
Di rumah sakit, Carenza yang baru saja terlelap, malah mengingat sambil terisak. Ia menyebut nama Ivanna dan sayang berulang kali hingga membuat sangat istri terbangun.
"By? Baby, bangun!" Ucap Ivanna lirih.
"Za?" Panggil Ibu yang juga ikut membangunkan Carenza.
Pria tampan itu menggeliat, ia membuka matanya dan langsung memeluk Ivanna.
"Kenapa, By? Kamu mimpi?" Tanya Ivanna lirih.
"Hmm, gak papa! Tidur lagi ya, sayang, kamu harus banyak beristirahat!" Ucap Carenza memeluk Ivanna sambil mengelus lembut punggungnya.
"Hmm, Aku haus!" Ucap Ivanna dengan suara seraknya.
Carenza bangun dengan hati-hati dan mengambilkan Ivanna air mineral. Ia membantu sang istri untuk duduk dan minum.
"Apa kamu lapar, sayang?" Tanya Carenza lembut sambil mengusap bibir Ivanna yang basah.
"Hmm, iya By. Apa ada makanan?" Tanya Ivanna.
"Sedang dalam perjalanan, Nak! Bunda sudah mengirim makanan tadi!" Ucap Ibu.
"Apa telur dadarku juga di bungkus, Bu?" Tanya Carenza lirih.
"Mungkin dibungkus, Nak!" Ucap Ibu tersenyum.
Carenza menghela nafas sambil membelai kepala Ivanna yang tengah berada di dadanya. Ia merasa begitu sedih saat ini, mengingat kondisi Ivanna yang begitu lemah dan tidak seperti biasanya.
"Sayang?" Panggil Carenza lembut.
Ivanna yang baru terlelap kembali membuka matanya dan menggenggam tangan Carenza dengan sisa tenaganya.
"Kamu sudah tidur, sayang?" Tanya Carenza mengecup kepala Ivanna berulang kali.
"Ada apa, By?" Tanya Ivanna lirih.
"Kata dokter, kamu gak boleh banyak gerak, gak boleh kerja lagi, gak boleh ngapa-ngapain! Habis pulang dari sini, kamu gak boleh turun dari tempat tidur, aku akan ambil cuti untuk menemanimu, gak boleh bla bla bla!" Ucap Carenza tegas menjelaskan apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh Ivanna selama kehamilannya.
"Baiklah!" Ucap Ivanna pasrah.
Atim begitu terkejut ketika melihat Ivanna hanya menurut kepada orang tanpa berdebat terlebih dahulu. Tak lama pak Sakti menelfon dan meminta untuk mengambil bekal yang di kirim oleh Fajira dari rumah. Ia pamit dan segera keluar.
"Itu semua juga untuk kamu dan anak kita, sayang!" Ucap Carenza lirih.
"Aku paham, By! Temani aku terus, ya!" Ucap Ivanna dengan mata yang mulai terpejam dan tidak bisa di ajak kompromi lagi. Ia terlelap karena usapan tangan Carenza yang begitu lembut.
"Udah, Za. Baringkan istrimu lagi biar tidurnya nyaman!" Ucap Ibu tersenyum.
"Ia, Bu! Bantu Eza untuk menurunkan brankarnya!" Ucap Carenza tersenyum.
"Apa istrimu tidak makan terlebih dahulu?" Tanya Ibu.
__ADS_1
"Nanti saja, Eza bangunkan lagi, Bu! Ibu istirahatlah, biar Eza yang berjaga, ini sudah hampir tengah malam!" Ucap Carenza.
"Baiklah, Ada asisten Ivanna nanti di sini," Ucap Ibu mulai berbaring di atas kasur khusus yang ada di sana.
"Iya, Bu!"Carenza kembali membelai kepala Ivanna dengan penuh kasih sayang. Ia begitu takut jika Ivanna sakit. Karena diam gadis itu ada musibah untuknya.
"Cepat sembuh sayang!" Ucap Carenza lirih.
Tak lama Atim kembali masuk dan membawa begitu banyak makanan dan cemilan yang dikirim oleh Fajira.
"Letakkan dulu saja, Mbak. Beristirahatlah, Ivanna pasti akan membutuhkan kamu besok!" Ucap Carenza.
"Tapi, tuan! Saya," Cegat Atim yang begitu segan karena mendapatkan perintah untuk menjaga Ivanna.
"Tidak apa, Istirahatlah!" Ucap Carenza tidak ingin dibantah.
"Baik, Tuan! Jika anda membutuhkan sesuatu, bangunkan saja saya!" Ucap Atim.
"Ia." Carenza tidak lagi menghiraukan gadis itu. Ia hanya menatap Ivanna dan berusaha untuk memberikan kenyamanan kepada sang istri.
Ivanna kembali menggeliat, ia meringis karena merasakan perih karena dokter memasangkan cateter agar ia tidak sering untuk keluar masuk kamar mandi.
"Sshh, Perih, By. Aku gak mau pake ini!" Ringis Ivanna.
"Kalau gak pake itu, gimana kamu buang air, sayang?" Tanya Carenza.
