IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Penuh Dendam


__ADS_3

Sore menjelang, Ivanna dan Carenza memilih untuk pulang karena ibu hamil itu mengeluh sakit pada pinggangnya.


Mengobrol terlalu lama bersama Sukma, membuat Ivanna lupa dengan waktu dan keadaan.


Bukan mengobrol, lebih tepatnya Ivanna memberikan Sukma sebuah pekerjaan baru, yaitu menginfokan kepadanya kapan Chelsea datang ke resto. Gadis yang masih merangkap sebagai sekretaris dadakan itu hanya bisa pasrah mendengarkan perintah dari Ivanna.


Kini, ibu hamil itu tengah terlelap dengan damai didalam mobil. Carenza tersenyum dan cenderung terkekeh mengingat apa saja yang terjadi hari ini.


Ah, bisa-bisanya istriku ketakutan karena melihat gadis itu! Kasihan sekali kamu, Sayang. Dapat penggemar bukan hanya dari kaum pria, tetapi juga dari kaum wanita yang mengalami gangguan psikis!. Batin Carenza tersenyum sambil menggenggam tangan Ivanna dengan lembut.


Tak lama mobil berhenti diperkarangan rumah Dirgantara. Carenza mengernyit ketika melihat sebuah mobil terparkir di sana. Ia menunggu hingga Ivanna bangun terlebih dahulu, agar tidur ibu hamil ini bisa maksimal, mengingat jika Ivanna sering terbangun tengah malam karena merasa pegal dan sakit pada tubuhnya.


"Engh, Be. Apa kita sudah sampai?" Tanya Ivanna mengerjabkan matanya.


"Sudah, sayang!" Ucap Carenza membantu Ivanna untuk membuka seatbelt.


"Kenapa gak bangunin aku?" Tanya Ivanna masih mengantuk.


"Aku gak mau mengganggu waktu tidur kamu, sayang!" Ucap Carenza turun dari mobil dan membantu Ivanna untuk keluar.


"Hmm, Aku masih ngantuk, Be. lapar juga!" Ucap Ivanna menggandeng tangan Carenza untuk berjalan.


"Mau makan apa, sayang?" Tanya Carenza tersenyum.


Ia begitu bersemangat ketika Ivanna meminta sesuatu darinya untuk dimakan.


"Hmm, Aku mau makan mie aja. Spageti atau mie goreng!" Ucap Ivanna sedikit takut.


"Mie? Boleh! Nanti aku buatkan, ya!" Ucap Carenza tersenyum.


Mereka memasuki rumah melalui pintu samping agar bisa langsung menuju ke ruang keluarga.


Suara bocil-bocil yang mengemaskan itu sudah mulai membelai telinga Ivanna. Seharian tidak bertemu, membuatnya begitu rindu dengan tiga keponakannya, apalagi Nizam yang sudah mulai tumbuh besar dan terlihat sangat mengemaskan.


"Bunda pulang anak-anak!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Wah, Bunda!" teriak Naren dan Nayla segera memeluk Ivanna.


"Ah, Abang rindu!" Ucap Naren memeluk perut buncit Ivanna dan mengusapnya dengan lembut sambil memejamkan mata.


"Kakak juga kangen!" Ucap Nayla mendekatkan telinganya berharap bisa mendengarkan suara sang adik dari dalam perut.


"Biarkan Bunda duduk dulu, sayang! Kasihan bundanya cape!" Ucap Safira.


"Ah, Iya! Ayo bidadari, kita masuk kedalam!" Ucap Naren begitu manis membimbing Ivanna untuk duduk di atas sofa.


"Aduh, Bunda masih ngantuk, sayang! Bunda mau istirahat dulu, Ya! Nanti saja kita mainnya!" Ucap Ivanna memelas.


"Baiklah! Yuk, Abang antar!" Ucap Naren tersenyum.


"Lala di sini saja jagain dede!" Ucap Nayla ragu.


