
Fajri berbinar ketika memeriksa emailnya. Sebuah pesan masuk yang ia sangka berasal dari kantor, ternyata tidak. Pesan itu berasal dari email pribadi Ivanna.
Ia segera membuka pesan itu melalui komputer dan terkejut ketika mendapatkan server untuk masuk kedalam koneksi CCTV yang ada di rumah itu.
"Berarti Ivanna bisa merasakan jika kita sudah bisa menemukannya!" Ucap Carenza berkaca-kaca.
"Iya, Lebih baik kita mempercepat jadwal keberangkatan agar bisa melihat bagaimana kondisi di sana!" Ucap Ray tegas.
"Iya, Persiapkan semuanya. Kita berangkat secara terpisah, jangan sampai mereka menjadi curiga nanti!" ucap Fajri.
"Aku harus memberitahukan keluarga kita tentang ini!" Ucap Carenza tersenyum.
"Iya, kirim ke bunda lebih dulu!" Ucap Fajri.
Carenza segera mengirim pesan kepada keluarganya, jika titik lokasi Ivanna sudah di temukan. Sementara Fajri mencoba untuk masuk ke dalam server itu dengan hati-hati dan teliti.
Ting!.
Server terhubung, Fajri segera mencari dimana Ivanna berada. Mata mereka berembun ketika melihat ibu muda itu tengah tertidur di atas ranjang.
Atim terkekeh, "Bukankah benar apa yang saya katakan Tuan. Nona Ivanna mendapatkan fasilitas mewah walaupun sedang di culik!" Ucapnya.
"Dasar, kamu korban Novel!" Ucap Bryan menggeleng.
Carenza kembali berkaca-kaca, namun hatinya sedikit lega ketika melihat sangat istri dalam keadaan baik-baik saja.
Fajri mencoba untuk mengirim signal melalui gigi palsu itu hingga membuat Ivanna tersentak kaget. Ia terbangun dan langsung menatap CCTV dengan raut wajah kesal.
Ia tersenyum melihat ekspresi Ivanna yang masih terlihat mengemaskan walaupun sudah menjadi seoran Ibu. Fajri kembali mengirimi Ivanna Email agar bisa memberikan Instruksi selanjutnya.
Dengan kesal, Ivanna bangkit dan menuju ke kamar mandi, ingin ia berteriak karena dalam kondisi seperti ini masih aja di kerjai.
"Bang, Jangan di kerjain istriku. kasihan!" Ucap Carenza yang paham dengan pekerjaan sampingan Fajri yang satu ini.
"Haha, iya-iya!" Ucap Fajri tergelak.
Ia mengirimkan beberapa strategi yang akan digunakan selama aksi penyelamatan nantinya. Wajah lusuh mereka perlahan menjadi cerah dan bisa bernafas lega.
"Bryan, Atim dan Uncle Joe. pergilah dulu, gunakan persawat komersil. Kami akan berangkat pada penerbangan berikutnya!" Ucap Fajri.
"Siap, laksanakan!" Ucap mereka beramaan.
Fajri segera menggunakan link server itu pada laptopnya. Ia akan membawa beberapa barang elektronik untuk terus melacak keberadaan Ivanna agar tidak kehilangan jejak.
"Semua persiapan sudah selesai, Tuan! Kita akan berangkat pada pukul 10 malam ini untuk jadwal keberangkatan kedua. Sementara penerbangan pertama akan berangkat pada pukul 12 siang, hanya tersisa waktu 3 jam untuk mempersiapkan segala sesuatunya!" Ucap salah satu pengawal yang mengurus kepergian mereka.
"Kita harus bergegas!" Ucap Bryan.
"Iya, siapkan segala sesuatunya!" Ucap Fajri tegas.
Ia meminjam sebuah pesawat pribadi dari rekan bisnisnya untuk mengirim beberapa senjata agar bisa masuk kedalam negara itu dengan bantuan dari Juru bicara kenegaraan Rusia. Jika tidak, mungkin pihak keamanan bandara akan mengambil semuanya atau bahkan mengembalikan senjata itu. Apa lagi, mereka berangkat menggunakan pesawat komersil dan melewati pemeriksaan ketat.
