IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Dimana Ivanna?


__ADS_3

Huft....


Seorang pria tampan duduk termenung di tepi jendela restorannya dari pagi hingga siang menjelang. Menahan rindu yang teramat kepada sang kekasih membuatnya tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Hanya helaan nafas yang terdengar begitu membosankan keluar dari mulut Tono.


Sudah satu minggu mereka tidak bertemu karena jadwal Ivanna yang sangat padat. Mereka hanya bisa bertukar kabar melalui panggilan telefon tanpa bisa bertemu barang sebentar saja.


Ah, aku jadi malas ngapa-ngapain, padahal kerjaan banyak banget. Aku kangen, sayang! Ini baru seminggu tidak bertemu, apalagi kalau selama satu bulan kedepan kamu berkeliling dunia untuk memulai bisnismu. Aku bisa mati kalau seperti ini terus!. Batin Tono menjerit.


"Sabar ya, By. Jangankan untuk kita bertemu, waktu istirahatku berkurang sekarang! Sabar dalam sebulan ini, ya! Setelah itu kita akan sering bertemu lagi!" ucap Ivanna ketika mereka melakukan panggilan video.


"Pak, mbak Nafisya menghubungi saya dan mengatakan) ada sedikit masalah di peternakan!" ucap resepsionis restoran memudarkan hayalan Tono.


"Masalah di peternakan? Baiklah, terima kasih!" ucap Tono lesu.


Ia berjalan kembali ke ruangannya untuk mengambil beberapa berkas dan perlengkapan yang di rasa perlu untuk di bawa.


"Saya titip resto, ya!" ucap Tono.


"Baik, Pak. Hati-hati, semoga anda selamat sampai tujuan!"


"Terima kasih!" ucap Tono tersenyum.


Ia berjalan keluar menuju mobilnya. Namun ketika hendak membuka pintu mobil, ia di kejutkan dengan suara yang tak asing di telinganya.


"Dimana, Ivanna?" tanya seseorang dengan wajah garangnya.


"Dia sibuk!" ucap Tono ketus dan kembali membuka pintu mobil.


Brak!!


"Pasti kau tau dimana Ivanna berada!" ucap Bryan emosi sambil membanting pintu mobil.


Ia sudah setiap hari mencari keberadaan Ivanna, namun tidak melihat dimana batang hidung gadis cantik itu.


"Apa masalahmu, Tuan Bryan? Saya pun belum bertemu dengan Ivanna satu minggu ini! Kenapa anda datang dengan emosi dan menghadang saya?" tanya Tono yang ikut terbawa suasana.


"Jangan berbohong kepadaku! Semenjak permasalahannya kemarin, saya tidak mendapatkan akses sedikit pun untuk masuk ke dalam ruangan Ivanna. Dan kau sudah beberapa kali masuk ke dalam ruangan itu! Sekarang katakan dimana dia!" bentak Bryan kasar dan meraih kerah kemeja Tono.


Pria tampan itu segera melepaskan tangan Bryan dan menghempaskannya dengan kasar.


"Dengarkan ini! Kau tidak ada hak apapun atas Ivanna. Dia milikku dan kami akan segera menikah! Menyerahlah mulai dari sekarang!" ucap Tono tegas dengan wajah sangar dan berada dekat dengan wajah Bryan.


"Kau! Saya tidak akan membiarkan itu terjadi! Sekarang katakan dimana Ivanna!" bentak Bryan lagi.


"Saya tidak tau dimana Ivanna! Kami sudah satu minggu tidak bertemu! Seharusnya kau sadar, jika kau akan menjadi Azmi yang ke dua, jika sikap kau masih seperti ini!" ucap Tono juga ikut membentak.


"Kau!" tunjuk Bryan dengan wajah yang memerah karena emosi.


"Harusnya kau paham, jika Ivanna tengah sibuk menata kembali perusahaannya yang baru saja pulih! Kau tidak di butuhkan saat ini! Camkan itu!" ucap Tono sarkas.

__ADS_1


Bugh....


Tiba-tiba saja Bryan melayangkan pukulan di pipi Tono dan sedikit mengenai bibir pria tampan itu, sehingga mengeluarkan darah.


"Badjingan, kau! Apa masalah kau sebenarnya? Terima saja kekalahan, jika Ivanna itu milikku!" bentak Tono.


"Tidak akan ku biarkan kau memilikinya!" ucap Bryan kembali menyerang Tono.


Berbekal ilmu bela diri sabuk hitam, Tono dengan mudah melumpuhkan Bryan yang tidak terlalu pandai dalam bidang bela diri.


Tapi, pukulannya sakit juga thor!. batin Tono mendelik.


Hingga Bryan terkapar dengan tangan yang sudah berada di belakang punggungnya, karena Tono berhasil melumpuhkan bule tampan itu.


"Kau lemah! Bagaimana mungkin laki-laki sepertimu bisa melindungi Ivanna, jika berduel denganku saja kau tidak mampu! Cih!" ucap Tono semakin menekan tangan Bryan semakin kuat.


"Lepas, badjingan!" Bentak Bryan dengan wajah yang sedikit babak belur.


"Kau menyerahlah, Bryan! Ivanna akan semakin membencimu jika dia tau kau menyerangku seperti ini!" ucap Tono garang. "Jangan ganggu saya, atau Ivanna tidak akan pernah melihat ke arahmu lagi!" ancamnya sambil melepaskan tangan Bryan dan masuk ke dalam mobil.


Ia segera melajukan kendaraannya dan meninggalkan restoran itu. Sementara Bryan hanya bisa menatap kepergian Tono dengan dendam yang begitu teramat.


Apa yang harus aku lakukan? Dengan Ivanna mengakui hubungan mereka pada awak media itu sudah membuatku kalah dengan telak! Tapi selama ini aku berjuang untuk mendapatkannya, kenapa harus laki-laki itu yang memiliki hati Ivanna?. Batin Bryan.


Ia memilih pergi dari sana, agar tidak membuat dirinya semakin malu karena kalah bertarung dengan Tono.


Ia melajukan mobilnya menuju rumah mewah Ivanna untuk menunggu kepulangan gadis cantik itu.


Sementara Tono, ia melajukan mobilnya dengan cukup cepat karena kesal.


Tiiiiit....


Bunyi klakson terdengar begitu nyaring dan berhasil mengagetkan Tono yang hampir saja menabrak kendaraan lain. Ia memilih untuk menepikan mobilnya dan berdiam diri sejenak.


"Huft, kenapa dia harus kembali lagi? Apa pengakuan Ivanna tidak cukup untuk membuatnya sadar jika ia telah kalah!" ucap Tono kesal.


Bukan ia tidak tau dimana keberadaan Ivanna, namun sangat tidak mungkin juga untuk ia beberkan kepada Bryan. Karena itu sangat tidak baik untuk hati dan perasannya.


"Syalan kau, Bryan! sshhh," ringis Tono ketika merasakan perih di bibirnya.


Ada sedikit lebam di sana. Bisa dipastikan jika sang ibunda ratu akan marah mendapati putra sematawayangnya pulang dengan keadaan babak belur.


"Ah, bikin masalah saja! Jangan sampai Nana tau jika aku berantem dengan laki-laki itu!" ucap Tono sedikit cemas.


Ia memilih untuk mampir ke klinik terlebih dahulu untuk mengobati sudut bibirnya yang luka. Setelah itu ia langsung pulang ke rumah orang tuanya untuk melihat masalah apa yang tengah terjadi di peternakan.


🌺🌺


Sementara di belahan dunia lain, Ivanna mengeram kesal melihat sikap Bryan yang sudah kelewatan batas. Namun ia juga tidak memiliki cara lain, mengingat Bryan yang begitu keras kepada dan ambisius untuk mendapatkannya.

__ADS_1


"Jangan sampai kamu menjadi Azmi ke dua, Bry! atau aku akan sangat membencimu!" ucap Ivanna mengeram kesal.


Saat ini ia tengah berada di Ibu kota di rumah mendiang Oma dan Opanya untuk mengurus beberapa pekerjaan. Sudah dua hari ia berada di kota itu, sambil menyimpan segudang kerinduan yang teramat.


Walaupun ia jauh, namun keselamatan keluarganya dan Tono itu nomor satu. Apalagi ia harus cukup memperhatikan Tono agar tidak terekspos ke media, hingga pria tampan itu sendiri yang menginginkannya.


"Semoga, ketika aku kembali, luka lebam itu sudah hilang, atau aku akan mencari Bryan dan menghabisinya!" ucap Ivanna emosi.


Ia selalu memantau bagaimana keadaan Tono di tempat yang bisa ia lihat, ketika waktu istirahat.


"Nona, ini susu hangatnya!" ucap Felicia yang baru saja datang dari luar.


"Terima kasih! Malam ini, kita tidur bersama! Aku rada ngeri jika hanya tidur sendiri di rumah sebesar ini!" ucap Ivanna.


"Baik, Nona!" ucap Felicia yang juga merasakan hal yang sama dengan Ivanna.


"Fel, apa kamu pernah berada di dalam lingkaran cinta segitiga?" tanya Ivanna.


"Pernah, Nona!" ucap Felicia mengingat-ingat.


"Bagaimana?" tanya Ivanna ambigu.


"Terkadang dalam cinta segitiga itu laki-laki yang tidak kita pilih justru itu yang selalu ada, tapi tergantung bagaimana laki-laki yang Nona pilih! itu semua juga tergantung takdir, Nona!" ucap Felicia.


"Bagaimana denganmu?" tanya Ivanna.


"Saya memilih pacar yang sudah menjadi mantan saya, Nona!" ucap Felicia terkekeh.


"Terus yang satu lagi, bagaimana kamu menghindarinya?" tanya Ivanna.


"Hmm, aku hanya menyadarkan dia dan mengatakan jika cinta itu tidak harus memiliki! Waktu itu saya nyaman dan merasa diperlakukan dengan istimewa oleh dia. Makanya saya memilih mantan saya, cukup lama juga sih, Nona. Sekitar dua tahun!" ucap Felicia bercerita apa adanya. "Apa Nona juga sedang terlibat? Maaf!".


"Iya, begitulah! Saya sudah memiliki Tono saat ini, namun Bryan datang dengan tingkah laku yang tidak baik. Saya sudah memilih Tono, tetapi dia tidak pernah paham dengan ucapan saya, Fel! dia begitu terobsesi kepada saya!" keluh Ivanna.


"Coba, nona ngomong perlahan sambil makan misalnya! Yang aku dengar, kalau laki-laki itu lebih mudah mencerna sesuatu ketik ia makan atau kenyang, Nona!" jelas Felicia.


"Ah, baiklah. mungkin kapan-kapan akan aku coba!" ucap Ivanna.


Mereka segera beristirahat untuk menjalankan aktivitas selanjutnya yang akan lebih menguras tenaga.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Udh Update yang ke berapa ini?πŸ˜‚πŸ˜‚


jangan lupa tampol2 author dengan gift, like, komentar dan vote.


terima kasih 😁😁

__ADS_1


__ADS_2