"Ya, sudah! Bunda ke atas dulu ya, sayang!" Ucap Ivanna. "Bunda mau cium Nizam, tapi belum bersih-bersih!" Sambungnya cemberut.

__ADS_1


"Ya sudah, bersih-bersih dulu, Dek! Nanti turun lagi!" Ucap Safira tersenyum.


"Iya, Kak. Dada, sayang!" ucap Ivanna melambaikan tangannya kepada Nizam dan Nayla.


"Dada, Bunda!" Ucap Nayla tersenyum sambil membantu Nizam untuk melambaikan tangannya.


Ivanna bersama dengan Carenza dan Naren berjalan menuju kamar untuk beristirahat. pria kecil ini begitu ketat menjaga Ivanna agar tidak membentur sesuatu.


"Bunda hati-hati, ya! Nanti dede kejedot, soalnya perut Bunda, kan besar. Kasihan kalau kenapa-napa, nanti! Gimana kalau perut bunda penyok, dan gak bulat lagi?" Ucap Naren tertawa.


"Haha, Gak mungkin sayang!


Aih, kalau perut bunda penyok, adiknya gimana ya?" Tanya Ivanna yang ikut terkekeh.


"Ih, jangan ngobrol seperti itu!" Ucap Carenza tiba-tiba saja takut mendengarkan perbincangan mereka.


"Hehehe, ngeri ya, Yah!" Ucap Naren terkekeh.


Mereka langsung masuk kedalam kamar dan membantu Ivanna untuk berbaring. Naren segera berdiri di samping Ivanna dan mengelus perutnya dengan lembut.


"Dede kapan keluarnya, Bunda?" Tanya Naren sambil mengecup perut buncit itu.


"Hmm, tiga bulan lagi sayang! Abang udah gak sabar untuk ketemu sama dede ya?" Tanya Ivanna tersenyum.


"Iya, Bunda. Abang mau punya Adik perempuan yang cantik seperti bunda dan lembut seperti Mommy!" Ucap Naren begitu berbinar.


"Iya, sayang? Berdo'a banyak-banyak ya. Tapi gimana kalau adiknya laki-laki?" Tanya Ivanna tersenyum.


"Gak papa, Bunda. Nanti bisa berbagi tugas untuk menjaga para princes di kelurga kita!" Ucap Naren tersenyum.


Dengan senang hati pria kecil itu naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Ivanna.


"Ayah tinggal dulu ya, mau ke dapur!" Ucap Carenza tersenyum.


Ia mengecup kepala Ivanna dan Naren bergantian. Memastikan jika sang istri aman, barulah ia keluar untuk membuat mie, sesuai dengan permintaan Ivanna.


"Tuan?" Sapa Atim ketika Carenza baru saja keluar dari kamar.


"Iya, Ada apa, Mbak?" Tanya Carenza.


"Di bawah ada rekan kerja Nona, Tuan!" Ucap Atim memberitahu.


"Biar saya yang menemuinya! Ivanna sedang beristirahat!" Ucap Carenza.


"Baik, tuan. Permisi!" Ucap Atim berlalu dari hadapan Carenza.


Pria tampan itu menghela naafasnya, ia merasa begitu tidak suka jika Ivanna berhubungan dengan laki-laki lain.


Ia berjalan menuju ruang tamu, terdengar jika Irfan dan Fajri tengah berbicara menggunakan bahasa Inggris dengan seorang laki-laki.


"Ayah?" Panggil Carenza.


"Eh, Eza. Mana Ivanna?" tanya Irfan.

__ADS_1


"Nana baru saja berbaring, Ayah. Sejak tadi ia mengeluh sakit pinggang!" Ucap Carenza.


"Biarkan istrimu beristirahat!" Ucap Irfan tersenyum tipis. "Za, kenalkan ini rekan bisnis Ivanna, Jordan. Jordan, ini suami Ivanna Carenza!" Ucap Irfan mengenalkan mereka.


Jordan melihat Carenza dengan tatapan tidak suka. Sementara Carenza hanya menatap Jordan dengan datar dan dingin.


