
Di sebuah gedung perkantoran. Dua orang laki-laki tengah tertawa dengan begitu bahagia karena rencana mereka bisa dibilang berhasil.
"Aku tidak menyangka jika mereka begitu bodoh! Pengusaha tingkat dunia, tetapi sangat mudah untuk di kelabuhi!" ucap salah satu dari mereka.
"Hahaha, tapi kita harus hati-hati. Karena mereka bagaikan bom waktu yang akan meledak kapan saja. Papa yakin, jika tuan muda itu akan mengatasi semuanya!"
"Lihatlah, saham mereka hampir turun separuhnya! Semua dana investor juga sudah dikembalikan! Bahkan ada beberapa pemegang saham yang menjual sahan mereka kepada orang lain! Aku yakin, jika dia akan memohon kepada kita!"
Mereka adalah Azmi dan ayahnya. Menaikkan perusahaan dengan cara curang, bahkan dengan berani menghancurkan usaha mereka sendiri tanpa berfikir panjang, apa yang akan mereka terima setelah ini.
Azmi sudah membayangkan bagaimana ia bersanding dengan Ivanna dalam beberapa hari lagi. Wajahnya merona mengingat malam pertama yang begitu panas dan menggairaahkan di antara mereka.
"Aku sudah tidak sabar, Pa!" ucap Azmi tersenyum.
"Sabarlah dalam beberapa hari ini!" ucap Fadil tersenyum.
Jika mereka menikah, aku akan berusaha untuk masuk kedalam perusahaan Dirgantara agar bisa mendapatkan sedikit saham di sana!. Batin Fadil menyeringai.
Mereka kembali menyusun rencana selanjutnya yang membuat gerbang kehancuran akan semakin dekat.
Apalagi Azmi yang sudah menghubungi panitia WO untuk mengatur rencana pernikahannya berada dengan Ivanna.
πΊπΊ
"Hekm...," Felicia yang sudah tidak tahan melihat pasangan itu, berusaha untuk memisahkan mereka.
"Eh, maaf! Saya melupakan keberadaanmu!" ucap Tono dengan telinga yang memerah karena malu.
"Maaf, Tuan! Saya hanya seorang jomblo yang merana, sungguh belum ada laki-laki yang ingin mendekati saya, jadi melihat Tuan dan Nona seperti itu, saya iri!" ucap Felicia cemberut.
"Hehe, itu derita jomblo, Fel!" ucap Ivanna terkekeh.
"Nona, Anda tega sekali!" rengek Felicia sambil menggigit daging yang tengah ia pegang.
"By, kamu ada teman yang lagi jomblo gak? Kasihan itu asisten aku!" tanya Ivanna.
"Ada, sayang! Dia juga lagi mencari pasangan, mana tau mereka cocok!" ucap Tono tersenyum.
"Nah, Fel kamu mau gak? Dia kerja, By?" ucap Ivanna.
"Iya, dia kerja di resto mewah tempat kamu sering meeting itu!" ucap Tono.
"Nah, mau gak Fel? nanti kita atur pertemuannya, bisa 'kan, By?" tanya Ivanna antusias.
"Bisa, sayang!" ucap Tono tersenyum dan mengecup kening Ivanna.
"Nona, Tuan! Tolong berhenti! saya masih lapar!" rengek Felicia.
"Hahaha, sabar ya, mblo!" ucap Ivanna dan Tono bersamaan.
Felicia dengan cemberut, segera menghabiskan makanannya dan ikut mengambil cemilan Ivanna. Ia bisa bersikap seperti itu jika Ivanna sudah memperbolehkan. Jika tidak, ia akan bersikap dingin dan tegas, seperti biasanya.
"Nona, saya sudah selesai! Terima kasih makanannya! Kapok saya kalau berada dekat dengan anda!" ucap Felicia merapikan sisa makanannya. "Saya ada di luar, kalau misalnya nona dan tuan membutuhkan sesuatu!" sambungnya berjalan keluar.
__ADS_1
"Iya-iya, istirahatlah!" ucap Ivanna tersenyum.
Felicia keluar dengan wajah cemberutnya. Tono menatap Ivanna dengan lekat dan kagum dengan gadis cantik miliknya ini.
"Hmm, sayang. Ibu ingin bertemu dengan calon menantunya!" ucap Tono.
Deg....
"Ka-kamu serius?" tanya Ivanna tidak percaya.
Ivanna melotot menatap kearah Tono, ia terkejut dengan penuturan pria tampan itu, yang tiba-tiba saja mengatakan keinginan sang ibundanya.
"Iya, sayang! Ibu juga ingin bertemu dengan CEO cantik yang sedang membangu-, kenapa wajahnya seperti itu?" tanya Tono mengernyit ketika melihat wajah Ivanna yang berubah sangar.
"Ibu kamu mau bertemu siapa? CEO cantik mana?" tanya Ivanna tanpa sadar jika ia tengah cemburu.
Tono tersenyum manis menatap gadis cantik yang ada di hadapannya. "Apa kamu cemburu, sayang?".
"Gak ada, mana mungkin aku cemburu! Lagian, gak ada orang yang lebih cantik dari aku!" ucap Ivanna berkilah sambil mengibaskan rambutnya.
"Ciee, cemburu!" goda Tono yang berhasil membuat wajah Ivanna merona seketika.
"Gak ada, ya!" ucap Ivanna mendelik dan membelakangi Tono.
"Jangan marah, sayang! Aku belum selesai berbicara!" ucap Tono dengan berani memeluk Ivanna dari belakang.
Jantung Ivanna berdetak dengan kencang ketika mendapatkan perlakuan seperti itu. Ternyata nyaman, namun ia takut jika Tono di habisi oleh Fajri karena sudah lancang untuk memeluknya.
"Baby, jangan seperti ini. Nanti kamu di hajar sama, Abang!" ucap Ivanna lirih.
"Kamu juga punya adik perempuan, By!" ucap Ivanna mengelus tangan Tono yang ada di perutnya.
"Hmm, sebentar saja! Ini terasa sangat nyaman sayang!" ucap Tono lirih dan menghirup aroma segar dan wangi dari tubuh Ivanna.
Ceklek....
Tiba-tiba saja pintu terbuka, Ivanna dan Tono menjadi gelagapan seolah kepergok tengah berbuat sesuatu.
Felicia dengan wajah cemberutnya kembali duduk di sofa yang ada di hadapan Ivanna.
"Kenapa?" tanya Ivanna salah tingkah.
"Maaf, Nona. Tuan Fajri menyuruh saya untuk selalu berada di ruangan ini hingga Tuan Tono pulang!" keluh Felicia dengan wajah yang semakin cemberut.
Sial! Ada masalah apa dengan Tuan muda itu! Lagian aku juga tau batasan! hus dasar raja possesif. Batin Tono kesal.
"Sudah, terima saja nasibmu!" ucap Ivanna tergelak.
Mereka memilih untuk mengobrol ringan sambil membahas masalah yang tengah terjadi. Tak lama Pandu dan Joe masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa kabar yang sangat gembira.
"Bagaimana, Pak?" tanya Ivanna yang sudah sangat tidak sabar.
"Laporan kita sudah di acc, Nona. Mereka akan di tangkap malam ini juga, dengan beberapa bukti tambahan yang di bawa oleh Joe, titipan dari Tuan Irfan. Sepertinya langkah ini akan semakin bagus, jika kita memberikan tuntutan untuk mengakuisisi perusahaan mereka sebagai ganti rugi atas kejadian ini!" Jelas Pandu tersenyum.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Ivanna berbinar.
"Benar, Nona. Saya tidak paham, kenapa mereka begitu bodoh! Bahkan Tuan Azmi sudah memesan Ballroom hotel mewah dan WO untuk mengurus pernikahan!" jelas Pandu lagi.
"Mereka memang gila!" ucap Ivanna tidak percaya. "Bagaimana dengan dana investor, pak?" tanya Ivanna.
"Sesuai dengan perkataan Tuan Irfan tadi pagi, Nona. kita akan mengembalikan semua dana dari investor dan memasukkannya sebagai ganti rugi pada laporan kita selanjutnya!" jelas Joe tersenyum smirk.
"Bagus! Siapkan semua!" ucap Ivanna berbinar. "Fel, majukan konferensi pers besok pagi! kirim undangannya hari ini juga!" sambungnya.
"Laksanakan, Nona!" ucap Felicia segera keluar dari ruangan itu.
"Nona memang keren!" ucap Pandu tersenyum bangga.
"Ah, tentu! Ivanna gitu lo!" ucap Ivanna terkekeh.
Sejenak wajah Ivanna terlihat garang dengan senyum smirk yang terlihat begitu menakutkan.
"Uncle tau apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Ivanna.
"Tau, Nona!. Serahkan semuanya kepada saya!" ucap Joe tersenyum smirk.
Kita lihat, apa ekspresi kalian, ketika kebenaran telah terungkap. Selamat datang di gerbang kehancuran wahai manusia serakah!. Batin Ivanna menyeringai.
Muach....
Wajah mengerikan itu berubah malu seketika, terkejut karena mendapatkan kecupan manis dari Tono di kepalanya. Joe dan Pandu terkejut melihat Tono begitu berani mencium Nona mudanya sembarangan.
"Maaf, sayang. Aku gemas melihat wajah kamu!" ucap Tono lirih.
Ia begitu takut melihat wajah garang milik Pandu dan Joe yang tengah menatapnya tajam.
"Gak papa, By!" ucap Ivanna. "Tapi jangan di dekat mereka atau di depan orang lain selama kita belum menikah!" bisik Ivanna.
Glek....
Wajah Pandu dan Joe semakin terlihat masam. Jika Tono bukan kekasih dari Nona mereka, mungkin pria tampan itu sudah habis di bantai.
"Eksekusi mereka sekarang!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona!" ucap Pandu dan Joe dengan patuh dan segera keluar dari ruangan itu.
Felicia kembali masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang semakin kesal.
"Nona!" rengeknya.
"Kenapa, Fel? apa sudah selesai?" tanya Ivanna mengernyit.
"Belum! Tuan, anda tolong duduk jauh-jauh dari, Nona! kerjaan saya banyak, sementara Tuan Fajri terus menghubungi saya sambil marah-marah untuk menemani Nona dan Tuan di dalam ruangan ini! Kasihani saya, Nona!" ucap Felicia.
"Astaga, Abang!" ucap Ivanna mengeram kesal.
Tono dengan patuh, berpindah duduk dari sisi Ivanna agar tidak memancing keributan selanjutnya. Sementara Ivanna hanya bisa menahan kesal karena tingkah dari abangnya.
__ADS_1
Huh, lihat saja nanti malam!. Batin Ivanna garam.