
"Ayah harus makan yang banyak, biar cepat sembuh!" ucap Ivanna menyuapi Irfan ketika makan malam.
"Jangan banyak-banyak, sayang. Ayah belum kuat!" keluh Irfan.
"Pokoknya, Ayah harus makan banyak, habis ini minum obat, terus istirahat, oke!" ucap Ivanna tidak ingin di bantah.
"Baiklah!" ucap Irfan pasrah.
Sementara yang lain hanya bisa tersenyum, ketika Ivanna lebih keras kepala dari pada ayahnya.
Naren dan Nayla hanya bisa menyimak dan memperhatikan bagaimana perlakuan Ivanna terhadap Opa mereka.
"Tina, pasti sayang banget sama Opa!" ucap Nayla berbinar dan bertepuk tangan.
"Tentu dong. Itu adalah poin yang paling utama dalam hidup kita!" ucap Ivanna sambil mengacungkan jari talunjuknya.
"Wah, Mommy Lala love you! Daddy juga!" ucap Nayla memberikan simbol Love dengan jarinya kepada Safira dan Fajri.
"Love You to, sayang!" ucap Safira tersenyum sambil mengusap kepala Nayla dengan lembut.
"Naren juga sayang Mommy, Daddy, Oma, Opa, Nana juga!" ucap Naren mengangkat tangannya bersemangat.
"Nayen gak sayang, Lala?" ucap Nayla berkaca-kaca.
"Sayang dong! Naren sayang Lala kok!" ucap Naren memeluk Nayla mencari aman agar tidak di marahi oleh Fajri.
"Hiks, Lala juga sayang, Nayen!" ucap Nayla serak membalas pelukan Naren.
"Nana gak di peluk juga?" ucap Ivanna cemberut.
"Nanti saja, habiskan dulu makannya!" ucap Fajri mengerjai Ivanna.
"Ihh!" Ivanna mendelik kesal melihat ke arah Fajri.
"Nanti kita peluk-peluk ya, Na!" ucap Nayla mengacungkan jempolnya.
"Oke, sayang!" ucap Ivanna mengedipkan matanya.
Mereka makan dengan tenang, hingga semua hidangan tandas. Fajri meminta Ivanna mengikutinya ke ruang kerja, untuk membahas beberapa pekerjaan yang akan menjadi proyek mereka setelah ini.
Sementara yang lain, memilih pergi ke ruang keluarga untuk bersantai sejenak sebelum tidur.
πΊπΊ
"Kamu harus bisa memenangkan proyek ini, dek! Karena saingan kita berat-berat. Kita bergabung dengan perusahaan Avicenna. Jadi semuanya harus dipersiapkan dari sekarang!" ucap Fajri memperlihatkan beberapa berkas proyek pembangunan sebuah perusahaan besar.
"Kita akan mengerahkan beberapa arsitektur terbaik perusahaan untuk merancang gedung itu!" ucap Fajri.
"Abang yakin aku yang akan mendemokannya nanti? Ini proyek besar lo, bang. Aku baru menjabat hari ini dan harus menangani proyek seharga triliunan!" ucap Ivanna tidak percaya.
Fajri tersenyum, ia sudah menduga jika Ivanna akan mencari alasan untuk hal ini.
"Sayang, ini proyek milik perusahaan satelit yang sangat besar. Ayah sangat menginginkan proyek ini. Akan di pastikan, perusahaan akan semakin maju, gaji karyawan bisa naik dan mereka bisa mendapatkan bonus yang besar. Ini kesempatan kita, dek!" jelas Fajri.
"Tapi ini terlalu besar, bang. bagaimana kalau kita tidak mendapatkan proyek itu?" tanya Ivanna lirih.
"Apa adik Abang yang genius ini tiba-tiba saja pesimis? Bukankah pembuatan roket 4 tahun lalu lebih susah dari pada ini?" tanya Fajri.
"Bang,..." ucap Ivanna berkaca-kaca.
"Bukankah, kamu ingin mengalahkan, Abang? apa kamu hanya bermain untuk proyek kecil?" tanya Fajri.
Ivanna menggeleng pelan, ia sangat ingin mengejar kehebatan Fajri. Setidaknya ia bisa menggeser posisi Pria tampan itu untuk mendapatkan satu saja penghargaan pengusaha muda berjaya, setiap tahunnya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi Abang gak boleh ninggalin Dede sendiri!" ucap Ivanna.
"Kita akan berjalan bersama, sayang!" ucap Fajri menatap Ivanna.
"Baiklah!" ucap Ivanna yakin.
"Nah, ini baru Ivanna. Yang tadi siapa itu? gadis pesimis, Abang gak suka!" ucap Fajri tersenyum dan memeluk Ivanna dengan gemas.
"Hmm,..."
Mereka kembali membahas apa saja yang di butuhkan untuk proyek ini.
Setelah selesai, Ivanna memilih untuk beristirahat ke kamarnya, ketika melihat semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing.
Drrtt,... Drrtt,... Drrtt,...
Ponsel Ivanna berbunyi ketika ia sudah membaringkan tubuh lelahnya. Ia mengernyit bingung melihat nomor yang tidak tersimpan mengirimnya pesan.
π© From +62*********
"Na, Apa kabarmu? Apa kita bisa bertemu besok? Aku tunggu di Culun's Resto, jam 12 siang!. Good night cantik!"
Itulah isi pesan yang di terima oleh Ivanna. Ia betanya-tanya, siapa yang berani mengajaknya untuk bertemu.
"Apa ini nomor, Tono? Tapi kenapa dia menanyakan kabarku?" tanya Ivanna menebak siapa pemilik nomor ponsel itu.
"Apa aku lacak saja? Hmm, gak usah deh, gak penting. Besok akan aku kirim orang untuk melihat siapa orang lancang ini!" ucap Ivanna mengedikkan bahunya.
Ia meletakkan ponsel mahal itu di atas nakas dan kembali membaringkan tubuhnya. Tak lama, Ivanna terlelap dengan cantik. Wajah dinginnya lenyap begitu saja ketika ia tertidur.
πΊπΊ
Pagi menjelang, Ivanna sudah berada di kantor dan melakukan meeting untuk membahas proyek ini bersama dengan Fajri, Nathan, dan beberapa staf lainnya.
"Aku tidak menyangka jika kamu akan meneruskan perusahaan paman Irfan secepat ini!" ucap Nathan.
"Hmm,"
Mereka kembali berdiskusi hingga tanpa sadar waktu istirahat pun sudah tiba. Rapat berakhir dan menghasilkan Design gedung yang sangat bagus dan indah.
"Semoga proyek ini bisa kita menangkan!" ucap Fajri tersenyum.
"Semoga saja, bang! Pasti perusahaan kita akan semakin maju dan mendapatkan keuntungan yang sangat besar setelah ini!" ucap Nathan tersenyum tipis.
"Iya. Kita harus bekerja cerdas di sini. Jadi kita harus semangat!" ucap Fajri.
Sementara Ivanna hanya terdiam sambil memperhatikan ponselnya. Ia kembali mendapatkan pesan dari orang yang semalam.
π© From +62*********
"Na, aku sudah sampai di Resto. Aku tunggu kedatanganmu!"
Siapa sih dia sebenarnya? gak mungkin Tono 'kan?. Batin Ivanna kesal.
"Dek, kamu kenapa, sayang?" Tanya Fajri mengernyit melihat ekspresi kesal Ivanna.
"Gak ada, bang. Ada orang iseng yang mengajakku bertemu!" ucap Ivanna.
"Nanti Abang kirim orang untuk memeriksanya, ya!" ucap Fajri mengernyit.
"Udah aku kirim, bang!" ucap Ivanna.