"Carenza!" Ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Jordan! senang bertemu dengan anda!" ucap Jordan membalas jabatan tangan itu.


"Duduk dulu Za!" Ucap Irfan.


Carenza yang penasaran memilih untuk duduk di sana dan melihat apa tujuan dari laki-laki ini. Ia mendengarkan perbincangan tentang bisnis, dimana Jordan membanggakan apa yang telah ia miliki, apa lagi setelah mendapatkan bantuan dari Ivanna.


Apa dia ingin aku terlihat lebih rendah? Tapi tidak masalah, dia hanya bangga dengan harta. Apa aku boleh membanggakan cinta Ivanna dan calon anak kami dihadapannya?. Batin Carenza tersenyum smirk.


"Apa anda sudah menikah?" Tanya Carenza dalam bahasa Inggris.


"Hmm, belum. Saya sedang menunggu seorang gadis. Sekarang ini ia tengah mengejar karirnya!" Ucap Jordan.


"Hmm, bagus. Tapi, saya begitu beruntung karena memiliki Ivanna, yang masih memikirkan kewajibannya terhadap suami, di samping karir yang sedang naik daun!" Ucap Carenza santai.


Fajri dan Irfan cukup terkejut dengan ucapan Carenza yang begitu berani dan santai. Namun hanya ia yang bisa berkata seperti itu karena sudah jelas memiliki Ivanna yang diidam-idamkan oleh semua laki-laki.


Wajah Jordan mendadak masam mendengarkan ucapan Carenza. Seberapa pun ia membanggakan Ivanna dan apa yang ia miliki, Carenza memang menjadi pemenang dari segala aspek.


"Ayah, Bunda katanya sudah lapar!" Ucap Naren datang dari arah kamar.


"Sudah lapar, Nak? Aduh, ayah lupa!" Ucap Carenza bangkit dari duduknya.


Ia berpemitan kepada semua orang termasuk Jordan yang membuat wajah pria bule itu semakin masam.


"Saya ingin memasak sesuatu untuk Ivanna. Karena semenjak hamil, ia tidak bisa memakan makan lain kalau bukan saya yang memasak!" Ucap Carenza tersenyum ramah. "Permisi, semua!" sambungnya berlalu dari sana menuju dapur.


Sialan!. Batin Jordan mengumpat.


Hahaha, lihatlah! Aku pikir Eza hanya diam saja tanpa membalas, ternyata tidak! Bahkan pembalasan Carenza lebih parah dari pada perkataan bule ini!. Batin Fajri terkekeh.


Semoga ini tidak akan menjadi bencana baru dikemudian hari, nanti!. Batin Irfan was-was yang mengamati perubahan wajah Jordan.


Mereka melanjutkan obrolan itu hingga jam makan malam tiba. Semua orang berkumpul termasuk Jordan. Ketika Ivanna turun, ia tidak lagi terkejut karena Carenza sudah lebih dulu menceritakan jika pria bule itu datang mengunjunginya.


"Hai, Na? Apa kabar?" Tanya Jordan ramah.


"Baik! Silahkan duduk!" Jawab Ivanna tanpa ingin membahas hal yang lain lagi.


Dia terlihat sangat cantik walaupun tengah hamil!. Batin Jordan terpesona.


Carenza dengan sengaja bermesraan di hadapan semua orang, terutama di hadapan pria bule itu, agar bisa menunjukkan kepemilikannya terhadap Ivanna.


Makan malam berjalan dengan begitu baik namun terasa begitu panas dan sangat lama bagi Jordan, jika tidak mengingat ini adalah negeri orang, mungkin ia bisa menghajar Carenza hingga babak belur.


Hahaha, panas kan Lo, bule sialan! Berani-beraninya memuji Ivanna di depanku langsung! Ah, hingga maut meregang sekali pun, aku tidak kan melepaskan Ivanna untuk siapapun, walaupun dia sendiri yang memintaku untuk pergi!. Batin Carenza penuh dendam.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2