
Ketika sampai di rumah, Ivanna langsung berlari ke kamar Irfan dan membuat orang tuanya mengernyit bingung. Gadis cantik itu menangis hingga terisak sambil memeluk ayahnya yang tengah berbaring dengan erat.
Fajira dan Irfan saling memandang. Mereka mengira jika ini ada hubungannya dengan sang Ayah. Tidak mungkin tentang perusahaan karena pasti Irfan akan mendapatkan laporan terlebih dahulu.
"Kenapa, sayang? Sini cerita sama Ayah!" ucap Irfan lembut sambil mengelus kepala Ivanna.
"Dede ada masalah, nak? menangislah dulu, sampai hati Dede lega!" ucap Fajira khawatir dan ikut mengelus punggung Ivanna.
Cukup lama gadis cantik itu menangis, ia hanya terdiam sambil memeluk Irfan dengan erat.
Setelah tangisan Ivanna mereda, ia menceritakan apa yang sudah terjadi hari ini. Irfan tersenyum sambil memeluk Ivanna dan Fajira bersamaan.
"Usia gak ada yang tau, sayang. Selagi ayah dan bunda masih hidup, jangan buang-buang waktu untuk hal yang tidak penting. Lebih baik habiskan waktu bersama keluarga, jangan sampai menjadi penyesalan ketika ayah dan bunda udah gak ada nanti!" ucap Irfan membuat Ivanna kembali meraung.
"Jangan ngomong seperti itu, hiks," ucap Ivanna di sela tangisnya.
"Sstt..., sstt..., udah, Sayang. Sekarang Ayah sudah sehat. Jangan nangis, lagi!" ucap Irfan terkekeh.
"Jangan sakit lagi, Ayah. Bunda juga jangan sakit!" ucap Ivanna lirih.
"Ayah akan menjaga kesehatan untuk keluarga kita! Dede dan Bunda juga harus menjaga kesehatan, agar kita bisa bersama terus!" ucap Irfan tersenyum.
Lama mereka berpelukan, Irfan mendengar dengkuran halus dari mulut Ivanna. Ia tersenyum melihat ke arah Fajira.
"Anak gadis kita tumbuh dengan baik, sayang!" ucap Irfan.
"Itra, Mas. Untung Dede patuh dan menurut sama, Abang. Kalau tidak, mungkin Dede gak akan menjadi anak yang hebat seperti ini!" ucap Fajira tersenyum.
"Dede, masih terlihat sangat mengemaskan, seperti waktu kecil!" ucap Irfan mengelus pipi Ivanna.
"Iya, Bahkan tidak ada yang berubah sedikitpun dari wajahnya!" ucap Fajira yang juga ikut tersenyum.
"Untung dulu kita sama-sama menurunkan ego dan memutuskan untuk bersama. Jika tidak, mungkin hari ini kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan yang berlimpah seperti ini!" ucap Irfan lirih.
Matanya berkaca-kaca, mantap Fajira. Sampai saat ini, ia masih merasa bersalah tentang kejadian bersejarah itu.
"Sudah, ihh. Aku gak mau membahasnya lagi, atau kebencian itu muncul kembali, Mas! Aku sudah melupakannya. Kita sudah bahagia sekarang, jadi jangan pernah mengungkitnya lagi!" ucap Fajira tegas.
"Baiklah, maafkan aku!" ucap Irfan lirih.
"Iya, aku memaafkanmu dan aku mencintaimu!" ucap Fajira tersenyum.
"Aku bahkan lebih mencintaimu, sayang!" ucap Irfan menarik tengkuk Fajira dan mengecup bibirnya dengan lembut.
Beberapa saat beradu mulut, Irfan melepaskan pagutanya dan membaringkan Ivanna dengan pelan di atas kasur. Tak lupa ia mengecup kening Ivanna dengan lembut dan lama.
"Tidur yang nyenyak, sayangnya ayah!" ucap Irfan tersenyum.
__ADS_1
Setelah membaringkan Ivanna, ia segera memeluk Fajira erat, seolah tidak ingin di tinggalkan barang sedetik pun.
"Hmm, Sayang. Terima kasih, karena masih mau mengurus aku yang berpenyakitan ini!" ucap Irfan tercekat.
"Kamu ngomong apa sih? Mas, Aku itu menikahi hatimu, terserah kamu mau tua, mau berpenyakitan, yang jelas aku sayang sama kamu! Huft, Terima kasih, karena kamu sudah memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anak kita!" ucap Fajira tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ah, aku terharu, sayang. Jangan buat aku menangis!" ucap Irfan dengan air maya yang siap menetes.
"Cih, dasar pak tua, masih bisa nangis juga!" ucap Fajira meledek.
"Hehe, maafkan aku yang dulu, sayang. Aku selalu berusaha untuk menebus semua kesalahanku setiap harinya! Ya, walaupun kamu selalu bilang gak papa, tetapi hatiku masih merasa bersalah!" ucap Irfan menangis.
"Ih, malah nangis. Kemana Tuan Irfan yang arogan? Kemana Tuan Irfan yang tegas? Apa usia bisa membuat semua itu melebur?" ucap Fajira terkekeh sambil memeluk Irfan, namun tidak bisa di bohongi jika air matanya juga ikut menetes.
"Semua itu sudah hanyut karena kelembutan dan kehangatan kamu, sayang! Bagaimana kalau kita habiskan waktu untuk berbulan madu lagi, keliling dunia misalnya?" ucap Irfan tersenyum mesum.
"Kenapa kalian selalu ingin pergi berkeliling dunia? Aku sudah bilang, kalau keliling dunia itu hanya menghambur-hamburkan uang, capek dan harus ada yang dikorbankan! Bagus kita di rumah, ngobrol bareng, sambil main sama si kembar. Itu lebih berkualitas, Sayang!" omel Fajira.
"Hehehe, kamu begitu unik, di saat semua orang berlomba-lomba mengumpulkan uang untuk pergi ke luar negeri, nah kamu, uang udah ada, pesawat juga ada, tinggal bikin jadwal mau pergi kemana saja pun gak mau!" ucap Irfan terkekeh.
"Engh, peluk, buna!" ucap Ivanna lirih di sela tidurnya.
"Astaga! Bunda sampai kaget!" ucap Fajira memegang jantungnya.
"Hehehe, ternyata buah gak jauh jatuh dari batangnya!" ucap Irfan terkekeh.
Ia berbaring di tengah-tengah antara Irfan dan Ivanna seperti biasa dan memeluk anak gadisnya. Pria tampan itu hanya terkekeh, dan ikut memeluk Fajira dari belakang lalu mengusap perut istri cantiknya itu.
"Ihh, kamu ngapain!" bisik Fajira ketika tangan Irfan tidak lagi bisa di kondisikan.
"Hehe, pengen!" ucap Irfan tersenyum dan mengecup tengkuk Fajira dan membuat tubuh bidadari cantik itu meremang.
"Ih, Ada Dede, Mas! sudah tidur sana!" ucap Fajira menahan tangan Irfan yang tidak bisa di kondisikan.
"Ayah sama Buna ngapain? Dede ngantuk lo!" rengek Ivanna manja dan memeluk Fajira dengan erat.
"Dek, ayah juga mau peluk, bunda!" ucap Irfan yang tidak mau kalah.
"Ih, Ayah!" rengek Ivanna semakin menjadi.
"Sudah, Mas! Kasihan anakku kecapean!" ucap Fajira menahan senyumnya.
"Huh, baiklah!" ucap Irfan pasrah.
Mereka terlelap dengan saling berpelukan. Bahkan Ivanna belum sempat membersihkan badannya sepulang kerja tadi.
πΊπΊ
__ADS_1
Pagi menjelang, subuh buta, sekutar pukul 5, Felicia sudah berada di rumah mewah itu. Ia mengernyit ketika melihat mata Ivanna sembab. Otaknya berfikir mencari jawaban yang logis, atas pertanyaannya.
Saat ini ia tengah berada di kamar Ivanna dan melihat beberapa tumpukan barang di sudut ruangan. Ivanna baru saja keluar dari ruang ganti dengan handuk yang melingkar dikepalanya.
"Kamu mau?" tanya Ivanna yang sukses membuat Felicia terkejut.
"Eh, Nona sudah selesai?" ucap Felicia.
"Kalau kamu, pilih saja yang ada di kardus hitam itu! Ambil untuk kamu, dan ibumu!" ucap Ivanna sambil mengeringkan rambutnya.
"Eh, gak usah, Nona!" ucap Felicia menolak.
"Saya hanya menawarkannya sekali, Fel! Ambil atau kamu gak pernah mendapatkannya sama sekali!" ucap Ivanna tegas.
"Baik, Nona!" ucap Felicia berjalan melihat beberapa kotak hadiah itu.
Ada beberapa cincin, kalung, dan perhiasan lainnya, teronggok mengenaskan di sana. Ada beberapa coklat, bunga dan juga ada beberapa baju.
"Itu semua hadiah dari para penggemarku! Kalau bajunya ada yang muat sama kamu, ambil saja!" ucap Ivanna tengah mengaplikasikan make upnya.
"Apa Nona tidak memakainya?" tanya Felicia mengernyit.
"Tidak, saya tidak suka perhiasan yang diberikan oleh orang yang sembarangan!" ucap Ivanna. "Ambil seperlu kamu, lalu selebihnya bisa kita jual dan mendonasikannya kepada Panti asuhan!" Sambungnya.
"Baik, Nona! Terima kasih," ucap Felicia merasa bahagia. "Lalu yang di sana. Itu bagaimana, Nona?" sambungnya.
"Ah, yang di sana itu barang endorsment yang akan aku review!" ucap Ivanna.
"Sebanyak itu? Apa Nona gak pusing?" tanya Felicia terkejut.
"Kenapa harus pusing? hanya berfoto sedikit saja tanpa berekspresi, menulis di caption dan di upload. Aku sudah mendapatkan hampir ratusan juta untuk 1 kali foto," ucap Ivanna enteng.
"Wah, Nona hebat banget!" ucap Felicia berbinar.
"Itu belum seberapa di bandingkan abang! dalam 1 hari 7 kali foto, Abang bisa mendapatkan uang hampir miliaran!" ucap Ivanna santai.
"Wah," ucap Felicia berbinar.
"Kalau kamu mau barang endorsnya, tuh ada di dalam lemari. Pilih saja yang kamu butuhkan! Biasanya ART atau pegawaiku yang mengambil," ucap Ivanna.
"Wah, Nona. terima kasih banyak!" ucap Felicia semakin berbinar.
Ivanna hanya menggeleng melihat kelakuan asistennya. Ia segera menyelesaikan ritual mempercantik diri agar bisa menghadapi hari dengan lebih percaya diri.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
Aku kangen sama mereka gais π