IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Kunjungan Bryan


__ADS_3

Malam menjelang, Ivanna mendelik kesal namun ia hanya pasrah karena Carenza tidakk mengizinkannya untuk turun dari kasus sedikitpun tanpa di gendong.


Ivanna selalu kalah berdebat ketika Carenza membeberkan berbagai macam alasan menyangkut sang anak. Kini pria tampan itu tengah mengambil makanan kebawah untuk makan malam mereka.


Ivanna hanya melihat laptopnya untuk memeriksa beberapa berkas yang masih harus ia selesaikan. Irfan hanya bisa menggantikannya untuk rapat dan memeriksa pekerjaan, tetapi tidak untuk menandatangani berkas. Sehingga ada beberapa berkas yang harus ia tanda tangani dan membuat Carenza mendengus sebal.


Kini ia hanya duduk manis sambil menonton televisi yang tengah membicarakan tentangnya. Tidak ada berita miring, karena Fajri sudah menjawab beberapa pertanyaan penting dari folowers.


Ceklek!.


Carenza masuk ke dalam kamar dengan wajahnya yang cemberut masam. Ia meletakkan makanan di atas meja nakas dan memeluk Ivanna dengan manja.


"Kenapa, sayang? Apa abang mengerjaimu lagi?" Tanya Ivanna mengernyit.


"Bukan!" Ucap Carenza.


"Terus? Kenapa suamiku tiba-tiba cemberut seperti ini?" Tanya Ivanna mengusap rambut Carenza dengan lembut.


"Ada mantanmu di bawah! Aku kesal melihat wajahnya!" Ucap Carenza merengek.


"Mantan? Mantan yang mana?" Tanya Ivanna mengernyit.


"Itu, buteng!" Ucap Carenza menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ivanna.


"Buteng siapa?" Tanya Ivanna semakin bingung.


"Bule tengik itu sayang, Bryan! Kamu gimana sih!" Ucap Carenza kesal.


"Bryan? Dia ada di bawah?" Tanya Ivanna mengernyit.


"Iya! Apa kamu akan bertemu dengannya?" Tanya Carenza dengan telinga yang memerah menahan cemburu.


"Apa dia ingin membesukku?" Tanya Ivanna.


"Iya!" Ucap Carenza lirih.


"Ya sudah, biarkan dia menunaikan niat baiknya, By. Gak boleh seperti itu. Lagian dia kan gak ada niat jahat!" Ucap Ivanna lembut.


"Bagaimana kalau dia punya maksud lain? Dia ingin merebutmu, atau dia ingin menculikmu?" Ucap Carenza dengan nada sediki meninggi.


Ivanna mengusap wajah Carenza dengan tangannya. Ia terkekeh dan meraih wajah sang suami lalu mengecup bibirnya dengan lembut.


"Jangan ngomong seperti itu, Ayah. Bunda yakin dia tidak akan mau menghancurkan rumah tangga orang lain hanya untuk keinginannya!" Ucap Ivanna tersenyum.


Ia menggesekkan hidungnya dengan hidung Carenza dengan gemas, karena tingkah pria tampan ini sangat mengemaskan semenjak mengidam.


"Tapi bagaimana kalau benar itu terjadi?" Tanya Carenza lirih.


"Apa kamu akan membiarkan aku di rebut oleh orang lain?" Tanya Ivanna serius.


"Gak mau!" Ucap Carenza lirih.


"Ya Udah. Apa yang ayah takutkan? Bunda gak akan kemana-mana kecuali ayah yang meminta!" Ucap Ivanna tersenyum.


Hati Carenza menghangat mendengar panggilan yang akan ia sandang sebentar lagi. Ia memeluk Ivanna dengan lembut menyembunyikan wajahnya yang merona senang.


"Sekarang dede lapar, Ayah! Apa boleh dede makan?" tanyaa Ivanna menirukan suara anak kecil.


"Ah, boleh sayang. Tentu saja boleh! Ayah tadi sudah masak makanan kesukaan bunda dengan penuh cinta!" Ucap Carenza tersenyum sambil mengelus perut Ivanna dengan lembut.


Ia mengambil makanan dan menyuapi Ivanna dengan telaten. Semenjak menikah, mereka memang makan sepiring berdua, terkadang Ivanna yang menyuapi dan terkadang ia yang menyuapi.

__ADS_1


Kebahagiaan sederhana dalam rumah tangga yang membuat hubungan semakin dekat dan begitu harmonis.


Hingga semua hidangan sudah tandas, Carenza memberikan vitamin kepada Ivanna. Dan mengecup bibir sang istri sambil terkekeh.


"Cuma bisa kecup-kecup," Ucap Carenza cemberut. "Tapi gak papa, dari pada dede dalam keadaan bahaya, lebih baik aku menahannya!" Ucap Carenza tersenyum.


"Sabar ya, Ayah. Gak lama kok, nanti kita konsul lagi sama dokter!" Ucap Ivanna tersenyum.


Tok, tok, tok!


Carenza mengernyit ketika mendengar pintu di ketuk oleh seseorang. Ia segera beranjak dari ranjang dan membuka pintu. Terlihat Atim berdiri di depan pintu bersama dengan Bryan.


"Selamat malam, Tuan. Saya mengantar Tuan Bryan untuk menemui, Nona!" Ucap Atim sedikit menunduk.


"Ah, iya. Terima kasih, Atim," Ucap Carenza.


Ia menatap Bryan dengan lekat dari atas sampai kebawah. Begitu rapi dan menawan dengan rambut panjangnya terurai indah, jaket bermerek dan senyum yang begitu menawan.


Ia melihat dirinya yang hanya menggunakan celana trening pendek dan baju kaos kebesaran, rambut yang masih acak-acakan dan sedikit bau bawang karena habis memasak.


Aku sangat kalah dari penampilan. Tapi Nanaku gak akan tertarik dengan dia!. Batin Carenza tersenyum smirk.


"Apa kabar? Maaf tadi tidak sempat menyapa!" Ucap Carenza datar.


"Baik, tidak masalah! Hmm, apa saya boleh melihat keadaan Ivanna?" Tanya Bryan tersenyum.


"Hmm, Ya. Tapi kamu harus menyiapkan diri untuk masuk kedalam kamarku!" Ucap Carenza tersenyum smirk.


"Ah, ia. Aku sudah siap!" Ucap Bryan yang tidak tau bagaimana isi kamar jahannam Ivanna dan Carenza.


"Silahkan!" Ucap Carenza membuka pintu lebih lebar.


"Hai, Na? Gimana keadaanmu?" tanya Bryan berdiri di dekat Ivanna.


"Aku baik, Bry. Kamu apa kabar? lama kita tidak bertemu!" Ucap Ivanna tersenyum tipis.


"Aku baik, Na. Aku hanya sibuk berkelana mencari tujuan hidup!" Ucap Bryan tersenyum.


Carenza menyodorkan kursi agar Bryan bisa mengobrol dengan Ivanna. Lalu pria tampan itu nasik ke atas tempat tidur dan merebahkan kepalanya di atas paha Ivanna sambil menonton televisi.


"Maaf, Na. Apa benar kamu keguguran?" Tanya Bryan hati-hati.


"Beruntung, janinku kuat, Bryan. Jadi, anakku masih bisa bertahan!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Ah, syukurlah. Maaf aku tidak bisa mengunjungimu di rumah sakit dan baru bisa berkunjung hari ini!" Ucap Bryan penuh sesal.


"Tidak apa, Bry. Memang tidak ada yang boleh membesukku di sana!" Ucap Ivanna mengelus kepala Carenza.


"Apa dia begitu manja? Bukankah kamu yang hamil?" Tanya Bryan sedikit terganggu.


"Hmm, Iya. Mas Eza lagi ngidam, makanya lebih manja dan banyak mau!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Apa kamu tidak kerepotan mengurusnya, Na? Sementara keadaanmu seperti ini!" Ucap Bryan mengejek.


"Tidak, Bry. Justru dia yang mengurusku dengan telaten walaupun keadaannya juga sedang lemah!" Ucap Ivanna tersenyum menatap Carenza yang juga sedang menatapnya.


Bryan merasa salah berucap, ia menatap hiasan dinding kamar Ivanna dan terkejut. Pasutri ini memang gila karena memasang foto panas mereka yang hampir memenuhi dinding kamar itu.


Mulai dari foto tunangan, menikah, berciuman, berpelukan mesra, dan foto aneh lainnya. Mulai dari bingkai kecil hingga bingkai yang sangat besar ada di sana


Glek!

__ADS_1


Sial! Ini yang di maksud oleh dia tadi!. Batin Bryan mengumpat.


"Bryan, kenapa waktu aku menikah kamu tidak mengucapkan selamat kepadaku?" Tanya Ivanna.


"Ah, hari itu aku harus terbang ke luar negeri untuk mengurus perusahaanku, Na. Maaf untuk itu!" Ucap Bryan penuh sesal.


"Aku mengerti! Hmm, apa kamu sudah menemukan tambatan hati?" Tanya Ivanna.


"Ah, belum, Na. Aku hanya ingin lebih sukses lagi. Mungkin juga aku tidak akan menikah!" Ucap Bryan.


"Kenapa?" Tanya Ivanna.


Carenza mulai was-was, jangan sampai Bryan menyinggung tentang perasaannya di sini, atau ia akan mengusir Buteng ini dengan kasar.


"Susah mencari yang seperti kamu, Na!" Ucap Bryan tersenyum.


Atim datang sambil membawa minuman untuk Bryan. Janda tanpa anak itu dibentuk dengan sangat disiplin oleh Ivanna dan bahkan hampir menyamai sifatnya.


"Silahkan, Tuan!" Ucap Atim tersenyum tipis.


Ia mengambil piring bekas makan Ivanna tadi sebelum berpamitan keluar.


"Apa kamu tertarik padanya, Bryan? Dia hanya tidak menjadi CEO saja, selebihnya kami sebelas dua belas!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Ah, aku belum memikirkannya!" Ucap Bryan menunduk.


"Jangan berbohong, telingamu memerah. Jika tertarik, aku akan melepaskannya untukmu!" Ucap Ivanna tersenyum. "Tetapi, ia hanya terhalang status!".


"Status?" Tanya Bryan mengernyit.


"Atim, dia seorang janda. Tapi hatinya begitu tulus dan lembut. Ya, aku pikir dia cocok untukmu terlepas dari statusnya!" Ucap Ivanna.


"Nanti akan ku pertimbangkan lagi!" Ucap Bryan tersenyum. "Ah, Iya. Aku membawa sedikit oleh-oleh. Semoga kamu masih suka!" Ucap Bryan.


"Terima kasih, Kesukaan masih sama seperti dulu. Hanya saja sekarang mungkin akan sering diolah oleh suamiku menjadi makanan yang lain!" Ucap Ivanna.


Carenza sudah terlelap dalam pelukan Ivanna. Bryan yang paham segera undur diri karena bagaimana pun, Ivanna sudah memiliki suami dan tidak pantas untuknya berada di sana terlalu lama.


"Aku pamit dulu, Na! Cepat sembuh, dan jangan nakal!" Ucap Bryan tersenyum.


Aku ingin mengelus kepalamu, Na. Tapi itu hanya akan menimbulkan masalah nantinya!. Batin Bryan.


"Iya, terima kasih karena kamu sudah menyempatkan untuk datang!" Ucap Ivanna.


"Selamat beristirahat!" Ucapnya keluar dari kamar dan menutup pintu.


Carenza kembali membuka matanya dan duduk dengan wajah yang cemberut.


"Kamu hanya pura-pura tidur, By? tanya Ivanna mengernyit.


"Hmm, Aku gak suka kamu terlalu lama mengobrol dengan dia! Ya walaupun aku tidak melihat niat buruk, tetapi aku tetap saja cemburu, sayang. Itu tidak bagus untuk kesehatan jantung, hati, dan kelangsungan hidupku!" Ucap Carenza membantu Ivanna untuk berbaring.


"Huh, baiklah tuan pencemburu! Aki milikmu dan hanya milikmu. Tolong peluk aku hingga terlap, hingga pagi menjelang dan hingga kapanpun!" Ucap Ivanna menggeleng sambil merentangkan tangannya.


"Baiklah, Tuan Putri!" Ucap Carenza tersenyum dan memeluk Ivanna dengan lembut.


Mereka terlelap di temani oleh temaram lampu kamar remang-remang dan aroma terapi yang begitu menenangkan, membuat tidur mereka begitu nyaman dan serasa puas.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2