IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Bertemu


__ADS_3

"Ayah, Bunda, do'a kan kami agar bisa membawa Ivanna kembali!" Ucam Fajri serius.


"Iya, Pergilah, sayang! Bawa adikmu pulang dan semuanya akan kembali seperti semula!" Ucap Fajira berkaca-kaca.


"Iya, Bunda. Abang akan membawa Dede pulang dan kembali berkumpul bersama kita!" Ucap Fajri memeluk Fajira dengan erat.


"Jaga diri baik-baik, Apa lagi kamu, Za! Jangan sampai hal lain terjadi, Nanti!" Ucap Hartono.


"Iya, Yah! Do'a kan kami!" Ucap Carenza mencium tangan sang ayah dengan begitu lembut.


Ia sudah melakukan ceck up dan meminta Pen tambahan di bagian punggungnya agar tidak terlalu cidera jika satu hal terjadi nanti.


Melangkah menuju mobil yang akan mengantar mereka menuju bandara. Carenza sudah siap dengan segala resiko yang akan ia hadapi nanti ketika berada di sana, untuk menyelamatkan sangat istri dan bisa berkumpul lagi.


"Lo harus hati-hati, Za! Jangan gegabah! Perhatikan dan dengarkan perintah dari Om Ray, Karena dia yang akan memimpin misi ini!" Ucap Fajri.


"Iya, Tapi gua akan bertindak jika itu mendesak dan perintah belum turun!" Ucap Carenza.


"Yang penting Lo harus aman dan jangan berjauhan dari orang-orang kita!" Ucap Fajri.


"Iya, itu pasti!" Ucap Carenza. "Bagaimana kondisi terakhir Ivanna?" Sambungnya bertanya.


"Di sudah menyekap dua orang pelayan dan Chelsea! Ah istri Lo itu memang gila, Za! Lo gak akan percaya dengan apa yang dia lakukan kepada gadis itu!" ucap Fajri tersenyum tipis.


"Itu udah biasa, dia memang gadis yang unik dan ya, sedikit aneh!" Ucap Carenza tersenyum. "Aku begitu merindukannya!". Sambungnya.


"Sebentar lagi kita akan kembali bersama. Lo harus selamat, karena kondisi kalian sedang lemah dan tidak baik-baik saja. Harus saling melindungi dan bekerja sama!" Ucap Fajri.


"Iya, itu pasti. Jangan sampai nanti Ivanna selamat, malah aku yang melayang!" Ucap Carenza.


"Ingat, pengganti lo masih banyak!" Ucap Fajri.


"Syialan lo!" ucap Carenza menahan tajam kearah Fajri.


Sementara pria tampan itu hanya tertawa karena berhasil menggoda Carenza. Hingga mobil berhenti di loby bandara, mereka segera turun dan melangkah masuk untuk check in.


Menggunakan masker, kaca mata dan topi, membuat dua pria tampan itu tidak dikenali oleh orang lain. Sehingga keberadaan mereka cukup aman dan tidak menimbulkan kecurigaan.


Kurang dari setengah jam, Mereka segera menaiki pesawat dan terbang menuju negara Rusia.


🌺🌺


Huft!


Ivanna lagi dan lagi menghela nafasnya. Ia bingung harus berbuat apa sekarang. Sudah ada tiga tawanan yang berada di dalam kamar mandi dan membuatnya kesulitan untuk membersihkan badan dan membuang hajat.


Citra dingin dan elegannya hilang di hadapan mereka semua. Ia baru saja melumpuhkan seorang pelayan lagi setelah ia memaksa untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Hadeh! Kalian mau aku apakan ini? Kamar mandi ku jadi sempit dan bau!" Ucap Ivanna duduk di atas closet.


Ia memikirkan bagaimana caranya agar mereka tidak menyampah seperti ini.


"Apa aku harus menumpuk kalian di dalam bathtube? Tidak-tidak, itu hanya akan menyiksa! Hmm, apa aku mengurung kalian di dalam lemari? Tidak, pelayan yang lain pasti akan membukanya nanti! Arrgghh! Harusnya aku bisa bersabar untuk menghajar kalian!" Ucap Ivanna kebingungan.

__ADS_1


Tiga pasang mata menatapnya dengan penuh dendam, takut dan juga tajam. Ivanna mendelik kesal, ia baru saja mendapatkan pesan jika Fajri sudah berangkat untuk menjemputnya.


"Ah sudahlah, Aku harus mempersiapkan diri untuk pergi dari sini!" Ucap Ivanna keluar dari kamar mandi.


Ia melihat senjata yang sudah didapatkan dari Chelsea dan satu pelayan lainnya. Pistol dan sebuah pisau, itu cukup untuk menghadang beberapa orang, hingga ia mendapatkan senjata baru.


Hanya ada tujuh peluru yang bersarang di sana. "Aku harus bisa menembak dengan tepat sebanyak 8 orang dan juga satu pisau. Semoga abang membawa persediaan cukup banyak dan aku bisa melakukan banyak hal!" Ucap Ivanna.


Ia menatap Kamera CCTV, ia yakin tengah di awasin oleh Fajri dan pemilik kamera itu sendiri. "Aku jadi penasaran siapa yang sudah menculikku dengan fasilitas mewah seperti ini!" Ucap Ivanna.


Ia segera menyimpan sejata itu di antara kasur dan dipan agar tidak ketahuan. Ketika hendak berbaring, ia terkejut mendengar pintu kamar terbuka.


Ia semakin terkejut lagi ketika melihat siap yang masuk kedalam kamarnya sambil tersenyum manis.


Aku sudah menebaknya dari awal, kedatangan yang tiba-tiba, ditambah dengan gadis jeruk itu!. Batin Ivanna mendelik.


"Hay, Honey!" Sapa seorang laki-laki yang terdengar begitu maskulin dan mampu menghipnotis para kaum wanita.


Ia di kawal oleh dua orang yang memiliki badan kekar dan tinggi. Ivanna hanya memasang wajah datarnya dan mengambil ancang-ancang jika mereka melakukan sesuatu.


"Apa kabar, honey? apaa tidurmu nyaman di sini? Apa mereka melayanimu dengan baik?" Tanya pria tampan itu.


"Cuih!" Ivanna meludah tepat di depan kaki laki-laki itu.


Mereka terkejut melihat tingkah Ivanna yang terkesan kurang ajar. Pria tampan itu manatap Ivanna tidak percaya.


"Kenapa?" Tanya Ivanna datar.


"Harusnya aku meludahi wajah anda!" Ucap Ivanna dingin.


"Astaga Honey, kenapa kamu begitu kasar?" Tanya Jordan tersenyum.


"Sudahlah! Anda membuang waktu saya!" Ucap Ivanna ketus.


Jordan mendekat dan hendak menggapai Ivanna. Namun ibu muda itu tidak bergerak sedikitpun. Hingga Jordan dengan berani menyentuh pundaknya.


Sret!


Bugh!


Ivanna langsung memelintir tangan Jordan dan mendorongnya. Hampir saja ia tersungkur ke lantai jika tidak di tahan oleh para bodyguard itu. Ia terbelalak kaget melihat Ivanna yang terasa begitu kuat dan sangat berbanding terbalik dengan apa yang di katakan oleh Chelsea.


"Kenapa kamu sangat agresif, Honey? Aku hanya ingin mengobrol denganmu!" Ucap Jordan masih berusaha untuk tersenyum.


"Mengobrol? Apakah harus membawa bodyguard?" Tanya Ivanna tersenyum remeh.


Jordan merasa terhina dan menyuruh dua pengawalnya untuk keluar. Kini hanya ada mereka berdua di dalam kamar itu.


Ivanna memilih untuk duduk di atas kursi yang ada di meja hias, sementara Jordan memilih untuk duduk di atas ranjang sambil menatap Ivanna dengan penuh cinta.


"Kenapa Anda tidak berterus terang?" Tanya Ivanna memecah keheningan.


"Apa aku akan mendapatkan jawaban langusung ketika mengatakannya?" Tanya Jordan.

__ADS_1


"Tentu! Hari di mana Anda mengatakannya, saya juga akan menjawab saat itu juga!" Ucap Ivanna.


Pria tampan itu terdiam, "Apa kamu akan menerima atau menolak ku?" Tanya Jordan.


"Tergantung situasi dan kondisi!" Ucap Ivanna.


Jordan kembali terdiam. Ia menatap Ivanna yang terlihat begitu cantik dengan aura keibuan yang terpancar dengan begitu kuat dan membuat siapa saja terpesona.


"Sekarang kita sudah bersama. Ikutlah denganku, besok kita akan memulai hidup dengan bahagia, hanya berdua dan anak-anak kita nanti!" Ucap Jordan tersenyum manis.


"Bagaimana jika hal ini terjadi ketika kita bersama?" Tanya Ivanna berusaha untuk menggoyahkan hati Jordan.


"Tentu aku akan mencarimu hingga keujung dunia sekalipun!" Ucap Jordan.


"Berarti Anda membiarkan saya di culik oleh orang lain?" Tanya Ivanna.


"Tentu saja tidak! Aku akan menempatkan begitu banyak lengawal untuk menjagamu!" Ucap Jordan tersenyum.


Ivanna terdiam, ia merasa malas menghadapi laki-laki ini, ia begitu muak dan tidak menyukai Jordan sari segi apapun.


"Apa kamu melihat Chelsea?" Tanya Jordan.


"Chelsea? Tidak, Saya tidak melihatnya!" Ucap Ivanna tenang karena ia sudah menebak jika Jordan akan mempertanyakan hal ini.


"Kemana gadis itu pergi? Padahal aku sudah mengatakan padanya untuk menjaga dan menemanimu selama berada di sini agar tidak bosan!" Ucap Jordan.


"Harusnya, saya yang mempertanyakan hal itu! Saya kesulitan untuk makan, karena tidak sesuai dengan lidah dan lambung saya yang begitu sensitif!" Ucap Ivanna.


"Benarkah?, Maafkan aku honey, bagaimana kalau kita pergi keluar?" Tanya Jordan tersenyum.


"Apa Anda yakin jika saya tidak akan kabur?" Tanya Ivanna sinis.


"Aku sudah menyiapkan rantai untuk mengikat kita nantinya!" Ucap Jordan tersenyum.


"Apa saya boleh beristirahat?" Tanya Ivanna.


"Hmm, Ya silahhkan, Honey! Aku temani, ya?" Tanya Jordan.


"Tidak! Saya tidak biasa tidur dengan orang Asing!" Ucap Ivanna. "Tolong jangan membantah!" Sabungnya.


"Baiklah. Selamat malam Calon istriku!" Ucap Jordan terdengar begitu manis namun begitu menjijikkan di telinga Ivanna.


Ia keluar dari kamar sambil tersenyum. Sementara Ivanna hanya bisa memasang wajah datar mengiring kepergian pria gila itu melalui ekor matanya.


Setelah pintu tertutup, Ivanna segera memberi penghambat agar orang luar tidak bisa membuka pintu itu lagi. Ivanna memilih untuk tidur di atas ranjang setelah mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur.


Semoga laki-laki gila itu tidak berani masuk melalui celah manapun.


Selamat istirahat baby boy, bunda! Sehat-sehatya sayang! Semoga besok kita bisa bertemu!. Batin Ivanna tersenyum.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2