IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Hils Keramat


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu liburan bersama yang di bumbui dengan berbagai drama. Sore ini mereka akan kembali pulang ke rumah untuk menjalankan rutinitas seperti biasanya.


Besok, mereka akan pergi ke Thailand untuk menghadiri penghargaan pengusaha muda tertinggi di Asia Tenggara, dengan membawa sebuah harapan, agar Ivanna bisa mendapatkan salah satu penghargaan seperti apa yang Fajri dapatkan.


Meraka pulang menggunakan helikopter, dengan cepat bisa kembali ke kediaman Dirgantara tepat pada saat makan malam telah masuk.


"Bang, pesawat sudah siap untuk berangkat besok?" Tanya Ivanna.


"Sudah, sayang! Kita berangkat besok pagi!" Ucap Fajri.


"Anak-anak di bawa?" Tanyaa Ivanna.


"Sepertinya gak, Dek! soalnya mereka harus sekolah!" Ucap Fajri.


"Hmm, ya sudah. Apa pesawatnya sudah diperiksa?" tanya Ivanna tiba-tiba saja merasakan cemas.


"Sudah! Sejak kejadian kemarin, semua pesawat dan kendaraan kita abang cek. Semuanya aman!" Ucap Fajri tersenyum.


"Ah, Syukurlah! Dede sedikit takut untuk naik pesawat pribadi kita, Bang!" Ucap Ivanna lirih.


"Jangan terlalu dipikirkan, sayang. Semuanya kita jadikan pelajaran untuk kedepannya!" Ucap Irfan menatap Ivanna lekat.


"Iya, Ayah." Ucap Ivanna memaksakan senyumnya.


Mereka menyelesaikan makan malam dan segera beristirahat, ke kamar masing-masing. Sementara keluarga Hartono memilih untuk langsung pulang ke apartemen milik Carenza.


Ivanna mengernyit, ketika melihat suaminya berjalan menuju kamar tamu.


"Kemana, By?" Tanya Ivanna mencegat langkah Carenza.


"Mau istirahat ke kamar, sayang! Memangnya mau kemana lagi?" ucap Carenza polos sambil menunjuk kamar tamu yang biasa ia tempati.


"Apa kamu gak mau tidur di kamarku? Kamar kita," ucap Ivanna mengernyit.


"Ah, astaga aku lupa!" Ucap Carenza terkekeh. Ia segera menggandeng tangan Ivanna dan pergi menuju kamar sang istri.


"Ada-ada aja kamu, By. Sama istri sendiri lupa!" Ucap Ivanna menggeleng.


"Hahaha, maafin aku sayang! Yuk kita masuk, anggap saja kamar sendiri!" Ucap Carenza mempersilakan Ivanna untuk masuk ke dalam kamar.


"Haha. Ih, kamu mah!" Ucap Ivanna terkekeh.


Carenza mengunci pintu kamar dan duduk di samping Ivanna yang sudah berada di atas ranjang. Ia menatap istrinya penuh damba dengan jakun yang naik turun melihat kecantikan Ivanna.


Wanita cantik itu paham dengan tatapan Carenza, ia segera memasang wajah memelas agar tidak di terkam lagi oleh sang suami.


"Kenapa wajah kamu lesu, sayang?" Tanya Carenza mengernyit.


"Aku capek banget, By! Seharian tadi menemani bocil kembar bermain. Apa lagi milikku masih terasa ngilu!" Ucap Ivanna manja sambil menyandarkan tubuhnya didada bidang Carenza.


Jangan sampai kamu menerkam aku malam ini, By. Atau aku gak akan bisa berjalan dengan normal besok!. Batin Ivanna meringis.


"Ya sudah, kalau gitu kita langsung istirahat, yuk!" Ucap Carenza tersenyum sambil mengelus kepala Ivanna dengan lembut.


