
Ivanna dan Tono masih berada di dalam ruangan itu. Kekenyangan karena menghabiskan semua makanan yang sudah di hidangkan hingga tandas. Ivanna dengan manja bersandar di lengan Tono sambil melihat ponselnya.
"Kamu upload apa tadi, sayang?" tanya Tono yang sempat melihat postingan Ivanna tadi.
"Hmm? Ini ada yang ngirin makanan ke kantor, tau banget kalau aku lagi lapar," ucap Ivanna tersenyum tipis.
"Iya kah? Siapa orangnya? aku jadi cemburu!" ucap Tono pura cemberut.
"Apa kamu gak lihat postingan aku?" tanya Ivanna mengernyit.
"Hmm? udah kok. Tapi kan itu gak tau siapa yg ngirim!" ucap Tono.
"Astaga, Baby! Kan aku udah tulis di caption!" ucap Ivanna mengernyit.
"Tag aku dong sesekali!" ucap Tono lirih.
"Bukannya gak mau tag kamu, By. Kita lagi viral sekarang, aku takut ketika identitas kamu di temukan, mereka yang menginginkan aku malah memiliki niat jahat kepadamu, aku gak mau itu terjadi!" ucap Ivanna lirih menjelaskan.
"Aku paham, sayang!" ucap Tono tersenyum gemas.
Muach,...
Deg,...
Mereka terkejut, ketika tanpa sadar Tono mengecup kepala Ivanna. Wajah gadis cantik itu merona, ia begitu terkejut karena untuk pertama kali ada laki-laki yang berani mengecup kepalanya selain Irfan dan Fajri.
Sementara Tono, wajahnya langsung memucat karena begitu berani mengecup kepala berharga tuan Putri ini.
Habislah aku, jika tuhan Fajri tau! semoga dia tidak meretas cctvku!. Batin Tono menangis.
"Maaf!" ucap Tono lirih setelah mereka cukup lama terdiam.
"Jangan seperti itu lagi, kamu harus bisa menahan diri, By! Aku takut, jika Abang berbuat sesuatu!" ucap Ivanna lirih.
Canggung, Tono merutuki kebodohannya. Ia menghela nafas pelan mencari topik pembicaraan setelah ini. Sementara Ivanna bagitu khawatir jika Fajri bisa tau apa yang tengah mereka lakukan.
Tring,...
Ponsel Ivanna berbunyi dengan nada dering khusus yang ia setel untuk Fajri. Matanya melotot, ketika abang tampannya itu mengirimkan fotonya tengah duduk berdua di atas sofa ketika bibir tono menempel di kepala Ivanna.
Begitu juga dengan Tono, keringat dingin mulai menyeruak keluar dari pori-porinya. Tercekat dengan nafas yang terasa sesak, ketika membaca pasan dari Fajri.
"Jarak 5 meter, atau kamu Abang kirim ke Jerman!π‘" tulis Fajri.
Ivanna dan Tono langsung meloncat untuk pindah dari sofa itu. Mereka seperti kepergok tengah berbuat hal yang tidak senonoh, padahal itu hanya sebuah kecupan manis saja.
Ya tuhan, kenapa aku punya abang seperti ini. Jerit Ivanna kesal.
Astaga, baru saja pacaran sudah di awasi kemana-mana, gimana nanti kalau udah nikah? ketika Ivanna menjerit sedikit, habis kepalaku di tebas!. Batin Tono mengerutu.
"Sayang?" panggil Tono seolah hendak menjangkau Ivanna.
"By, maafin abang ya! Kita gak akan tenang kalau lagi berduaan!" ucap Ivanna penuh dengan rasa sesal.
__ADS_1
"Sayang, masa kita di awasi terus! Ah, sepertinya aku harus cari pembelaan!" ucap Tono cemberut.
"Ceri pembelaan?" tanya Ivanna mengernyit.
"Iya, pembelaan dari, bunda!" ucap Tono terkekeh.
"Aih, Nanti kamu pasti akan mendapatkan ceramah juga dari, Bunda!" ucap Ivanna tersenyum.
"Ah, sayang. Kita pindah lagi, yuk! Duduk seperti tadi, janji gak kecup-kecup sembarangan lagi!" ucap Tono memelas.
Ivanna melihat jam tangannya, sebentar lagi, ia harus bertemu dengan Nathan untuk membahas proyek besar mereka.
"Huh, maaf, Baby. Sepertinya aku harus pergi, ada rapat penting setelah ini. Mungkin kita bisa bertemu nanti malam atau besok!" ucap Ivanna penuh sesal.
"Baiklah! Padahal aku masih rindu!" rengek Tono.
Ivanna tersenyum tipis melihat kelakuan Tono yang mampu mencairkan hatinya yang dingin dan beku.
"Jangan seperti itu, By. Nanti kita bertemu lagi, ya! Aku harus pergi!" ucap Ivanna tersenyum.
"Baiklah, mari aku antar! Kamu gak bawa tas, sayang?" tanya Tono.
"Gak, By. Aku hanya bawa ponsel. Selebihnya di bawa sama asistenku!" ucap Ivanna memasang maskernya.
Tono tersenyum dan menggandeng tangan Ivanna dengan mesra ke luar dari ruangan itu. Ia mengantar kepergian Ivanna dengan perasaan yang begitu bahagia, walaupun harus kembali terpisah dengan sang kekasih hati.
"Hati-hati, ya. Beri aku kabar terus, sayang!" ucap Tono mengelus kepala Ivanna dengan lembut.
"Iya, Kamu juga semangat, kerjanya!" ucap Ivanna tersenyum manis di balik maskernya.
"Apa?" tanya Ivanna tiba-tiba saja merona.
"Hmm, Boleh gak, kalau kamu senyum manis sekali saja!" ucap Tono berbinar.
"Hanya itu?" tanya Ivanna salah tingkah.
"Iya, hanya itu!"
"Baiklah!" ucap Ivanna masuk kedalam mobil dan membuka maskernya.
Karena sedari tadi ia memang tersenyum, Ivanna menampilkan senyum malunya dengan wajah yang merona.
Ah tuhan! cantik banget!. Batin Tono.
Ia tidak berkedip sedikitpun melihat betapa cantiknya bidadari tak bersayap ini. Ia merasa ingin terbang dan melayang karena tidak mampu untuk lihat wajah Ivanna.
Mulutnya ternganga, bahkan tanpa sadar air liur Tono juga ikut keluar.
"Air liur kamu menetes, By!" ucap Ivanna tergelak.
"Eh!" ucap Tono gelagapan dan menyeka air keramat itu.
"Ah, kenapa kamu begitu cantik, sayang? Aku ingin menikahimu segera!" ucap Tono tersenyum dengan wajah yang merona.
__ADS_1
"Aku tunggu kedatangan kamu, By!" ucap Ivanna masih tersenyum. "Aku berangkat, ya!" pamitnya.
"Dah, sayang!" ucap Tono melambaikan tangannya.
Mobil Ivanna berjalan meninggalkan parkiran restoran Tono. Pria tampan itu tersenyum bahagia hanya karena mendapatkan senyuman manis dari gadis pujaannya.
πΊπΊ
Sementara di Negara lain, Fajri mengeram kesal melihat adegan uwu yang di tampilkan oleh Ivanna dan Tono. Ia masih belum terima, jika adik kecilnya dimiliki oleh orang lain.
Fajri takut jika Ivanna yang polos, di sakiti oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Apalagi bisa merusak mental Ivanna dan membuat gadis itu semakin dingin, bahkan tidak ingin dekat dengan laki-laki lagi.
"Jika aku memisahkan mereka, laki-laki itu tidak memiliki cacat sedikitpun yang bisa aku beberkan kepada Ivanna! Tapi jika dibiarkan, pasti mereka akan terus melangkah bahkan melakukan sesuatu yang lebih parah!" ucap Fajri frustrasi.
"Permisi, Tuan!" ucap Aksa masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa?" tanya Fajri.
"Ini ada beberapa laporan dari bodyguard, Nona Ivanna!" ucap Aksa.
"Bacakan!"
"Baik, Tuan. Kemarin Nona sempat mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari warga karena tertuduh menjadi pencuri. Itu sudah di urus oleh Joe. Nona juga mengangkat seorang asisten pribadi perempuan, dan sudah bekerja dari kemarin. Hari ini Nona mendapatkan tiga kiriman, dua buket bunga dan satu paper bag makanan. Satu bunga dikirim oleh Bryan Alexander, satu lagi dikirim oleh Azmi Danuarta. Untuk makanan, dikirim oleh Carenza William Hartono, tuan, bla, bla, bla," ucap Aksa membacakan isi laporan itu.
"Azmi Danuarta? bukankah itu anak dari pemilik perusahaan Angkasapura?" tanya Fajri mengernyit.
"Iya, Tuan!" ucap Aksa membenarkan.
"Kirim orang yang sangat profesional untuk mengawasinya! Saya tidak ingin dia menyentuh Ivanna seujung kuku pun!" ucap Fajri tegas.
"Baik, Tuan. Hari ini, masih ada satu pertemuan lagi. Setelah itu pekerjaan kita selesai, Tuan!" ucap Aksa.
"Kamu atur keberangkatan, saya masih ingin di sini dua hari kedepan!" ucap Fajri.
"Baik, Tuan!" ucap Aksa.
Ia segera keluar dari ruangan Fajri dan mengatur semua hal yang di perintahkan oleh Irfan.
Tinggal lah, Fajri dengan mata tajamnya. Ia semakin takut dengan apa yang akan terjadi kepada Ivanna kedepannya. Walaupun Fajri sudah mengajarkan banyak hal dari mereka kecil, namun ia merasa Ivanna masih belum bisa menjaga dirinya sendiri.
"Azmi Danuarta! Sang playboy kelas cicak, gak akan pernah saya biarkan kamu mendekati adikku!" ucap Fajri dengan mata yang menyalang.
"Tidak akan ku biarkan siapapun menyakiti Ivanna, bahkan Tono sekali pun!" ucap Fajri tegas.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Sumpah pipiku keram membuat adegan mereka πππ
LIKE
like
__ADS_1
like