IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Drama Pagi Hari


__ADS_3

Fajira kembali berjalan menuju ruang makan sambil terkekeh dengan hasil pemikirannya sendiri.


"Apa Naren juga akan bucin ketika besar nanti?" ucap Fajira bertanya pada dirinya sendiri. "Astaga! Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi. Cucuku yang malang!" ucapnya menutup mulut karena semakin terkekeh.


Tingkahnya pagi ini membuat semua art yang lewat menjadi bingung. Hingga ia sampai di ruang makan dan membuat semua orang mengernyit melihat kearahnya.


"Kenapa, sayang? Mana anak-anak?" Tanya Irfan tersenyum melihat tingkah istrinya yang masih terlihat mengemaskan.


"Ah, itu mereka masih tidur!" Ucap Fajira tertawa.


"Apa ada yang lucu, Bunda? kenapa bunda sampai tertawa seperti itu, bahkan sampai merona?" Tanya Fajri begitu penasaran.


"Apa wajah bunda merona?" Tanya Fajira tersenyum sambil memegang wajahnya yang terasa panas.


"Apa oma sedang malu? atau Oma lagi demam?" Tanya Naren mengernyit.


Irfan dan Fajri melotot, dengan pemikiran yang sama. Apakah bunda melihat Nana dan Eza sedang olah raga pagi?. Begitu pikir mereka.


"Bukan, Sayang. Yuk kita sarapan dulu!" Ucap Fajira mengambilkan makanan sang suami.


"Sayang, kamu gak lihat yang aneh-aneh 'kan?" Tanya Irfan menatap Fajira dengan lekat.


"Ah, gak kok, Yah. Itu, mereka sedang sakit dua-duanya! Bunda hanya kepikiran sesuatu," Ucap Fajira tersenyum.


"Apa Bunda?" Tanya mereka penasaran.


"Ayah, waktu bunda hamil, ngidam. Abang, waktu kakak hamil juga ngidam. Sekarang," ucap Fajira tersenyum.


"Jangan bilang kalau Eza juga ngidam?" Pekik Fajri senang.


"Seneng banget, Dad!" ucap Safira menggeleng.


"Bangetlah, Mommy, gimana sih!" Ucap Fajri tertawa bahagia.


"Kamu ampun, bang! Tingkahmu makin aneh!" Ucap Fajira terkekeh.


"Hahaha, Abang puas kalau Eza jugaa ikut ngidam, Bunda! Semoga aja aneh-aneh dan lebih aneh dari abang!" Ucap Fajri tertawa.


"Uhuk, uhuk, uhuk!" Ia tersedak karena masih ada sisa makanan di dalam mulutnya.


Safira segera memberikan air minum untuk Fajri. Semua orang tertawa melihatnya yang terkena karma instant.


"Nah lo, kualat kamu bang!" Ucap Fajira terkekeh.


"Hehe, yang penting abang puas!" Ucap Fajri kembali tertawa.


"Sudah-sudah! Nanti antarkan saja sarapan ke kamar ya, bunda!" Ucap Irfan yang sedang berusaha untuk menghentikan tawanya.


"Iya, Ayah!" Ucap Fajira terkekeh.


Mereka sarapan pagi sambil tertawa mengingat bagaimana pengalaman ngidam Fajri dan Irfan dulu. Hingga semua sarapan tandas, Fajri segera berangkat bersama Nayla dan Naren. Begitu juga dengan Irfan yang harus kembali mengurus perusahaan untuk menggantikan Ivanna sementara waktu.


Fajira dan Safira mengantarkaan yang untuk pergi ke tempat tujuan masing-masing. Mereka tersenyum dan kembali masuk kedalam rumah.


"Bunda, Apa dede masih tidur?apa sebaiknya di bangunkan saja? Soalnya dede harus minum vitamin 'kan?" Tanya Safira.


"Ah, iya. Kakak istirahat saja, biar bunda yang melihat mereka! Atau kakak senam hamil saja!" ucap Fajira tersenyum sambil mengelus perut Safira.

__ADS_1


"Iya, bunda! Kakak ke kamar dulu, mau istirahat sebentar," Ucap Safira terkekeh.


"Ya sudah, istirahatlah! Nanti kalau ada apa-apa panggil bunda langsung ya!" Ucap Fajira.


"Iya, bunda!" Ucap Safira masuk kedalam kamarnya.


Sementara Fajira melanjutkan langkahnya menuju kamar Ivanna. Tanpa mengetuk, ia langsung masuk dan melihat jika sepasang sejoli itu masih terlelap sambil berpelukan.


Ia duduk ditepi ranjang, dan berasa dibelakang Ivanna. Fajira mengelus lembut kepala ibu hamil itu sambil membangunkannya.


"Sayang, bangun yuk!" Ucap Fajira lembut dan mengecup kening Ivanna.


"Sayang, bangun lagi! Dede harus minum vitamin, sayang!" Ucap Fajira.


"Engh, Bunda?" ucap Ivanna dengan suara serak.


"Bangun dulu ya, nanti tidur lagi! Mau sarapan pake apa, sayang?" Tanya Fajira.


"Mau bubur ayam yang di depan gang aja, Bunda. Boleh kan?" Ucap Ivanna tersenyum.


"Boleh, sayang! Coba tanya suami kamu mau makan apa!" Ucap Fajira terkekeh.


Ivanna membangunkan Carenza dengan lembut. Pria tampan itu tidak menyadari jika Fajira ada di dalam kamarnya, sehingga ia bersikap begitu manja kepada Ivanna. Bahkan tanpa malu ia menjawab pertanyaan Ivanna dengan jawaban mesumnya.


"Mau makan kamu aja, sayang!" Ucap Carenza sambil mengecup bukit kembar Ivanna.


Blus!


Ivanna merona, ia begitu malu karena ada sang bunda di sana. Fajira merasa itu adalah hal yang biasa bahkan Irfan lebih parah dari ini.


"Bangun, Za!" Ucap Fajira menahan tawanya.


Mata Carenza langsung terbuka namun ia tidak berani menoleh ka arah mertuanya.


"Bu-bunda?" Ucap Carenza lirih.


"Kamu mau sarapan pake apa, Nak?" Tanya Fajira tersenyum.


"Hmm, apa yang ada aja, Bunda!" Ucap Carenza lirih.


"Betul?, Istrimu mau beli bubur ayam, kamu mau?" Tanya Fajira.


"Hmm, gak mau, Bunda,"Ucap Carenza.


"Apa maunya? Selagi bunda nanya ini!" Ucap Fajira.


"Hmm, mau gulai kacang panjang pake kerupuk kulit, pake kikil sama masakan Padang tambonsu!" Ucap Carenza dengan lancar.


"Itu jeroan semua, nak! Tapi, ya sudah, nanti bunda belikan. Dede harus makan dulu biar bisa minum vitaminnya!" Ucap Fajira tersenyum.


"Iya, terima kasih, Bunda!" Ucap Ivanna dan Carenza bersama.


Fajira keluar dari kamar mereka dan menutup pintu kembali. Carenza menatap Ivanna dengan cemberut dan juga malu.


"Kenapa gak ngomong kalau ada bunda tadi, sayang? Aku malu!" Ucap Carenza merengek.


"Hihi, Maaf, By. Aku lupa bilang!" Ucap Ivanna tersenyum gemas.

__ADS_1


"Apa kepala kamu masih sakit?" Tanya Carenza mengelus kepala Ivanna dengan lembut.


"Cuma pusing saja, By. Hmm, morning, Ayah!" Ucap Ivanna tersenyum dengan wajah yang merona.


"Morning to, Bunda," Ucap Carenza tersenyum bahagia. Ia sedikit duduk untuk mengecup perut rata Ivanna. "Morning juga anak, Ayah!" sambungnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Ivanna mengelus kepala Carenza dengan lembut dan juga ikut berkaca-kaca.


"Morning juga, Ayah!" Ucap Ivanna menirukan suara anak kecil.


Semburat wajah bahagia terpancar dari keduanya. Carenza kembali memeluk Ivanna dengan erat.


"Apa kita gak jadi panggil Abah dan Ambu, Sayang?" Tanya Carenza terkekeh.


"Janganlah, Readers kita gak suka, By!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Ah, aku hmmpphh," Ucap Carenza terhenti karena perutnya terasa bergejolak.


Ia segera berlari menuju kamar mandi dan kembali mengeluarkan isi perutnya. Ivanna yang panik, tiba-tiba saja mengalami sakit kepala yang teramat seperti kemarin.


Ia hanya berbaring sambil menatap pintu kamar mandi. Berharap Carenza bisa baik-baik saja.


Hoek, hoek, hoek.


"Hiks, sayang, Aku lemas!" Ucap Carenza lirih dengan air mata yang menetes.


"Kepalaku berat, By! Seperti kemarin!" ucap Ivanna lirih.


"Hiks, jangan pingsan lagi! Aku gak papa!" Ucap Carenza lemas bahkan sangat lemas.


"Jangan nangis, Baby! Aku gak papa." Ucap Ivanna khawatir.


Ia meraih ponsel dan meminta Fajira untuk datang ke kamar, agar bisa membantu sang suami dengan segera. Sementara ia memejamkan mata berharap bisa segera tidur dan sakit kepala ini bisa menghilang.


Tak lama Fajira datang tergesa-gesa bersama dengan Pak Sakti dan Safira. mereka segera melihat keadaan Carenza yang sudah begitu pucat dan terkulai lemas di lantai kamar mandi. Sementara Safira melihat keadaan Ivanna yang sudah terlelap.


"Pak, cepat bantu angkat!" Ucap Fajira membantu Pak Sakti untuk mengangkat Carenza.


Sedikit kesulitan, mereka membaringkan pria tampan itu di atas kasur.


"Astaga, mereka memang sehati, Bunda! Satu sakit, sakit keduanya!" Ucap Safira meringis.


"Aih, Adekmu pingsan atau tidur, kak?" Tanya Fajira sambil memeriksa Carenza.


"Tidur bunda," ucap Safira memijat pelan kepala Ivanna.


Fajira menuliskan beberapa resep untuk ditebus di Apotek agar bisa mengurangi mual menantu tampannya ini.


"Hehehe," Pak Sakti terkekeh namun ia terkejut ketika Fajira menatap kearahnya. "Eh, maaf, Nya. Saya keceplosan!" Ucap Pak Sakti menggaruk tengkuknya.


"Hehe, memang lucu Pak! Pengen ketawa tapi takut dosa!" Ucap Fajira menahan senyum sambil menatap anak dan menantunya yang tengah terbaring lemah itu.


"Ah, Nyonya. Sepertinya ini sudah menjadi langganan setiap laki-laki yang ada di keluarga ini, pasti akan mengalami ngidam!" Ucap Pak Sakti.


"Pemikiran kita sama, Pak!" Ucap Fajira menggeleng.


Tak lama pak Sakti berlalu, tinggal Safira dan Fajira di dalam kamar itu sambil menemani Ivanna dan Carenza yang masih terlelap.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2