IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Restu?


__ADS_3

"Kalau begitu, berusahalah! Karena kau mendpatkan saingan yang banyak. Pasti mereka memiliki segalanya melebihi apa yang kau punya saat ini!" ucap Fajri tegas.


Tono terkejut bukan main, ia termagu menatap Fajri dengan rasa yang tidak percaya.


"Maksud, Tuan. Apa anda memberikan saya restu untuk mendekati Ivanna?" tanya Tono menangkap maksud omongan Fajri.


"Tergantung bagaimana sikapmu kedepannya! Jika sampai kau melukai hati adikku, akan ku buat kau hidup segan mati tak mau!" ucap Fajri tegas dan berlalu dari sana.


Ia meninggalkan Tono yang masih membeku di tempatnya berdiri tadi. Fajri kembali masuk ke dalam ruangan privat itu dan ikut makan bersama dengan yang lain.


Sementara Tono, ia masih termagu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Satu langkah lagi, aku bisa memilikimu, Na. Aku sudah mendapatkan restu dari abangmu. Aku akan berusaha agar, Tuan Irfan memberikan aku restu juga!. Batin Tono senang.


Tanpa terasa air matanya menetes dengan mudah dan tidak bisa ia cegah. Jujur berhadapan dengan Fajri adalah beban yang paling berat selama ini ia fikirkan. Rasa takut di tolak dan di asingkan, membuat Tono tidak berani untuk mendekati Ivanna dengan intens.


"Aku akan merebut hati Ivanna. Aku yakin bisa! Tuhan bantu aku!" ucap Tono menghapus air matanya.


Ia kembali berjalan keluar menuju ruang privat dimana Ivanna dan keluarganya berada. Bahkan ia tidak menyangka, jika gadis itu memboyong anggota keluarganya yang lain, untung Ivanna sudah memberitahunya terlebih dahulu.


Ia membawa beberapa hidangan penutup yang akan di jadikan menu baru di restonya nanti.


"Silahkan di nikmati, ini puding sehat, yang di buat menggunakan buah-buahan segar dengan kandungan yang sangat di perlukan oleh tubuh! Yang pastinya sangat cocok untuk di jadikan makanan penutup," ucap Tono tersenyum.


Ia meletakkan lima piring puding yang bergambar panda, kucing dan ikan. Nayla dan Naren berbinar, melihat puding yang lucu itu.


"Wah, bukannya Mommy sering membuat ini?" ucap Nayla.


Deg,...


Bagai di sambar petir, Fajri dan Tono saling bertatapan. Fajri yang menatap pria tampan itu dengan tajam, sementara yang di tatap, sudah lebih dulu ketakutan.


"Wah, rasanya sama!" ucap Nayla yang mencoba puding itu. "Naren coba deh!" ucanya menyuapi Naren.


"Iya, rasanya sama!" ucap Naren polos tanpa menyadari suasana di ruangan itu sudah terasa horor.


Safira dan Ivanna menyadari tatapan Fajri. Ibu muda itu segera menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu, kenapa bisa puding itu terasa begitu sama.


"Om Tono ini, dulunya teman Mommy, sayang. Puding ini jualan Mommy dan Om Tono waktu di kampus dulu!" ucap Safira yang membuat Fajri semakin terbakar api cemburu.


"I-iya, Nona kecil, tapi ini sudah di tambah dengan bahan yang lain. Silahkan di makan!" ucap Tono gugup.


Nayla menyangkat pandangannya menatap ke arah orang yang tengah berbicara sedari tadi. Mata bening itu berbinar melihat Tono yang begitu tampan dan manis.


"Wah, Om ini lebih tampan di bandingkan Om yang tadi!" ucap Nayla berbinar.


Deg!,...


Kini giliran Ivanna yang terkejut sambil menatap Nayla. Kenapa gadis kecil ini begitu ember dan tidak bisa menjaga rahasia.


Ah, tuhan. Kali ini, apa dia akan marah kepadaku atau dia semakin bucin dan cemburuan! Lala, kamu membuat Nana masuk kedalam lubang buaya lebih dalam lagi!. Batin Ivanna meringis.


Om yang tadi? siapa maksud Nayla? Apa ada yang bertamu ke rumah Ivanna tadi?. Batin Tono cemburu.


Sementara Fajri tersenyum puas, melihat telinga Tono yang memerah karena menahan cemburu.


Rasakan itu!. Batin Fajri tertawa.


"Habiskan makanannya ya, habis itu kita pulang. Lala dan Naren belum buat tugas sekolah kan?" tanya Fajri.


"Belum, Daddy! Nana, nanti kita naik motor lagi ya!" ucap Nayla senang.


"Naik mobil aja sama Daddy, ya!" ucap Fajri.

__ADS_1


"Baiklah, Lala juga sudah ngantuk! nanti malah ketiduran di atas motor," ucap Nayla pasrah.


Mereka menghabiskan hidangan itu hingga tandas, bahkan Tono juga membungkus beberapa potong untuk calon mertuanya.


"Billnya, tolong!" ucap Fajri.


"Eh, gak usah, tuan. Makanannya memang saya persiapkan untuk menyambut kedatangan anda!" ucap Tono tersenyum.


"Serius?" tanya Fajri mengernyit.


"Iya, saya serius! Hmm, Tuan Fajri, titip ini untuk calon mertua saya! Terima kasih!" ucap Tono tersenyum smirk.


"Kau, berani menyuruhku? kau hantarkan saja sendiri!" ucap Fajri menolak.


"Baiklah! Terima kasih undangannya, Tuan!" ucap Tono tersenyum senang.


Fajri hanya mendelik melihat Tono yang memahami maksud dari perkataannya.


Mereka segera pergi menggunakan mobil dan meninggalkan Ivanna yang masih duduk di dalam ruangan itu.


"Na?" panggil Tono yang duduk di sebelah Ivanna.


"Hmm, ya?" ucap Ivanna tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Nana?" panggil Tono dengan wajah cemberut.


"Kenapa, Tono?" tanya Ivanna mengernyit.


"Kamu sibuk ya?" tanya Tono lesu.


"Hmm? Aku lagi cari sekretaris, cewek! Ini, om Pandu lagi menyodorkan beberapa kandidat," ucap Ivanna.


"Na," panggil Tono menatap Ivanna dengan serius.


"Iya, sebentar, ya. Aku lagi,..." ucap Ivanna menoleh dan termagu melihat wajah serius Tono. "Kenapa wajah kamu serius seperti itu?" tanya Ivanna mengernyit.


Deg,...


"Kamu serius?" tanya Ivanna tidak percaya.


"Iya, Na. Hmm, apa aku sudah bisa mendapatkan jawaban dari kamu?" tanya Tono penuh harap.


"Hmm, Maaf, Tono, aku belum bisa menjawabnya. Sabar, ya!" ucap Ivanna merasa bersalah.


"Gak papa. Nanti malam, aku main ke rumahmu, ya! Aku ingin bertemu dengan, Tuan Irfan. Mana tau aku bisa mendapatkan restu dari beliau!" ucap Tono menerawang.


"Semoga saja. Aku tunggu kedatanganmu! Sepertinya aku harus pulang," ucap Ivanna.


"Secepat itu? Bagaimana dengan menunya?" ucap Tono sendu.


"Enak, aku rasa ini bisa laku keras, karena memang sangat enak!" ucap Ivanna tersenyum.


"Benarkah?" ucap Tono berbinar.


"Iya, Kerja keras terus ya!" ucap Ivanna tersenyum.


Ia segera melangkah keluar dengan membawa helmnya. Tono hanya pasrah mengantar kepergian Ivanna. Hatinya cukup senang dengan kedatangan gadis cantik itu beserta keluarganya dan mendapatkan restu dari Fajri. Walaupun hatinya masih sedih, karena Ivanna belum memberikan jawaban.


"Hati-hati, calon pacar!" ucap Tono tersenyum.


"Iya, Aku pulang dulu!" ucap Ivanna menjalankan motornya.


"Iya." Ucap Tono dengan senyum yang memudar seiring hilangnya Ivanna dari pandangan.

__ADS_1


Ia segera masuk ke dalam ruangannya dan termenung, memikirkan langkah apa yang akan ia ambil untuk merebut hati Ivanna.


Tok,... tok,... tok,...


"Masuk!" ucap Tono.


Seorang gadis cantik, memasuki ruangan Tono, dengan membawa beberapa berkas penting dari Carenza's Farm.


"Permisi, Pak. Ini ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani. Ini juga ada hasil pemeriksaan ternak, dan ada beberapa grosir yang meminta agar mereka bisa memasok ayam dari kita, Pak!" jelas Nafisya.


"Hmm, silahkan duduk dulu!" ucap Tono.


Nafisya dengan patuh duduk di atas sofa ruangan itu, sambil menunggu Tono yang sedang memeriksa beberapa berkas yang ia bawa.


"Kamu sudah makan?" tanya Tono tiba-tiba.


"Sudah, Pak. Terima kasih!" ucap Nafisya tersipu.


Hening, Tono hanya sibuk memeriksa semua berkas itu hingga Ivanna kembali datang dan langsung masuk ke dalam ruangan itu.


"Tono, aku kelupaan sesua--" ucap Ivanna terputus ketika menyadari ada orang lain di dalam ruangan itu.


"Kelupaan apa, Na?" tanya Tono tersenyum.


"Helm Nayla ketinggalan!" ucap Ivanna menatap Nafisya mengernyit.


Kapan dia datang?.


"Iya kah? masuk lah dulu, biar aku telefon karyawanku untuk melihatnya!" ucap Tono menuntun Ivanna untuk duduk di kursi kebesarannya.


Ia menelfon karyawan untuk menanyakan helm milik Nayla yang tertinggal tadi. Sementara Ivanna dan Nafisya saling menatap tajam satu sama lain.


Sial, apa mereka ada hubungan khusus? Ah, kenapa sainganku seperti dia?. Batin Nafisya.


Sepertinya sekretaris ini, menaruh hati kepada, Tono. Ini tidak bisa di biarkan, dia hanya milikku! Jangan harap ada yang memilikinya selain aku. Batin Ivanna bengis.


Ketika Tono selesai menelfon, ia merasakan atmosfir yang mulai memanas. Ia melihat tatapan dua gadis itu terlihat sangat menusuk.


Glek,...


Apa yang terjadi di antara mereka?. Batin Tono menjerit.


"Na?" panggil Tono lembut membuat kedua gadis itu menoleh ke arahnya.


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Tono berjongkok dihadapan Ivanna.


"Tidak! Apa kamu sibuk?" tanya Ivanna lembut.


"Iya, ada sedikit pekerjaan. Ada Apa?" tanya Tono.


"Gimana kalau kamu langaung ikut ke rumah? Sepertinya, Bunda akan senang jika kamu menemaninya memasak!" ucap Ivanna tersenyum.


"Baiklah! Tunggu sebentar ya!" ucap Tono tersenyum dan bersemangat.


Sementara Nafisya mendengus sebal mendengar percakapan mereka. Otaknya berputar untuk mencari jalan keluar agar Tono tidak pergi bersama Ivanna.


Namun seakan buntu untuk mencari jalan keluar, ia hanya pasrah ketika Tono menyelesaikan semua berkas yang ia bawa.


"Nafisya, ini ada beberapa catatan yang sudah saya buat. Jika ada kendala, tanyakan saja kepada bidangnya masing-masing. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!" ucap Tono menggandeng tangan Ivanna dan keluar dari ruangan itu.


Ivanna tersenyum smirk menatap Nafisya yang sudah sangat kesal.


"Awas saja kau, Nona muda. Aku akan merebut Pak Tono!" ucap Nafisya setelan mereka keluar.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2