IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Curhatan Ivanna


__ADS_3

Selepas makan malam, Ivanna mengekori Fajri kemanapun pria tampan itu pergi. Fajri yang paham bagaimana sifat Ivanna, mengajak adik kecilnya untuk pergi ke kolam berenang.


Sementara, dua bocil yang mengemaskan itu tengah belajar bersama Safira di perpustakaan. Sehingga di pastikan, jika mereka tidak akan mengganggu waktu kebersamaan Fajri dan Ivanna.


"Ada apa, sayang?" tanya Fajri memeluk Ivanna.


"Bang, Apa aku sudah boleh untuk dekat dengan laki-laki?" tanya Ivanna lirih membuat Fajri tersenyum.


"Boleh, sayang! Tapi, Dede harus hati-hati. Jangan sampai nanti mereka hanya mengambil keuntungan dari, Dede!" ucap Fajri lembut sambil membelai kepala Ivanna.


"Apa ada yang berniat serius dengan gadis kecil Abang ini?" tanya Fajri.


Ia sebenarnya sudah mengetahui maksud pembicaraan Ivanna. Namun Fajri ingin Ivanna berterus terang dan bercerita kepadanya.


"Hmm? Ya, bisa dibilang begitu, Bang. Tapi aku takut, jika pekerjaanku hanya akan membuatnya terluka dan tersakiti!" ucap Ivanna lirih.


"Kenapa Dede bisa berfikiran seperti itu?" tanya Fajri mengernyit.


"Bang, kebanyakan rekan bisnis Ayah itu laki-laki. Bahkan beberapa di antara mereka yang baru ditemui, malah berniat untuk menikahi, Dede!" ucap Ivanna mengeluh.


"Terus,"


"Hmm, Dede mencintai seseorang, Bang. Dia sudah mengutarakan perasaannya tadi sore. Dia bukan orang yang kaya seperti kita. Dede hanya takut, jika harta menjadi masalah dalam hubungan kami nanti!" ucap Ivanna menerangkan.


"Itu tergantung laki-lakinya, sayang. Dia tahan banting gak atau dia minder? Kamu bisa mencontoh kakak, sayang. Dia bukan siapa-siapa sebelum bertemu kita dan orang tuanya. Bukankah kakak memilih untuk bertahan dan tidak mementingkan apa yang ia punya saat itu? Berbeda dengan kak Hanna yang memilih mundur karena rasa minder padahal kehidupannya cukup bagus!" ucap Fajri tersenyum.


"Sepertinya, dia gak minder bang. Buktinya aja dia berani menyatakan perasaannya dan mengatakan jika ia cemburu melihat Dede bersama orang lain!" ucap Ivanna menghela nafasnya.


"Coba kamu cari tau dulu, bagaimana sikap, sifat dan prilakunya. Abang hanya takut Dede salah pilih, sayang! Karena sifat cinta itu membutakan, seburuk apapun dia nanti, pasti Dede akan memilih untuk tutup telinga dengan omongan orang lain tentang dia!" ucap Fajri lembut.


"Abang, memang gak punya banyak pengalaman tentang cinta. Tetapi cerita dan kisah orang lain itu, lebih dari cukup untuk kita jadikan pelajaran, sayang!" sambungnya.


"Iya, bang. Dede paham! Hmm, jadi, Apa Dede boleh menerima dia?" tanya Ivanna ragu.


Fajri mengeratkan pelukannya, ada rasa tidak rela di hati Fajri untuk melepaskan Ivanna di usia yang masih sangat muda ini.


"Dede yakin, dengan dia? terluka karena cinta itu sakit, sayang. Susah untuk mendapatkan obatnya kalau dede udah beneran cinta kepada laki-laki!" tanya Fajri lirih.


Ivanna paham apa yang di maksud oleh Fajri. Ia hanya terdiam sambil memeluk Abang tampannya itu. Fikiran Ivanna berputar untuk mencari alasan yang tepat agar bisa menjawab pertanyaan Fajri.


"Dede merasa nyaman dengan dia, bang. Sikapnya yang aneh membuatku sering tertawa dan tersenyum. Apalagi perlakuannya yang lembut, hati beku Dede, serasa mencair!" ucap Ivanna tersenyum kecil.


"Jadi, Dede mau menerima dia?" tanya Fajri.

__ADS_1


"Hmm, kalau Abang dan ayah mengizinkan!" cicit Ivanna.


Fajri tersenyum. Adik kecilnya sudah tumbuh dewasa, bahkan sudah kembali mencintai laki-laki.


"Pesan, Abang. Jaga diri baik-baik, sayang. Dede perempuan, kalau terjadi hal yang tidak di inginkan, kamu yang akan rugi. Bekasnya terlihat jelas, dan harga diri kamu hilang sudah!" ucap Fajri.


"Iya, bang. Dede pasti akan menjaga diri dengan baik. Terima kasih, karena abang mengajarkan Dede banyak hal dari kecil. Mulai dari bela diri, menembak, apapun itu. Jangan tinggalkan Dede, apapun yang terjadi!" ucap Ivanna berkaca-kaca dan menatap Fajri lekat.


"Apapun yang terjadi nanti, Abang akan selalu ada untuk Dede, untuk keluarga kita. Walaupun Abang harus kehilangan semuanya. Yang paling penting itu adalah keluarga, sayang!" ucap Fajri tersenyum dan mengecup kening Ivanna dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Tanpa terasa, air mata Ivanna menetes begitu saja tanpa bisa ia cegah. Begitu besar rasa sayang yang di curahkan oleh Fajri kepadanya, tidak ada alasan untuk membantah perkataan Abang tampannya ini.


"Dede sayang sama, Abang!" ucap Ivanna menangis dan memeluk Fajri.


"Abang lebih sayang kamu, dek!" ucap Fajri tercekat dengan mata yang berembun.


Siapapun jodoh Dede nanti, Abang akan memastikan jika dia adalah laki-laki yang pantas untukmu! Abang akan melakukan apa saja untuk Dede, sayang!. Batin Fajri menatap langit.


Ia berjanji pada dirinya, tuhan dan Ivanna. Kerena hanya gadis cantik ini saudara satu-satunya yang ia miliki.


Tanpa mereka sadari, Fajira mendengarkan pembicaraan mereka. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia mengucapkan beribu rasa syukur karena memiliki anak-anak yang akur dan selalu ada satu sama lain.


Tuhan, jaga anak-anakku selalu dimana pun mereka berada. Batin Fajira tersenyum.


Ia melangkah pergi meninggalkan anak-anaknya dan kembali ke kamar. Ia berada di sana karena hendak memanggil Ivanna, namun ia urungkan karena melihat mereka tengah berpelukan di bawah temaram cahaya bulan.


"Kenapa, sayang?" tanya Irfan mengernyit.


"Dede lagi curhat sama Fajri! Ah, gadis kecil kita sudah tumbuh dewasa, Mas! aku merasa ingin hamil lagi!" ucap Fajira tersenyum.


"Gak! gak ada hamil-hamil. Udah punya cucu juga, masih aja mikirin anak lagi!" ucap Irfan mendelik kesal.


"Ihh," Delik Fajira tak mau kalah.


Ia membantu Irfan berbaring agar bisa beristirahat dengan nyaman. Sementara, pria tampan itu malah menatap Fajira penuh damba.


"Apa?" tanya Fajira mengernyit melihat tatap Irfan.


"Kamu semakin tua semakin cantik, sayang!" ucap Irfan menggoda.


"Huh, dasar orang tua! ingat umur, kamu udah gak muda lagi, Mas!" delik Fajira dan berbaring di samping Irfan.


"Sayang?" panggil Irfan mengelus tangan Fajira.

__ADS_1


"Sudah, istirahat, Mas! Belum sembuh, fikiran kamu udah kemana-mana!" delik Fajira dengan wajah yang merona.


Ia segera memeluk Irfan sambil menutup mata suaminya dengan tangan. Sementara Irfan hanya bisa terkekeh, melihat Fajira yang masih saja merona ketika ia menggoda wanita cantik itu.


"Sayang?" panggil Irfan.


"Hmm,..."


"Anak-anak ngomongin apa tadi?" tanya Irfan penasaran.


"Hmm? urusan anak muda. Nanti pasti Dede akan ngomong juga sama kamu!" ucap Fajira dengan mata yang masih tertutup.


"Aku penasaran, sayang!" ucap Irfan.


"Ihh, gak boleh kepo!" ucap Fajira tersenyum dan menutup mulut Irfan menggunakan tangannya agar pria tampan itu tidak lagi berbicara.


"hmmpphh,..." ucap Irfan dengan mata yang terbuka.


Fajira bangun, dan mengecup bibir pria tampan itu beberapa kali agar tidak berbicara lagi. Sungguh ia sudah sangat mengantuk saat ini.


Muach,...


muach,...


Muach,...


"Sudah! Kalau kamu sudah sembuh, jantung kamu sudah stabil, nanti aku kasih lebih!" ucap Fajira menatap manik mata Irfan.


"Janji?" ucap Irfan berbinar.


"Janji! tapi sembuh dulu!" ucap Fajira.


"Baiklah, Good night istriku, bidadariku, cantikku, mahmmpp,..." ucap Irfan terputus karena Fajira kembali membungkam mulutnya.


Irfan tersenyum manis dan menutup mata sabil menggenggam tangan Fajira dengan lembut.


Sementara wanita cantik yang tidak lagi muda itu hanya bisa tersenyum gemas, melihat tingkah Irfan yang masih seperti waktu mereka muda dulu.


"I Love You, sayang!" ucap Fajira tersenyum dan mengecup kening Irfan.


Ia berbaring sambil memeluk tubuh suaminya. Fajira mulai menyiapkan diri untuk hal yang tidak di duga dikemudian hari. Walaupun ia tidak akan pernah baik-baik saja tanpa pria tampan yang mesum ini.


Namun apapun itu, akan ia lakukan selama ia masih hidup dan mampu untuk berbuat banyak lepas keluarga.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2