IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Stadion Bola


__ADS_3

Carenza mengajak Ivanna untuk melihat bagaimana semua koki itu bekerja. Ini sudah kloter ke dua, karena begitu banyak koki yang dibutuhkan, sehingga tidak mungkin semuanya di ajarkan sekaligus.


"Apa mereka bisa di percaya, By?" Tanya Ivanna berbisik.


"Mereka sudah menekan kontrak, sayang! Jika ada yang melanggar, makan harus mengganti rugi dalam jumlah yang banyak atau di penjara!" Ucap Carenza tersenyum.


"Kok bisa sampai seperti itu perjanjiannya?" Tanya Ivanna mengernyit.


"Hehe, aku belajar dari kamu, sayang!" Ucap Carenza tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.


"Astaga!" Ucap Ivanna tercengang.


"Hahaha, jangan seperti itu!" Ucap Carenza terkekeh sambil memeluk Ivanna dari belakang.


"Kamu kejam, Baby!" Ucap Ivanna menggeleng.


"Hahaha! Ayo kita ke butik, Ibu dan bunda ada di sana untuk melihat baju yang akan kita gunakan nanti!" Ucap Carenza memperlihatkan pesan dari sang ibu.


"Ini belum selesai, By!" Ucap Ivanna mengernyit.


"Hanya tinggal menghidangkan saja, sayang! Terus nanti di cicipi. Ini menu terakhir. Besok mereka sudah bisa kembali ke kota masing-masing. Apa kamu mau mencobanya?" Tanya Carenza.


"Hmm, apa itu aman?" Tanya Ivanna.


Seorang peserta menatap tajam kearah Ivanna karena merasa tersinggung dengan perkataannya.


"Aman, sayang! Mereka membuat desert kesukaanmu!" Uca Carenza mengecup pipi Ivanna.


"Aku bingung, kenapa kamu bisa memasukkan menu aneh itu!" Ucap Ivanna menggeleng.


Bagaimana tidak aneh, bola-bola kentang yang biasanya diisi oleh keju atau coklat, namun yang satu ini diisi dengan es krim coklat, lalu di goreng dan di gabungkan kedalam desert box.


"Tapi itu enak, sayang. Desert ini menjadi menu utama resto yang paling sering dipesan dicabang manapun!" Ucap Carenza.


"Ah, aku malu kalau smpai mereka tau!" Ucap Ivanna dengan wajah merona, beruntung itu tertutupi oleh maskernya.


"Hahaha!" Carenza tergelak dan melepaskan pelukannya.


"Waktu tinggal 30 detik lagi! Jika tidak selesai, kalian langsung gugur!" Ucap Carenza tegas.


"Siap!" Ucap mereka bersamaan.


Lagi-lagi Ivanna terpesona melihat sikap Carenza yang berbeda ketika bersamanya. Ia tau jika Carenza bukan laki-laki kemayu, tetapi dia adalah orang yang begitu tegas dan disiplin.


🌺🌺


"Terima kasih! Ini adalah desert terakhir yang akan kita jual nanti! Ada yang berfikir kenapa menu ini sedikit aneh dan terkesan tidak menyambung dengan desertnya. Disini kita sudah kedatangan sang pemilik resep, dan lolos atau tidaknya masakan rekan-rekaan semua akan ditentukan oleh calon istri saya!" Ucap Carenza tersenyum.


Ivanna melotot kaget mendengarkan ucapan Carenza.


Kenapa jadi aku yang menentukan kelolosan mereka? Ah, kamu gak asik, By!. Batin Ivanna mendelik.


"Maaf, pak. Apa boleh kami melihat wajah Ibu cantik ini?" tanya salah satu koki.


"Tidak!" Ucap Carenza ketus karena ada yang memuji Ivanna di hadapannya. "Jangan ada yang memuji calon istri saya!" ucap Carenza tegas.


Ivanna tersenyum, antara malu dan gemas melihat kecemburuan Carenza.


