
Setibanya dirumah, Carenza segera membawa Ivanna menuju kamar mereka di lantai dua. Seharian menggendong Ivanna, tangannya serasa keram dan merasa tidak sanggup lagi untuk menggendong sang istri yang tengah lemas.
Semua orang terkejut dengan kedatangan Ivanna dalam keadaan seperti itu. Dengan inisiatif, para art membuat bubur, sup dan makan lain yang sekiranya dibutuhkan oleh Ivanna nanti.
Safira segera mengikuti Carenza dan melihat keadaan adiknya. Begitu juga dengan bocil kembar yang terkejut karena kedatangan Ivanna sambil di gendong.
"Momy, Nana kenapa?" Tanya Nayla khawatir.
"Mommy belum tau, sayang. Yuk kita naik dan susul, Nana!" Ucap Safira naik ke atas lift bersama anak-anaknya.
Ting!
Lift terbuka, mereka segera berjalan menuju kamar Ivanna. Terlihat Carenza sedang melepas hils Ivanna dan mengusap kakinya dengan kain basah.
"Nana?" Panggil Nayla.
"Hai, sayang? Sini temani Nana!" Ucap Ivanna lirih.
Bocil kembar itu langsung naik ke atas kasur setelah mencuci kaki dan tangannya.
"Hati-hati, sama perut Nana ya, sayang!" Ucap Carenza tersenyum.
"Memangnya, perut Nana kenapa, uncle?" Tanya Naren mengernyit.
Carenza tersenyum. "Nana juga hamil, seperti Mommy! Jadi, sebentar lagi, Naren dan Nayla juga akan mendapat adik baru lagi!" Ucap Carenza tersenyum.
Mereka berbinar, begitu juga dengan Safira.
"Waah, Nana sebentar lagi perutnya akan besar seperti Mommy!" Ucap mereka bersamaan.
"Iya, Sayang. Sekarang temani Nana bobo, ya!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Okey, Na!" Ucap Nayla.
"Hmm, Naren mau jagain Mommy aja, ya Na!" Ucap Naren tersenyum.
"Iya, sayang!" Ucap Ivanna.
"Udah berapa minggu dek?" Tanya Safira berbinar.
"Baru 4 minggu, Kak. Kata dokter kandunganku sedikit lemah, jadi harus banyak istirahat!" Ucap Ivanna lirih.
"Mending kamu ambil cuti, dek. Dari pada kenapa-napa!" Ucap Safira.
"Iya, Ra. Itu harus. Kalau Nana gak mau, aku yang akan memaksanya!" Ucap Carenza.
Ivanna hanya pasrah, bagaimanapun juga ia harus mementingkan kandungannya dari apapun.
"Memang harus. Kamu udah makan, Dek?" Tanya Safira duduk di tepi ranjang setelah Carenza berdiri.
"Sudah tadi, kak! Kepalaku pusing banget!" keluhan Ivanna dengan manja.
Inilah yang terjadi, jika ia sakit. Semua orang akan kerepotan untuk mengikuti keinginannya.
"Istirahatlah! Jangan berfikiran maacam-macam. Mau gak mau, kamu harus meminum vitamin dari dokter, ya!" Ucap Safira mengelus kepala Ivanna.
"Iya, kak! Apa kakak lelah?" Tanya Ivanna lirih.
"Kamu mau sesuatu?" Tanya Safira tersenyum.
"Hmm, Aku merasa lapar lagi. Mau makan ayam bakar madu, buatan kakak!" Ucap Ivanna lirih.
"Boleh, sayang! Ada lagi?" Tanya Safira.
"Itu aja, Kak!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Kalau gitu kakak masak dulu, di tunggu ya!" Ucap Safira terkekeh.
__ADS_1
"Mommy mau masak?" Tanya Nayla.
"Iya sayang!" ucap Safira menggandeng tangan Naren keluar dari kamar
"Lala, ikut!" Ucap Nayla.
"Terus Nana gimana?" Tanya Ivanna.
"Hmm," gadis kecil itu berpikir. "Lala bantu Mommy masak dulu, habis itu, baru Lala menemani Nana!" Ucap Nayla.
"Baiklah, Masak yang enak, ya!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Okey, Na! Lala pergi dulu!" Ucap Nayla turun dari atas ranjang. Ia menggandeng tangan Safira namun kembali melepaskannya.
"Uncle, jagain Nana, ya! Kalau Nana sampai nangis, Lala marah sama Uncle!" Ucap Nayla tegas.
"Baiklah, putri kecil, hamba akan patuh dan menjaga Nana dengan baik!" Ucap Carenza tersenyum.
Nayla, Naren dan Safira berlalu dari kamar itu. Carenza kembali duduk di tepi ranjang dan tersenyum menatap kearah Ivanna.
Ia mengelus lembut perut sang istri dan mengecupnya. Tanpa terasa air mata Carenza menetes tanpa bisa ia cegah.
"Hai, sayang. Terima kasih telah tumbuh di rahim, Bunda!" Ucap Carenza tercekat.
Ivanna yang melihat itu juga ikut menangis hari. Begitu bahagianya Carenza ketika mengetahui jika ia telah hamil. Ia mengusap kepala suaminya dengan lembut, sambil mengusap air matanya.
"Hiks, aku harap kamu tidak memaksakan diri untuk bekerja, sayang!" Ucap Carenza terisak.
"Iya, By! Aku akan mengambil cuti beberapa bulan, sampai kandungan ku kuat!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Terima kasih, sayang! Aku mencintaimu!" Ucap Carenza berbaring di samping Ivanna dan berpelukan.
"Jangan berterima kasih, By! Dampingi aku terus, ya!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Iya, sayang." ucap Carenza mengelus kepala Ivanna dengan lembut hingga ibu hamil itu terlelap.
"Ayah?" Ucap Carenza merasa tidak enak dan mencoba untuk bangkit.
Namun pelukan Ivanna terasa lebih erat dan menyulitkannya untuk bangun.
"Gak papa, nak! Tidur aja," Ucap Irfan.
Ia mengusap kepala Ivanna sambil tersenyum. Namun terlihat semburat kekhawatiran dari wajah tampannya.
"Kamu harus perbanyak sabar kalau Ivanna sedang sakit seperti ini, Za! Nana akan sangat manja dan gak akan melepaskan kamu barang sebentar saja!" Ucap Irfan tersenyum.
"Nanti gantian sama Bunda kalau kamu kerja, nak!" Ucap Fajira tersenyum.
"Untung kamu serba bisa, Za. Kalau gak, kamu bisa habis sama, istrimu!" Ucap Irfan tersenyum.
Ah, Putri kecilku sudah dewasa. Sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Sehat terus, sayang! Ayah gak akan kuat melihatmu kesakitan!. Batin Irfan dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia meraba perut rata Ivanna dengan lembut dan tersenyum. Sebentar lagi, Safira juga akan melahirkan.
"Rumah ini akan semakin ramai. Sampai Ivanna kembali pulih, ayah tidak mengizinkan kalian untuk tinggal di apartemen!" ucap Ayah tegas.
"Iya, Yah. Eza juga akan bingung sendiri nanti kalau tinggal di sana!" Ucap Carenza menggaruk tengkuknya.
"Pusing, Bunda!" Ucap Ivanna mengigau.
Carenza mengelus kepala Ivanna dan melihat mata sang istri masih terpejam. Sementara Fajira dan Irfan hanya tersenyum melihat Carenza yang kebingungan.
"Begitulah salah satu contohnya. Coba kamu lepas pelukan kalian!" Ucap Fajira terkekeh.
Carenza melepas perlukannya dari Ivanna. Ia mengerjab beberapa kali ketika mendengar Ivanna menangis dengan mata yang masing terpejam.
"Hiks, bunda dede pusing!" gumam Ivanna dalam tidurnya.
__ADS_1
Carenza kembali memeluk Ivanna sambil terkekeh. Ia baru mengetahui hal ini, karena semenjak mereka jadian hingga menikah, Ivanna belum pernah sakit, kecuali pada malam pertama.
"Udah lihat kan? Nah, harus kuat menahan hati. Apa lagi mood ibu hamil ini berubah-ubah!" Ucap Fajira tersenyum.
"Iya, Bunda. Eza harus siap, karena emosi Ivanna meledak-ledak belakangan ini!" ucap Carenza.
"Hehe, alamat, Za!" Ucap Irfan terkekeh. "Untuk Sementara biar Ayah yang menggantikan Ivanna di kantor!" Ucap Irfan.
"Terima kasih, Ayah!" Ucap Carenza tersenyum.
Mereka membicarakan kebiasaan Ivanna ketika sakit, agar Carenza bisa bersiap-siap jika ada kemungkinan yang cukup aneh dan di barengi dengan ngidam ibu hamil.
Hingga Safira datang sambil membawa ayam bakar madu yang di minta oleh Ivanna. Gadis itu langsung terbangun ketika mencium aroma makanan kesukaannya.
"Apa sudah masak, kak?" Tanya Ivanna dengan suara seraknya.
"Sudah, Dek! Nih, makan dulu!" Ucap Safira tersenyum.
"Terima kasih, Kak!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Sama-sama, sayang!" Ucap Safira tersenyum.
Ivanna menatap ayam bakar itu dengan air liur yang hampir menetes. Semua orang menatapnya dengan begitu antusias.
"Baby, suapin!" Ucap Ivanna tidak sabar.
"Cuci muka dulu, sayang!" Cegat Carenza dan menggendong Ivanna menuju kamar mandi.
"Ayo, By. Aku sudah lapar!" Rengek Ivanna.
Ia mencuci wajahnya dan kembali keluar, dengan air liur yang sudah tidak bisa di tahan lagi.
Ia duduk di atas sofa dan menunggu Carenza dengan begitu bersemangat.
"Nana lucu!" Ucap Nayla tertawa.
"Ah, Nana lapar, sayang!" Ucap Ivanna tersenyum.
Hap!
Satu suapan masuk ke dalam mulutnya. Mata Ivanna berbinar, ia bertepuk tangan dan melupakan rasa sakit dikepalanya tadi. Ia makan dengan keringat yang bercucuran, karena merasakan makanan yang begitu terasa sangat enak.
Sementara yang lain menelan air liurnya dan tiba-tiba saja merasan lapar ketika melihat ibu hamil yang sedang makan itu.
Ada dua potong yang disiapkan oleh Safira dan dilahap habis oleh Ivanna dengan nasi dan juga sayur.
"Groaaaaak!" Sendawa Ivanna begitu besar dan membuat semua orang terkejut lalu tertawa.
Mereka berbincang sebentar hingga waktu makan malam pun datang. Carenza terpaksa harus makan di dalam kamar untuk menemani sang istri, bahkan Ivanna juga ikut makan kembali bersamanya.
"Makan yang banyak, sayang. agar kamu dan dede kuat. Yang sehat ya, Sayang!" Ucap Carenza tersenyum bahagia dan mengelus perut datar Ivanna.
"Aku gak sabar melihat anak kita, By!" Ucap Ivanna dengan mata yang berembun.
"Aku juga, sayang!" Ucapan Carenza mengecup bibir Ivanna dan melumaatnya dengan lembut.
Mereka terhanyut sebentar hingga terkejut dengan dobrakan pintu yang begitu kuat.
BRAK!!
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Mau satu lagi gais?
Yuk like, koment, vote dan sawer pake kembang π€π€
__ADS_1