
"Nona, apa kita bisa berbicara sebentar?" Tanya Jordan mencegat Ivanna yang hendak pergi ke kamar.
"Ada apa? Saya rasa ini bukan jam kerja, kita tidak membuat janji dan saya tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi keinginan anda!" Ucap Ivanna datar.
"Hmm, sebentar saja, Nona!" Ucap Jordan memohon.
"Maaf, silahkan anda buat janji kepada asisten saya!" Ucap Ivanna berlalu.
Jordan hanya menatap Ivanna sendu, namun menjadi kesal ketika melihat Carenza yang tersenyum smirk kepadanya sambil memegang pinggang Ivanna berjalan menuju lift.
Sial! Apa kurangnya saya di bandingkan dia? Lihat saja nanti!. Batin Jordan menahan amarah.
Ivanna memang begitu disiplin dengan pekerjaan, apa lagi waktunya terlalu sedikit untuk keluarga, sehingga ia menolak dengan tagas untuk meladeni tamu tanpa membuat janji terlebih dahulu. Tidak peduli siapa, yang jelas ia memiliki aturan tersendiri yang tidak bisa dilanggar begitu saja.
Fajri hanya menggeleng melihat tingkah Ivanna dan Carenza yang sama-sama menolak kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
"Ayo kita kembali ke ruang tamu!" Ucap Fajri mengajak Jordan.
Hanya mereka berdua pergi menuju ruang tamu. Sementara Irfan sudah pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
"Apa kau menyukai adikku?" Tanya Fajri dalam bahasa Inggris.
"Siapa yang tidak tertarik kepada adik anda, Tuan!" Ucap Jordan tersenyum kecut.
"Masih banyak perempuan yang bisa kau incar untuk dijadikan pendamping hidup. Jangan mengganggu mereka, atau kau akan berhadapan denganku!" Ucap Fajri tegas.
Jordan hanya terdiam, ia mengetahui bagaimana kejamnya Fajri di dalam dunia bisnis dan dimana pun.
"Itu tidak mungkin, Tuan! Tetapi, jika adik ipar anda tidak becus untuk menjaga Nona, jangan marah jika saya merebutnya dari tangan laki-laki itu!" Ucap Jordan masih menganggap Carenza lemah.
"Terserah! Tapi tidak semudah itu!" Ucap Fajri terlihat menyeramkan.
Jordan kembali termagu mendengarkan ucapan Fajri. Tak lama ia segera pergi dari rumah itu dengan wajah kesal. Sementara Fajri terkekeh melihat Jordan yang berjalan cepat keluar dari rumahnya.
Di dalam kamar, Carenza masih saja cemberut dan enggan berbicara dengan Ivanna. Rasa cemburunya masih membara ketika melihat mata Jordan yang penuh cinta, menatap sang istri.
"Be, jangan seperti ini! Aku lelah, Be" Ucap Ivanna yang ikutan kesal.
"..."
"Ah, ya sudah. Aku mau istirahat dulu!" Ucap Ivanna menarik selimut hingga lehernya dan memejamkan mata.
Krik, krik!
Hanya keheningan yang menemani sejoli ini. Carenza tetap bungkam sambil mengelus perut Ivanna dengan lembut.
Tiba-tiba saja, ibu hamil itu kembali membuka matanya. Ia berusaha untuk berbalik badan dan menatap Carenza yang tengah berpura-pura tertidur.
"Be, aku rada curiga dengan kehadiran Jordan kesini!" ucap Ivanna mengutarakan hasil pemikirannya.
Carenza membuka matanya "Maksud kamu apa?" Ucapnya mengernyit.
"Aku merasa dia memiliki niat jahat, Be! Kita harus meningkatkan kewaspadaan, agar tidak kecolongan!" Ucap Ivanna serius.
"Beneran, sayang? Kok aku sepertinya tidak percaya jika dia memiliki nyali untuk berhadapan dengan keluargamu," ucap Carenza.
"Kalau di sana, Aku gak ada apa-apanya, Be. Kamu harus siaga, karena aku belum sekuat dan selincah dulu!" Ucap Ivanna serius.
Carenza menatap Ivanna dengan raut wajah yang sulit di baca. Kehilangan Ivanna adalah sebuah ketakutan yang begitu besar dalam dirinya.
"Iya sayang! Sekarang istirahat, ya!" Ucap Carenza tersenyum.
__ADS_1
"Udah gak ngambek lagi?" Tanya Ivanna mengernyit.
"Gak kuat aku kalau ngambek terus, sayang!" Ucap Carenza terkekeh.
"Nah, tau gitu ngapain pake acara ngambek-ngambek segala?" Ucap Ivanna mendelik sebal.
"Jangan marah, sayang. Yuk kita main kuda-kudaan dulu sebelum bobo!" Ucap Carenza tersenyum bahagia.
Ivanna mendelik kesal dengan wajah yang merona, namun ia tidak menolak sentuhan hangat sangat suami yang selalu ia rindukan.
Temaram cahaya lampu menambah kehangatan di dalam kamar itu. Lagi dan lagi, Carenza membuat Ivanna lemas karena serangannya. Berulang kali, Ivanna memekik penuh kenikmatan ketika gelenyar puncak hasrat berhasil menguasainya.
Hingga lenguhan panjang dari Carenza mengakhiri pergulatan itu dengan begitu indah.
πΊπΊ
Pagi menjelang, Ivanna kembali ikut dengan sang suami. Wajah dinginnya tersenyum bahagia, karena ia tidak lagi bosan ketika berada di rumah.
Saat ini merek sedang berada di atas mobil menuju cabang resto yang lain untuk melakukan pengecekan rutin. Ivanna tanpa merasa lelah terus mengekori langkah Carenza hingga ia terkejut dengan kehadiran seseorang yang sangat dihindari.
"Pagi, Nona!" Sapa Chelsea berbinar.
Duar!
Ivanna langsung membeku ketika mendengar suara gadis yang sangat ia benci itu.
"Ternyata betul kata orang, kalau jodoh gak akan kemana!" Ucap Chelsea lagi.
"Nga-ngapain kamu di sini?" Tanya Ivanna was-was sambil memegang perutnya.
"Ah, restoran saya ada di seberang jalan, Nona! Hmm, Nona begitu cantik hari ini, saya makin suka!" Ucap Chelsea tersenyum malu.
"Apa saya menakuti, Nona? Maaf, saya tidak bermaksud! Hmm bagaimana kalau kita duduk dulu?" tanya Chelsea menarik salah satu kursi yang ada di dekat Ivanna.
Dengan pasrah Ivanna duduk di kursi itu setelah memastikan jika Chelsea tidak berniat jahat kepadanya. Soalnya, di cabang ini tidak ada ruangan khusus yang di buat oleh Carenza. Sehingga ia tidak tau ingin lari kemana.
"Apa saya membuat Nona tidak nyaman?" Tanya Chelsea.
Syalan ini orang! Masih bertanya seperti itu. Kehadirannya saja sudah membuatku terancam!. Batin Ivanna kesal.
"Maaf, Nona. Saya begitu senang karena bertemu dengan anda. Boleh kita berteman? Ya, walaupun saya mencintai Nona, tapi gak ada salahnya untuk berteman terlebih dahulu. Mana tau fikiran anda bisa terbuka
dan memilih saya. Nanti babynya bisa kita rawat bersama!" Ucap Chelsea tersenyum.
Gubrak!
Ingin rasanya Ivanna tenggelam ke dasar bumi mendengar ucapan gadis cantik itu. Kenapa di dunia harus ada orang seperti ini Tuhan! Aku masih normal dan lebih memilih terong dari pada jeruk!. Batin Ivanna menjerit.
"Nona, ngomong dong. Saya ingin mendengarkan suara nona yang begitu merdu itu! Bahkan saya menyimpan semua rekaman nona mulai dari kecil hingga seperti ini!" Ucap Chelsea tersenyum bangga.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kenapa gadis ini begitu agresif. Astaga, perutku mengeras!. Batin Ivanna meringis.
"Nona, Anda baik-baik saja?" Tanya Chelsea mengamati perubahan ekpresi Ivanna.
"Bisakah Kau diam? Kau membuat anakku takut!" Bentak Ivanna jengah.
"Ma-maaf, Nona! Apa kita perlu ke rumah sakit?" Tanya Chelsea takut.
"Tidak! Cukup kau pergi di hadapanku, atau kau duduk tenang tanpa berbicara!" Ucap Ivanna tegas.
Ia masih meringis sambil mengelus perut buncitnya dengan lembut. Ia berdo'a di dalam hati agar Carenza bisa datang secepatnya.
__ADS_1
Chelsea langsung terdiam sambil menatap Ivanna dengan raut wajah Cemas. Ia merasa bersalah, karena membuat ibu hamil itu kesakitan.
"Nona?" Panggil Chelsea lirih.
"Diam!" Bentak Ivanna dengan wajah garangnya.
Gadis itu menunduk karena takut melihat ekspresi Ivanna. Ia memainkan tangannya yang ada di bawah meja dan menahan diri agar tidak kembali berbicara.
Tak lama Carenza datang dan membuat pria tampan itu juga terkena amarah Ivanna.
"Udah dibilangin jangan lama-lama!" Ucap Ivanna ketus.
"Maafin aku, sayang! Yuk kita pergi!" Ucap Carenza meringis.
"Tuan, Saya masih mengobrol dengan Calon pacar saya, kenapa anda malah mengajaknya pergi?" Cegat Chelsea.
"Apa? Calon pacar? Kau gila, Nona! Jangan sentuh istriku, atau kau akan membayar penalti atas kerja sama kita!" Ucap Carenza bengis.
"Cih, kita lihat saja, siapa yang akan di pilih oleh Nona, Nanti!" Ucap Chelsea yang tidak kalah bengis.
"Cepat kembali ke asalmu!" Ucap Carenza mengusir Chelsea.
"Nona, Saya harap besok kita masih bisa bertemu dengan rasa yang berbeda. Saya akan berjuang untuk mendapatkan anda!" Ucap Chelsea berbinar senang.
"Cepat pergi! Dasar gila!" Bentak Carenza.
Mereka menjadi tontonan di restoran itu. Para pengunjung merasa begitu lucu, karena melihat fans Ivanna yang begitu fanatik bahkan cenderung gila.
"Aku mau pulang saja!" Ucap Ivanna kesal.
"Ah, Ya sudah. Aku antar pulang, sayang!" Ucap Carenza terkekeh.
Ivanna berjalan dengan hati-hati dan terlihat begitu mengemaskan bagi siapapun yang melihatnya. Ingin mereka mengelus perut Ivanna, mengucapkan berbagai macam do'a untuk kelancaran persalinan nanti.
Ketika berada di dalam mobil, Ivanna mendapatkan telefon dari Felicia, jika Jordan membuat janji dengannya siang ini di salah satu cabang restoran milik Malik.
Carenza mendegus sebal mendengarkan hal itu. Ia memilih untuk mengekori Ivanna pergi menuju restoran itu, karena pertemuan kurang dari setengah jam lagi.
"Mau apa dia, Sayang? Aku gak mau tau, pokoknya aku ikut kamu untuk masuk!" Ucap Carenza kesal.
"Iya! Aku juga takut kalau dia macam-macam, Be. Secara aku lagi hamil, gak mungkin juga untuk berkelahi!" Ucap Ivanna serius.
"Hah, Untung aku sudah mndapatkan empat ban hitam dari empat ilmu bela diri! Semoga saja tidak terjadi apa-apa nanti, sayang!" Ucap Carenza dengan mata yang menyalang.
"Huh, aku jadi parnoan sendiri, Be! Padahal aku gak pernah takut dengan apapun. Tetapi semenjak hamil, aku merasa anak kita selalu berada dalam bahaya, tetapi aku tidak bisa untuk melawannya!" Ucap Ivanna lirih.
"Itu gunanya aku, sayang! Semuga tidak ada bahaya yang akan membuat kita terpisah!" ucap Carenza tersenyum dan mengusap perut Ivanna.
"Semoga saja Ayah!" Ucap Ivanna begitu manis.
Tak lama mobil berhenti di restoran Malik, mereka segera keluar dan langsung di sambut oleh sang pemilik menuju ruangan yang sudah di pesan sebelumnya.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Hai aku punya rekomendasi bacaan lagi nih! Yuk mampir, cerita nya bagus, gak kalah dengar cerita author lainnya
Kuy baca dulu! Senogaa suka. π€π€
__ADS_1