
Sesampainya di rumah, Ivanna dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sangat tidak ingin ia lihat. Chelsea tengah duduk manis bersama sang ibunda di ruang tamu.
Ia mendelik sebal menatap gadis itu, ingin rasanya ia menendang kepala Chelsea menggunakan hils keramatnya.
"Ngapain kau ada di sini?" Pekik Ivanna dengan mata yang melotot.
"Hehe, saya hanya berkunjung Nona!" Ucap Chelsea cengegesan.
"Pulang Kau sekarang!" Ucap Ivanna kesal.
"Dek, gak boleh gitu sama tamu!" Ucap Fajira mengernyit.
"Bunda, Kenapa bunda menerima dia? Wanita ini, gila!" Pekik Ivanna.
"Dek! Gak boleh ngatain orang seperti itu!" Ucap Fajira tegas.
Ivanna bungkam, Ia memilih untuk pergi dari sana dan menuju ke kamarnya. Sementara Carenza hanya terdiam sambil menggeleng dan mengikuti langkah sang istri .
Fajira merasa tidak enak kepada Chelsea, namun ia sedikit terpikirkan tentang ucapan Ivanna yang mengatakan jika perempuan ini gila.
Apa mungkin? Tapi gila dalam hal apa?. Batin Fajira mengernyit.
Ia menatap Chelsea dengan tersenyum menutupi rasa penasarannya.
"Maaf ya, Nchel. Ivanna memang seperti itu kalau ada orang yang tidak disukainya!" Ucap Fajira.
"Tidak apa, Nyoya. Ya saya juga sih yang lancang karena berani untuk mendekati, Nona!" Ucap Chelsea tersenyum.
"Iya, Ivanna memang susah untuk di dekati. Tapi kalau sudah dekat, dia gak segan untuk menunjukkan bagaimana dirinya!" Ucap Fajira tersenyum.
"Wah, sepertinya Nona Ivanna gadis yang berbeda dengan tampilan media!" Ucap Chelsea tersenyum.
"Tidak juga! Ah iya, Kamu tinggal di mana?" Tanya Fajira.
"Saya tinggal di apartemen yang ada di jalan Mangga busuk, Nyonya!" Ucap Chelsea tersenyum.
"Di apartemen Dirgantara?" Tanya Fajira.
"Iya, Nyonya. Ah, iya. Saya mau bertanya, Apa Nona bisa bela diri?" Tanya Chelsea penuh harap.
Ada apa dengan gadis ini? Kenapa dia bertanya seperti itu?. Batin Fajira bertanya-tanya.
"Tidak, Ivanna tidak bisa bela diri!" Ucap Fajira.
Ivanna memang sengaja menutupi kepandaiannya dari publik, selain kepintaran yang ia miliki.
"Wah, sayang sekali. Padahal, saya pikir Nona bisa melakukan bela diri pasti akan terlihat begitu keren. Saya bisa belajar juga darinya!" Ucap Chelsea kecewa.
"Kalau mau belajar, lebih baik cari padepokan, atau perguruan saja!" Ucap Fajira.
"Iya, Nyonya. Nanti akan saya cari!" Ucap Chelsea tersenyum.
Ah gadis ini memang terlihat mencurigakan. Pandangannya sedikit berbeda dengan wanita pada umumnya!. Batin Fajira mengernyit.
Tiba-tiba saja, Atim datang dan mengatakan jika Ivanna membutuhkan sesuatu.
"Nona mengatakan jika ia ingin memakan cream soup buatnya anda, Nyonya!" Ucap Atim.
"Ah, baiklah. Kalau begitu kamu temani Chelsea di sini sebentar, Ya!" Ucap Fajira.
"Baik, Nyonya!" Ucap Atim.
"Chelsea, Saya tinggal dulu! Kasihan Ibu hamil itu belum makan!" Ucap Fajira tersenyum.
"Hmm, bukankah ada asisten rumah tangga, Nyonya. Atau koki khusus?" Tanya Chelsea mengernyit.
"Iya, tapi namanya juga Ibu hamil! Saya tinggal ya!" Ucap Fajira berlalu.
Atim duduk berhadapan dengan Chelsea. Ia menatap mata gadis itu dengan ekspresi datar tanpa tersenyum, sehingga membuat Chelsea bergidik takut.
