IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Berbaikan


__ADS_3

Sementara itu di perusahaan, Naren sedikit menyesal karena memilih untuk ikut denga Fajri. Ia harus mengekor kemanapun sang Ayah melangkah. Sedari tadi, sudah banyak pertemuan dan pekerjaan yang dilalukan oleh Fajri, ia hanya melihat dan mengamati semua kegiatan itu.


"Daddy?" Panggil Naren yang tengah duduk di atas sofa sambil memakan cemilan yang ia beli tadi.


"Iya, sayang? Kenapa?" Tanya Fajri tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen itu.


Naren berjalan mendekat kearah Fajri dan menatap pekerjaan sang Ayah dengan lekat.


"Apa Abang akan meneruskan semua pekerjaan ini, Dad?" Tanya Naren lirih.


"Iya, Sayang!" Ucap Fajri tersenyum sambil membelai kepala Naren dengan lembut.


"Ini sangat melelahkan, Dad!" Ucap Naren mengeluh. "Belum lagi perusahan Opa dan Kakek Dika!" sambungnya sambil menempelkan kepala di atas meja.


"Jangan mengeluh, Sayang. Kamu harus belajar tentang perusahaan dari sekarang dengan perlahan. Raih apa yang mau abang raih, sebelum masa untuk terjun membantu Daddy sudah datang!" Ucap Fajri tersenyum.


"Kakak ngapain Daddy?" Tanya Naren lesu.


"Bisa jadi akan mengelola rumah sakit, atau Mall milik Kakek!" Ucap Fajri.


"Nizam?" Tanya Naren lagi.


"Kalian tinggal membagi tugas untuk bekerja. Paling Noah yang akan mengurus perusahaan Opa. Jadi kalian harus belajar dari sekarang!" Ucap Fajri.


"Tapi Abang mau jadi dokter, Daddy!" Ucap Naren lirih.


"Boleh, selama Daddy masih hidup, sehat dan masih kuat untuk menjalankan perusahaan, Abang boleh menjadi dokter ataupun yang lain. Namun, Abang harus siap ketika sewaktu-waktu harus memegang kendali semua perusaan!" Ucap Fajri.


"Jadi intinya, apapun pilihan hidup Abang, tetap harus mengelola perusahaan?" Tanya Naren.


"Iya, sayang. Maafin Daddy, ya!" Ucap Fajri.


"Tidak, Dad. Daddy tidak salah! Mungkin Abang hanya harus menerima semua ini!" Ucap Naren begitu bijak.


"Apa pun yang Abang inginkan, pasti Daddy selalu berusaha untuk mengabulkannya. Dengan catatan tidak boleh hal yang aneh-aneh!" Ucap Fajri mengelus kepala Naren dengan lembut.


"Jadi, Daddy gak akan melarang jika Abang masuk club bola, club basket, pokoknya club olah raga?" Tanya Naren berbinar.


"Tidak, asal Abang tau waktu dan kewajiban. Jangan sampai waktu Abang habis untuk itu dan lupa belajar, lupa sama saudara dan lupa segalanya!" Ucap Fajri tersenyum.


"Baiklah! Daddy sudah janji, ya!" Ucap Naren tersenyum.


"Iya sayang!" Ucap Fajri tersenyum.


Ia mengajari Naren sedikit tentang dasar-dasar perusahan yang wajib untuk di ketahui Oleh semua anggota keluarga Dirgantara.


Naren yang memang cerdas langsung menyimpan penjelasan Fajri dengan baik. Bahkan Ia sudah bisa mengoreksi beberpa berkas yang salah dengan bantuan dari Fajri.

__ADS_1


"Ini mungkin akan mudah untuk Abang pahami, namun Semuanya terasa sulit, Daddy!" Ucap Naren memeluk Fajri dari samping.


"Abang, menjalankan dan mempertahankan memang sangat sulit di banding mendirikan sebuah perusahaan. Tetapi, akan ada hasil yang lebih baik dari pada kamu merintis dari awal," Ucap Fajri tersenyum.


Naten terdiam, apa yang di katakan oleh Fajri memang benar, namun hatinya masih menolak untuk menerima semua ini.


"Akan Abang pikirkan lagi, Daddy. Tetapi, Daddy harus membantu Abang untuk itu!" Ucap Naren lirih.


"Tentu, tentu sayang!" Ucap Fajri tersenyum dan memekuk Naren.


Mereka kembali bekerja dengan sangat serius. Dan menghadiri beberapa pertemuan lainnya dengan para klien penting. Fajri memberikan kesempatan kepada Naren untuk berbicara dan berpendapat agar pria kecil itu memiliki mental dan keberanian di hadapan semua orang.


