
Malam menjelang, waktu suxah menunjukkan pukul 02.00 dubi hari. Joe sudah mengatur siasat bersama dengan anak buahnya untuk menangkap Azmi dan Fadil malam ini. Tidak melibatkan satu orangpun polisi tetapi menggunakan cara mereka sendiri.
Tak lupa, ia juga membawa beberapa kamera untuk merekam aksi kali ini. Mereka sudah meminta izin kepada pihak polisi terlebih dahulu, agar tidak terjadi kesalahan pahaman nantinya.
"Jangan sampai mereka curiga!" ucap Joe menginstruksi.
"Baik, bos!"
Semua anak buah yang berjumlah enam orang berpencar dan masuk ke dalam rumah mewah Azmi sambil mengendap-endap. Keluarga itu sudah mengamankan diri terlebih dahulu dengan menyewa beberapa bodyguard untuk mengawasi rumah mereka.
Namun sayang, beberapa orang di antaranya adalah tim keamanan Dirgantara. Sehingga yang lain bisa membuka pintu masuk tanpa di curigai sedikitpun.
"Bos, kita sudah berada di depan pintu kamar mereka!" ucap salah satu anak buah Joe.
"Dobrak dan seret mereka langsung keluar dari rumah itu. Kamera juga sudah siap di luar!" ucap Joe memberikan perintah.
"Siap laksanakan!" ucap mereka serentak.
Brak!!
Mereka mendobrak kamar Azmi dan Fadil secara bersamaan. Pria tampan itu langsung di bangunkan secara paksa dengan tangan yang sudah di borgol.
"Hei, apa-apaan ini? siapa kalian?" bentak Azmi setelah mendapatkan kesadarannya.
Tidak ada satu orangpun yang menghiraukan perkataan Azmi dan Fadil. Sementara sang Nyonya juga ikut histeris melihat suami dan anaknya di bawa secara paksa.
"Jangan bawa anak dan suami saya! siapa kalian, dasar biadaab!" ucap Mama azmi mencegat mereka.
"Lepaskan! Lepaskan brengkseek!" bentak Azmi yang berusaha untuk melepaskan badannya dari tim keamanan.
"Saya akan menuntut kalian atas perlakuan ini! Lepaskan!" bentak Fadil.
Mereka segera di gotong ke dalam mobil, namun Azmi berusaha untuk melawan dengan menendang orang-orang yang tengah memegangnya. Sayang, itu tidak berhasil karena tenaga Azmi tidak cukup kuat untuk memberontak.
Tim keamanan segera bawa mereka menuju kantor polisi untuk di tahan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Satu persatu masalah sudah terselesaikan! Besok hanya tinggal mengadakan konferensi pers dan semuanya akan kembali seperti semula. Batin Joe tersenyum smirk.
Ia segera mengirim pesan kepada Fajri dan Ivanna agar bisa mendapatkan instruksi selanjutnya dari mereka.
πΊπΊ
Di kantor polisi, Azmi dan Fadil terus saja memaki semua orang yang ada di sana. Karena ia sudah di masukkan ke dalam tahanan bersama dengan sang Ayah.
"Brengseek! keluarkan saya! Kalian tidak tau siapa saja? atas dasar apa kalian bisa menangkap kami seperti ini! Saya akan menuntut kalian setelah ini!" bentak Azmi.
"Hei! Kau berisik! tidakkah kau lihat ini sudah jam berapa? setan!" bentak salah satu penghuni lapas.
"Kau berani membentakku? syalan!" ucap Azmi yang emosi dan berjalan ke arah tahanan yang membentaknya tadi.
"Sudahlah! kita harus menunggu jawaban mereka, kenapa kita bisa di tangkap seperti ini!" ucap Fadil menatap Azmi dengan tajam.
"Tapi, Pa!" Sergah Azmi.
__ADS_1
"Sudah!" ucap Fadil tegas.
Prok...,
Prok...,
Prok....
Tepuk tangan menggelegar di depan ruang tahanan itu dan membuat mereka terkejut bukan main. Seorang gadis cantik dengan mata tajam dan wajah yang garang, berdiri di hadapan mereka dengan emosi yang membuncah.
"Apa kabar Tuan Azmi dan bapak Fadil?" ucap Ivanna menyeringai.
"I-Ivanna!" ucap mereka berdua.
"Selamat datang di gerbang kehancuran!" ucap Ivanna tersenyum smirk.
"Apa maksudmu? Harusnya kami yang melaporkan kamu atas robohnya proyek apartemen mewah kami!" bentak Fadil.
"Hahaha!" tawa Ivanna menggelegar dan terdengar mengerikkan. "Dengar tuan Azmi dan Tuan Fadil. Saya memang baru memimpin perusahaan, tetapi saya sudah mempelajarinya dari kecil! Jadi Bagaimanapun trik kalian, saya sudah bisa menebaknya!" ucap Ivanna tegas.
"Trik apa maksud anda, Nona?" tanya Fadil yang mulai pucat.
"Cih, dasar bodoh!" umpat Ivanna kasar. "Merugikan diri sendiri hanya untuk sebuah obsesi! Anda sengaja merobohkan gedung itu dan menyuruh supir anda untuk mengeksekusinya? Cih, anda seorang CEO yang selalu curang, tetapi kalian tidak lebih dari sampah!" ucap Ivanna sarkas.
"Berikan surat penangkapan mereka!" titah Ivanna.
