
Deg!
Ivanna terkejut dengan apa yang ia dengar barusan. Ia menatap Tono dengan rasa tidak percaya.
A-apa? cemburu? dia mengatakan kata keramat itu? Di-dia cemburu atau aku yang salah dengar?. Batin Ivanna mengernyit.
"Tu-tunggu! Kamu bilang apa tadi?" ucap Ivanna memastikan apa yang barusan ia dengar.
"Apa kamu bisa ikut ke ruanganku sebentar? Aku ada coklat cadbury!" ucap Tono berkilah.
Glek!
Aku mau!. jerit Ivanna.
"Apa ada hal yang angat penting? Aku harus segera pergi! Mungkin kamu bisa memberikan coklatnya lain kali kepadaku!" ucap Ivanna melihat jam tangannya.
"Jam berapa kamu free nanti? apa aku boleh mengunjungimu ke perusahaan?" tanya Tono.
"Jam 4, dan jangan terlambat!" ucap Ivanna tegas.
"Baiklah!" ucap Tono tersenyum.
Ia segera meminta karyawannya untuk mengambil pesanan Ivanna tadi.
"Tidak perlu di bayar! Sampaikan salamku kepada, Nyonya Fajira dan Tuan Irfan. Semoga beliau cepat sembuh!" ucap Tono tersenyum.
"Terima kasih, Nanti akan aku sampaikan!" ucap Ivanna tersenyum tipis dan menerima bingkisan itu.
Mereka berjalan keluar, lebih tepatnya Tono mengantar Ivanna menuju mobil dan membukakan pintu untuk Tuan Putri yang cantik itu.
"Hati-hati di jalan, tuan Putri!" ucap Tono tersenyum sambil menutup pintu setelah Ivanna masuk ke dalam mobil.
"Iya. Aku tunggu kedatanganmu, Tuan Carenza!" ucap Ivanna tersenyum tipis.
"Ah, baiklah, Nona Muda!" ucap Tono melambaikan tangannya.
Hingga mobil Ivanna bergerak meninggalkan restoran. Tono segera masuk ke dalam, namun ia di cegat oleh suara yang tidak asing di telinganya.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Baiklah!" ucap Tono mengeraskan rahangnya.
Mereka masuk ke dalam ruangan 002 tadi dengan mata yang saling menatap dengan tajam. Orang itu adalah Bryan, ia begitu cemburu melihat perlakuan Ivanna terhadap Tono yang sangat berbeda dengannya.
"Apa kalian berpacaran?" tanya Bryan dengan matanya yang menyalang.
"Belum, sepertinya sebentar lagi dia akan menjadi milikku!" ucap Tono tegas.
"Percaya diri sekali, kau! Ivanna tidak akan mau dengan pria seperti kau!" ucap Bryan meremehkan.
"Oh ya? Apa karena saya hanya seorang koki restoran? Saya rasa peluang yang saya miliki lebih besar di bandingkan anda!" ucap Tono berani.
Brak!
__ADS_1
"Kau!" Bryan menunjuk Tono sambil menggebrak meja.
"Kenapa? kita memiliki peluang yang sama untuk merebut hati Ivanna. Dan satu hal, saya memiliki poin yang lebih unggul di bandingkan anda!" ucap Tono dengan wajah garangnya sambil menahan emosi.
"Apa yang kau miliki? Aku yakin, Tuan Fajri dan Tuan Irfan tidak akan menerima kau untuk masuk ke dalam rumahnya!" ucap Bryan.
"Ah, iya saya lupa mengatakan hal ini. Saya sering main ke rumah itu dan belajar memasak bersama, Bunda. Makanya saya bisa hafal dan tau makanan seperti apa yang bisa di makan oleh Ivanna, karena tubuhnya yang begitu sensitif!" ucap Tono tersenyum bangga.
Bryan termagu mendengar panggilan Tono kepada Fajira. Ia semakin tidak terima jika Ivanna dimiliki oleh orang lain, selain dirinya.
Bunda? dia dengan santai memanggil Bunda? Ini tidak bisa di biarkan!. Batin Bryan.
"Kita sama-sama menginginkan Ivanna, Tuan Bryan. Mari bersaing secara sehat. walaupun hati Ivanna sudah dimiliki, tetapi peluang itu masih ada sampai ia menikah nanti!" ucap Tono dengan tenang.
Bryan menatap tajam ke arah Tono, ia sangat tidak setuju dengan tawaran laki-laki yang ada di hadapannya ini.
"Saya tidak perlu bersaing dengan kau! Karena saya yakin bisa mendapatkan hati Ivanna kembali!" ucap Bryan percaya diri.
"Oh ya? kalau begitu kita lihat saja nanti! Yang jelas, saya tidak akan berhenti berjuang untuk mendapatkan Ivanna! walaupun saya hanya seorang koki!" ucap Tono tersenyum smirk menatap Bryan.
"Saya peringatkan kepada kamu, jangan macam-macam denganku, kalau kau tidak ingin kehilangan pekerjaan!" ucap Bryan mengancam.
"Saya juga memperingatkan kepada anda, jangan macam-macam denganku jika anda tidak ingin di benci oleh Ivanna!" ucap Tono tersenyum penuh kemenangan.
Wajah Bryan merah padam karena emosinya yang sangat membuncah. Ia keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
Brak!
Memang belum bisa menyaingi Bryan, namun apa yang ia punya sudah bisa mencukupi kehidupan mewah Ivanna di kemudian hari.
Kau jangan lemah, Za! Ivanna pasti akan memilihmu!. batin Tono menyemangati dirinya.
Ia harus bersih-bersih terlebih dahulu, karena kurang dari dua jam lagi ia akan bertemu dengan Ivanna, sang pujaan hati.
"Ah, aku harus mampir ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli beberapa coklat, Kue coklat, wafer coklat, dan semua makanan dengan rasa coklat!" ucap Tono.
Ia tersenyum manis sambil keluar dari ruangan itu. Hingga tanpa sadar membuat seorang perempuan yang baru saja datang, menjadi terpana melihat betapa indahnya ciptaan tuhan yang satu ini.
"Bapak?" panggil Nafisya.
"Ah, Nafisya. Ada apa?" tanya Tono mengernyit.
"Maaf, Pak. Ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani!" ucap Nafisya dengan salah tingkah karena tatapan Tono.
"Ah, iya. Mari ikut keruanganku!" ucap Tono.
Mereka segera pergi menuju ruangan Tono. Hanya berdua saja, tanpa ada yang lain di sana.
Kenapa pak Tono tidak mau melirik saya sedikit saja, Pak? Apa saya kurang cantik untuk bapak? jika di bandingkan dengan Nona Ivanna, saya memang sangat jauh darinya. Tetapi saya cukup melebihi standar kecantikan wanita kok!. Batin Nafisya menatap Tono penuh damba.
"Sudah, selesai. Nafisya, tolong kamu hendel pekerjaan sore ini, saya ada keperluan!" ucap Tono menyerahkan beberapa berkas yang sudah ia periksa dan di tanda tangani.
"Baik, pak! Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!" pamit Nafisya tersenyum manis.
__ADS_1
"Iya, Hati-hati ya!" ucap Tono tersenyum tipis.
Nafisya keluar dari ruangan itu. Sementara Tono segera bersiap untuk pergi ke kantor Ivanna. Dengan senyum yang mengembang, ia berbenah diri agar terlihat semakin tampan di hadapan Ivanna nanti.
"Aku sangat tidak sabar untuk melihat wajah meronanya yang mampu membuat hatiku seolah meleleh dan mencair! Ah tuhan, kenapa engkau menciptakan perempuan secantik itu!" teriak Tono frustrasi.
Ia segera melangkah menuju dapur dan membungkus dua potong paha ayam, dan membawanya menuju mobil mewah yang baru saja ia beli.
Tak lupa singgah ke supermarket untuk membeli beberapa macam kue dengan rasa coklat kesukaan Ivanna dan juga sekotak ice cream, tiga rasa ukuran sedang.
Dengan senyum yang mengembang, Tono segera pergi ke perusahaan Ivanna. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 3 sore.
"Apa aku terlalu cepat?
Ah, ice creamnya bisa mencair nanti!" keluh Tono.
Ia berhenti sejenak di tepi jalan, ketika melihat adik kaka yang tengah membawa karung, duduk di tepi jalan sambil menatap penjual es krim keliling.
"Dek, sini!" panggil Tono setelah menepikan mobilnya.
"Iya, Om? ada apa?" tanya gadis kecil yang terlihat kumuh dan lusuh.
"Ini, Om ada beberapa makanan! Makan sama adeknya ya!" ucap Tono menyerahkan beberapa roti coklat dan es krim tadi.
"Wah, terima kasih, Om! semoga rezeki Om lancar terus dan kursi di sebelah cepat terisi!" ucap gadis berumur 10 tahun itu.
Tono terenyuh mendengarkan doa tulus dari gadis itu. Matanya berembun, melihat mereka yang begitu bahagia walaupun hanya mendapatkan sepotong roti.
"Terima kasih. Ah, ini Om ada sedikit uang untuk jajan!" ucap Tono menyerahkan tiga lembar uang ratusan kepada gadis itu.
"Gak usah, Om. Ini aja cukup kok!" tolaknya halus.
"Gak papa. Ambil saja, dek!" ucap Tono.
"Terima kasih, Om! terima kasih banyak!" ucap gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sama-sama. Gunakan sebaik mungkin, ya!" ucap Tono menjalankan mobilnya.
Ia masih memandang, gadis itu dan adiknya yang terlihat sangat senang ketika mendapatkan cemilan darinya.
Tepat pukul 03.25, Tono tiba di loby perusahaan mewah dan besar milik Ivanna. Ia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu dan langsung masuk kedalam gedung itu, namun ia lebih dulu di cegat oleh resepsionis.
"Selamat datang, Tuan Carenza. Nona Ivanna berpesan, anda bisa menunggunya di dalam ruangan presdir!, Mari saya antar!" ucapnya dengan ramah.
"Terima kasih!"
Ia segera menuju ke ruangan Ivanna dengan sangat tidak sabar sambil membawa kantong kresek yang berisi begitu banyak makanan.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Ayo looo, Tinggalkan like yaa!! yang banyak ππ
__ADS_1