"Biar pake pampers saja, By perih! atau kamu gendong aku!" Ucap Ivanna yang masih meringis.
"Iya, By. Aku lapar, apa makanannya sudah datang?" Tanya Ivanna lirih.
"Sudah, Sayang!" Ucap Carenza.
Ia memilih untuk turun dengan perlahan dan mengambilkan makanan untuk Ivanna.
"Satu berdua saja, By!" Ucap Ivanna lirih.
Carenza mengangguk, ia mengambil sedikit nasi dan telur dadar yang di buat oleh Ivanna tadi. Dengan telaten ia menyuapi Ivanna dan dirinya sendiri sambil bercerita.
"Untung anak kita bisa selamat ya, By!" Ucap Ivanna lirih.
"Iya, sayang. Pokoknya kamu haris nurut, gak boleh membantah! Ini semua juga demi kamu dan anak kita" Ucap Carenza lembut.
"Iya, By!" Ivanna berusaha untuk tersenyum dan mengusap rahang tegas Carenza.
Setelah makan, mereka segera beristirahat dengan saling berpelukan.
Hingga pagi menjelang. Atim sudah lebih dulu bangun dan membuat susu dan teh hangat untuk semua orang yang ada disana. Walaupun masih mengantuk, ia sudah terbiasa untuk melakukan segala hal yang berhubungan dengan Ivanna dengan begitu disiplin.
Ia melihat ponselnya sebentar untuk mencari berita terbaru tentang Nona mudanya.
Huft!
__ADS_1
Helaan nafas terdengan keluar dari mulutnya ketika begitu banyak berita yang membahas tentang keguguran Ivanna. Ia cukup geram, tugasnya hanya mengirim link tersebut kepada Fajri dan menunggu perintah selanjutnya.
Tak berapa lama, Fajira dan Irfan datang untuk melihat Ivanna. Bidadari cantik yang tak lagi muda itu meminta Ibu dan Atim untuk beristirahat dirumah saja.
Mata Irfan berkaca-kaca ketika melihat sang putri yng terbaring lemah dengan wajah yang begitu pucat. Terasa sedikit dingin, Irfan mengecilkan suhu pendingin ruangan.
"Hiks, sayang!" Isak Carenza di dalam tidurnya. "Hiks, jangan sakit!" Ucapnya lagi dan terbangun.
"Ayah?" ucap Carenza lirih.
"Apa kamu bermimpi, Nak?" Tanya Ayah.
"Iya, Ayah. Kapan ayah dan bunda datang?" Tanya Carenza.
"Baru saja! istirahatlah lagi!" Ucap Irfan mengeluh kepala Carenza.
"Iya, Ayah!" Ucap Carenza kembali memejamkan matanya.
Apa Eza mengalami gangguan mental? Ia terlihat begitu terbebani dengan sakitnya. Ini mengingatkanku ketika melihat Fajira melahirkan!. Batin Irfan.
"Mas? Panggil Fajira yang mengamati suami dan menantunya.
"Sepertinya, Eza mendapatkan trauma, Sayang!" Ucap Irfan.
"Semoga mereka baik-baik saja, Mas! Aku begitu khawatir!" Ucap Fajira memeluk Irfan dengan erat.
"Kita berdo'a saja, Sayang!" Ucap Irfan sambil membalas pelukan Fajira.
Tak lama dokter masuk dan memeriksa keadaan Ivanna.
"Kondisi Nona sudah lebih baik, Namun janinnya masih lemah, jadi tolong di jaga betul-betul, Nyonya. Karena ini cukup riskan dan membahayakan!" Ucap Dokter.
"Istri saya mengeluh sakit ketika buang air dokter, apa bisa di lepas dan di ganti pampers saja?" Tanya Carenza
"Bisa, Tuan. Nanti akan saya lepas. Mohon bersabar. Ini obat yang harus di minum oleh, Nona, Tuan! Saya sudah menghancurkannya agar bisa di konsumsi dengan mudah!" Ucap Dokter itu. "Lebih baik Nona di bangunkan sekarang agar bisa sarapan dan meminum obat!" sambungnya.
Setelah berbincang dan bertanya seputar keadaan Ivanna, dokter itu berlalu setelah semua selesai dan berpamitan kepada atasannya itu.
"Syukurlah, Ivanna sudah mulai membaik!" Ucap Fajira mendesaah lega.
"Iya, Bunda Syukurlah" Ucap Carenza tersenyum sambil membangunkan Ivanna, agar bisa sarapan dan meminum obatnya.
Mereka sarapan bersama di rumah sakit hingga semua hidangan tandas. Tak berapa lama, Felicia masuk dengan begitu panik bersama dengan Malik.
"Nona, bagaimana keadaan anda? Hiks, saya merindukan anda!" Ucap Felicia yang memang benar-benar seperti itu.
"Sayaa tidak apa-apa, Fel!" Ucap Ivanna.
Felicia memeluk Ivanna untuk melepas rasa rindunya. Mereka terus mengobrol sambil menemani Ivanna yang sudah terlelap setelah meminum obatnya
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE