana keren!" ucap Nayla. Ia baru saja keluar dengan wajah yang berbinar.
__ADS_1
"Mau ikut sama, Nana?" tanya Ivanna mengajak keponakannya den membuat mereka berbinar senang.
"Mau!" teriak Naren dan Nayla
"Gak boleh!" tugas Fajri melotot.
"Boleh ya, Daddy. Lala mau naik itu juga!" ucap Nayla memeluk kaki Fajri di ikuti oleh Naren.
"Itu bahaya, sayang!" ucap Fajri tegas.
"Hiks, Lala mau naik itu Daddy!" ucap Nayla mulai mendrama.
"Naren juga mau Daddy!" ucap naren bergelantungan di kaki Fajri.
"Astaga!" ucap Fajri frustrasi sambil menatap Ivanna dengan tajam.
"Sepertinya lain kali saja kita pergi ya, gais!" ucap Ivanna takut sambil menggaruk tengkuknya.
"Gak mau! Huaa, mau nya sekarang!" rengek Naren dan Nayla bersamaan.
"Oma, boleh ya kita naik itu sama, Nana!" ucap Nayla mengeluarkan jurus andalannya yaitu wajah imut dan mata yang berkaca-kaca.
"Ayo kita masuk ke dalam! Atau gak boleh tidur sama Mommy lagi!" ucap Fajri tegas.
"Hiks,... huaa, huaa, gak mau! Mommy!" mereka menangis sambil mengadu ke arah Safira yang baru saja datang.
"Kenapa nangis, sayang?" tanya Safira mengernyit.
"Kami mau naik itu sama, Nana, Mommy. Tapi Daddy gak boleh, katanya bahaya!" ucap Naren.
"Memang bahaya! kalian kan masih kecil, nanti jatuh gimana?" ucap Safira.
"Di kamar ada helm untuk mereka, kak!" celetuk Ivanna membuat Fajri semakin melotot.
"Nah, itu ada, Mommy. Pasti Nana sudah hebat bawa motornya!, Atau nanti di ikat pake kain, boleh ya Mommy?" ucap Nayla memohon.
Safira menatap Fajri dengan serius. Ia melihat Fajri menggeleng menandakan tidak setuju.
"Daddy, kalau sama Mommy perginya boleh, ya?" ucap Safira tersenyum manis.
Fajri melotot mendengar permintaan istrinya. Sementara Fajira hanya menggeleng dan tertawa melihat tingkah Safira yang juga menginginkan untuk naik motor baru itu.
"Ya sudah, yuk siapa-siap!" ucap Ivanna senang dan kembali mematikan motor itu.
"Yeeei!" teriak Naren dan Nayla senang.
Mereka segera pergi ke kamar masing-masing untuk bersiap menaiki motor baru itu. Sementara Fajri hanya bisa pasrah, melihat kelakuan adik, istri dan anak-anaknya.
"Sudah! dulu kita juga sering naik motor 'kan?" ucap Fajira terkekeh.
"Tapi ini motornya beda, Bunda. Abang takut kalau mereka kenapa-napa. Bonceng empat lagi!" keluh Fajri.
"Kamu bisa ngikutin mereka dari belakang, sayang! Dah sana siap-siap lagi!" ucap Fajira.
"Hmm, Bunda, Saya pamit pulang dulu, karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan!" ucap Bryan.
Ia merasa kehadirannya tidak lagi di hiraukan karena wanita pujiannya akan pergi keluar, begitu juga dengan Fajri.
"ya sudah, hati-hati ya di jalan!" ucap Fajira tersenyum.
Bryan segera menaiki mobilnya dan meninggalkan rumah itu. Sementara Fajira kembali kedalam untuk melihat kondisi suaminya yang masih terlelap.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE