
Fajri segera pergi menuju ruang kerjanya untuk memantau pencarian yang tengah di lakukan. Besar harapan, agar lima orang yang ada di pesawat itu bisa selamat. Tiga jam sudah pencarian di lakukan. Ada beberapa titik terang untuk melihat bagaimana keadaan pesawat.
"Dua pramugari di temukan selamat tengah tersangkut di atas pohon, Tuan. Co pilot terjepit di bagian pesawat dan mendapatkan luka yang cukup parah. Mereka sedang di larikan ke rumah sakit untuk di evakuasi. Sementara pilot dan teknisi, belum kami temukan hingga sekarang!" Begitu laporan oranng-orang Fajri yang di terjunkan langsung.
"Teruskan pencarian sampai mereka ditemukan!" Ucap Fajri tegas.
Ada sedikit perasaan lega di hati pria tampan itu, Karena mereka sudah lama bekerja kepada Irfan dan keluarganya.
"Semoga pria tua tadi tidak serius dengan ucapannya. Jika itu benar, saya akan sangat marah dan lihat saja, apa yang akan saya lakukan, nanti!" Ucap Fajri dengan mata yang menyalang.
Ia memilih untuk mengawasi Ivanna dan Carenza di ruang keluarga, agar mereka tidak berbuat yang tidak-tidak saat ini. Pasangan bucin itu terlonjak kaget karena melihat kedatangan Fajri.
Ivanna segera melepaskan pegangan tangannya dari Carenza ketika melihat kedatangan Fajri. Berbeda dengan pria tampan itu, ia malah sengaja menggenggam tangan Ivanna kembali dan mengecupnya.
Fajri melotot, namun ia hanya membiarkann saja, karena tidak mungkin ia terlalu mengekang Ivanna. Ia cukup menjaga dan mengawasi adik kecilnya.
"Lo gak pulang?" Tanya Fajri.
"Bentar lagi aja, bang! Ah, lo masa gak ngerti sih!" Keluh Carenza mendelik.
"Cih, sana pulang! Adik gua butuh istirahat!" Ucap Fajri mengusir.
"Cih, bunda bilang tunggu sampai makan malam, ngapain lo ngusir-ngusir?" Ucap Carenza semakin mendelik.
Mulai lagi!. Batin Ivanna menghela nafasnya.
Fajri menatap tajam ke arah Carenza dan begitu pula sebaliknya. Ivanna tidak lagi peduli kepada dua laki-laki itu karena hanya akan membuatnya semakin pusing.
"Kalau mau berantem keluar! Aku mau istirahat! Ana-anaku juga sedang tidur!" Ucap Ivanna ketus.
Ia membaringkan badannya di tengah antara Naren dan Nayla dan memejamkan mata. Sementara Fajri dan Carenza hanya terdiam sambil menatap gadis cantik itu.
"Catur?" Tanya Fajri.
"Siapa takut!" ucap Carenza enteng.
Dengan tenang, mereka bermain catur di ruang keluarga. Sambil mengawasi Ivanna dan anak-anak yang tengah tertidur.
"Bagaimana usahamu?" Tanya Fajri.
"Semuanyaa berjalan dengan baik, bahkan semakin berkembang! Bulan depan aku akan membuka cabang baru!" ucap Carenza.
"Bagus! Bagaimana dengan orang tuamu?" Tanya Fajri.
"Mereka sehat, bahkan sangat mendukung apapun yang aku lakukan, asal itu baik dan tidak menyalahi aturan!" Ucap Carenza.
"Bagus! Apa rencana mu kedepannya?" Tanya Fajri.
"Orang tua dan keluarga sudah hidup lebih baik, usaha juga sudah maju dan berkembang. Rumah, fasilitas lainnya sudah ada. Tujuan utamaku, ya apa lagi kalau bukan Ivanna!" Ucap Carenza tersenyum.
Fajri mengangguk membenarkan ucappan Carenza. "Bagaimana dengan orang tuamu waktu bertemu dengan Ivanna ?" Tanya Fajri.
"Yang pastinya mereka terkejut melihat kedatangan kami. Tetapi semuanya berjalan dengan baik, keluargaku menyukainya. Bahkan ibu juga sering bertanya kapan Ivanna pergi main lagi ke rumah!" Ucap Carenza tersenyum ketika mengingat kejadian lucu mereka ketika pulang dari sana.
__ADS_1
"Apa ada yang lucu?" Tanya Fajri mengernyit.
"Ah, iya. Kamu tau, jika adikmu bukan orang sembarangan? Kita sampai bersembunyi dan mengendap untuk pergi dari rumah, karena kedatangan para tetangga yang begitu ingin mengetahui siapa gadis cantik yang aku bawa pulang!" Ucap Carenza tertawa.
"Aih, jangan sampai itu terjadi!" Ucap Fajri menatap Carenza lekat.
"Tenang saja, semuanya masih di dalam kendali!" Ucap Carenza.
"Ajaklah keluargamu datang ke sini!" Ucal Fajri.
"Ah, tentu, Bang! Mungkin dalam waktu dekat! Tetapi, saya takut, jika sikap ibu saya sedikit mengganggu!" Ucap Carenza menggaruk tengkuknya.
"Jangan seperti itu! Orang tua memiliki cara tersendiri untuk dekat dengan anak-anaknya! Bagaimana kalau malam ini?" Tanya Fajri.
"Apa tidak terlalu mendesak? Memang sih, dari tadi ayah dan ibu sibuk menanyakan keadaan Ivanna," Ucap Carenza.
"Kesempatan yang bagus! Skak!" Ucap Fajri memenangkan permainan.
"Cih, bagaimana bisa? Ulang lagi!" Ucap Carenza kesal.
"Hubungi dulu orang tuamu!" Ucap Fajri.
"Baiklah!"
Carenza segera meraih ponselnya dan menghubungi sangat ibunda. Ia mengatakan jika keluarga Ivanna mengundang untuk makan malam di rumah ini. Sehingga membuat ibu memekik kaget dan memarahi Carenza tanpa henti.
Fajri hanya tertawa mendengar kan suara omelan yang sangat keras itu. Namun ia mengernyit, ketika mendengar ibu Carenza menangis.
"Sudah ya, bu! Dari pada Ibu marah-marah, lebih baik Ibu bersiap untuk datang ke sini nanti malam! Jangan sampai terlambat, atau kami akan kelaparan menunggu Ibu!" Ucap Carenza tertawa.
"Hahaha, aku tidak sabar melihat bagaimana kamu di siksa oleh ibumu ketika sampai di sini!" Ucap Fajri tertawa.
"Ah, syalan! Kenapa aku punya ipar modelan begini? Cih, Seneng banget lihat orang menderita! Sana bilang sama bunda dulu!" Ucap Carenza mendelik.
Fajri yang masih terkekeh berjalan menuju kamar orang tuanya. Sebentar, mendengar sayup-sayup suara erotis berasal dari dalam. Matanya membola ketika memikirkan apa yang tengah dilakukan oleh mereka.
Aih, dasar orang tua! Gak tau waktu, astaga!. Batin fajri menggeleng.
Tok..., tok..., tok....
"Bunda, malam ini keluarga Eza akan datang untuk makan malam!" Ucap Fajri sedikit keras sambil mendekatkan telinganya ke arah pintu.
"Bunda?" Panggil nya bilang sambil menahan tawa.
Ceklek!
Pintu terbuka, terlihat di sana Irfan keluar dengan wajah kesal, dan badan yang berbalut bath robe.
"Ck, Kenapa kamu selalu menggangu, bang?" Ucap Irfan sewot.
"Ck, orang tua gak tau waktu. Untung Abang yang ngetuk, kalau anak-anak bagaimana, yah?" tanya Fajri berusaha untuk menahan tawanya.
"Ck, cepatlah ada apa?" Tanya Irfan kesal.
__ADS_1
"Nanti malam, keluarga Eza bakalan datang untuk makan malam bersama!" ucap Fajri enteng.
"Apa? jangaan bercanda, bang? Pekik Fajira dari dalam.
Mana mungkin ia sempat memasak dengan jumlah yang banyak, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Gak bercanda, Bunda! Eza bilang, kalau keluarganya begitu mencemaskan dede, maka dari itu Abang mengundang mereka! Eza ada di luar untuk membantu bunda memasak!" Ucap Fajri langsung berlari pergi dari sana.
"Fajri!" Teriak Fajira geram.
Sementara pria tampan itu tertawa puas setelah mengerjai orang tuannya.
"Seneng banget lo kelihatannya!" Ucap Carenza mendelik.
"Lo akan paham kalau udah menikah nanti!" ucap Fajri masih tertawa.
Mereka kembali melanjutkan permainan itu dengan hening dan tenang.
"Na, peluk!" Rengek Nayla.
Carenza yang hendak meletakkan poin malah menngenggol semua miliknya dan berantakan karena terkejut.
"Astaga!" Ucap Carenza melongo.
"Pfftt!" Fajri menahan tawanya agar tidak meledek Carenza.
"Ck, padahal hampir menang! Ulang lagi!" Ucap Carenza kesal.
"Awas saja kalau kamu kesal dengan anak gadisku!" Ancam Fajri.
"Mana berani!" Ucap Carenza menngedikkan bahunya.
Tak lama, Fajira datang dan memboyong dua pria tampan itu untuk membantunya memasak hidangan makan malam nanti.
"Siapa suruh bikin janji mendadak seperti ini!" Omel Fajira.
"Pfftt," kini giliran Carenza yang menertawakan Fajri,
"Sudah, jangan tertawa lagi! Atau kalian bunda suruh berdiri dengan satu kaki!" Ucap Fajira mendelik.
"Ampun, bunda!" Pekik mereka berdua.
Sore itu dapur Fajira terlihat berantakan karena mereka berkejaran dengan waktu, memasak beberapa hidangan untuk makan malam nanti.
Beruntung semua bahan masakan masih tersedia di dalam kulkas. Dibantu dengan para asisten rumah tangga, semua hidangan dengan cepat bisa terselesaikan.
Mereka seger membersihkan badan karena sudah sangat kotor. Beruntung Carenza memiliki beberapa baju ganti di kamar tamu karena paksaan dari Ivanna, sehingga ia tidak perlu repot untuk membeli atau meminjam baju milik Fajri.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Happy Monday, gais.
__ADS_1
Yuk vote karya author, jangan lupa like juga yang banyak yaa πππ