"Maaf, Pak! Bukan saya lancang. Sebetar lagi, bapak akan menikah, kami hanya tidak ingin melakukan kesalahan karena tidak mengenali calon istri anda!" Ucap Asisten koki yang juga belum tau sama sekali


Carenza melotot, kearah asistennya. Ia beralih menatap Ivanna dengan lembut untuk meminta persetujuan. Gadis cantik itu mengangguk pelan menyetujui permintaan mereka.


"Huft, baiklah! Tapi saya harap, semuanya diam dan tidak boleh membicarakan tentang istri saya kepada siapapun, sampai adanya pengumuman tentang hubungan kami!" Ucap Carenza tegas.

__ADS_1


"Baik, Pak!" Ucap mereka semua.


Dengan ekspresi mengernyit, mereka bertanya-tanya, siapa betul calon istri atasan mereka ini hingga harus di umumkan segala.


Ivanna perlahan melepaskan topinya. Semua orang mulai menerka siapa yang ada dihadapan mereka. Ia membuka masker dan sedikit membenarkan rambut indahnya aagar bisa terlihat semakin memesona. Ivanna tersenyum tipis melihat semua orang yang ada di sana.


Deg!


Para koki itu melotot melihat Ivanna berdiri dihadapan mereka. Apa lagi ketika menyadari, jika hidangan penutup itu adalah makanan kesukaannya.


"Astaga, Tuhan! Apa ini mimpi?" Pekik mereka tidak percaya dan mulai berbisik-bisik.


"Tenang semuanya! Rekan-rekan begitu beruntung, karena masakan terakhir kalian akan di cicipi langsung oleh pemilik resepnya!" Ucap Carenza.


"Kamu berlebihan, By!" Ucap Ivanna mendelik.


Carenza terkekeh melihat ekspresi Ivanna yang sedang dalam mode dingin.


"Silahkan, Pak Munir!" Ucap Carenza tegas memanggil koki pertama.


Pria paruh baya yang masih bersemangat itu, maju ke depan sambil membawa desert yang ia buat.


"Se-selamat mencicipi, Nona! Putri saya begitu mengidolakan anda!" Ucap Munir gugup.


"Terima kasih! Sampaikan salam saya untuk putri anda!" Ucap Ivanna tersenyum tipis.


"Terima kasih, Nona!" Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Ivanna maju untuk melihat hidangan itu. Ia langsung mengambil piring dan sendok.


"Ini duplikat 'kan, By?" Tanya Ivanna menoleh.


"Iya, sayang!" Ucap Carenza tersenyum.


Hap!


Satu suapan masuk ke dalam mulutnya. Ia mengernyit ketika merasakan desert itu tidak memiliki rasa yang sama dengan buatan Carenza.


Tidak buruk, tetapi untuk cita rasa yang harus dipertahankan, ini sangat jauh berbeda.


"Apa ada kondimen lain yang bapak masukkan? Rasanya berbeda jika ini sebuah duplikat!" Ucap Ivanna mengambil air minum dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Carenza mengernyit, ia mencoba desert itu dengan sendok yang sama dan membuat semua orang terkejut.


"Rasanya enak, hanya saja ini bukan duplikat!" Ucap Ivanna lagi.


Semua orang hening mendengarkan ucapan Ivanna yang terdengar tegas.


Ia kembali mencoba semua desert yang telah di buat, namun tidak ada satupun rasanya yang mendekati desert buatan sang calon suami.


"Resepnya sama kan, By?" Tanya Ivanna mengernyit.


"Sama, sayang!" Ucap carenza tersenyum.


"Kita ulang saja bagaimana, By!" Tanya Ivanna.


"Boleh, sayang! Tetapi bukan sekarang, Mereka harus beristirahat juga!" Ucap Carenza lembut sambil mengelus kepala Ivanna.


"Baiklah!" Ucap Ivanna.


Setelah memberikan beberapa arahan, mereka segera pergi menuju butik untuk melakukan fitting baju pengantin. Mobil bergerak menuju butik mewah langganan keluarga Dirgantara.


Ketika mereka sampai, Fajira dan ibu Alifa keluar dari butik.