Ia sempat bertanya kepada sang ibu tentang pengalaman malam pertamanya. Dan apa yang ibu katakan sama persis dengan apa yang dirasakan oleh Ivanna saat ini. Sehingga ia tidak ingin terlalu menuntut Ivanna hingga kondisi istrinya kembali pulih.

__ADS_1


Ia membaringkan bidadari cantik itu dan memeluknya dengan erat. Baru saja ia memejamkan mata, Ivanna merengek meminta untuk di lepaskan.


"Aku belum ganti baju, By. Gerah!" Ucap Ivanna cemberut.


"Baiklah, ganti baju dulu. Aku juga mau ganti!" Ucap Carenza kembali duduk dan membuka bajunya.


Glek!


Ivanna kesulitan untuk menekan ludahnya ketika melihat tubuh Carenza yang begitu menggoda. Matanya tidak berkedip ketika melihat sang suami mulai mengganti celananya dengan boxer ketat.


Setelah mengganti pakaian, Carenza melihat Ivanna terpana menatap ke arahnya. Ia tidak jadi mengenakan baju dan berjalan menuju ranjang, dimana Ivanna masih duduk dengan wajah yang merona.


"Sayang, katanya mau ganti baju?" Ucap Carenza jahil.


"I-iya, By!" Ucap Ivanna gelagapan.


Ia segera bangkit dan mengganti baju tidur yang cukup minim dan menggoda Carenza untuk mencumbu sang istri. Namun apalah daya, ia sudah menyuruh Ivanna untuk beristirahat.


Ia segera menyambut sang istri untuk berbaring didalam pelukannya. Gadis itu tersenyum dan memeluk Carenza dengan manja.


"Kamu gak pake baju, By?" Ucap Ivanna meraba dada bidang Carenza.


"Gak, sayang. Aku tau kalau air liur kamu selalu menetes melihat tubuhku! Sekarang, peganglah sepuasnya!" Ucap Carenza tertawa.


"Tapi jangan macam-macam ya, By! Besok kita akan berangkat ke Thailand!" Ucap Ivanna memejamkan matanya sambil menghitung ABS milik Carenza.


"Iya, sayang!" Ucap Carenza mengecup kening Ivanna dengan lembut.


"Selamat malam suamiku!" Ucap Ivanna tersenyum.


Mereka terlelap dengan saling memeluk satu sama lain. Dalam pedar cahaya remang di dalam kamar, mereka tertidur begitu nyenyak tanpa melakukannya olah raga seperti biasanya.


🌺🌺


Siang menjelang, Pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi Thailand. Ivanna, Carenza, Fajri dan Safira turun dari pesawat bersama beberapa orang bodyguard untuk mengamankan dan membantu mereka selama berasa di sana.


Dua pasangan bucin itu segera menaiki mobil jemputan yang akan mengantar mereka menuju apartemen Fajri yang berada tak jauh dari studio dimana acara akan di langsungkan.


"Kita punya waktu 3 jam lagi sebelum acara di mulai!" Ucap Fajri.


"Dede mau istirahat dulu, sepertinya dede mabok udara!" Ucap Ivanna lemas di dalam pelukan Carenza.


"Iya, lebih baik kita beristirahat, karena besok pagi kita harus kembali ke Indonesia!" Ucap Fajri mengelus kepala Safira yang juga terlihat lemas.


Sekitar satu jam, mobil berhenti di apartemen Fajri. Mereka segera turun dan menuju ruangan paling atas yang ada di gedung mewah itu.


Ting!


Lift terbuka, hanya ada satu pintu di lantai teratas. Mereka segera beristirahat karena sejarah baru akan di torehkan malam ini. Apakah Ivanna akan mendapatkan salah satu penghargaan atau tidak.


Bisa jadi, Fajri kembali menyikat habis semua nominasi yang ada dalam acara tersebut.


Hingga malam menjelang, Ivanna dan Safira sudah selesai dengan gaun yang senada berwarna hitam dan perhiasan berlian di sekitar tubuhnya. Mulai dari kalung, anting, gelang dan jam tangan mewah telah melekat dengan sempurna.


Sementara Carenza dan Fajri menggunakan setelan jas putih yang di padukan dengan kemeja hitam, yang menambah ketampanan mereka berkali-kali lipat.

__ADS_1


"Sudah selesai?" Tanya Carenza dan Fajri.


Ivanna dan Safira terpana melihat suami masing-masing. Mereka begitu terpesona sehingga naluri kecemburuan mulai menyeruak keluar.


"Ck, kenapa kamu tampan benget, Mas?" tanya Safira dengan wajah yang begitu kesal.


"Kamu juga, By! Ini kenapa rambut di buat seperti ini? Gimana kalau ada yang melirikmu?" Ucap Ivanna tidak kalah garang melihat rambut Carenza yang berkilauan.


"Hahaha, sayang. Mereka tau kalau aku milikmu, jadi gak akan ada yang berani macam-macam!" Ucap Carenza mencuri ciuman dari bibir Ivanna.


"Ck, gak usah mengumbar kemesraan di depan orang!" Ucap Fajri ketus.


"Hus, gak boleh gitu, sayang!" Udah Safira menegur suaminya.


Ia menatap Fajri lekat, mau dibuat sejelek apapun Fajri, ia tetap terlihat tampan dari segala segi.


"Huh, sudahlah, dek! Mereka di kasih arang pun masih terlihat tampan!" Ucap Safira mendelik.


"Iya, kak. Kita harus siap-siap kalau ada perempuan gatal yang mendekati mereka. Kebetulan aku pake hils keramat!" Ucap Ivanna menggandeng tangan Safira keluar dari apartemen.


Deg!


Dua pria tampan itu terkejut, mereka kembali mengingat kejadian Nafisa yang masuk ruang ICU karena hils keramat itu.


"Jangan sampai kejadian kemarin terjadi lagi, Za!" Ucap Fajri lirih.


"Iya, Bang! Ini di negara orang, pasti akan lebih susah untuk mengurusnya nanti!" Ucap Carenza bergidik.


Mereka segera pergi meenuju studio acara menggunakan mobil Limosin yang telah di sediakan sebelumnya.


Menempuh perjalanan selama lima belas menit, mereka tiba di tempat acara tersebut. Karpet merah sudah terbentang sepanjang jalan hingga masuk kedalam ruangan.


Fajri keluar terlebih dahulu, dan membantu Safira untuk menuruni mobil, karena ia merasa kesulitan dengan perut besarnya. Ia melambaikan tangan dengan ramah ke arah kamera dan tersenyum.


Selanjutnya, Carenza keluar dari mobil dan membuat perhatian semua orang teralihkan. Ia membantu Ivanna keluar dan menggandeng sang istri dengan mesra.


Mereka bergabung dengan Fajri dan Safira untuk berfoto terlebih dahulu. Banyak pasang mata melihat kearah mereka dengan tatapan kagum.


Sempurna tanpa keburikan. Wajah dingin Ivanna bertengger seperti biasanya dan membuat beberapa orang bergidik melihat wajah cantik tanpa ekspresi itu.


Walaupun bukan kali pertama Ivanna datang ke acara ini, namun karisma dan auranya luar begitu saja. Termasuk malam ini, Ia terlihat begitu cantik, tapi sayang sudah dimiliki oleh orang lain.


Mereka segera masuk kedalam ruangan dan mencari tempat duduk yang telah di sediakan.


Tak selang berapa lama, acara penghargaan tertinggi para pebisnis itu dimulai dengan berbagai kemewahan, kesombongan, dan ke pameran dari para Eksekutif yang ada disana.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Udah bab ke 4 ya gais.


Pliiis, jangan skip like 😭😭😭😭


Aku sedikit kehilangan feel ini

__ADS_1


Maaf ya, kalau ceritanya kurang menarik! πŸ₯ΊπŸ₯Ί


__ADS_2