Ternyata ada yang lebih beku dari, Nona! Tapi ini tidak terlalu cantik!. Batin Chelsea mengernyit.
Ah, siapa dia? Dari tadi berada di sini dan membuat Nona merasa tidak nyaman! Sepertinya aku harus menyelidiki siapa gadis ini!. Batin Atim
__ADS_1
Mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing dan saling menatap satu sama lain.
"Kamu siapanya Nona?" Tanya Chelsea ketus memecah keheningan di ruangan itu.
"Saya orang yang paling menyayangi Nona dan mengabdi seumur hidup saya kepadanya sampai kapanpun !" Ucap Atim.
Chelsea mengernyit. Apa dia juga menyukai Nona?. Batinnya.
"A-apa kau mencintai Nona juga?" Tanya Chelsea melotot.
"Iya!" Ucap Atim tegas. "Anda sendiri, kenapa Nona merasa tidak nyaman dengan keberadaan anda?" Sambungnya bertanya dengan nada tegas.
Glek!
Dia begitu menakutkan untuk seorang perempuan!. Batin Chelsea.
"Itu hanya perasaan Nona saja yang was-was karena saya begitu agresif! Padahal saya tidak melakukan apapun!" Ucap Chelsea mendengus.
Atim terdiam. Semenjak hamil, Nona memang begitu cemas dan was-was dengan orang lain karena selalu merasa terancam! Tetapi Nona belum pernah merasa setidak nyaman ini!. Batinnya mengernyit.
"Lebih baik anda menahan diri sebelum saya bertindak!" Ucap Atim menatap Chelsea tajam.
"Emangnya kamu siapa bisa melarang-larang saya? Saya tidak takut!" Ucap Chelsea begitu berani.
"Anda bisa melihat siapa saya jika anda berani maju selangkah lagi untuk mengganggu Nona kami yang berharga!" Ucap Atim tegas.
"Uuh, menakutkan!" Ucap Chelsea pura-pura takut. "Saya hanya berurusan dengan Nona, bukan dengan, Kau!" sambungnya sambil menunjuk Atim.
"Terserah! Tetapi apapun itu, jika menyangkut tentang Nona, kau berhadapan dengan saya!" Ucap Atim tidak takut sama sekali.
"Cih, kau hanya pembantu, jangan sok berkuasa!" Ucap Chelsea merendahkan.
"Ya, saya hanya pembantu. Tetapi jika bukan melalui saya, presiden sekali pun tidak bisa menemui Nona jika sudah menyangkut kawasan rumah!" Ucap Atim tersenyum smirk.
"Kau! Lihat saja, jika saya sudah berhasil mendekati Nona, Kau orang pertama yang akan saya tendang dari sisinya! Camkan itu!" Ucap Chelsea mengancam.
"Dan saya menunggu hari itu!" Ucap Atim tersenyum tipis.
Chelsea juga ikut kesal melihat tingkah Atim yang begitu berani melawannya. Ia merasa yakin jika Ivanna akan mengusir Atim, ketika ia berhasil untuk dekat dengan tuan putri itu.
Keduanya hanya terdiam sambil melayangkan tatapan tajam satu sama lain. Hingga dering ponsel Atim yang begitu keras, mengejutkan Chelsea hingga ia terlonjak.
Astaga, apakah harus sekeras itu?. Batin Chelsea menggerutu.
"Halo, Nona?" Ucap Atim setelah mengangkat telepon.
"Katakan padanya, Silahkan pulang, atau aku akan mengeluarkan singa besar untuk memakannya!" Ucap Ivanna tegas.
"Baik, Nona!" Ucap Atim patuh dan menyimpan ponselnya kembali setelah Ivanna mematikan panggilan.
"Nona, sebaiknya anda pulang saja. Nona tidak akan turun hingga makan malam!" Ucap Atim.
"Cih, siapa kamu berani mengusir saya?" Tanya Chelsea mendelik.
"Saya adalah asisten pribadi, Nona! Saya mendapatkan perintah langsung untuk mengusir anda!" ucap Atim tegas.
"Tidak sebelum Nona sendiri yang mengusir saya!" Ucap Chelsea tak kalah tegas.
"Asep!" Teriak Atim dengan suara kerasnya.
Seorang laki-laki berjalan sambil tergopoh menghampiri Atim.
"Keluar kan singa pelihara Nona dan bawa kesini!" Ucap Atim tegas.
"Baik, Mbak!" Ucap Asep segera pergi untuk mengambil singa peliharaan Ivanna.
Chelsea mendadak pucat mendengarkan perintah dari Atim. Dengan badan yang gemeteran ia berusaha untuk mengeluarkan suaranya.
"Ka-kau, A-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Chelsea kelabakan.
"Kenapa? Saya malas berdebat untuk menyuruh anda pergi dari sini!" Ucap Atim tegas.
"Sa-saya tidak akan pergi sebelum Nona Ivanna datang ke sini dan dia yang menyuruhku untuk pulang!" Ucap Chelsea masih menolak.
__ADS_1
Roaaaaar!
Auman singa mulai terdengar dari arah belakang. Chelsea semakin ketakutan dan mendadak membeku di tempat.
"Pulang kau, Atau singa ku akan memangsa kau hidup-hidup!" Teriak Ivanna menggunakan speaker dan mic yang tersambung dari lantai dua.
Duar!
Chelsea semakin takut, namun lututnya semakin terasa lemas ketika melihat singa jantan itu mulai memasuki ruang tamu.
Atim serasa ingin terbahak-bahak saat ini, melihat Chelsea yang sudah tidak berdaya menatap Singa itu. Begitu juga dengan Ivanna yang memantau mereka melalui CCTV dari kamarnya.
"Masih mau di sini atau pergi?" Tanya Atim dingin.
"Sa-saya pergi!" Ucap Chelsea berjalan dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Atim mengikuti kemana gadis itu pergi dan tertawa ketika melihat Chelsea berlari hingga ke gerbang sambil melepas hilsnya.
Gadis itu meninggalkan mobil yang ia kendarai di halaman rumah. Namun sesaat ia kembali dan membawa mobil itu keluar dari kediaman Dirgantara.
"Astaga! Ini kenapa dia dibawa masuk Asep!" Pekik Fajira.
"Maaf, Nyah. Saya di suruh sama Mbak Atim!" Ucap Asep takut.
"Kembalikan!" Pekik Fajira mengusir singa besar milik Ivanna.
Ia sedikit mengutuk anak gadisnya karena memelihara hewan buas itu.
"Baik, Nyonya!" Ucap Asep membawanya kembali ke kandang.
"Atim!" Pekik Fajira.
Deg!
Atim yang masih tertawa langsung tersentak mendengar teriakan Fajira. Mampus, Aku!. Batinnya takut.
"Sa-saya, Nyah!" Ucap Atim takut berjalan mendekat ke arah Fajira. "Saya hanya mengikuti perintah Nona!" sambungnya.
"Haih, kenapa kamu mengusir tamu seperti itu? tidak boleh, Atim! Kalian sama saja!" Pekik Fajira sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"Maaf, Nyah!" Ucap Atim yang masih berusaha untuk menahan tawanya.
"Astagah!" Ucap Fajira yang ikut tertawa melihat Chelsea yang lari terbirit-birit.
"Nyah, Jangan tertawa!" Ucap Atim kembali terkekeh.
"Kalian ini ada-ada saja! Orang gak ada salah juga, malah dikerjain!" Ucap Fajira menggeleng.
"Dia memang aneh, Bunda!" Ucap Ivanna terkekeh, ia baru saja keluar dari lift bersama Carenza.
"Kenapa, sayang?" Tanya Fajira mengernyit.
"Ah, bunda harus hati-hati! Dia itu pemakan jeruk!" Ucap Carenza tertawa.
"Astaga, benarkah?" Tanya Fajira tidak percaya.
"Apa dede pernah membenci orang seperti itu, Bunda?" Tanya Ivanna serius.
Fajira menggeleng, dan menghela nafas. Ia tidak habis pikir dengan prilaku tidak wajar Ivanna yang melebihi tingkah aneh Fajri.
Mereka lanjut untuk menggunjingi Chelsea, dimana ia menjadi topik yang cukup menarik pada sore hari yang cerah ini.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Aku ngakak πππ
Ada yang sukaa baca kisah nyata yang di alami oleh seorang perempuan tangguh? Mungkin readers semua bisa membaca cerita di bawah ini. KUNJUNGI AJA DULU! π€£
__ADS_1