
Hoek, hoek, hoek!
Untuk yang ke sekian kalinya, Ivanna mengeluarkkan cairan bening dari mulutnya. Ia merasa begitu tidak berdaya karena kehamilan kali ini, ja mendapat jatah untuk merasakan apa yang di sebut dengan ngidam.
Carenza berusaha untuk selalu berada di samping Ivanna, sekuat an semampunya. Ia mengurus Ivanna dengan telaten dan berusaha untuk memenuhi segala keinginan ibu hamil ini.
"Makan dulu, sayang!" Ucap Carenza membujuk Ivanna.
"Gak mau, Be! Mual!" Ucap Ivanna menolak.
"Bunda makanlah sedikit, nanti bunda semakin sakit!" Ucap Noah yang juga ikut membujuk.
"Gak kuat, sayang. Bunda beneran mual!" Ucap Ivanna lirih.
"Hiks, nanti kalau bunda gak makan, adik makan apa?" Ucap Noah menangis.
"Sstt, jangan nangis Sayang. Dedenya belum mau makan!" Ucap Ivanna tersenyum sambil mengelus kepala Noah dengan lembut.
"Hisk, Dede makan yuk! Jangan muntah terus!" Ucap Noah tegas sambil sesegukan.
Mengelus perut Ivanna dengan lembut dan membisikkan beberapa kata-kata manis untuk membujuk Baby N, agar bisa makan.
Ia kembali memeluk Ivanna dari samping dengan begitu lembut. Ia memastikan jika kakinya tidak melukai sangat adik yang ada di dalam perut.
"Sayang, gimana kalau adiknya laki-laki?" Tanya Ivanna lirih.
Noah terdiam, tidak ada jawaban darinya mengenai pertanyaan sang ibunda.
"Boy, bunda bertanya itu!" Ucap Carenza mengelus kepala Noah dengan lembut.
"Apa kita tidak bisa memilih Bunda?" Tanya Noah lirih.
"Gak bisa sayang!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Tapi Aku mau adik perempuan, Bunda!" Ucap Noah lirih
"Sayang, baik laki-laki atau perempuan itu sama saja!" Ucap Ivanna.
"Bagaimana dengan adik perempuannya, Bunda? Apa Aku tidak bisa mendapatkannya dengan cepat?" Tanya Noah lirih.
"Bisa sayang, asal Tuhan mengizinkan!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Tapi, aku mau adik perempuan seperti kakak, Bunda!" Ucap Noah merasa sedih.
"Gimana kalau nanti dapat adik laki-laki? Apa Aa' akan membencinya!" Tanya Ivanna.
Noah terdiam, " Tentu saja tidak, Bunda. Tapi aku ingin adik perempuan!" Ucap Noah tegas.
"Untuk sementara, kak Nayla ada, Nizam juga udah gak marah lagi kan, Sayang? Kita tidak bisa memilihnya, Nak!" Ucap Carenza mengelus kepala Noah.
Pria kecil itu hanya terdiam tanpa ingin berbicara lagi. Hingga ia terlelap sambil memeluk Ivanna. Sementara pasangan bucin itu hanya bisa menghela nafas karena memiliki tugas untuk memberikan pengertian kepada Noah, agar ia bisa menerima apapun adiknya nanti.
__ADS_1
"Istirahat, sayang!" Ucap Carenza mengelus kepala Ivanna dengan lembut.
"Kamu juga istirahat, Be! Aku mau di peluk!" Ucap Ivanna lirih.
"Sesuai dengan keinginan tuan putri!" Ucap Carenza Berbaring di sebelah Ivanna dan memeluk ibu hamil itu.
"Ah, aku gak nyangka program kita akan secepat ini berhasil!" Ucap Carenza tersenyum sambil mengelus perut datar Ivanna.
"Syukurlah, Be. Kamu jangan kemana-mana, ya!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Iya, Sayang! Tidurlah!" Ucap Carenza lembut.
Ivanna memejamkan matanya dan terlelap sambil memeluk Noah, sementara Carenza memeluk dari belakang.
πΊπΊ
Ivanna memulai ngidam yang untungnya tidak seaneh Carenza! Hanya saja ia ingin apa pun itu menyangkut tentang Carenza. Makan, harus bekas tangan Carenza, tidur pun harus samping sang suami.
Siang ini Ivanna merengek untuk di masakkan ayam kecap, dan di suapi makan seperti biasanya. Namun kali ini, Ivanna tidak mendapati sang suami berada di rumah.
"Aku ada meeting sebentar, nanti aku balik lagi, sayang!" Ucap Carenza melalui panggilan.
