
Seperti rencana kemarin, Fajri akan berusaha untuk mengakuisisi perusahaan Jordan dan menjadikan cabang milik Dirgantara Grup selanjutnya.
Perebutan kekuasaan terjadi dengan sangat sengit, baik dari pihak keluarga, pemegang saham, maupun pengusaha yang ingin mengakuisisi perusahaan itu.
"Kita harus bergerak, Dad!" Ucap Fajri.
"Kau tenang saja, kaki tangan Daddy sudah menuju ke sana!" Ucap Aldebra.
"Bagus, Tawarkan harga lebih tinggi dari pada yang lain. Aku ingin memiliki perusahaan itu, Dad! Kita hanya mengganti nama dan melakukan konferensi untuk mengumumkan kepada Dunia!" Ucap Fajri begitu ambisius.
"Ck, sudahlah Ji. Kau hanya punya anak tiga, mana kuat mereka mengurus seluruh perusahaan itu!" Ucap Aldebra.
"Apa Daddy lupa, jika anak Ivanna masih ada?" Tanya Fajri.
"Terserah kau saja!" Ucap Aldebra lelah untuk berdebat.
"Hihi, 20 persen saham akanku berikan kepada Anda Tuan!" Ucap Fajri terkekeh.
"Ck, dasar kau!" Aldebra kesal dan menoyor kepala Fajri.
"Ih, kepalaku yang berharga!" Ucap Fajri kesal sambil mengelus kepalanya sendiri.
Hari ini Fajri kembali dimintai keterangan untuk kasus ini, ia mendapatkan beberapa orang pengacara bagus dari juru bicara kenegaraan, sehingga membuat semua tuntutan untuk Jordan dan Chelsea bisa di proses dengan cepat.
"Kita hanya tinggal menunggu, mungkin Nona Ivanna juga akan dimintai keterangan setelah ini!" Ucap Pengacara itu.
"Nanti akan saya konfirmasi lagi! Terima kasih sudah membantu kami!" Ucap Fajri tersenyum
"Sama-sama Tuan, Sudah menjadi tugas kami!" Ucap pengacara itu.
Fajri keluar dari ruangan pengacara dan segera kembali ke apartemen untuk berkemas. Karena hari ini ia akan pulang untuk bertemu dengan keluarga yang sudah menangis sambil meraung untuk memintanya pulang.
"Uncle sudah siap?" Tanya Fajri.
"Sudah, Tuan! Silahkan!" Ucap Joe mempersilahkan Fajri untuk keluar terlebih dahulu.
Mereka segera pergi menuju bandara karena jadwal penerbangan kurang dari satu jam lagi.
"Bagaimana dengan perusahaan?" Tanya Fajri.
"Semuanya aman, Tuan. Untuk akuisisi mereka masih berdebat untuk mendapatkannya!" ucap Joe.
"Bagaimanapun juga kita harus mendapatkan perusahaan itu!" Ucap Fajri.
"Akan kita usahakaan, Tuan!" Ucap Joe.
Tak lama mobil berhenti d bandara. Fajri segera menaiki pesawat yang akan mengantarkannya untuk pulang ke Indonesia.
πΊπΊ
Dikediaman Dirgantara, Malik, Felicia, Bryan dan Atim tengah berkumpul di dalam kamar Ivanna. Mereka hanya menggeleng melihat pasangan bucin ini begitu sehati, sakit satu, sakit keduanya.
"Mau bagaimana lagi, namanya juga manusia! Bisa sakit kapan saja!" Ucap Ivanna enteng.
"Iya, suka hati anda, Nona!" Ucap Malik mendelik.
"Saya masih kesal dengan Tuan Fajri! Kenapa Atim boleh ikut sementara saya tidak!" Ucap Felicia tidak terima.
__ADS_1
"Bukan tanpa alasan! Apa kau sudah menyelesaikan sabuk hitam terakhir? Bagaimana dengan sekolah menembakmu? Jika itu semua belum bisa kau selesaikan, berarti kau hanya mengantarkan nyawa ke sana!" Ucap Atim ketus.
"Ck, Saya sudah menyelesaikan sabuk hitam! Untuk sekolah menembak belum, tinggal ujian akhir saja!" Ucap Felicia tak kalah ketus.
"Apa kau siap menjadi seorang pembunuh?" Tanya Atim dingin.
"Mem-membunuh?" tanya Felicia terkejut.
"Kau fikir kami pergi parade?" Ucap Atim ketus.
Felicia bergidik ngeri melihat kearah Bryan, Atim, Ivanna dan Carenza. Begitu juga dengan Malik yang terkejut mendengarkan ucapan dari Atim.
"Kenapa? Apa kau ingin kami bunuh juga?" Tanya Atim tersenyum smirk.
Felicia membulatkan matanya, "Ka-kau jangan macam-macam!" Pekiknya menatap Ivanna untuk meminta bantuan.
"Sudah jangan berantem terus!" Ucap Ivanna melerai. "Iya, mereka sudah membunuh orang, untung saja saya belum!" sambungnya bsambil menatap Noah yang begitu tenang di dalam pelukannya.
Glek!
Astaga, aku berada dalam sircle pembunuh. Bagaimana ini? Kontrak masih tersisa 5 bulan lagi! dan kemarin aku sudah menandatangani kontrak baru!. Batin Felicia.
"Kenapa? Apa kamu berfikiran untuk keluar dari pekerjaan?" tanya Ivanna tersenyum.
"Ti-tidak, Nona!" Ucap Felicia menunduk.
