
Carenza segera mengajak Ivanna untuk pergi ke rumah sakit agar bisa memeriksakan kesehatan sang istri. Katika baru sampai di lobby perusahaan, Ivanna terhuyung dengan kepala yang begitu sakit. Beruntung Carenza cepat menahan tubuhnya yang hampir saja terjatuh.
Semua orang panik melihat sang atasan yang tiba-tiba saja lemas. Carenza segera menggendong Ivanna, dan masuk kedalam mobil yang sudah menunggu.
"kerumah sakit, Pak!" Pekik Carenza cemas.
"Hiks, kepalaku sakit, By!" Ucap Ivanna meringis.
"Iya, sayang. Sabar ya! kita kerumah sakit sekarang!" Ucap Carenza memijit pelan kepala Ivanna.
"Telfon bunda, By!" Ucap Ivanna lirih dan mulai kehilangan kesadarannya.
"Sayang? Sayang bangun!" Ucap Carenza panik sambil menepuk pelan pipi Ivanna. "Percepat, Pak!" pekiknya.
"Baik, Tuan!" Pak Sakti segera menambah laju mobilnya menuju rumah sakit Dirgantara yang berada tak jauh dari sana.
Ciit!a
Mobil berhenti di ruangan IGD dengan tergesa-gesa. Pihak rumah sakit yang mengenali mobil itu terkejut dan langsung bergegas untuk mengambil brankar.
Terlihat sang nona muda sadarkan diri di dalam gendong Carenza. Mereka panik dan segera menghubungi Annisa.
"Tuan, silahkan letakkan Nona di sini!" Ucap beberapa perawat.
"Tunjukkan saja baliknya!" Teriak Carenza yang begitu panik.
Ini kali pertama Ivanna sakit dan pingsan semenjak ia mengenal istri cantiknya ini.
"Cepat, dokter mana dokter?" Pekik Carenza setelah meletakkan Ivanna di atas brankar.
"Sayang, bangun yuk! Sayang? Ivanna, bangun sayang!" Panggil Carenza.
Dokter pribadi keluarga Dirgantara yang sedang piket di rumah sakit itu langsung masuk dan memeriksa keadaan Ivanna.
Ia tersenyum ketika mendapatkan hasil analisi yang bagus, sehingga membuat Carenza naik pitam.
"Kenapa anda tersenyum? Anda tau jika istri saya sedang pingsan?" Ucap Carenza sedikit meninggi.
"Sabar, Tuan. Sepertinya jika saya memberitahukan ini, anda juga akan tersenyum!" Ucap Dokter.
Carenza termagu, ia menuntut penjelasan selanjutnya dari dokter itu.
"Tolong jelaskan!" Ucap Carenza tegas.
"Begini...," Ucap dokter itu terhenti ketika Fajira dan Annisa datang, mereka langsung membuka kain penyekat itu.
"Dek? Sayang, Bunda di sini, Nak! Bangun yuk!" Ucap Fajira lembut sambil menekan sela-sela jari antara jempol dan telunjuk Ivanna.
Ia memeriksa keadaan putrinya dengan terkejut ketika menemukan hasil analisanya. Ia melihat ke arah dokter dengan rasa tidak percaya.
"Bagaimana, Nyonya?" Tanya dokter itu tersenyum.
"Apa anda sudah memeriksa Putri saya?" Tanya Fajira tidak percaya dengan hasil Pemeriksannya.
"Sudah, Nyonya. Saya rasa hasil pemeriksaan kita sama!" Ucap dokter itu tersenyum.
"Tunggu, apa yang terjadi, Bunda? Istriku kenapa?" Tanya Carenza bingung.
Fajira tersenyum sambil menatap sang menantu dan membuat Carenza semakin bingung, panik dan khawatir.
"Istrimu gak papa! Sekarang cepat kamu daftar ke bagian Obgyn!" Ucap Fajira.
Tanpa berfikir panjang, Carenza segera mendaftarkan Ivanna pada bagian Obgyn yang ia sendiri tidak tau bagian apa itu.
"Permisi, sayaa ingin mendaftar!" Ucap Carenza buru-buru.
"Baik, Nama istrinya siapa, Mas?" Tanya resepsionis tanpa menyadari kehadiran Carenza.
__ADS_1
"Ivanna, Ivanna Hanindya Dirgantara!" Ucap Carenza.
Resepsionis itu termagu dan terkejut ketika mendengarkan nama Ivanna. Ia mengangkat kepala dan menatap Carenza dengan terkejut.
"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya tidak mengenali anda!" ucapnya.
"Sudah, tidak masalah! Sekarang saya mau mendaftarkan istri saya!" Ucap Carenza.
"A-anda tidak perlu mendaftar, Tuan! Ji-jika Nona Ivanna datang, bisa langsung di periksa!" Ucap gadis itu gugup.
"Tidak! Daftarkan istri saya segera! Kasihan pasien yang lain!" Ucap Carenza tegas.
"Ba-baiklah, Tuan!" Resepsionis itu mendaftar Ivanna dengan segera dan memberikan nomor antrian kepada Carenza.
"Terima kasih!" Ucap pria tampan itu dan berlalu dari sana.
Sejenak ia terpaku melihat beberapa ibu hamil tengah duduk di kursi tunggu. Matanya berembun, mengingat belum ada kabar bahagia tentang kehamilan Ivanna.
Sebentar! Obgyn? Ibu hamil?. Batin Carenza terkejut.
Ia melihat nomor antrian tadi dan terkejut ketika melihat tulisan di sana.
Apa Nanaku hamil?. Batin Carenza semakin terkejut.
Ia berlari menuju ruang IGD dan melihat jika Ivanna sudah sadar. Ia langsung menghampiri nya dan memeluk sang istri dengan erat.
"Sayang?" Panggil Carenza menatap Ivanna dengan lekat.
"Kamu kenapa, By?" Tanya Ivanna lirih sambil mengelus rahang tegas Carenza.
Pria tampan itu tersenyum. "Habis ini kita ke dokter Obgyn ya, sayang!" Ucap Carenza mengecup tangan Ivanna dengan lembut.
Deg!
Ivanna terkejut menatap Carenza tidak percaya. Ia seolah meminta jawaban kepadanya. Pria tampan itu tersenyum.
"Benarkah?" Tanya Ivanna berkaca-kaca.
"Kita harus banyak-banyak berdo' a, sayang!" Ucap Carenza mengecup kening Ivanna dengan lembut dan lama.
Tes!
Air mata Ivanna menetes, ia memeluk Carenza dengan erat. Fajira melihat anak-anaknya dengan rasa haru yang membuncah.
Semoga ini bisa menjadi celah untuk bunda membawa kamu pulang dan tinggal di rumah lagi, Sayang!. Batin Fajira.
Ivanna memang membujuk orang tuanya agar bisa tinggal berdua bersama dengan Carenza di apartemen. Dengan pasrah mereka mengizinkan walaupun tidak rela. Dan sekarang bagaimana pun caranya, Ivanna harus tinggal lagi di rumah utama Dirgantara.
"Gimana, Za? Udahh daftar, Nak?" Tanya Fajira.
"Sudah, Bunda! Tapi Eza ambil nomor antrian!" ucap Carenza
"Kenapa, Nak?" Tanya Fajira mengernyit.
"Kasihan yang lain, Bunda. Mereka lagi hamil besar, pasti kesulitan dan mudah pegal kalau duduk terlalu lama!" Ucap Carenza sendu.
"Ah, ya sudah, gak papa! Sekarang kita tunggu di sana saja!" Ucap Fajira.
"Iya, Bunda!" Ucap Carenza tersenyum.
Ia segera menggendong Ivanna menuju ruang Obgyn. Banyak pasang mata yang menatap tanpa berkedip. Dipastikan mereka akan menjadi perbincangan publik setelah beberapa lama tidak ada berita mengenai mereka.
"Duduk di sini aja, Nak!" Ucap Fajira menunjuk tiga kursi kosong yang tepat berasa di depan pintu ruang pemeriksaan.
Banyak orang yang menyapa mereka. Dengan ramah Fajira mengajak mereka untuk mengobrol. Berbeda dengan Ivanna, ia hanya bersandar di dada Carenza sambil memejamkan mata karena kepalanya terasa begitu berat.
"Pusing, sayang?" Tanya Carenza lembut.
__ADS_1
"Iya, By! Apa giliranku masih lama?" Tanya Ivanna lirih.
"Mungkin dua atau tiga orang lagi, sayang. Sabar, ya!" Ucap Carenza lembut sambil memijat kepala Ivanna.
"Badanku lemas, By! Perasaan tadi gak papa!" Ucap Ivanna semakin lirih.
Ibu-ibu hamil di sekitar itu hanya bisa mengigit jari melihat keromantisan mereka yang jarang terlihat bermesraan didepan umum.
"Ibu Lidya..., Eh Nona," Ucap suster mengenali Ivanna. "Silahkan anda masuk, Nona!" Ucap suster itu.
Sementara ibu yang bernama Lidya itu memasang wajah masamnya, ketika ia harus di undur dan mendahulukan pemilik rumah sakit.
"Nanti saja, By! Kasihan mereka yang sudah mengantri! Kamu juga sudah terlanjur mengambil nomor antrian!" Ucap Ivanna lirih tanpa membuka matanya.
"Sesuai antrian saja, Suster!" Ucap Carenza.
"Tapi, tuan!" Cegah Suster itu sedikit takut.
"Ikuti saja!" Ucap Ivanna menatap suster itu dengan tajam.
"Ba-baik, Nona!" Ucap Suster itu gelagapan.
Suasana mencekam seketika. Fajira mengernyit, menatap keadaan sekitar. Ah, pasti kamu mengeluarkan taring lagi, sayang!. Batinnya menggeleng.
Pengunjung dipanggil sesuai nomor antrian. Kepala Ivanna serasa ingin pecah saat ini, bahkan ia sempat terlelap karena merasakan pijatan Carenza yang begitu lembut.
Hingga namanya terpanggil, mereka segera masuk kedalam ruangan itu. Carenza setia menggendong Ivanna untuk masuk ke dalam ruangan dan berhasil menyita perhatian semua orang yang ada di sana.
"Selamat datang, Nyonya, Tuan! silahkan duduk!" Ucap dokter menyambut mereka.
"Terima kasih, dokter!" Ucap Fajira.
"Saya sudah mendapatkan hasil pemeriksaan dari dokter Umum. Lebih baik langsung kita periksa ya, Nona!" Ucap dokter itu tersenyum ramah.
Carenza segera membaringkan Ivanna di brankar dengan hati-hati. Dokter segera memeriksa keadaannya menggunkan alat khusus.
"Silahkan lihat di bagian monitor, Ada satu kantong kecil yang sudah bersemayam di dalam rahim Nona muda. Usianya baru 4 minggu, dan sedikit lemah!" Ucap Dokter itu menjelaskan.
Deg!
Jantung merek berdetak lebih kencang mendengar ucapan dokter itu. Senang, bahagia bercampur khawatir mulai menyeruak keluar.
Benarkah aku hamil? Ya Tuhan, jaga anakku!. Batin Ivanna tidak menyangka.
Air matanya kembali menetes begitu juga dengan Carenza, yang berusaha untuk menahan tangis bahagianya.
"Tapi tidak apa-apa, nanti saya kasih vitamin agar janinnya bisa sehat dan kuat ya, Nona! Selesai," Ucap Dokter itu.
Suster membantu Ivanna untuk membersihkan gel sisa pemeriksaan tadi. Ia menolak untuk diturunkan karena kepalanya yang begitu sakit.
"Mohon di jaga baik-baik kandungan Nona, ya Tuan!. Jangan sampai Nona kerja keras dan berat apa lagi sampai stres! Ini vitaminnya, mohon diminum secara rutin ya!" Ucap dokter itu menjelaskan.
"Baiklah dokter, Terima kasih!" Ucap Carenza tersenyum manis.
Setelah menanyakan beberapa hal kepada dokter mereka segera keluar dengan perasaan yang begitu bahagia, terutama Carenza. Sebentar lagi mereka akan memiliki anak sebagai pelengkap rumah tangga.
Carenza tidak mempunyai untuk menyembunyikan senyum bahagianya, sehingga semua orang yang ada di sana bisa menebak, jika Ivanna tengah hamil saat ini.
"Jangan tersenyum!" Ucap Ivanna ketus sambil menutup mulut Carenza.
Bukannya berhenti, justru Carenza menjadi tertawa melihat keadaan Ivanna, yang masih saja cemburu dalam kondisi lemas seperti ini.
Mereka segera pulang dengan membawa kabar gembira untuk semua orang.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1