
Ivanna sudah bersiap dengan celana panjang berwarna hitam dan jaket kulitnya berwarna senada. Tak lupa sepatu boots, dan sarung tangan khusus, membuatnya terlihat keren dan mengagumkan.
Begitu juga dengan si kembar, Ivanna sudah lebih dulu menyediakan semua keperluan mereka, agar bisa menaiki motor itu bersama.
Sementara Safira, ia masih berdebat dengan Fajri di dalam kamar agar membatalkan keinginan mereka untuk pergi menaiki motor.
"Apa kamu tega, melihat wajah anak-anak yang kecewa, Mas?" tanya Safira lirih.
"Sayang, nanti kalau kalian kenapa-napa, bagaimana?" ucap Fajri lembut.
"Kamu 'kan bisa mengiringi kami dari belakang, sayang. Ayolah, hanya kali ini!" ucap Safira memohon.
"Huff, Baiklah! Hanya kali ini!" ucap Fajri pasrah.
"Yes, makasih, sayang. Nanti boleh dua ronde!" ucap Safira terkekeh sambil berjalan keluar dari kamar.
Senyum Fajri mengembang ketika mendengarkan ucapan Safira. Ia juga bersiap untuk pergi bersama mereka.
Sementara itu, Ivanna sudah berdiri di luar bersama dengan Nayla dan Naren. Mereka menggunakan baju yang senada dengan helm yang sama, tetapi berbeda ukuran.
"Sudah siap, gengs?" tanya Ivanna berdiri di samping motornya.
"Siap, Nana!" teriak Naren dan Nayla sangat bersemangat.
"Nanti, di atas motor, gak boleh banyak gerak ya, nanti kita jatuh! Harus pegangan erat-erat! paham, pasukan?" ucap Ivanna terkekeh.
"Paham, Na!" teriak mereka lagi.
"Siap?" tarian Ivanna.
"Siaap!" teriak mereka begitu bersemangat.
Ivanna memakaikan helm untuk Nayla dan Naren, memastikan jika benda bulat itu melindungi kepala keponakannya.
"Hihi, kita seperti alien," ucap Nayla setelah memakai helmnya.
"Iya, Lala cuma kelihatan mata saja!" ucap Naren terkekeh.
"Nalen juga, Hahah Nana juga!"
Mereka tertawa bersama, Ivanna segera menaikkan Naren di depan, dan Nayla di belakang. Barulah ia duduk di tengah-tengah di antara keduanya.
"Nana bisa membawa motornya?" tanya Nayla memeluk Ivanna dengan erat.
"Bisa dong. Kalau gak, mana mungkin Nana beli motor ini, sayang!" ucap Ivanna terkekeh.
"Wah, Nana keren banget!" ucap Naren berbinar sambil memeluk tanki bensin yang terasa dingin itu.
"Yuk kita berangkat!" ajak Safira yang baru saja keluar dari rumah bersama dengan Fajri.
"Wah, Mommy dan Daddy juga keren!" ucap Naren dan Nayla sangat antusias.
"Hahaha, kita memang keren, sayang!" ucap Safira terkekeh.
"Siapa kita?" Teriak Ivanna
"Bocil Dirgantara!" teriak Naren dan Nayla bersama.
"Hahaha,"
Mereka begitu bahagia sore ini. Ivanna segera menghidupkan motornya dan melaju dengan perlahan meninggalkan rumah.
__ADS_1
"Dadah, Oma!" ucap mereka melambaikan tangan kearah Fajira yang terkekeh melihat kelakuan mereka.
"Dadah, sayang. hari-hati, ya!" ucap Fajira tersenyum.
"Wah, kita naik motor, Naren!" Teriak Nayla dari belakang.
"Iya, La. Pegangan yang kuat, ya!" ucap Naren yang juga ikut berteriak.
Ivana membawa mereka berkeliling jalan raya, yang kebetulan tidak terlalu rame. Naren dan Nayla berbinar senang, karena ini pertama kalinya mereka keluar rumah menggunakan motor dan menikmati udara lepas yang bercampur dengan polusi.
"Kita kemana, Dek?" tanya Safira.
"Kita mau ke restorannya Tono, kak! Dia minta aku kesana tadi!" ucap Ivanna sedikit keras.
"Tono, siapa, Mommy?" tanya Nayla mengernyit.
"Teman Mommy dan Nana, sayang!" ucap Safira.
Ivanna melajukan motornya menuju restoran milik Tono, di ikuti oleh Fajri di belakang. Pria tampan itu bergidik ngeri bercampur khawatir sambil mengawasi mereka.
Ini kali pertama, ia melihat bagaimana Ivanna membawa motor secara langsung di jalan raya. Sebelumnya, gadis cantik itu hanya mengendarai motor matic biasa di halaman rumah dan kompleks perumahan mereka.
Hari ini Fajri memang sangat tidak menyangka jika Ivanna bisa mengendarai motor yang berukuran cukup besar.
Ia mengernyit ketika gadis cantik itu membawa mereka menuju Culun's resto. Otaknya berfikir keras untuk mengetahui siapa pemilik restoran mewah ini.
Mereka segera memasuki resto berbarengan, Nayla dengan menggunakan masker, di gendong oleh Fajri dan Naren di gendong oleh Safira.
Wajah mereka berbinar, makanan enak sudah terpampang di depan mata.
"Naren, kamu mau pesan apa?" tanya Nayla.
"Mommy, kita pesan itu saja ya, ayam bakal jomblo!" ucap Nayla.
"Kita, tanya sama Nana dulu, sayang!" ucap Safira tersenyum.
"Baiklah, Mommy!" ucap Nayla.
"Permisi, apa Mr. Carenza nya ada?" tanya Ivanna dengan datar.
"A-ada, Nona. sebentar saya panggilkan dulu!" ucap pegawai itu berlari mencari keberadaan Tono.
"Na?" panggil Tono yang berhasil mengejutkan mereka.
"Astaga, ngagetin aja ih!" ucap Ivanna mendelik.
"Hehe, maaf. Tuan Fajri, Nona Safira. Hai tuan Putri dan pangeran! Silahkan ikuti saya!" ucap Tono mengarahkan mereka menuju ruang privat yang sudah ia siapkan
"Eh, ngapain kamu langsung suruh ngikutin?" tanya Fajri mengernyit.
"Aku sudah booking, bang!" ucap Ivanna mencegah pertengkaran yang akan terjadi.
Fajri pasrah, ia hanya mengikuti kemana angin akan membawanya.
Mereka masuk ke dalam ruangan privat yang sudah di siapkan oleh Tono. Tak lupa beberapa hidangan dengan menu baru, yang akan mereka coba nanti.
Fajri menggenggam tangan Safira dengan erat dan mengawasi pergerakan Tono dan istrinya. Ia masih menyimpan dendam kepada Tono karena perihal Ngidam Safira beberapa tahun yang lalu.
"Silahkan duduk!" ucap Tono ramah ketika berada di dalam ruangan itu.
"Wah, makanannya banyak banget!" ucap Nayla dan Naren berbinar.
__ADS_1
"Silahkan, Tuan dan Nona kecil! Mau yang mana?" tanya Tono yang gemas melihat keponakan Ivanna ini.
"Ayam Bakal Jomblonya yang mana, Om?" tanya Nayla tidak sabar.
"Ah, Nona kecil mau makan ayam bakar? sebentar ya, saya buatkan dulu!" ucap Tono tersenyum.
"Terima kasih, Om!" ucap Naren dan Nayla sopan.
"Sama-sama. Silahkan dinikmati!" ucap Tono berlalu.
"Dek, ngapain kamu ngakak kita ke sini?" tanya Fajri mengernyit.
"Hehehe, Tono minta aku untuk mencoba menu baru nya bang, ini sudah sesuai dengan standar masakan di rumah kok!" ucap Ivanna terkekeh.
Fajri hanya mengernyit mencerna apa yang di katakan oleh Ivanna semalam, bagaimana sikap adiknya kepada Bryan, dan bagaimana sikapnya kepada Tono.
Apa kamu mencintai Tono, sayang? Huft, tidak ada cela yang di lakukan oleh laki-laki itu dalam hidupnya. Berbuat baik dan bekerja keras, ia juga laki-laki yang cukup bertanggung jawab kepada keluarganya!. batin Fajri menatap Ivanna dengan lekat.
"Daddy keluar sebentar, ya!" ucap Fajri pamit.
"Iya daddy, jangan lama-lama, nanti makanannya Lala habiskan!" ucap Nayla sambil melambaikan tangannya.
"Iya, sayang!" ucap Fajri tersenyum.
Fajri berdiri di luar sambil menunggu kedatangan Tono. Tak berapa lama ia berdiri di sana, Tono datang sambil membawa pesanan Nayla dan Naren.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Fajri.
"Bisa, Tuan! saya antarkan ini terlebih dahulu!" ucap Tono dengan jantung yang berdetak kencang.
"Hmm,..."
πΊπΊ
Disinilah mereka, berada di ruangan Tono, Fajri menatap pemandangan di luar jendela ruangan itu. Sementara Tono, ia begitu takut dengan Fajri, karena ia sudah lancang menyukai Ivanna. Ia sudah yakin jika gadis itu sudah mengatakannya kepada Fajri.
"Apa kamu yang berani menyatakan perasaan kepada Ivanna?" tanya Fajri.
"I-iya, Tuan. Maaf, karena saya lancang menyukai, Nona Ivanna!" ucap Tono dengan keringat yang keluar dan mengalir.
"Apa tidak ada perempuan yang lain? kenapa harus Ivanna?" tanya Fajri.
"Ka-karena, Nona Ivanna memiliki hati yang begitu lembut dan tulus!" ucap Tono tersenyum.
"Beraninya kau memuji, adikku! ucap Fajri dingin.
"Maaf, Tuan. Tapi memang itu alasan saya menyukai Ivanna. Saya berniat, ingin menjadikannya istri, mohon restu dari, Tuan!" ucap Tono dengan berani menatap wajah Fajri.
Pria tampan itu terkejut dan melotot mendengar ucapan Tono yang begitu berani. Ia berjalan mendekat ke arah laki-laki yang sempat ia kira sebagai rivalnya.
Mata tajam mereka beradu, Fajri melihat betapa seriusnya laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Apa kamu yakin, jika Ivanna akan bahagia hidup denganmu?" tanya Fajri tegas.
"Saya yakin! Walaupun saya belum bisa memberikan kehidupan yang mewah, tapi saya akan pastikan jika Ivanna tidak akan merasa kekurangan sedikitpun, apalagi cinta dan kasih sayang dariku!" ucap Tono tak kalah tegas.
Fajri cukup kagum dengan keberanian Tono kepadanya. Setidaknya Tono bukan jenis buaya darat maupun laki-laki bajingaan yang suka membuat perempuan tersakiti.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1