IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Menemukan Ivanna!


__ADS_3

Pergerakan Ivanna selalu terpantau melalui monitor di dalam markas. Rey tengah mengamati sambil berfikir apa yang akan dia lakukan untuk menyelamatkan Ivanna.


Sementara Fajri, Laki-laki hangat itu tengah berubah menjadi monster yang sedang mengeksekusi para tahanan. Mereka adalah anggota penculik yang berhasil di tangkap oleh pengawal Fajri, sekitar dua puluh orang.


Pria tampan itu melepaskan emosi dan rasa kesalnya kepada beberapa orang tahanan yang tidak ingin memberikannya informasi tentang orang yang telah menyuruh mereka.


"Saya tanya sekali lagi, Brenseek! Siapa yang menyuruh kau untuk menculik adikku?" Pekik Fajri.


Sambil menggenggam leher laki-laki yang sudah babak belur dengan begitu erat hingga wajahnya hampir membiru.


"Tuan, Anda bisa membunuhnya!" Cegat Joe.


Bugh!


Fajri menghempaskan tubuh laki-laki kekar itu. Semua tawanan menunjuknya sebagai ketua. Fajri kembali menghantam wajah pria itu dengan begitu keras.


"Kurung dia, Joe! Rantai dan pasung! Minta ketua penjara untuk menginterogasinya! Jika masih t acnidak mau mengaku, berikan saja kepada Dudu, singa milik Ivanna!" Ucap Fajri tidak lagi bisa mengendalikan diri.


"Tenangkan diri anda, Tuan!" Ucap Joe menahan Fajri yang hendak memukuli yang lain.


Sementara semua orang sudah terlihat cukup takut, saat menyaksikan betapa brutalnya Fajri ketika menghajar laki-laki tadi.


"Siapa yang ingin memberitahu saya, akan saya lepaskan!" Ucap Fajri menatap tajam semua orang.


Seseorang dari mereka maju dengan wajah yang di tekuk.


"Sa-saya, Tuan!" Ucapnya.


Fajri tersenyum tipis, ia yakin ini adalah salah satu dari rencana mereka yang akan menyesatkannya.


"Katakan!" Ucap Fajri tegas.


"Se-sebenarnya, saya tidak tau pasti siapa yang menyuruh kami, Tuan. Hanya saja saya pernah mendengar jika ada orang luar negeri yang menyewa kami untuk menculik Nona muda, Tuan!" Ucapnya.


Fajri terdiam, ia tidak yakin dengan apa yang di katakan oleh laki-laki ini.


"Kau tau akibatnya jika membohongiku?" Tanya Fajri bengis.


"Ta-tau, Tuan! Saya mengatakan hal yang sebenarnya! Tolong ampuni saya, anak saya makasih kecil, Tuan!" Ucapnya bersimpuh.


"Apa kau ingin menipuku? Atau kau ingin bebas begitu saja?" Tanya Fajri.


Bugh!


Sebuah tendangan melayang di kepalanya. Joe kembali memegangi Fajri agar tidak terjadi hal buruk yang lain.

__ADS_1


Sementara tangan pria tampan itu sudah penuh dengan luka dan darah karena tidak hentinya menghajar beberapa orang yang ada di sana.


Bahkan satu dari mereka sudah menjadi santapan lezat untuk singa dan harimau, di saksikan oleh semua tawanan.


Fajri memilih untuk pergi dari sana menuju ruang monitor untuk memantau pergerakan Ivanna. Ray sudah tidak terkejut lagi, bahkan ia sengaja membiarkan Fajri untuk menghajar beberapa orang agar bisa melepaskan emosinya.


"Bagaimana, Apa emosimu sudah lepas?" Tanya Ray.


"Belum Om, dan gak akan pernah lepas hingga Ivanna bisa aku dapatkan kembali!" Ucap Fajri tegas.


Joe datang sambil membawa kotak obat. Ia mengobati tangan Fajri dan membalutnya dengan perban yang cukup tebal.


"Anda tidak harus melakukan ini, Tuan! Apa yang harus saya jawab ketika Nyonya Safira atau anak-anak bertanya nanti!" Ucap Joe.


"Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Fajri.


"Anak, istri dan mertua Anda aman, Tuan! Tadi satu orang pengawal menjemput Asi Nyonya untuk Baby boy Nona Ivanna, karena ia menolak untuk meminum susu formula!" Ucap Joe.


Mata Fajri berkaca-kaca, keponakan tampannya harus memiliki nasib seperti ini. Ayah koma dan ibu di tengah culik.


"Perketat penjagaan mereka! Jangan sampai kita lengah lagi!" Ucap Fajri.


"Baik, Tuan!" Ucap Joe patuh.


Tiba-tiba saja ponsel Fajri berbunyi, Aldebra menelponnya dengan beruntun. Tanpa menunggu lama, ia langsung mengangkat panggilan itu.


"Cih, ada apa? Aku sedang pusing ini, jangan menambah beban!" Ucap Fajri ketus.


"Cih, kau dasar tidak tau di untung. Aku sudah menemukan pelakunya!" Ucap Aldebra dengan serius.


"Benarkah?" ucap Fajri tersentak.


🌺🌺


Setelah melakukan penerbangan cukup lama, Ivanna sudah mendapatkan dua kali suntik bius agar ia tidak memberontak. Dokter wanita sudah di siapkan di atas pesawat. Ia memeriksa keadaan Ivanna dengan teliti menggunakan alat medis seadanya.


Ia menangkap sebuah kalung yang begitu mahal dan sangat ia inginkan.


Sepertinya ini bisa aku bawa pulang!. Batinnya tersenyum sambil melepaskan kalung itu dan menyimpannya di dalam saku.


Tak berapa lama, seorang pengawal datang dan mengejutkan dokter itu.


"Lepaskan semua perhiasan yang di pakai oleh Nona dan serahkan kepada saya. Jangan sesekali anda mencuri barang miliknya atau anda akan mati!" Ucap Laki-laki bertubuh kekar itu.


Glek!

__ADS_1


"Baik, semua perhiasan akan saya lepaskan!" Ucap Dokter itu sedikit takut.


Ia melepaskan tiga buah cincin dari tangan Ivanna satu buah gelang dan kalung. Ia mengumpulkan itu dalam sebuah plastik dan menyerahkannya kepada pengawal itu.


Ia segera meninggalkan sang dokter dan menuju ke salah satu kursi khusus untuk melacak apakah ada GPS tersembunyi yang terpasang di sana atau tidak.


"Bos, Di dalam kalung ini saya mendapatkan signal GPS!" Ucapnya.


"Itu sudah kuduga! Turunkan kalung itu di Prancis, kita akan langsung terbang setelah bahan bakar diisi kembali!" Ucap laki-laki yang di panggil bos itu.


"Baik!"


Kita lihat, bagaimana cara tuan Fajri menyelamatkan adiknya. Saya jadi penasaran apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki kemayu itu! Atau mungkin, bos besar yang akan mati di tempat!. Batinnya tertawa jahat.


Lama pesawat mengudara, hingga akhirnya mendarat di bandara Charles de Gaulle setelah menempuh waktu selama 16 jam. Sesuai dengan rencana untuk mengecoh orang-orang dari Fajri, merka menurunkan sebuah brankar yang di duga adalah Ivanna beserta perhiasan yang dimilikinya.


Bos itu tersenyum senang ketika melihat beberapa perhatiaan teralihkan karena itu. Namun tanpa ia sadari, ada seseorang yang tengah menyeludup kedalam pesawat untuk meletakkan GPS baru di brangkat milik Ivanna.


Setelah dipastikan aman, ia langsung keluar, karena sangat tidak mungkin untuk membawa Ivanna dengan aman.


Maafkan saya nona! Saya janji akan membawa anda kembali!. Batinnya.


Ia segera keluar dengan rasa penyesalan yang besar. Karena ia tidak bisa membawa Ivanna keluar dari pesawat itu.


Para anggota Mafia mengawasi gerak gerik mereka dengan memantau GPS yang terhubung langsung kepada Fajri.


Salah seorang dari mereka melihat, ada seorang laki-laki yang terdeteksi tengah membawa perhiasan Ivanna. Dengan perlahan mereka membekuk laki-laki itu dan langsung membuatnya mati di tempat dengan menyuntikkan bisa ular beracun.


"Lapor, Tuan! Mereka memang merencanakan ini! Perhiasan nona Ivanna sudah ada di tangan saya! Satu buah kalung, tiga cincin dan satu gelang! Dugaan anda memang benar, mereka menurunkan sebuah brankar kosong untuk mengecoh kita!" Ucapnya.


"Bagaimana dengan GPS baru?" Tanya Ray.


"Sudah di pasang, Tuan!" Ucapnya.


"Bagus, setelah ini jalankan rencana kita selanjutnya!" Ucap Ray.


"Baik, tuan!" Ucapnya kembali bersiap untuk mengikuti pesawat itu.


Ia mengamati pesawat itu kembali lepas landas tanpa merasa curiga sedikitpun. Ia langsung melihat layar tabletnya untuk menghidupkan GPS yang terpasang di sana.


Setelah mendapatkan rute terbangnya pesawat, ia segera mengirim titik itu kepada Ray, agar bisa di pantau sementara ia pergi bersama yang lain untuk mengikuti Ivanna.


Semoga rencana Tuan Ray berhasil. Jika anda memberi saya perintah untuk membawa Ivanna kembali, mungkin dengan sedikit kekacauan saya bisa membawa Nona kembali. Tetapi tidak dengan dalang dari penculikan ini!. Batinnya menatap pesawat yang sudah tidak terlihat.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2