
Suasana horor terasa mencekam di ruang keluarga setelah makan malam. Irfan ikut bergabung di sana sambil memangku Naren dan Nayla.
Selepas makan, tiba-tiba saja Tono meminta izin untuk melamar Ivanna dan membuat semua orang terkejut bukan main.
"Siapa nama kamu, anak muda?" tanya Irfan.
"Carenza William Hartono, Ayah!" ucap Tono menunduk.
"Saya cukup menghargai keberanian kamu, untuk melamar anak gadisku. Tetapi tidak semudah itu, anak muda!" ucap Irfan tersenyum tipis.
Baik Tono ataupun Ivanna hanya bisa tertunduk. Ivanna begitu terkejut melihat keberanian pria tampan ini. Namun, jika di hadapkan dengan pernikahan, dirinya sangat belum siap.
"Maaf, Ayah, Bunda, semuanya. Memang ini terkesan mendadak, tetapi saya sudah lama menyukai Ivanna, walaupun saya tidak kaya, tetapi saya bisa menjamin semua kebutuhan Ivanna akan saya penuhi!" ucap Tono lirih.
Ia tau jika keluarga Ivanna tidak semudah itu memberikannya restu. Namun tidak ada salahnya untuk mencoba, mengingat begitu banyak saingan untuk mendapatkan gadis cantik ini.
"Tunggulah beberapa tahun lagi, ya!" ucap Irfan sambil mengelus kepala Nayla dan Naren yang bersandar di dadanya dengan lembut.
"Baiklah, Ayah!" ucap Tono pasrah dan tersenyum.
Aku tidak menyangka, jika laki-laki culun ini begitu berani untuk melamar Ivanna. Aku harus mengapresiasi atas keberaniannya!. Batin Fajri masih tidak menyangka.
"Bunda, Ayah mau istirahat!" ucap Irfan tersenyum ke ara Fajira.
"Ya sudah, yuk!" ucap Fajira tersenyum.
"Ah, Lala masih mau peluk, Opa!" keluh Nayla memeluk Irfan dengan erat.
"Hehe ya sudah. Kalau gitu ikut sama Opa ke kamar ya?" tanya Irfan.
"Hmm?" Nayla berfikir sambil menatap Naren. "Boleh bobo sama Opa juga?" tanya Nayla.
"Boleh, sayang!" ucap Irfan tersenyum.
"Baiklah, kita ikut sama Opa, saja!" ucap Naren.
Bocah kembar itu segera turun dari pangkuan Irfan dan berjalan menuju kamar. Sambil bergandeng tangan, mereka menunggu kakek dan neneknya agar bisa segera beristirahat bersama.
Sementara di ruang keluarga, Fajri masih saja menyimpan dendam kepada Tono. Ia membatasi Safira agar tidak bisa mengobrol dengan pria tampan itu.
"Ih, Mas. Kamu ngapain sih?" ucap Safira kesal.
"Jangan ngomong sama dia!" bisik Fajri.
"Ih, aku cuma ngomong, bukan mau peluk dia!" ucap Safira mendelik.
"Pokoknya aku gak suka!" ucap Fajri dingin.
"Terserah!" ketus Safira.
Berbeda dengan dua sejoli yang masih saling diam satu sama lain. Ivanna masih terfikirkan tentang lamaran Tono tadi. Ia menjadi dilema, satu sisi ia ingin bersama dengan Tono, namun di siai lain, ia juga ingin mengejar karirnya terlebih dahulu.
"Na?" panggil Tono lembut membuat Fajri mendelik kesal ke arahnya.
__ADS_1
"Hmm?" deham Ivanna menoleh.
"Bisa kita bicara berdua?" tanya Tono lirih.
"Hmm? boleh. Kita ngobrol di kolam belakang saja!" ucap Ivanna berdiri dan berpamitan.
Di ikuti oleh Tono, mereka berjalan menuju kolam berenang. Ivanna duduk di tepi kolam dan mencelupkan kakinya ke dalam air.
"Maaf, sudah membuatmu terkejut!" ucap Tono lirih.
"Huft," Ivanna menghela nafasnya. "Tono, aku tau kamu mencintaiku, tapi untuk saat ini aku ingin fokus untuk menstabilkan perusahaan ayah, dan mengadakan proyek baru! Aku ingin mengejar Abang lebih jauh lagi!" ucap Ivanna lirih.
Nyes,....
Hati Tono serasa di cubit karena mendengarkan ucapan Ivanna. Ia yakin jika gadis cantik ini akan tetap berpegang pada keputusannya.
"Aku tau jika kamu merasa takut, kalau aku direbut oleh laki-laki lain. Tapi, saat ini aku belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun," ucap Ivanna.
"Aku paham, Na. Aku tau, jika hati kamu sudah dimiliki. Aku hanya ingin berusaha untuk merebutnya. Aku begitu mencintaimu, Na! Sungguh!" ucap Tono lirih.
"Iya, aku tau, Tono," ucap Ivanna merasa bersalah.
"Aku hargai keputusanmu, Na. Tapi, tolong jangan menjauh dariku!" ucap Tono.
"Terima kasih!" ucap Ivanna.
Mereka kembali terdiam sambil menikmati udara malam dan indahnya bulan purnama.
Tanpa mereka sadari, Fajri dan Safira sudah menguping pembicaraan mereka di balik tirai dinding kaca.
"Siapa yang gemas? Aku gak suka lihat kamu dekat-dekat dengan si culun itu! Awas saja kalau berani!" ucap Fajri mendelik karena cemburu.
"Ihh, cemburu terus cemburu terus! Mas, sebelum kita kenal, dia udah jadi teman aku, sekarang malah mau menjadi adik ipar juga. Apa kamu masih cemburu? Atau kamu masih dendam karena aku Ngidam dulu?" ucap Safira kesal.
"Iya, Aku masih dendam karena itu. Aku membenci dia sayang! Harusnya kamu paham!" ucap Fajri kesal.
Tanpa mereka sadari, Ivanna dan Tono mendengar perdebatan itu. Bahkan Tono berusaha keras untuk menahan tawanya agar tidak mengejek Fajri yang merupakan seorang laki-laki pencemburu.
"Jangan ketawa! Kamu juga sama, belum apa-apa udah cemburu akut!" ucap Ivanna mendelik.
"Mana ada, Na?" protes Tono.
"Kakak, Abang, kalian ngapain?" panggil Ivanna membuat suami istri itu kaget dan salah tingkah.
"Eh, gak ada. Ini kakak kamu ngajak berdebat mulu!" kilah Fajri dan berlalu dari sana. "Cepat pulang, tidak baik main di rumah orang lama-lama!" sambungnya.
"Ternyata, tuan muda bisa cemburu juga, ya!" ucap Tono tertawa.
"Hus!" Ivanna melotot ke arah Tono meminta agar ia berhenti untuk tertawa.
Safira menatap Fajri dengan malas. Cemburu pria tampan itu tidak pada tempatnya. Ia segera menyusul Fajri ke dalam kamar dan membujuk suami tampannya agar tidak merajuk lagi.
"Aku baru tau, kalau keluarga kamu begitu hangat, Na. Bahkan aku tidak melihat Tuan Irfan tadi, aku hanya melihat seorang ayah dan kakek yang penyayang!" ucap Tono tersenyum.
__ADS_1
"Iya, begitulah. Kami harus bisa menyesuaikan suasana termasuk juga di rumah," ucap Ivanna sambil mengantar Tono keluar.
"Iya, aku juga semakin mengenalmu. Sepertinya, ketika kita bersama, sifatmu yang dingin bisa mencair, dengan sendirinya!" ucap Tono.
Wajah Ivanna mulai bersemu, apa yang di katakan oleh Tono itu suatu kebenaran dan ia tidak menyangkalnya.
"Ya, mungkin karena kita sudah kenal lama," ucap Ivanna mengedikkan bahunya.
"Bagaimana dengan, Bryan?" tanya Tono membuat mata tajam Ivanna menyalang.
"Ah, apa aku salah bertanya? maaf ya, jangan marah!" ucap Tono memelas.
"Ntahlah, mungkin dia juga Rival kamu!" ucap Ivanna serius.
"Na, jangan bercanda!" ucap Tono terkejut.
"Iya, bukankah kalian sudah melakukan perjanjian perang?" ucap Ivanna mengernyit.
"Ah, itu. Apa kamu tau?"
"Ya, aku melihat kalian kembali masuk. Maaf ya, aku meretas cctv cafe Mu. Tapi tenang saja, aku gak akan menyalahgunakannya!" ucap Ivanna tersenyum.
"Ah, aku mah bisa apa, Na. Kalau di larang pun, kamu masih bisa melakukannya!" ucap Tono lirih.
"Itu, kamu tau!" ucap Ivanna.
"Rasanya aku tidak ingin pulang, Na!" ucap Tono mengeluh.
Ivanna hanya menatap pria tampan itu tanpa ekspresi. Ia menghela nafasnya pelan, karena membenarkan perkataan Tono.
"Sebaiknya kamu pulang, sebelum Abang kembali keluar dan melakukan sesuatu!" ucap Ivanna lirih.
"Baiklah, Nanaku yang cantik! Jangan begadang, ya!" ucap Tono menaiki mobil yang akan mengantarnya pulang ke rumah.
"Iya, Kamu juga istirahat ya! Ingat umur, jangan begadang!" ucap Ivanna tersenyum smirk.
"Aih, aku akan tetap tampan walaupun usianya tidak bisa di bohongi!" ucap Tono tergelak.
Ivanna segera menutup pintu dan melambaikan tangannya. Tono masih tergelak di dalam mobil hingga pintu tertutup rapat. Sementara, Ivanna tersenyum menatap kepergian Tono.
Tanpa ia sadari, jika Fajri dan Safira masih menguntitnya dari balkon kamar. Fajri memiliki kesempatan untuk membuat adiknya ini semakin viral.
"Mas, kamu itu ya. Gak boleh, dendam apalagi membalasnya. Nanti di contoh sama anak-anak dan itu gak bagus!" ucap Safira sewot.
"Sayang, biar Ivanna merasakan sensasi viral dalam waktu cukup lama!" ucap Fajri terkekeh."Yuk, kita tidur! Kamu janji dua ronde, sayang!" sambung Fajri dengan senyum smirknya.
Malam pergulatan panas, kembali terjadi tanpa henti. Bahkan mereka berencana untuk menambah anak lagi, agar rumah itu semakin rame dan keturunan Dirgantara semakin banyak.
Sementara Ivanna, ia memilih untuk kembali ke kamar dan beristirahat, tanpa mempersiapkan hari esok yang akan semakin berat dengan berita viral yang akan menjadi tranding kembali.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
Astaga Fajri kerajaanmu sangat menambah beban Ivanna π©π©