"Jika kau ingin, silahkan. Saya tidak memaksa, lagian sudah waktunya juga kamu memikirkan masa depan! Begitu juga dengamu, Mbak!" Ucap Ivanna tersenyum.
Atim dan Felicia terdiam. Mereka menatap dua pria tampan itu dengan lekat. Sementara Malik dan Bryan begitu senang mendengarkan Ucapan Ivanna yang sudah mengizinkan mereka untuk membawa kabur pasangan masing-masing.
"Pikirkanlah! Tetapi jika masih ingin bekerja dengan saya, silahkan. Saya tidak melarang, karena memang saya masih membutuhkan kalian!" Ucap Ivanna.
Bryan terkejut mendengarkan ucapan Atim. Ia tidak menyangka jika wanita itu tidak memilihnya setelah apa yang ia katakan semalam.
Ivanna melihat ada sebuah kekecewaan dari wajah Bryan, namun ia juga melihat rasa berat dan ragu didalam diri Atim.
"Saya menghargai keputusanmu, tetapi untuk selanjutnya pikirkanlah dengan begitu jelas. Apa yang akan Mbak lakukan setelah ini!" Ucap Ivanna tersenyum. "Bagaimana denganmu, Felicia?" sambungnya.
"Saya, saya juga masih ingin bekerja dengan anda Nona!" Ucap Felicia. Ia mengangkat kepala dan menatap Malik yang berada di sebelahnya. "Tetapi, Saya juga ingin menata masa depan dan membangun sebuah keluarga seperti anda!" Ucap Felicia tersenyum.
Malik berbinar, usahanya selama ini tidak sia-sia. Ia segera memeluk Felicia yang ada di sampingnya dengan begitu bahagia.
"Ya, boleh. Selesaikan dulu kontrakmu dan minta perpanjangan kepada Pak Pandu!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Terima kasih, Nona!" Ucap Malik dan Felicia bersamaan.
Ivanna tersenyum menatap kearah mereka. "Persiapkanlah, biar saya yang akan menanggung semua biayanya!" Ucapnya membuat Malik dan Felicia tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Nona! Terima kasih!" Ucap Mereka merasa begitu senang.
Berbeda dengan pasangan Bryan dan Atim yang masih terdiam sambil menyelami perasaan masing-masing.
"Terima kasih karena sudah menemaniku selama ini!" Ucap Ivanna tercekat.
Carenza sudah terlelap di sampingnya dengan begitu tenang.
Semua orang menatap Ivanna penuh haru, apa lagi Atim yang lebih dulu mengetahui bagaimana kerasnya Ivanna berjuang hingga berada di titik ini.
__ADS_1
"Bahkan kalian dengan suka rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk melindungiku!" Ucap Ivanna dengan air mata yang menetes.
"Nona, Semuanya sudah menjadi kewajiban kami, Jadi jangan berterima kasih!" Ucap Atim lirih.
"Tidak, Apa! Aku memang harus berterima kasih!" Ucap Ivanna tersenyum.
Tok, tok, tok!
"Bunda, Lala mau masuk" Ucap Nayla dari luar dengan tidak sabaran.
Malik berdiri dan membuka pintu, ia tersenyum ketika melihat bocil kembar itu tengah tersenyum sambil membawa sekeranjang buah segar.
"Mau ngapain?" Tanya Malik tersenyum.
"Kita mau ngantar buah untuk Bunda dan Ayah, Om!" Ucap Naren tersenyum.
Malik berjongkok, "Apa om boleh minta satu?" Bisiknya dengan pelan.
"Tidak!" Ucap Mereka ketus.
"Ih, pelit!" Ucap Malik cemberut.
"Bodo! Hahaha," Ucap Nayla dan Naren tertawa sambil memasuki kamar Ivanna.
"Bunda, Lala dan Naren beli buah tadi!" Ucap Nayla meletakkan keranjang itu dan mencium tangan Ivanna dengan lembut di ikuti oleh Naren.
"Terima kasih, sayang!" ucap Ivanna tersenyum.
"Hmm, Hari ini Daddy mau pulang, Bunda. Jadi, Oma masak banyak!" Ucap Naren naik ke atas tempat tidur.
Ia menatap perut Ivanna yang sudah kempes dan tidak buncit lagi. "Apa Bunda sudah gak hamil? Kenapa perutnya kempes?" Tanya Naren mengernyit.
"Ini Dedenya udah keluar, sayang!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Terus, abang gimana? perut siapa yang harus abang usap lagi?" Ucap Naren memelas.
"Perut Daddy bisa Abang usap, udah membelendung itu!" Ucap Bryan tertawa.
"Gak mau, Uncle! Perut Daddy keras!" Ucap Naren cemberut.
"Lagian, kenapa Abang suka mengusap perut orang!" Tanya Nayla kesal.
"Sudah, jangan berantem!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Bunda?" Panggil Nayla menatap Ivanna dengan serius begitu juga dengan Naren.
"Tadi, Mommy menangis. Lala dengar kalau Daddy tertembak, apa itu benar?" Tanya Nayla dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nanti kita tanya sendiri kepada Daddy, Bunda juga gak tau sayang!" Ucap Ivanna mengelus kepala Nayla dan memeluk bocil kembar itu.
"Hiks, Lala sedih kalau Daddy kenapa-napa!" Ucap Nayla menangis.
Semua orang menatap bocil kembar itu dengan penuh haru. Sifat saling menyayangi tertanam kuat dalam diri mereka, seperti Ivanna dan Fajri.
Mereka berbincang sambil tertawa bersama untuk menghilangkan sedih dua bocil itu. Hingga Safira memanggil, karena mereka akan menjemput Fajri ke bandara.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE