
Pagi menjelang, Ivanna mengerjakan matanya dan melihat wajah Carenza pucat pasi dengan badan yang terasa lebih panas.
"By?" Panggil Ivanna terkejut.
"Aku pusing, sayang!" Ucap Carenza lirih.
"Habis muntah lagi?" Tanya Ivanna memeluk Carenza dan mengelus punggungnya.
"Hmm, Mau cium!" Ucap Carenza menatap Ivanna.
"Boleh!" Ucap Ivanna tersenyum.
Tanpa menunggu lama, Carenza segera meraup manisnya morning kiss. Ia sudah berkumur-kumur menggunakan obat kumur agar Ivanna nyaman ketika berciuman dengannya.
"hmpphh!" Ucap Ivanna menepuk bahu Carenza karena nafasnya terasa sesak.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Carenza memelas.
"Sesak, By!" Ucap Ivanna mengatur nafasnya.
"Aku kan gak terburu-buru, Sayang. Kenapa kamu bisa sesak?" Tanya Carenza terlihat sedih.
"Aku gak tau, By. Sesak saja rasanya!" Ucap Ivanna memelas.
Dengan cemberut, Carenza kembali mencium Ivanna sangat lembut. Dan berhasil, ciuman itu bertahan lama tanpa hasrat yang menggebu-gebu.
"Ah, aku sudah merasa lebih baik, sayang!" Ucap Carenza merebahkan kepalanya di lengan Ivanna dan memeluk sang istri dengan manja.
"By, Aku lapar!" Ucap Ivanna.
Waktu baru menunjukkan pukul 05.30 pagi. Namun Carenza tersenyum ia menatap Ivanna dengan penuh cinta.
"Kamu mau makan apa, Sayang? Biar aku buatkan!" Ucap Carenza tersenyum antusias.
"Hmm, yang biasa saja, By. Apa saja aku makan, kok!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Baiklah, kalau gitu aku turun dulu ke dapur. Kamu gak boleh turun dari kasur sampai aku kembali! Okey!" Ucap Carenza tidak ingin di bantah.
"Baiklah, tapi aku mau ke kamar mandi dulu!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Okey, Sayang!" Ucap Carenza menggendong Ivanna menuju kamar mandi dan membantu sang istri untuk mencuci wajah dan menggosok gigi.
Setelah selesai ia langsung turun ke dapur. Ia melihat Fajira sudah bermesraan dengan Irfan di sana. Ia berdeham dan membuat mereka salah tingkah.
"Mau apa, Za?" Tanya Fajira dengan wajah yang merona.
"Mau masak untuk Nana, Bunda! Senang banget kalau lihat orang tua masih romantis walaupun sudah lapuk!" Ucap Carenza tersenyum dan berbinar.
"Ah, itu haruslah. Kamu bisa mencotoh kami, Za. Banyak halangan dan rintangan dalam berumah tangga, tapi bisa menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin!" Ucap Irfan.
"Iya, Ayah! Eza akan selalu berusaha untuk membangun rumah tangga seprti Ayah dan Bunda atau ayah dan Ibu!" Ucap Carenza mengambil beberapa bahan masakan.
"Bagus! Jangan sungkan untuk meminta pendapat!" Ucap Fajira.
"Iya, bunda!" Ucap Carenza tersenyum
"Masak, Apa Za?" Tanya Irfan.
"Hmm, Eza cuma mau bikin waffle untuk Nana, nanti juga mau masak ayam bakar dan Bubur!" Ucap Carenza tersenyum.
"Bisa selesai semuanya sebelum sarapan, Nak?" Tanya Fajira mengernyit.
"Bisa, Bunda!" Ucap Carenza.
Mereka terus mengobrol sambil memasak sarapan. Carenza bekerja begitu cepat dan membuat Fajira terpesona melihat cara kerja menantunya ini.
Hingga semua hidangan selesai, Carenza tersenyum menatap Fajira yang masih melongo menatap tiga hidangan yang telah ia sediakan.
__ADS_1
"Hehe, Bunda sudah selesai?" Tanya Carenza tersenyum.
"Sudah, Za! Pantas saja restoran kamu selalu cepat, ternyata yang bekerja seperti ini!" Ucap Fajira mengacungkan jempol.
"Hehe, Terima kasih, Bunda. Eza mau mengantarkan ini dulu ke atas!" Ucap Carenza membawa nampan yang sudah tersusun makanan.
"Iya, Hati-hati, Nak!" Ucap Fajira.
Ia segera menuju kamar dengan hati yang begitu bahagia. Sebelum rasa mual kembali melanda. Carenza membuka pintu dan melihat Ivanna yang tengah mengusap perut ratanya dan tersenyum.
"Sudah masak, By?" Tanya Ivanna berbinar.
"Sudah, Sayang!" Ucap Carenza meletakkan semua hidangan itu di atas meja. "Hmm, aku belum membuatkanmu susu!" Ucap Carenza kembali keluar dan menuju dapur.
"Baiklah!" Ucap Ivanna yang terasa begitu lapar.
Di dapur, Carenza menyeduh susu hamil untuk Ivanna. Ia melihat oatmeal berada tak jauh dari sana. Ia tidak pernah menyukai bahan yang satu ini.
"Apa ini enak kalau di campur dengan susu?" Tanya Carenza mengernyit.
Ia mencoba menuangkan sereal bocil kembar dengan sedikit susu dan oatmeal kedalam mangkok, diberi sedikit selai kacang, madu, keju dan sedikit bubuk kayu manis, sehingga terlihat lebih menarik, karena ia pernah melihat vidio seperti itu. Tanpa sengaja, Atim berjalan kearahnya.
"Ah, Atim, boleh saya minta tolong?" Tanya Carenza.
"Boleh, Tuan!" Ucap Atim.
"Kamu coba ini!" Ucap Carenza.
"Apa ini tuan?" Tanya Atim mengernyit dan was-was.
"Ini susu, oatmeal, pake selai kacang, madu dan keju!" Ucap Carenza.
Atim bergidik, ia mencoba memakan makanan yang dibuat oleh majikannya.
Hap!
"Bagaimana? Apa enak?" Tanya Carenza berbinar.
"Enak, Tuan! Coba saja, rasa cukup enak!" Ucap Atim memaksakan Senyumnya.
"Benarkah?" Ucap Carenza berbinar.
Ia mengambil sendok baru dan memakannya. Mata Carenza membulat sempur dengan wajah yang merona senang, seolah mendapatkan resep baru.
"Kamu benar, ini enak bahkan sangat enak!" Ucap Carenza kembali memakan sarapan yang ia buat itu.
Deg!
Atim ikut membola karena terkejut. Sungguh rasanya sangat, sangat, sangat tidak enak, namun kenapa Tuan mengatakan itu sangat enak? Apa lidah orang ngidam begitu aneh? Astaga, jangan sampai aku kehilangan kewarasan karena berdekatan dengan Tuan Muda ini!. Batin Atim serasa ingin menangis.
Carenza membawa sereal dan dua gelas susu menuju kamar dan memberikannya kepada Ivanna dengan hati yang begitu bahagia.
"Sayang, Aku menemukan resep baru!" Ucap Carenza tersenyum.
"Resep apa, By?" Tanya Ivanna mengernyit.
"Ini, coba!" Ucap Carenza menyodorkan apa yang ia bahwa tadi.
Ivanna mencobanya, namun ia merasa ingin muntah. Ia segera melepehkan apa yang ada di dalam mulutnya dan membuat wajah Carenza berangsur sedih.
"Apa ini tidak enak?" Tanya pria tampan itu sedih.
"Baby, lidah kamu lagi aneh. Dan ini rasanya juga aneh!" Ucap Ivanna lembut. "Gak enak kalau dimakan, By!" sambungnya sambil memegang tangan Carenza dengan lembut.
"Ah, padahal Atim bilang ini enak!" ucap Carenza lirih.
"Gak enak, Baby!" Ucap Ivanna.
__ADS_1
"Tapi aku coba memang enak, sayang!" Bantah Carenza.
"Ya sudah, makan dan habiskan!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Kamu gak mau?" Tanya Carenza memastikan.
"Gak mau, By!" Ucap Ivanna.
"Baiklah!" Carenza memakan sarapannya dengan begitu bahagia karena merasakan rasa yang begitu nikmati.
Hingga Fajri masuk kedalam kamar dan mengganggu kesenangan pagi mereka.
"Bang, coba deh! Ini enak banget!" Ucap Carenza tersenyum.
"Apa itu?" Tanya Fajri mengernyit dan menyuap makanan itu.
Blam!
Matanyaa ikut berbinar, "Astaga ini enak, za!" Ucap Fajri.
Ivanna mengerjab berulang kali. Apa lidah orang mengidam itu sama? Mereka benar-benar aneh!. Batin Ivanna syok
Bahkan Carenza dan Fajri berebutan untuk menghabiskan sereal hingga tandas. Ivanna hanya bergidik sambil memperhatikan dia pria tampan itu.
"Ah, apa tadi yang kamu buat, Za? Enak banget!" Ucap Fajri.
"Gak tau, bang. Aku asal nyampur bahan saja, Tapi enak 'kan? Ah, Nana bilang gak enak!" Ucap Carenza senang.
Carenza dan Fajri segera kekuar dari kamar untuk mengambil makanan baru. Ia melihat Irfan baru saja selesai sarapan dan hendak berdiri.
"Ayah, tunggu!" Cegat Carenza tersenyum manis.
Irfan menjadi was-was melihat menantunya yang kini super duper aneh.
"Ayah, suapi Eza ya! Plis!" Ucap Carenza memohon.
Fajira hampir saja tergelak mendengarkan permintaan Carenza, begitu juga dengan Safira. Mereka semakin tidak bisa menahan tawa ketika melihat wajah pasrah Irfan yang mulai menyuapi Carenza.
Pria tampan itu terlihat begitu menikmati sarapannya dengan suapan dari Irfan. Ia menoleh kearah Fajira dan tersenyum manis, sehingga membuat wanita cantik itu juga ikut was-was.
"Bundaku yang cantik!" Panggil Carenza lembut.
"Iya, nak? Kamu mau apa?" Tanya Fajira menelan ludahnya kasar.
"Hmm, Eza mau smothies buatan Bunda. Apa boleh?" Tanya Carenza tersenyum.
"Boleh, Nak!" Ucap Fajira bernafas lega, karena Carenza tidka meminta hal yang aneh-aneh.
"Terima kasih, Bunda! Pake buah naga, kiwi, mangga, stoberi, Eh ada salak juga, pake jeruk dan pisang!" Ucap Carenza tersenyum sambil nunjuk buah yang ada di atas meja.
"Pfftt, Mana ada smothies pake salak!" Ucap Safira tertawa.
"Sstt! ibu hamil diam, Okey!" ucap Carenza menggeleng.
"Baiklah!" Ucap Safira yang masih terkekeh.
Irfan melanjutkan kegiatannya untuk menyuapi Carenza. Sementara Fajira sambil tertawa membuat apa yang di minta oleh Carenza yang begitu aneh, bahkan tidak masuk akal.
"Ya Tuhan, Ivanna baru hamil 5 minggu, dan ngidam Carenza sudah separah ini. Ah, aku merasa tidak sanggup jika ia semakin berulah!" Ucap Fajira meringis.
Pagi itu hampir semua orang mendapatkan jatah dari Carenza. Ia merepotkan semua orang untuk mengikuti keinginannya yang sangat tidak masuk akal.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Untuk yang nanya visual, Aku sebenarnya mau ngasih visual. Hanya saja takutnya tidak sesuai dengan bayangan dan gambaran dari readers semua.
__ADS_1
π’π’