Fajri menatap Ivanna dengan raut wajah cemas. Ia takut jika Ivanna tidak menemukan laki-laki yang tepat di dalam hidupnya. Saat ini ia tidak bisa melarang Ivanna untuk dekat dengan laki-laki seperti dulu, namun ia masih mengawasi siapa saja yang mendekati adiknya.
__ADS_1
Nathan berpamitan pulang terlebih dahulu, begitu juga dengan Fajri. Sementara Ivanna memilih untuk kembali ke ruangannya sambil menunggu info lanjutan dari Joe.
triing,...
π© From uncle Joe.
"Nona, Orang yang mengajak anda bertemu adalah Bryan Alexander. Kini dia sudah berada di dalam privat room di Culun's Resto!"
"Bryan? Kenapa dia harus kembali lagi? Tuhan pekerjaanku sudah banyak, sekarang Aku harus menghadapi mereka lagi!" Ucap Ivanna lelah.
Ia duduk di kursi kebesarannya sambil memperhatikan ponsel. Ia meretas cctv yang ada di resto dan memastikan apakah itu benar Bryan atau tidak.
Ternyata memang dia! Tuhan, aku lelah menghadapi mereka yang selalu bertengkar memperebutkan aku setiap kali bertemu! Semoga tidak ada yang lain lagi!. Batin Ivanna frustrasi.
Ivanna mengambil tasnya dan menemui Bryan yang sudah menunggu di resto itu hampir setengah jam.
"Mbak, tolong undur jadwal saya satu jam. Saya ada keperluan sebentar!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona!"
"Hmm,..."
Ivanna segera bergegas untuk pergi ke resto itu. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sekitar lima belas menit ia tiba di Culun's resto.
"Permisi, privat room atas nama Bryan Alexander!" ucap Ivanna.
"Ba-bapak Bryan Alexander, di ruang nomor 002. Mari saya antar, Nona!" ucap Waiters itu terkejut.
Mereka segera berjalan menuju ruang itu. Ivanna segera masuk dan terpana melihat seseorang yang sudah lama tidak mengusik hidupnya.
"Hai, Na. Kamu sudah datang!" ucap Bryan berdiri dan menyambut Ivanna dengan membawa buket Bunga mawar.
Ia merentangkan tangannya dan hendak memeluk Ivanna, namun gadis itu segera mengangkat tangan dan mundur dua langkah menghindari perlakuan Bryan.
"Maaf! Jangan sentuh saya, jika anda masih sayang dengan nyawa, anda!" ucap Ivanna dingin.
"Baiklah! silahkan duduk, Tuan Putri!" ucap Bryan tersenyum.
"Terima kasih!" ucap Ivanna duduk dengan anggun.
"Apa kabar kamu, Na?" tanya Bryan tersenyum.
"Aku baik! Ada apa?" tanya Ivanna.
"Aku merindukanmu, Nana! Mulai hari ini aku akan menetap di Indonesia," ucap Bryan.
Maaf, Bryan. Aku bukan Nana kecilmu lagi!. Batin Ivanna.
"Bagaimana dengan bisnismu?" Tanya Ivanna.
"Aku akan membuka toko utama di sini. Yang di Singapura, Thailand dan China, akan aku jadikan cabang saja!" ucap Bryan tersenyum.
"Hmm," Ivanna hanya berdeham dan mengangguk.
Suasana seketika menjadi canggung, Bryan sangat susah untuk mencari topik pembicaraan ketika berdekatan dengan Ivanna, karena grogi.
"Permisi!" ucap koki resto itu masuk ke dalam ruangan yang di tempati oleh Ivanna dan Bryan.
Ivanna menoleh, mata tajamnya bertemu dengan mata coklat nan indah milik koki itu, dan membuat Ivanna bungkam dengan jantung yang berdetak kencang.
Deg!
Di-dia?. Batin Ivanna terkejut.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE