IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Membucin


__ADS_3

Selepas mandi, Ivanna memegang sebuah buku tabungan dan sebuatlh ATM. Ia menatap Carenza dengan tersenyum manis.


"Sayang, ini saham milik kamu. Sebenarnya uangku sudah kembali bulan kemarin, namun aku kelupaan terus. Jadi sekarang, aku mengembalikannya kepadamu!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Kenapa harus dikembalikan, Sayang? Sekarang uangku juga uang kamu. Uang kamu ya untuk kamu sendiri!" Ucap Carenza.


"Iya, tapi aku gak mau. Karena yang ini hasil kerjaku, bukan hasil kerja kamu!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Ah, aku paham, sayang!" Ucap Carenza mengeluarkan dompetnya. Satu, dua, tiga ATM ia keluarkan dari sana.


"Sayang, Kemarin aku ngasih kamu ATM penghasilan aku ketika menjadi koki dan penghasilan resto. Ini penghasilan dari peternakan, ini hasil dari sahamku yang ada di restoran Malik, ini uang jajan untukmu!" Ucap Carenza menyerahkan semua kartu yang ia miliki.


Ivanna menerima semua pemberian dari Carenza. Karena ia hanya menginginkan harta dari hasil kerja keras sang suami, karena itu terasa lebih manis dari pada uang hasil saham.


"Jika itu hasil kerja kamu akan aku pakai, Baby. Tapi jika hasil saham, akan aku simpan untuk tabungan anak-anak kita nanti!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Atur saja, Sayang. Aku menyerahkan semuanya kepadamu!" Ucap Carenza. "Tapi, isi saldoku setiap bulan, Ya!" Ucapnya tersenyum.


"Iya, Baby! Terima kasih!" Ucap Ivanna tertawa dan memeluk tubuh Carenza.


"Sama-sama, Sayang!" Ucap Carenza mengecup bibir Ivanna dan melumaatnya dengan lembut.


Mereka saling bertatapan dan tersenyum. Walaupun sudah saling menjelajahi, tetapi rasa malu-malu itu masih menyelimuti hati mereka.


"Aku bosan di kamar terus, By!" Ucap Ivanna cemberut.


"Emang sayang mau kemana?" Tanya Carenza tersenyum sambil menggosokkaan hidungnya di pipi Ivanna.


"Aku mau pergi main, beli es krim. Tapi kalau gak boleh, ke taman belakang aja juga boleh, gak papa!" Ucap Ivanna menatap Carenza penuh harap.


"Kita duduk di taman belakang aja, Ya. Es krimnya kita ambil di kulkas aja, sayang. Aku makasih takut, kalau kamu dan anak kita kenapa-napa!" Ucap Carenza tersenyum.


"Boleh, By. Asal aku keluar dari kamar ini! Aku bosan banget!" Keluh Ivanna.


"Baiklah, Tuan Putri!" Ucap Carenza menggendong Ivanna.


"Apa tanganmu tidak sakit, By? Kamu selalu menggendong aku kemana-mana," Ucap Ivanna mengernyit.


"Ganti olah raga, Sayang. Apa kamu tidak lihat, kalau otot tanganku lebih kekar?" Tanya Carenza terkekeh.


"Iya kah? nanti aku mau lihat dulu!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Hahaha, boleh!" Ucap Carenza.


Ia menggendong Ivanna menuju gazebo taman belakang dan meminta Atim untuk mengambilkan es krim, cemilan dan minuman untuk mereka.


Ivanna duduk di ayunan yang ada di sana sambil menatap Carenza yang tengah memetik bunga cantik yang ada di sekitaran sana.


"Ini untuk Tuan Putri, Milik Pangeran Carenza!" Ucapnya menyerahkan satu ikat bunga segar yang baru saja ia petik.


"Terima kasih, Baby!" Ucap Ivanna.


Ia menngecup pipi Carenza dengan lembut dan membuat pria tampan itu tersenyum bahagia.


"Haha, kenapa gadis dingin ku ingin begitu manis?" Tanya Carenza begitu gemas.

__ADS_1


"Ah, jangan seperti itu. Aku memang sudah manis dari lahir, Baby!" Ucap Ivanna merona malu.


"Haha, iya. Manis banget, sampai bisa membuat aku diabetes karena saking manisnya!" Ucap Carenza.


"Ih, jangan sampai diabetes, By!" Ucap Ivanna mendelik sambil tersenyum.


Tak lama Atim datang sambil membawa satu cup es krim, satu sendok, keripik, roti tawar dan air putih untuk mereka.


Carenza menyuapi Ivanna dengan begitu telaten. Bahkan ia tidak merasa jijik ketika menjilat es krim yang belepotan di mulut Ivanna sambil mengecup bibir sang istri.


"Manis!" Ucap Carenza mengedipkan matanya.


"Hei, pasangan bucin!" Pekik Safira dari balkon kamarnya.


"Apa sih kak? Ganggu aja!" Ucap Carenza mendelik.


"Kamu gak modal ya, Za! Bunga ku kau potek-potek!" Ucap Safira kesal.


"Hanya 3, Kak. Pelit banget sih!" Ucap Carenza.


"Sudah!" Ucap Fajri melerai.


Ia melihat Ivanna dan Carenza tengah bermesraan di halaman belakang, terpaksa menarik Safira untuk masuk kedalam kamar dan beristirahat.


"Ah, kamu selalu saja berdebat dengan mereka, By!" Ucap Ivanna menggeleng.


"Menambah keakraban, sayang!" Ucap Carenza tersenyum sambil membelai kepala Ivanna dengan lembut.


"Kamu bisa mancing, By?" Tanya Ivanna penuh harap.


"Bisa dong! Kamu mau makaan ikan, sayang?" Tanya Carenza antusias.


"Bawal?" Tanya Carenza mengernyit. Ivanna mengangguk, "Baiklah, sayang! Mau bawal apa?" Tanya Carenza tersenyum.


"Mau di bakar aja, Baby!" Ucap Ivanna menghubungi salah satu penjaga untuk menyiapkan alat-alatnya.


Carenza dengan begitu senang mengambil pancingan dan ember, serta umpan yang akan menangkap sang predator itu.


Ivanna bertepuk tangan melihat sang suami tengah duduk ditepi kolam sambil memegang pancingannya.


"Baby, apa sudah dapat?" Tanya Ivanna tidak sabar.


"Tunggu, sayang. Ini pancingnya baru saja aku masukkan!" Ucap Carenza menggeleng sambil tersenyum.


"Ah, aku merasa lapar, By!" Ucap Ivanna.


Ia begitu ingin untuk pergi menyusul sang suami yang berjarak lima meter darinya. Namun apa lah, daya ia tidak boleh egois mengingat keselamatan calon anaknya. Walaupun terkesan sedikit berlebihan.


Fajira datang menghampiri Ivanna sambil mengernyit ketika melihat para koki sibuk untuk menyiapkan bumbu ikan bakar.


"Sayang?" Panggil Fajira tersenyum.


"Bunda?" Sapa Ivanna tersenyum.


"Dede mau makan ikan bakar, Sayang?" Tanya Fajira.

__ADS_1


"Iya, Bunda! Dede mau makan ikan bawal bakar hasil pancingan Mas Eza!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Yes, dapat!" Pekik Carenza menggulung benang karena ikan memakan umpannya.


"Dapat, By?" Tanya Ivanna begitu senang sambil bertepuk tangan.


"Dapat, sayang. Tapi ini gurame!" Ucap Carenza lirih.


"Gak papa, nanti biar bunda masak sekalian!" Ucap Fajira tersenyum.


"Ah, baiklah, Bunda. Sayang tunggu sebentar lagi, ya!" Ucap Carenza tersenyum bersemangat.


"Iya, Baby. Cepat ya, dede udah lapar ayah!" Ucap Ivanna menirukan suara anak kecil.


"Baiklah, Nak! Ayah akan memancing ikan sesuai dengan keinginan, Bunda!" Ucap Carenza kembali memasukkan pancinnya kedalam kolam.


Fajira hanya menggeleng melihat kelakuan anak dan menantunya ini. Hingga Carenza mendapatkan ikan kedua, ketiga dan ke empat, barulah ia mendapatkan satu ekor ikan bawal sesuai dengan keinginan sang istri.


"Sayang, ini dapat!" Ucap Carenza.


Ivanna begitu berbinar. Rasa nikmatnya ikan bawal bakar, serasa membelai tenggorokannya.


Carenza segera meminta orang untuk membersihkannya dan segera membakar semua ikan agar bisa di makan ketika makan siang nanti.


Ivanna begitu bahagia melihat Carenza yang kembali berjalan mendekat kearahnya.


"Baby!" Ucap Ivanna tersenyum senang.


"Ah, akhirnya dapat juga, sayang!" Ucap Carenza memeluk Ivanna.


Beruntung Fajira sudah pergi dari sana, sehingga mereka bisa leluasa untuk bermesraan di sana. Saling berpelukan dan menggoda satu sama lain.


"Aku sudah begitu lapar, Baby!" Ucap Ivanna dengan air liur yang terus saja menetes.


"Sabar ya. Sebentar lagi ikannya akan matang!" Ucap Carenza tersenyum.


"Aku rindu suasana apartemen, By!" Ucap Ivanna lirih.


"Aku juga, sayang. Tapi kita harus sabar ya!" Ucap Carenza tersenyum.


"Hmm, Iya By!".


Ivanna bersandar didada bidang Carenza hingga terlelap. Ia begitu mudah mengantuk semenjak hamil. Ia terlelap sambil tersenyum bermimpi kan begitu banyak ikan yang melonca-loncat, namun tidak bisa untuk ia gapai.


Carenza paham, ia masih terus menemani Ivanna sambil menunggu makanan yang ditengah di sediakan matan.


πŸŒΊπŸ“πŸŒΊ


TO BE CONTINUE


Gais aku punya rekomendasi novel lagi nih, mampir dulu, mana tau syuka 😁



__ADS_1



Kuy kunjungi 😍😍😍


__ADS_2