"Tapi aku mau makan, Be!" rengek Ivanna dan membuat Noah mengernyit karena cukup geli melihat ekspresi ibundanya.
"Makanannya sudah aku buatkan, di dalam piring sudah ada bekas aku makan sayang. Cobalah dulu! Sebentar lagi aku pulang ya!" Ucap Carenza.
"Hiks, aku mau disuapin!" Ucap Ivanna menangis.
Ibu hamil itu terdiam dan tersenyum melihat usaha sang anak untuk menggantikan ayahnya.
"Terima kasih, Sayang!" Ucap Ivanna tersenyum dan menerima suapan dari Noah.
"Bunda, ayah lagi kerja. Aku kan ada!" Ucap Noah tersenyum menatap Ivanna.
Ibu hamil itu tersenyum dan mengusap kepala Noah dengan lembut. "Jangan cepat dewasa ya, Sayang. Bunda masih ingin melihat Aa' seperti ini!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Kalau aku gak dewasa, nanti gak bisa jagain Bunda dan adik kecil nanti! ku boleh dewasa ya?" Tanya Noah memelas.
"Ah, baiklah pria tampan Bunda!" Ucap Ivanna tersenyum.
Ia membantu Noah agar bisa menyuapinya dengan baik, agar makanan itu tidak tumpah. Mereka bercerita banyak hal dan mengabaikan Carenza yang masih terhubung melalui panggil vidio.
Pria tampan itu hanya tersenyum mendengarkan cerita anak dan istrinya.Tak lama Ivanna menyadari jika Carenza masih terhubung.
"Be?" Panggil Ivanna yang terdengar horor.
"I-iya sayang?" Jawab Carenza.
"Nanti bawakan aku alpukat, buah naga, dan rambutan!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Rambutan belum musim, Sayang. Yang lain aja, ya!" Ucap Carenza.
__ADS_1
"Gak tau, pokoknya harus ada nanti!" Ucap Ivanna tegas.
"Baiklah!" Uca Carenza pasrah dan mematikan panggilan itu.
Noah hanya menatap Ivanna sambil menggeleng. Ternyata aku memang anak Bunda!. Batinnya lemas.
"Bunda, apa Opa seperti kita juga? Sepertinya tidak, Opa itu seperti ayah dan Daddy!" Ucap Noah.
"Opa itu dulu lebih dingin sayang. Tetap itu hanya kepada orang lain, kalau dirumah Opa itu yang seperti Aa' lihat!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Seperti Bunda yang terlihat seram kalau di luar, tetapi sangat manis ketika berada di rumah!" Ucap Ibu Noah bergidik.
"Tentu, karena di dunia gak ada yang lebih menyayangimu selain keluarga! Jadi, Noah harus menjadi laki-laki penyayang walaupun memiliki sifat yang dingin!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Aku paham, Bunda!" Ucap Noah kembali menyuapi Ivanna dan juga dirinya.
Mereka makan sore haanya berdua saja, karna semua orang tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Hingga Ivanna teringat dengan sebuah makanan yang begitu diinginkan. Ia menelfon Fajri agar bisa membantunya untuk mencari makanan itu dengan segera.
"Dek, abang lagi kerja, sayang. Tunggu sebentar, ya!" Ucap Fajri memelas.
"Hiks, tapi aku pengen banget, Bang! Beliin ya!" Ucap Ivanna memohon.
"Gak kekejar nanti sayang!" Ucap Fajri.
"Hiks, bilang aja abang gak mau!" Ucap Ivanna ketus.
"Astaga sayang. Abang mau, tapi nantinya waktu abang sudah pulang!" ucap Fajri
"Hiks, maunya sekarang! Cuma bebek panggang lo bagian!" Ucap Ivanna memohon..
Noah yang tidak tega melihat sang ibunda yang menangis, segera mengambil alih panggilan dan menatap Fajri dengan datar.
"Kenapa, Nak?" Tanya Fajri tersenyum.
"Apa Daddy tidak kasihan kepada Bunda?" Tanya Noah menyelidik.
"Mau, sayang. Tapi tempatnya jauh dan juga jarang di buka!" ucap Fajri.
"Pokoknya Daddy harus membantu bunda! Atau tidak adikku akan ileran!" Ucap Noah tegas.
"Baiklah, nanti Daddy carikan!" Ucap Fajri psrah.
"Terima kasih, Daddy!" Ucap Noah tersenyum.
"Sama-sama sayang!"
Mereka kembali berbincang, Ivanna menceritakan bagaimana Carenza mengidp dulu. Noah bergidik dan juga terasa mengingat batapa lucunya Carenza dulu.
πΊπΊπΊ
__ADS_1