IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Berita Bahagia


__ADS_3

Sesampainya di rumah, mereka langsung di sambut oleh Ayah masing-masing, Noah dan Nizam begitu antusias bercerita apa yang mereka lakukan hari ini. Di bantu oleh Ivanna untuk menyusun kata, semua orang bisa paham dengan apa yang mereka ceritakan.


"Itu hal yang bagus, Boy! Teruskan apa pun jika hal itu baik!" Ucap Carenza tersenyum sambil mengelus kepala Naren dengan lembut.


"Tentu Ayah!" Ucap Noah tersenyum tipis sambil bersandar di bahu Carenza.


"Apa dulu Daddy seperti ini?" Tanya Nizam kepada Fajri.


Pria tampan itu tersenyum, ia mulai bercerita bagaimana masa kecilnya dulu. Semua bocil itu terpeson mendengarkan cerita yang begitu menarik untuk di dengar. Bergantian dengan Carenza, siang hari itu penuh dengan cerita masa lalu yang bisa di jadikan contoh untuk mereka nanti.


"Apa ayah sudah bisa berjalan dengan baik tanpa tongkat dan alat bantu?" Tanya Noah Menahan tangisnya.


"Belum sayang. Ayah belum kuat jalan jauh-jauh tanpa tongkat! Sabar ya, nanti kalau ayah sembuh kita akan pergi hiking bareng-bareng, bagaimana?" Ucap Carenza tersenyum.


"Mau!" Teriak mereka bersemangat termasuk Noah.


"Aa' jangan sedih. Ayah pasti cepat sembuh dan bisa jalan lagi dengan normal!" Ucap Nayla memeluk Noah dengan begitu lembut.


"Ijam juga mau di peluk!" Ucap Nizam yang juga masuk kedalam pelukan Nayla.


"Abang juga dong!" Ucap Naren memeluk adik-adiknya dengan begitu gemas.


Fajri dan Carenza menggelitik mereka bersamaan hingga tertawa terbahak-bahak. Suara riuh terdengar keras di dalam ruang keluarga itu.


"Ampun Daddy!" Ucap Mereka ketika Fajri masih menggelitik.


"Hahah," Fajri tertawa dan ikut berbaring bersama mereka di atas lantai.


Sementara para ibu-ibu hanya tertawa melihat mereka yang begitu bahagia dan saling menyayangi.


Tetaplah seperti ini sampai kapan pun. Bunda lega melihat kalian bisa saling menyayangi seperti ini. Kelak jika ayah dan bunda pergi, kami tidak akan risau lagi untuk meninggalkan kalian!. Batin Fajira menggenggam tangan Irfan dengan lembut dan bersandar di dada suami tampannya itu.


"Lihatlah sayang, mereka begitu mengemaskan. Tidak sia-sia kita memaksa mereka untuk tinggal di rumah ini!" Ucap Irfan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bukankah kita bisa lebih tenang melihat mereka saling menyayangi seperti ini?" Ucap Fajira tersenyum.


"Iya sayang. Sepertinya, aku harus menyiapkan surat wasiat agar nanti tidak keteteran dan menjadi masalah untuk mereka!" Ucap Irfan.


"Jangan berbicara seperti itu, aku belum siap untuk berpisah!" Ucap Fajira menatap Irfan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kita harus bersiap, sayang!" Ucap Irfan tersenyum sambil mengelus kepala Fajira dan juga mengecup pipinya dengan lembut.


Fajira terdiam, bukankah ia berpikiran sama dengan Irfan, tetapi mengapa kini ia merasa tidak rela jika harus berpisah dengan pria tampannya ini.


"Jangan ngomongin itu lagi!" Ucap Fajira lirih.


Irfan tersenyum dan memeluk Fajira dengan erat. Tidak ada yang menyadari percakapan mereka karena yang lain hanya sibuk melihat bocil-bocil yang begitu bahagia siang hari ini.


Hingga Ivanna tiba-tiba saja berlari menuju pintu dan mengeluarkan isi perutnya karena merasa mual.


Hoek, hoek, hoek!


Ivanna terus mengeluarkan isi perutnya di halaman belakang, karena tidak sempat untuk pergi ke kamar mandi.


Carenza langsung menghampiri Ivanna dengan begitu khawatir sambil memijat tengkuk sang istri.


"Sayang, Kenapa?" Tanya Carenza merapat Ivanna untuk duduk di atas kursi yang berada tak jauh dari sana.


"Gak tau, aku tiba-tiba saja mual!" Ucap Ivanna lirih.


Safira datang dengan membawa segelas air hangat. Noah menatap Ivanna dengan perasaan yang sangat khawatir.


"Bunda?" Panggil Noah dengan mata yang berkaca-kaca sambil mengelus tangan Ivanna dengan lembut.

__ADS_1


"Bunda gak papa, Sayang!" Ucap Ivanna mengelus kapala Noah.


Tubuhnya terasa lemas seketika, sehabis mengeluarkan isi perut yang tidak tau apa penyebabnya. Fajri segera menghampiri Ivanna dan menggendongnya menuju ke kamar.


Semua orang mengikuti karena merasakan kekhawatiran yang sangat. Mengingat, Ivanna tidak mengeluhkan apa pun sebelumnya.


Fajira segera memeriksa keadaan Ivanna dan terkejut ketika menduga apa yang tengah terjadi dengan putrinya.


Ia menatap Ivanna dan Carenza dengan lekat, apa mereka melakukannya ketika Eza masih sakit?. Batin Fajira mengernyit.


"Istriku kenapa, Bunda?" Tanya Carenza khawatir.


"Bukan hal serius. Tetapi bunda ingin bicara dengaan kalian berdua!" Ucap Fajira.


Semua orang paham dan langsung keluar termasuk juga Noah.


Fajira menghela nafasnya menatap Ivanna dan Carenza yang terlihat begitu penasaran.


"Bunda, apa ada masalah serius?" Tanya Ivanna lirih.


"Sekarang tolong jawab pertanyaan Bunda dengan jujur!" Ucap Fajira serius.


"Bunda jangan bikin takut!" Ucap Ivanna cemas.


"Apa kalian berhubungan selama Eza sakit?" Tanya Fajira mengernyit.


"I-iya, Bunda!" Ucap Carenza menggaruk tengkuknya.


"Astaga, apa kalian tidak bisa menahannya barang sebentar saja?" Tanya Fajira terkejut.


Carenza terdiam sejenak, namun setelah itu wajahnya berbinar senang karena pemikirannya.


"Apa Ivanna hamil lagi, Bunda?" Tanya Carenza dengan wajah sumringah.


"Iya sayang. Kamu lagi hamil!" Ucap Fajira tersenyum.


Tes!


Air matanya menetes mendengarkan ucapan Fajira, begitu juga dengan Carenza. Ia menangis terisak sambil memeluk sang suami dengan begitu erat.


"Akhirnya Noah akan punya adik!" Ucap Ivanna terisak.


"Hiks, Iya sayang. Akhirnya usaha kita gak sia-sia!" Ucap Carenza tersenyum di sela tangisnya.


Hingga gedoran pintu di barengi dengan teriakan Noah membuat mereka harus mengurai pelukan dan juga menghapus air mata.


Dor, dor, dor!


"Bunda, buka pintunya!" Pekik Noah dari luar.


"Be, buka dulu pintunya!" Ucap Ivanna lirih sambil menghapus air matanya.


"Iya sayang!" Carenza berjalan dengan pelan untuk membuka pintu.


Noah segera berlari dan naik ke atas tempat tidur sambil menangis dan memeluk Ivanna.


"Hiks, Bunda jangan sakit!" Ucap Noah tersedu.


"Bunda gak papa sayang!" Ucap Ivanna tersenyum sambil mengelus kepala Noah dengan lembut.