🌺🌺


Sementara itu, di dalam rumah. Noah kesulitan untuk menangkap ayam kecil yang ia cekik tadi. Bahkan beberapa penjaga pun sudah ikut mencari ayam berwana biru itu hingga masuk Kedalam kebun Safira.


"Owel!" Panggil Noah kesal.


Ia memberikan nama itu agar mudah untuk mencarinya nanti.


"Tuan Kecil, ini Owelnya!" Ucap Salah satu penjaga yang berhasil menangkap anak ayam itu.


"Hmm, terima kasih!" Ucap Noah dingin.


Ia mengambil ayam itu dengan hati-hati agar bisa memperlihatkannya kepada Carenza dan Ivanna.


"Wah lucu banget!" Ucap Ivanna gemas.


"Jangan Bunda cekik juga ya! Kasihan ayamnya!" Ucap Noah tegas.


"Iya sayang!" Ucap Ivanna menggeleng.


Ia serasa bercermin ketika melihat Noah berinteraksi dengan saudaranya.


"Namanya siapa, Sayang?" Tanya Carenza tersenyum.


"Owel, Ayah. Dia begitu lucu dan mengemaskan!" Ucap Noah datar.


Semua orang menjadi tertawa melihat ekspresi pria kecil itu yang tidak sesuai dengan ucapannya.


"Senyum, Boy!" Ucap Carenza terkekeh.


Noah hanya memperlihatkan gigi susunya tanpa tersenyum dan membuat semua orang menepuk jidat.


"Aa', aku boleh pegang ayamnya?" Tanya Nizam yang ikut tergiur melihat ayam kecil itu karena semua orang membicarakannya.


"Boleh, tapi ada syaratnya!" Ucap Noah datar.

__ADS_1


"Apah?" Tanya Nizam begitu penasaran.


"Ijam gak boleh marah kalau Aku main sama Kakak! Kalau Ijam setuju, nanti boleh main setiap hari dengan Owel!" Ucap Noah begitu cerdas memanfaatkan kesempatan.


Fajira terlihat kesulitan untuk menahan tawanya. Mereka memang bak pinang dibelah dua!. Batinnya menjerit.


"Hmm," Nizam terlihat berfikir untuk menerima tawaran Noah.


Dua pria kecil nan genius itu saling berpandangan dan menganalisis permintaan masing-masing. Terlihat saling berfikir keras layaknya seorang pebisnis, mereka masih bertatapan satu sama lain.


"Baiklah!" Ucap Nizam mengulurkan tangannya.


"Deal!" Ucap Noah berbinar senang.


Ia segera menyerahkan Ayam kecil itu kepada Nizam.


Mereka bermain berudua bersama dengan membicarakan tentang ayam lainnya.


"Astaga kakak di jadiin barang rebutan sama bocil-bocil itu!" Ucap Nayla menepuk jidatnya.


Tak lama, Noah dan Nizam tertidur. mereka segera dibawa menuju kamar masing-masing. Carenza tersenyum sambil menggendong pria kecil itu menjuju kamar mereka.


Ivanna segera membaringkan Noah di atas ranjang dan tersenyum menatap pria kecil itu. Hingga ia dikejutkan dengan sebuah pelukan yang begitu dirindukan.


"Sayang?" panggil Carenza terdengar begitu menggoda, memeluk Ivanna dari belakang.


"Iya, Be. kita istirahat, Yuk!" Ucap Ivanna tersenyum dan membalikkan badannya menatap wajah Carenza yang sangat tampan.


"Iya, Sayang. Tapi, kita ngasih adik dulu untuk Noah, ya!" Ucap Carenza tersenyum genit.


"Kamu baru semmhhh," Ucap Ivanna terputus karena mendapatkan serangan mendadak dari Carenza.


Cup!


Bibir mereka saling bertaut dan saling mengecap satu sama lain. Ivanna merebahkan tubuhnya dengan perlahan dan menindih Carenza seperti biasa.


"Kali ini aku yang akan mengambil alih, Sayang!" Ucap Carenza berbalik dan mengukung Ivanna dengan gagah.


Ia memulai pergemulan itu dengan begitu lembut agar tidak mengganggu tidur nyenyak Noah.


Hingga erangan panjang Carenza mengakhiri permainan setelah beradu lebih dari tiga puluh menit. Mereka tersenyum dan saling menatap satu sama lain.


"Semoga adonan kita jadi, sayang! Aku gak sabar untuk menunggu kehamilan kamu lagi!" Ucap Carenza tersenyum


"Aku juga, Be!" Ucap Ivanna yang perlahan terlelap didalam pelukan Carenza yang begitu nyaman.


"Tidurlah Sayang. Kamu pasti lelah mengurus kami!" Ucap Carenza tersenyum dan mengecup kening Ivanna dengan lembut.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2