Seorang body guard menyerahkan salinan surat penangkapan mereka lengkap dengan semua tuntutan yang semakin memberatkan hukuman nantinya.
"Ini, ini tidak mungkin! Kau wanita iblis Ivanna, kau iblis!" bentak Azmi yang tidak menyangka jika wanita yang ia cintai tega berbuat seperti ini.
Semua polisi terdiam melihat bagaimana Ivanna bertindak sangat tegas dan terlihat seperti Irfan ketika sedang marah.
Tidak ada lagi gadis anggun keluarga Dirgantara. Sekarang hanya ada seorang CEO yang sudah mengeluarkan taring dan menunjukkan siapa ia sebenarnya.
"Sudah, Nona!" cegat Joe.
"Saya ingin video penangkapan malam ini di sebar besok setelah konferensi pers! Jadikan hingga tranding 1 hingga tembus berita luar!. Ambil alih perusahaan mereka sebagai ganti rugi atas kejadian ini!" ucap Ivanna tegas sambil menatap Azmi dengan tajam.
"Ivanna, anda tidak berbuat seenaknya! Perusahaan itu lebih besar dari kerugian yang anda terima!" bentak Azmi.
"Turunkan saham mereka seharga kerugian yang kita tanggung!" ucap Ivanna tersenyum smirk. "Apa masih ingin membantah?" tanya Ivanna menatap Azmi dengan garang.
"Kau wanita iblis! kau iblis Ivanna!" bentak Azmi.
Bugh!
Brak!
Sebuah hantaman tag sangat keras mendarat di kepala Azmi dan membentur besi penjara sehingga membuatnya pingsan.
Ivanna dan yang lainnya terkejut ketika melihat kejadian yang baru saja terjadi. Ia menatap laki-laki paruh baya yang baru saja menghantam Azmi dengan rasa tidak percaya.
"Dasar badjingan!" umpatnya dengan kasar. "Maaf, Nona! Saya membuat anda tidak nyaman!" ucapnya sopan.
__ADS_1
"Tidak apa! Jangan ulangi lagi kesalahan, bapak!" ucap Ivanna mengangguk
"Senang bertemu dengan, anda!" ucapnya ramah.
Ivanna tersenyum sebelum melangkah keluar dari sana tanpa menghiraukan teriakan Fadil yang terus memanggil namanya.
Ia berjalan ke arah Fajri yang sedang membentangkan tangan menyambut Ivanna dan memeluk adik kecilnya yang cantik ini.
"Bagaimana, sayang? Apa sudah lega?" tanya Fajri sambil mengusap kepala Ivanna dengan lembut.
"Belum, bang! Apa yang dia lakukan hari ini belum setimpal dengan apa yang Dede rasakan, kepanikan karyawan dan semua investor yang sudah pergi!" ucap Ivanna lirih.
"Jangan risau, sayang! Kita akan mencari investor luar negeri untuk membantu memulihkan perusahaan dan pastinya, akan banyak pengusaha yang tertarik dengan perusahaan kita setelah berita ini tranding hingga masuk berita luar negeri!" ucap Fajri tersenyum.
"Beneran? Abang bukan lagi menghibur Dede 'kan?" tanya Ivanna lirih.
"Abang serius, sayang!" ucap Fajri terkekeh.
"Terima kasih! Dede sayang, Abang!" ucap Ivanna begitu manis.
Para polisi itu terpana dan masih tidak percaya, jika mereka akan melihat Nona muda itu secara langsung. Bagaimana ia marah dan bagaimana ia terlihat begitu manis di hadapan sang Abang.
Sungguh pemandangan yang langka!. Batin mereka di dalam hati.
Fajri memang menemani Ivanna dan datang ke kantor polisi bersama. Namun ia ingin Ivanna belajar untuk menangani masalahnya sendiri dan berani untuk menghadapi semua musuh yang berkemungkinan akan datang lebih banyak.
"Kita pulang, ya! Sebentar lagi pagi akan menjelang! Kita harus bersiap-siap untuk melakukan konferensi pers. Setelah ini kita bisa beristirahat," ucap Fajri menggendong Ivanna di punggungnya.
"Hmm, Dede merasakan sedikit lega, bang!" ucap Ivanna menyandarkan kepalanya di bahu Fajri.
"Besok dede akan merasa lebih lega lagi!" ucap Fajri tersenyum.
Mereka segera menaiki mobil dengan kawalan yang cukup ketat menuju rumah. Masih ada waktu dua jam untuk beristirahat.
Tanpa ada yang menyadari, seorang laki-laki yang masih berdiri menatap kepergian Ivanna dengan perasaan yang masih tidak percaya.
Gadis cantiknya yang mengemaskan bisa berkata kasar, tegas dan membuat orang mati kutu di hadapannya.
"Semoga masalah ini cepat selesai, sayang! Maaf, aku tidak bisa membantu kamu dalam banyak hal!" ucap Tono yang sengaja mengikuti Ivanna.
Ia tidak tidur setelah mengantarkan Ivanna pulang dan memilih untuk menunggu kekasih hatinya di bawah jendela kamar Ivanna. Namun ia melihat sebuah mobil keluar dengan buru-buru dari rumah itu, sehingga Tono memilih untuk mengikutinya.
Ia bergegas untuk pulang dan mengistirahatkan badannya sejenak, karena hari baru dengan status baru akan di mulai.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Bagi semangatnya gais, Aku mau crazy up hari ini ππ
like
like
__ADS_1
like