__ADS_1
"Kamu istirahatlah, Za! Persiapkan dirimu untuk melakukan penyelamatan nanti! Jangan sampai kamu tumbang ketika baku hantam terjadi!" Ucap Fajri.
Carenza terdiam, satu sisi ia ingin melihat bagaimana keadaan Ivanna, namun satu sisi apa yang dikatakan oleh Fajri memang benar.
"Baiklah!" Ucap Carenza.
Ia memilih pulang untuk beristirahat dan mempersiapkan apapun untuk keperluannya dan Ivanna nanti.
"Gak lama lagi kita akan berkumpul sayang!" Ucap Carenza tersenyum.
πΊπΊ
Sementara dibelahan dunia lain. Ivanna sedang mendengus kesal karena ulah Fajri. Ia sangat yakin, jika pria tampan itu adalah orang yang berani berbuat seperti ini di kala semua orang tengah serius.
Dasar abang lucnut! Bisa-bisanya menggangguku seperti itu! Dia kira tengah bermain petak umpet apa? Gila ya!. Batin Ivanna kesal.
Ia kembali berjalan menuju kamar mandi dan melihat ponsel yang masih tergeletak di atas wastafel. Ia terbelalak kaget karena lupa menyembunyikan barang berharga itu.
Ah, Untung tidak ada yang masuk!. Batin Ivanna.
Ia melihat pesan yang dikirim oleh Fajri, dan memahami semua strategi yang sudah direncanakan. Setelah itu Ivanna menghapus semua pesan dan aktivitas yang ia lakukan di ponsel dengan bersih hilang tanpa jejak.
Ivanna menghampiri pelayan yang masih terbaring itu dengan sinis, karena tidak ingin diajak untuk bekerja sama.
"Kasihan sekali! Padahal jika kau mengatakan iya, kita akan kabur bersama dan keluar dari penjara ini. Kau bisa saya berikan pekerjaan yang lebih layak dan hal semacamnya. Tapi sayang, kau tidak mengambil kesempatan itu!" Ucap Ivanna bengis.
Ia mengangkat sedikit tubuh gadis itu dan mencari titik syaraf agar ia bisa kembali berbicara.
"Dasar tidak berguna!" Bentak Ivanna.
Pelayan itu terkejut melihat aura Ivanna yang memancar. Namun ia kembali tersentak ketika Ivanna menekan syaraf berbicaranya.
Syialan, nona Chelsea seorang pembohong! Apaan tidak bisa bela diri? Bahkan Saya lumpuh di sini pun tidak ada yang mengetahuinya!. Batin pelayan itu.
Ivanna mendengar langkah kaki memasuki kamarnya. Ia tersenyum ketika mendapatkan sebuah ide untuk melumpuhkan para pelayan itu tanpa tersisa.
Ia segera mengirim pesan kepada Fajri untuk memanipulasi atau mengganggu signal, agar ia tidak ketahun tengah menyekap seseorang di dalam kamar mandi.
Bukankah ini sungguh sebuah lelucon? korban penyekapan menyekap orang lain! Atau korban penyekapan menjadi tersangka penyekapan!. Astaga kapan aku bisa berfikir waras Tuhan!. Batin Ivanna.
Tok, tok, tok!
"Nona, Apa anda di dalam?" Tanya Chelsea.
Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba!. Batin Ivanna tersenyum jahat.
"Ya!" Jawab Ivanna singkat.
Ia menyembunyikan ponsel itu ditempat yang cukup aman dan melangkah keluar dari kamar mandi.
"Ada apa?" Tanya Ivanna datar.
__ADS_1
"Apa anda melihat pelayan yang saya perintahkan untuk menunggu di luar?" Tanya Chelsea.
"Apa saya bisa keluar?" Tanya Ivanna mengernyit.
"Ah, bukan. Maksud saya dimana anda menyembunyikannya?" Tanya Chelsea.
"Menyembunyikannya bagaimana? Untuk berjalan saja saya susah. Apa lagi menyembunyikan seseorang!" Ucap Ivanna dengan begitu tenang.
Chelsea menatap Ivanna dengan begitu curiga. "Lalu kenapa Anda sering pergi ke kamar mandi dengan waktu yang begitu lama?".
"Anda tidak akan mengerti bagaimana rasanya setelah melahirkan dan hidup sendiri! Mengganti pembalut yang banjir setiap saat, membersihkannya, mencuci daleman sendiri dan harus memastikan milikku dalam keadaan sehat! Belum lagi gerakan yang lambat karena masih terasa sakit dan tubuh yang tidak stabil!" Ucap Ivanna panjang lebar.
Chelsea terdiam, Ia semakin menaroh curiga kepada Ivanna. Gadis itu berjalan menuju kedalam kamar mandi untuk melihat sendiri dan membuktikan kecurigaannya.
Ivanna tersenyum tipis, ternyata begitu mudah membuat Chelsea menjadi semakin penasaran. Ia berdiri di dekat pintu kamar mandi dan mengikuti gadis itu untuk masuk sambil mengumpulkan tenaga dalamnya.
Tepat ketika seluruh badan Chelsea masuk, Ia terkejut ketika melihat pelayan yang ia cari tengah terbaring di sana.
Tuck, tuck, tuck!
Ivanna menekan syaraf Chelsea dan membuatnya juga ikut lumpuh dan tergeletak di lantai kamar mandi itu. Ivanna terhuyung dan juga ikut tergeletak di atas tubuh Chelsea yang sudah kaku.
Ia merasa begitu kelelahan dan kehabisan tenaga. Namun ia begitu senang karena sudah menangkap gadis ini.
"Kau salah telah bermain denganku, Gadis jeruk!" Ucap Ivanna tersenyum penuh kemenangan.
Ia berbaring di sana untuk mengumpulkan sedikit tenaga agar bisa berjalan keluar. Sementara giginya sudah bergetar-getar karena signal dikirimkan oleh Fajri.
"Ternyata tubuhmu bagus juga! Apa penjagaku mau ya dengan gadis belok sepertimu?" Ucap Ivanna tertawa lirih di telinga Chelsea.
Gadis itu terbelalak kaget, mendengarkan pujian Ivanna dibarengi dengan wajahnya yang merona.
"Ah, harusnya kita bertarung dulu baru aku melumpuhkanmu seperti ini!" Ucap Ivanna tersenyum.
Ia mencoba bangkit dari sana dan menggeledah tubuh Chelsea sambil mengerjai gadis itu dengan menggerayangi beberapa titik sensitifnya sambil tertawa.
"Inikan yang anda inginkan dari saya? Aduh Nona, ketahuilah jika terong balado lebih enak dari pada jeruk perawan!" Ucap Ivanna terkekeh.
Sementara Chelsea hanya bisa pasrah dengan wajahnya yang sudah sangat merah karena apa yang di katakan oleh Ivanna itu benar. Namun ia mendesaah kecewa ketika Ivanna menarik tangannya kembali.
"Saya bisa menjadi siapa saja untuk bertahan dan menyelamatkan hidup. Anggap saja itu sebagai hadiah dan salam perpisahan dari saya, karena kau begitu baik sudah membelikan anak sayanberbagai macam hadiah!" Ucap Ivanna dingin di telinga Chelsea.
Hingga akhirnya ia tersenyum manis ketika mendapatkan sebuah pistol yang tersemat di paha Chelsea.
"Wah, seleramu bagus juga jeruk!" Ucap Ivanna mengamati senjata tajam itu dengan seksama. "Terima kasih!" Sambungnya dan berjalan keluar dengan perlahan.
Ia mengunci kamar mandi agar bisa aman dari orang lain. Ia terbaring di atas kasur dan terlelap untuk mengumpulkan tenaga agar bisa menyekap korban selanjutnya.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
Tolong jangan skip like ππ