__ADS_1


"Udah telat, bunda dan Ibu sudah memilih gaunnya. Jadi tidak ada protes satu pun nanti!" Uca Fajira menggeleng. "Sekarang ikut bunda ke restoran Eza untuk rapat bersama dengan pihak WO!" Sambungnya.


"Baiklah!" ucap Ivanna dan Carenza pasrah.


Mereka segera pergi menuju cabang Resto yang berada di dekat perusahaan Dirgantara.


Tak butuh waktu lama, hanya sepuluh menit saja, mereka sudah sampai di restoran itu. Setelah turun dari mobil, mereka segera masuk ke dalam ruangan VIP yang sudah di pesan.


"Selamat datang, Nyonya, nona dan tuan!" Ucap mereka bersamaan.


"Iya silahkan duduk! langsung saja kita mulai!" Ucap Fajira serius.


Mereka duduk di kursi yang masih kosong. Tiga orang dari pihak WO sudah ada di sana dengan membawa beberapa katalog contoh design pesta yang bisa mereka sediakan.


"Kita mau undang berapa banyak, Bunda?" Tanya Ivanna.


"Kita langsung menikah dua pihak saja ya, Bu?" Tanya Fajira kepada Ibu Alifa.


"Iya, bunda! Sekalian aja nanti. Kalau dua kali, belum tau kita sempat atau mungkin ada pekerjaan lain yang tidak bisa di undur!" Udap Alifa.


"Ibu mau mengundang berapa banyak?" Tanya Fajira.


"Seribu atau dua ribu paling banyak, Bu!" Ucap Alifa.


"Ayah, abang dan kakak, pasti akan mengundang banyak orang. Apa kita undang sepuluh ribu saja? Apa itu cukup dek?" Tanya Fajira santai.


Deg!


Pihak WO itu sedikit termagu, mereka memang sering mendapatkan job acara dari perusahaan Dirgantara grub, baik itu dari Irfan ataupun dari Fajri. Namun kali ini mereka ragu untuk menyanggupi jika harus mengundang 10 ribu undangan, bahkan pernikahan Fajri tidak sebanyak itu.


"Sepuluh ribu itu sepertinya masih kurang, Bunda. Tapi, jika sebanyak itu, pasti akan sangat melelahkan!" Keluh Ivanna.


"Kalian mau mengadakannya dimana?" Tanya Fajira.


"Di kota ini aja, Bunda! Pasti nanti ribet, jika harus pindah sana pindah sini!" Ucap Carenza.


"Kalau jumlah undangannya ribuan, jangan di gedung bunda!" Ucap Ivanna.


"Dimana, sayang?" Tanya Fajira megernyit.


"Stadion bola! Jadi di hari yang sama, mereka harus datang untuk menghadiri pernikahan kami!" Ucap Ivanna sedikit terkekeh.


"Ah, kamu gak masuk akal, dek!" Uca Fajira menggeleng.


"Eh, Dede serius, Bunda! Kalau gedung, aula yang kita miliki hanya muat untuk menampung 5 ribu undangan!" Ucap Ivanna.


"Kok kali ini aku setuju sama kamu, sayang! Jadi kita bisa mengundang begitu banyak orang nanti!" Ucap Carenza terkekeh.


"Astaga! Kalian memang pasangan gila!" Ucap Fajira dan Alifa bersama.


"Hmm, Maaf sebelumnya, Nyonya! Untuk kapasitas, pihak kami belum memadai untuk menyelesaikan pernikahan ini dalam waktu dekat karena keterbatasan kami, Nyonya!" ucap pihak WO.


"Ah, iya! Hmm, apa kalian bisa join dengan dua atau tiga WO?" Tanya Fajira.


"Bisa, Nyonya!" Ucap mereka.


"Baiklah, atur semuanya!" Ucap Fajira.


Mereka terus berdiskusi untuk tema wedding kali ini. Berempatkan di stadion bola, Ivanna berencana akan mengundang beberapa artis luar negeri untuk menghadiri dan mengisi acara pernikahannya.


Sementara Carenza juga memasukkan apa yang ia inginkan. Pernikahan mereka digadang-gadangkan akan menjadi pernikahan termewah pada tahun ini.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2