"Terus kenapa Bunda seperti ini?" Tanya Noah menatap Ivanna dengan lekat.


"Bunda ada kabar baik untuk Aa'!" Ucap Ivanna tersenyum.

__ADS_1


"Apa, Bunda?" Tanya Noah penasaran.


Ivanna mengambil tangan Noah dan meletakkan tangan mungil itu di atas perutnya. Ia mengernyit sambil menatap sang Ibunda dengan bingung.


"Apa perut Bunda akan meledak?" Tanya Noah terkejut.


"Eh, bukan sayang!" ucap Ivanna tersenyum. "Sebentar lagi, ada adik yang tumbuh di dalam perut Bunda!" Ucap Ivanna tersenyum.


Deg!


Semua orang terkejut mendengar kabar itu termasuk Noah. Tanpa aba-aba, air matanya menetes begitu saja sambil menatap Ivanna dengan rasa tidak percaya.


"Bu-bunda gak bohong kan?" Tanya Noah terkejut.


"Kata Oma begitu sayang. Lebih baik kita pergi ke Dokter kandungan saja!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Apa bunda sudah kuat untuk berjalan?" Tanya Noah khawatir sambil menggenggam tangan sang Ibunda.


"Lebih baik kita panggil dokter kandungan saja!" Ucap Fajri yang baru tersadar dari keterkejutannya.


"Nah, benar! Lebih baik kita panggil dokter saja untuk memastikannya!" Ucap Fajira tersenyum.


Fajri segera menelfon dokter keluarga untuk datang kerumah dan memeriksa keadaan Ivanna.


Semua bocil berbinar senang dan langsung mengerubungi ibu hamil itu.


"Bunda beneran hamil?" Tanya Naren dengan wajah yang merona senang.


"Iya, Bang. Akhirnya ada kesempatan untuk mengelus perut lagi ya!" Ucap Ivanna lirih sambil tersenyum.


"Hihihi, Iya Bunda," Ucap Naren tersenyum manis.


"Bunda, adiknya laki-laki aja yah, Biar kakak bisa jadi cucu yang paling cantik!" Ucap Nayla tersenyum sambil memegang pipinya.


"No!" Cegah Noah menatap tajam kearah Nayla. "Aku mau adik perempuan!" Ucap Noah dingin.


"Ih, gak boleh gitu, Aa'! Pokonya Adik Aa' harus laki-laki, ga boleh perempuan!" Ucap Nayla mengusap rambut Noah


"Gak mau!" teriak Noah kesal.


"Hus! Gak boleh teriak-teriak!" Ucap Carenza memperingati sang putra.


Tak lama dokter datang sambil membawakan beberapa alat khusus. Ivanna segera diperiksa dengan teliti untuk memastikan apakah dugaan Fajira benar atau tidak.


"Sepertinya prediksi Nyonya memang benar, Nona Ivanna hamil lagi, saya perkirakan ini sudah memasuki usia 4 minggu!" Ucap Dokter itu tersenyum.


"Syukurlah!" Ucap Mereka bersmaan.


"Untuk memeriksa keadaan Nona, mungkin kami akan membawa alat USG sesuai dengan permintaan Nyonya!" Ucap Dokter itu tersenyum.


"Baiklah. Terima kasih, Dokter!" Ucap Carenza tersenyum.


"Sama-sama tuan! Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!" Ucap dokter itu.


"Iya, silahkan!" Ucap Fajira mengantarnya keluar.


"Wah, akhirnya aku akan punya adik!" Teriak Noah begitu senang.


Ia mengelus perut Ivanna dengan lembut sambil mengajak sang adik untuk mengobrol. Begitu juga dengan bocil Dirgantara yangikut berbicara dengan calon anggota geng baru mereka.


Kabar bahagia itu menutup cerita siang yang penuh dengan kebaikan. Ivanna terlelap setelah meminum vitamin yang sudah di resep kan oleh dokter. Noah senantiasa menjaga Ivanna di sampingnya selalu, dengan segenap jiwa dan raga.


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2