IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Ngidam Carenza 2


__ADS_3

Kegaduhan terjadi diruang makan karena Fajri mengerjai Carenza. Pria tampan itu kembali dengan membawa lobster berukuran kecil, kepiting kecil, gurita kecil dan sate cumi kecil.


Mereka beradu mulut dan berakhir dengan teriakan Ivanna yang meminta mereka untuk berhenti. Kepala ibu hamil itu terasa semakin berdenyut melihat dua pria tampannya yang selalu berdebat.


"Sayang, lihat Abang! Kamu bilang ada kepiting Alaska, gurita besar, lobster besar! Ini apa? kenapa abangmu begitu jahat, Hiks!" Ucap Carenza menangis.


Ibu merasa begitu malu melihat tingkah putranya yang sangat manja. Dimana anakku kesambet ya Tuhan! Setan macam apa yang hinggap di tubuhnya? Aku benar-benar kehilangan urat malu di hadapan besanku!. Batin Ibu begitu kesal.


Kuatkan aku Tuhan! kenapa suamiku terlihat seperti anak-anak sekarang!. Batin Ivanna serasa ingin menangis.


"Kan udah itu, kepiting, lobster, cumi-cumi, gurita!" Ucap Fajri menunjuk semua makanan yang ia bawa.


"Bang, Tolonglah! Aku lagi hamil, lagi sakit kepala, kenapa abang mengerjai suamiku, kasihan bang!" Ucap Ivanna lirih.


"Hehehe, maafkan abang, sayang!" Ucap Fajri menggendong Ivanna di depan dan mendudukkannya di atas kursi. "Pak tolong bawa semuanya!" Titah Fajri.


"Baik, tuan!" Ucap Pak Sakti.


Satu mobil box sudah datang untuk membawa pesanan Carenza. Bahkan Fajri memesan lebih untuk yang lain juga.


Glek!


Carenza berulang kali menelan air liurnya ketika melihat dua raja kepiting Alaska terletak di atas meja dan berada di hadapannya. Dua gurita jumbo, beberapa tusuk sate cumi besar, lima buah lobster jumbo dan seafood tumpah.


"Sayang, Ayo kita makan!" Ajak Carenza tidak sabar.


"Eh tunggu dulu dong! Tunggu bocil kembar dulu pulang sama Ayah!" Ucap Fajri mencegat Carenza.


Pria tampan itu kembali cemberut dan tertunduk lesu di samping Ivanna. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sangat istri sambil sesekali mencolek makanan yang ada di hadapannya.


Sementara yang lain hanya terkekeh melihat tingkah Carenza yang memang persis terlihat seperti anak-anak. Merengek tidak jelas, meminta izin agar ia bisa makan terlebih dahulu. Bahkan air liurnya sampai meneteskan keluar.


"Sabar ya, bentar lagi ayah dan anak-anak akan sampai! Kamu kan habis makan kenyang, By. Apa masiih lapar?" Tanya Ivanna mengernyit.


"Masih, Sayang!" Ucap Carenza kembali menelan air liurnya.


Mereka saling bersandar dan saling menopang tubuh satu sama lain. Fajri yang tidak ingin kalah, ia juga ikut bermanja dengan Safira dan membuat orang yang ada di sana hanya menggeleng kesal.


"Sayang, itu mahal 'kan?" Tanya Carenza mencolek-colek plastik yang membungkus kepiting Alaska itu.


"Iya, sayang. Lumayan sih harganya!" Ucap Ivanna yang juga tergiur untuk memakan semua hidangan yang ada di atas meja makan.


"Gak usah nanya harga, yg penting lo sehat. Jangan adik gua terus!" Ucap Fajri.


"Maaci, Abang!" Ucap Carenza membemberikan jari berbentuk hati sambi menirukan cara berbicara Ivanna kepada Fajri.


"Cih," Pria tampan itu hanya mendelik sambil merasakan belaian lembut tangan Safira di kepalanya.


Hingga Irfan dan bocil kembar datang, mereka segera memulai makan siang bersama. Lagi-lagi Carenza berulah dan membuat semua orang terperangah, apa lagi Fajri yang harus menyediakan stok kesabaran tiada batas.


"Suapi, bang!" Ucap Carenza memelas.

__ADS_1


Semua orang terkejut dengan permintaan Carenza yang sangat menyusahkan Fajri. Namun mereka hanya bisa menahan tawa karena melihat Fajri yang seolah tidak percaya dengan ngidam Carenza yang begitu aneh.


"Gak ada, gak ada!" ucap Fajri menolak.


"Hiks, sayang. Abang jahat!" Ucap Carenza merengek sambil duduk di lantai.


"By, jangan seperti ini!" Ucap Ivanna yang merasa begitu lelah. "Aku saja ya, yang menyuapi kamu?" Tanya Ivanna menawarkan diri.


"Gak mau, aku mau disuapin sama abang. Atau aku gak usah makan aja!" Ucap Carenza cemberut.


"Uncle kok gitu sih? Kan biasanya uncle makan sendiri, sekarang kenapa minta di suapi sama Daddy?" Tanya Nayla.


"Hiks, Lala. Daddy juga pernah seperti ini, masa uncle gak boleh!" Ucap Carenza mencari pembelaan.


"Ayah, kenapa ayah gak mau sih? Kasihan Uncle, pasti dedenya yang mau 'kan, Uncle?" Ucap Nayla.


"Sayang, Gak boleh gitu sama Daddy! Masa iya Daddy yang nyuapin Uncle!" Ucap Fajri memelas.


"Daddy, bukannya itu permintaan Dede, kasihan lo kalau gak di turuti! Kan Daddy sendiri yang bilang!" Ucap Naren yang hanya menyimak sedari tadi.


Pfftt!


Semuaa orang menahan tawa mendengarkan ucapan Naren yang membalikkan ucapan sang Daddy.


"Sudahlah, bang. Suapi saja Adik iparmu. Entah kapan dia akan ngidam lagi!" Ucap Fajira mengompori.


Duar!


Fajri melotot, semua orang berasa di pihak Carenza dan membuat pria tampan itu tersenyum senang dan bahagia.


Duar!


Semua orang kembali terkejut dengan perkataan Carenza yang sangat tidak mungkin itu akan terucap dari mulutnya.


Fajri hanya pasrah, ia duduk di antara Carenza dan Ivanna dan menyuapi mereka dengan begitu telaten. Walaupun dia merasa sedikit geli ketika tangannya masuk kedalam mulut Carenza, karena mereka makan menggunakan tangan.


"Ah, enak banget!" Ucap Carenza berbinar.


"Pastilah, kalau gak enak, bisa tutup itu restoran!" Ucap Fajri ketus.


"Ah, senangnya bisa disuapin oleh abang ipar!" ucap Carenza berbinar.


Entah karena malu atau menahan emosi wajah Fajri memerah hingga ke telinganya. Tuhan, kenapa engkau mengirimkan aku cobaan seperti ini? Apa betul dosa yang telah aku perbuat?. Batin Fajri ingin berteriak.


Semua orang hanya tertawa melihat Fajri dan Carenza yang tidak bisa akur sedikit pun. Begitu juga dengan Ivanna, ia merasa begitu lucu dan sedikit bisa mengurangi sakit kepala yaang tengah ia rasakan.


Fajri membukakan cangkang kepiting satu persatu lalu menyuapi Carenza dan Ivanna. Rasa sayang Fajri tanpa sadar menyeruak karena ia menyuapi Ivanna dengan hati-hati dan berimbas juga pada Carenza.


Siang itu mereka habiskan dengan makan bersama, menghabiskan semua hidangan yang ada di sana bersama dengan art juga.


"Ah terima kasih abang, Aku kenyang banget!" Ucap Carenza menepuk perutnya yang terlihat buncit karena kepenuhan.

__ADS_1


"Hmm, jangan menyusahkan aku lagi setelah ini!" Ucap Fajri mendengus.


"Gak boleh gitu, Bang. Bukankah kamu yang menyumpahiku ngidam di setiap kali Nana hamil. Ya, mau gak mau, kamu juga terlibat!" Ucap Carenza tersenyum puas.


"Cih, Jadi kamu sengaja?" ucap Fajri melotot.


"Gak sengaja kok! Memang lagi pengen, aku juga gak mau di suapi sama abang! Mending gigit tangan lembut istriku!" Ucap Carenza mendelik.


"Sudah, kalau gak berantem sehari bisa gak sih? Capek aku dengarnya!" Ucap Ivanna ketus dan membuat mereka terdiam sambil mendelik satu sama lain.


Ngidam Carenza bukan hanya sampai di sana. Ia menarik tangan Fajri menuju ruang keluarga, padahal ia hendak pergi ke kantor.


"Za, udah deh. Jangan aneh-aneh lagi! Abang mau pergi ke kantor!" Ucap Fajri yang sudah kesal.


"Sebentar saja. Gak tau kenapa, aku ingin tidur di pangkuanmu!" Ucap Carenza memelas.


Duar!


Lagi dan lagi, Fajri speechless mendengarkan perkataan Carenza. Ia berjalan kearah Ivanna yang sudah duduk di atas sofa di ruang keluarga.


"Nak, sayangnya Daddy. Jangan aneh-aneh lagi, nak. Daddy mohon! Ayahmu sudah tidak waras lagi, jadi jangan sampai Daddy gila setelah ini! Bilang sama Ayahmu, ayo sayang!" Ucap Fajri memelas sambil mengelus perut Ivanna.


Sementara yang lain hanya menggeleng melihat Fajri yang sudah tidak tahan dengan tingkah Carenza.


"Udah, anakku gak akan dengar!" Ucap Carenza.


Ia duduk di dekat Fajri, mancari bantal dan berbaring. Ia mengambil tangan kekar pria tampan itu dan meletakkan diatas kepalanya.


Fajri terdiam dengan raut wajah ingin menangis. Namun Ivanna langsung mengusap rahang tegasnya dan mengangguk. Ia hanya pasrah sambil mengelus kepala Carenza hingga pria tampan itu terlelap dengan dengkuran halus yang terdengar keluar dari mulutnya.


"Akhirnya!" Ucap Fajri lirih.


"Pffttt! Siapa suruh abang nyumpahin Mas Eza!" Ucap Ivanna terkekeh.


"Abang juga tidak menyangka jika suami kamu ikut mengerjai abang seperti ini!" Ucap Fajri meringis.


"Ya sudah. Pergilah abang ke kantor, lagi!" Ucap Ivanna.


"Abang lelah, sayang!" Ucap Fajri merebahkan kepalanya di pangkuan Safira.


Matanya semakin berat ketika sapuan lembut tangan Safira mulai membelai kepalanya.


"Istirahatlah dulu, sayang!" Ucap Safira.


"Hmm," Pada akhirnya Fajri melepaskan jas dan dasinya lalu berbaring di samping Carenza.


Dengan cepat ia terlelap hingga tidak menyadari jika Carenza sudah memeluk tubuh kekarnya. Ivanna dan Safira hanya terkekeh melihat dia pria tampan itu.


"Astaga, kak! Aku bisa gila jika ini terjadi setiap hari. Sepertinya, kita harus melakukan analisis untuk memastikan jika mereka adalah laki-laki normal!" Ucap Ivanna terkekeh ketika melihat Fajri membalas pelukan Carenza.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


Rada geli gak sih gais 🀣🀣🀣


__ADS_2