IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Hal Baik


__ADS_3

Setelah kembali dari rumah sang Kakek, Noah membawa satu mobil ayam sebanyak 200 ekor untuk dibagi-bagikan kepada orang yang membutuhkan bersama dengan para saudaranya.


"Kamu beneran Aa'?" Tanya Nayla tidak percaya dengan apa yang di lakukannya oleh adik kecilnya ini.


"Iya, Kak. Kalau disimpan dihalaman belakang, akan busuk nanti!" Ucap Noah mendongak menatap Nayla.


"Ya udah, kalau gitu kita berangkat!" Ucap Nayla tersenyum dan mengusap kepala Noah dengan lembut dan membuat pria kecil itu berbinar.


Mereka pergi bersama dengan Ivanna dan Safira membawa semua ayam-ayam itu untuk di bagikan.


Nizam menatap apa yang dilakukan oleh saudaranya. Ia hanya mendesaah melihat Noah yang begitu terobsesi dengan ayam.


"Ijam, Ayo!" Ucap Noah menarik tangan Nizam.


"Kenapa kamu bisa berfikiran untuk membagi-bagikan ayam?" Tanya Nizam.


"Berbuat baik itu perlu! Lagian ini gratis juga!" Ucap Noah datar.


"Kamu memberi orang tanpa ekspresi, apa kamu tidak ikhlas sebenarnya?" Tanya Nizam menelisik.


Noah berhenti dan menatap Nizam dengan datar. "Kamu tau wajahku mirip dengan siapa?" tanya Noah.


"Ya, mirip Bunda!" Ucap Nizam mengernyit.


"Iya, aku juga mirip dengan Opa. Sifat kami juga mirip, jadi tidak ada yang salah dengan ekspresiku!" Ucap Noah datar.


"Iya, tapi kata Mommy, kita harus tersenyum ketika memberi kepada orang lain!" Ucap Nizam kesal.


"Iyah, nanti aku akan tersenyum. Sekarang kenapa harus membuang tenaga untuk tersenyum!" Ucap Noah datar.


Gubrak!


Ingin Nizam memukul adiknya ini karena berkata seperti itu. Untung ayah tidak memiliki sifat dingin seperti Opa dan Bunda. Jika tidak mungkin aku akan juga akan memiliki sifat yang sama seperti Noah. Batin Nizam mendengus kesal.


"Ah, terserah kamu. Kalau nanti kamu gak seyum waktu ngasih ke orang, kamu gak boleh dekat-dekat dengan kakak lagi!" Ucap Nizam tegas.


Noah terdiam, Nizam kembali mengancamnya dengan hal itu. Padahal, baru beberapa hari yang lalu mereka sepakat untuk berbagi kakak tanpa boleh cemburu satu sama lain.


"Bukankah...," ucap Noah.


"Iya, tapi jika kamu tidak senyum aku membatalkannya!" Ucap Nizam ketus.


"Baiklah!" Ucap Noah Pasrah.


"Awas nanti kalau kamu gak senyum!" Ucap Nizam mengancam.


"Iya!" Ucap Noah kembali berjalan ketik tangannya kembali di tarik oleh Nizam untuk naik ke atas mobil.


Sementara Naren dan Nayla hanya menggeleng melihat dua pria kecil yang mengemaskan itu. Ingin rasanya mereka mencubit pipi tembam sang adik sambil mengusap kepala kecil mereka.


"Sepertinya keluarga kita memang aneh, Kak!" Ucap Naren berbisik.


"Iya, termasuk kamu?" Ucap Nayla tertawa.


Mereka segera masuk kedalam mobil sambil cekikikan melihat Noah dan Nizam yang masih berdebat.


"Sudah! Kenapa kalian selalu berdebat!" Ucap Ivanna menggeleng.


Mereka terdiam sambil menundukkan kepala. Sementara Safira hanya bisa menahan tawanya melihat dua bocil yang tidak ingin mengalah satu sama lain.


"Gak boleh berdebat lagi. Nanti malah berantem!" Ucap Ivanna tegas.


"Maaf, Bunda!" Ucap mereka berdua.

__ADS_1


"Ayo sama-sama minta Maaf!" Ucap Ivanna memerintah.


Noah mengulurkan tangan tanpa menoleh kearah Nizam, begitu juga sebaliknya. "Lihat saudaranya!" Ucap Ivanna lagi.


Dengan pasrah Nizam dan Noah saling bertatapan. Mereka berjabat tangan sambil mendesaah pelan.


"Maafin aku!" Ucap Noah dengan wajah datarnya namun berusaha untuk berkata dengan sedikit lebih lembut.


"Maafin aku juga!" Ucap Nizam Lirih.


Mereka berpelukan dan duduk di atas pangkuan bidadari masing-masing.


Mobil melaju menuju sebuah perkampungan kumuh, dimana Semua ayam itu akan di bagikan secara merata. Noah kembali berbicara dengan Nizam sepanjang jalan tanpa berdebat.


Hingga mereka tiba di tempat tujuan dengan selamat setelah berkendara selama hampir satu jam.


"Bunda, apa di sini aman?" Tanya Noah takut.


Masyarakat di sana memandang mereka penuh curiga dan menatap tiga buah mobil itu dengan tajam. Seolah merasa jika kedatangan mereka adalah sebuah ancaman.


Hingga mobil yang membawa ayam dihentikan oleh beberapa pemuda untuk dimintai keterangan.


Ivanna memilih turun dan meminta izin kepada mereka dengan mengatakan maksud dan tujuan dengan baik.


"Maafkan kami, Nona. Terima kasih atas niat baik, Nona. Kami begitu was-was dengan orang yang datang, karena ada kejadian buruk yang menimpa baru-baru ini. Maafkan kami!" Ucap Pemuda itu sopan.


"Tidak apa. Sekarang, saya ingin meminta tolong kepada adik-adik untuk membagi ayam ini secara merata?" Tanya Ivanna.


"Bisa, Nona! Saya akan mengumpulkan masing-masing kepala keluarga untuk mengambil Ayamnya!" Ucap Pemuda itu.


"Iya, silahkan!" Ucap Ivanna.


Sebenarnya bukan hanya ayam, namun juga beberapa sembako yang sudah disediakan sebelumnya. Tidak mungkin hanya memberi ayam tanpa bahan yang lain.


Ivanna menggendong Noah dan berjalan menuju warga yang mulai mengantri.


"Iya, Bunda!" Ucap Noah lirih menatap mereka dengan iba.


"Jadi, bagaimanapun susahnya hidup Aa' nanti, ingatlah masih banyak orang yang lebih mengalami kesulitan dibandingkan Aa'. Mungkin tingkatnya saja yang akan berbeda!" Ucap Ivanna.


"Aku paham, Bunda!" Ucap Noah tersenyum tipis dan mengecup pipi Ivanna dengan lembut.


Sementara di dalam mobil, Nizam Sudah menangis karena melihat anak-anaknya seusianya terlihat kumuh dan dekil, bahkan tidak menggunakan baju.


"Sudah, sayang. Kenapa Ade nangis?" Tanya Safira yang kebingungan.


"Hiks, Ijam iba dengan mereka, Mommy. Lihatlah, bahkan dia menggunakan baju yang sudah robek!" Ucap Nizam menunjuk salah satu anak yang tengah di gendong oleh ibunya.


Safira tersenyum, inilah yang bisa ia tanamkan kepada anak-anak sejak kecil. Membantu orang yang kekurangan dan bersyukur dengan apa yang sudah di miliki saat ini.


"Itu makanya, Mommy selalu bilang, jangan membuang makanan De! Bisa jadi mereka belum makan sedari tadi, kan?" Tanya Safira.


"Hiks, Iya Mommy. Kasihan banget!" Ucap Nizam masih sesegukan.


"Sekarang kita keluar dan membagikan semua barang yang sudah kita bawa tadi!" nUcap Safira mengusap air mata Nizam dengan lembut.


"Iya, Mommy! Noah yang begitu dingin saja memiliki hati yang baik, kenapa aku gak pernah kepikiran untuk ini!" Ucap Nizam masih sesegukan.


"Kan kita sama-sama, sayang. Ayamnya dari Noah, sembakonya dari Mommy!" Ucap Safira tersenyum.


"Iya Mommy." Ucap Nizam berusaha untuk menghentikan tangisnya.


Setelah reda, mereka keluar dari mobil dan bergabung dengan Ivanna yang sudah berbaur dengan masyarakat di sana.

__ADS_1


Sementara Nizam memeluk Safira dengan erat karena malu dengan matanya yang sembab.


"Ijam kenapa?" Tanya Noah mengernyit.


"Gak papa! Nanti kita cerita di atas mobil!" Ucap Nizam mengusap matanya.


Noah hanya mengangguk sambil memeluk Ivanna dengan erat karena takut hilang ataupun di cubit oleh orang lain yang gemas kepadanya.


"Nona, semuanya sudah selesai dan perwakilan keluarga juga sudah berkumpul!" Ucap salah satu Pengawal.


"Ah, baiklah. Mari, Bu!" Ucap Ivanna tersenyum.


Ibu dan anak itu sama-sama memasang wajah dingin yang tertutup oleh masker.


Ivanna sedikit menyampaikan maksud kedatangan mereka ke kampung itu dan berterima kasih karena telah diizinkan untuk berkunjung.


Noah dan Nizam memegang ayam masing-masingnya dan memberikan kepada masyarakat itu dengan hati-hati. Dua pria kecil itu tersenyum manis ketika melihat wajah bahagia para warga ketika mendapatkan sedikit bantuan dari mereka.


"Bukankah ini menyenangkan?" Tanya Noah kepada Nizam.


"Yap, kamu betul!" Ucap Nizam tersenyum.


Nayla dan Naren mendapatkan tugas untuk membagikan amplop yang sudah diisi dengan sejumlah uang.


Sebagian besar masyarakat merasa begitu senang, namun ada juga yang menatap sinis karena merasa direndahkan. Namun kegiatan ini berjalan dengan tertib karena melihat beberapa pengawal Ivanna membawa senjata tajam untuk mengamankan lokasi.


"Terima kasih atas kebaikan Nona dan Tuan semua! Semoga di balas berlipat ganda oleh Tuhan!" Ucap ketua pemuda di sana.


"Sama-sama!" Ucap mereka.


Ivanna menatap laki-laki muda yang diperkirakan seusia dengannya. Tutur kata yang baik dan terlihat cukup pintar, membuatnya tertarik.


"Apa kamu sudah bekerja?" Tanya Ivanna.


"Belum, Nona. Saya baru saja lulus Kuliah!" Ucap Pemuda itu tersenyum.


Ivanna mengeluarkan kartu namanya. "Datanglah besok ke perusahaanku!" Ucap Ivanna.


Pemuda itu terdiam dan mengambil kartu itu dengan tangan yang gemeteran dan rasa tidak percaya.


"A-apa ini, Nona?" Tanya Pria itu.


"Datanglah besok sendiri! Kamu akan diinterview oleh orangku! Cukup berikan kartu ini kepada resepsionis dan siapa namamu?" Tanya Ivanna.


"Ardi! Nama saya Ardi, Nona!" Ucapnya masih tidak percaya.


Ivanna meraih ponselnya dan menelfon Felicia untuk mengatakan hal ini. Semua orang terkejut mendengarkan perkataan Ivanna.


"Datang besok pagi ke kantor pusat jam 08.00 dan jangan sampai terlambat!" Ucap Ivanna.


"Ba-baik, Nona. Te-terima kasih!" Ucap Ardi berkaca-kaca.


"Sama-sama, Kalau begitu persiapkan dirimu! Kami permisi!" Ucap Ivanna menaiki mobil.


Beberapa ibu-ibu berusaha untuk menawarkan anaknya agar bisa di terima oleh Ivanna, namun para pengawal segera menghalangi mereka agar tidak membahayakan majikannya.


Perlahan mobil berjalan meninggalkan kampung itu. Menyisakan pengalaman yang berharga bagi para bocil Dirgantara.


"Wah, Bunda kenapa cuma ngasih om tadi pekerjaan?" Tanya Noah.


"Terkadang, banyak orang yang memiliki kemampuan, tetapi susah untuk mendapatkan pekerjaan. Makanya, Bunda melihat kegigihan dari om tadi. Makanya bunda meminta agar ia bisa pergi ke kantor besok!" Ucap Ivanna.


"Wah, kalau semua orang seperti Bunda, pasti pengangguran akan berkurang!" Ucap Naren begitu terpesona dengan Kebaikan hati Ivanna.

__ADS_1


Mereka terus mengobrol, memberikan contoh yang baik kepada para bocil itu agar mereka bisa hidup dengan lebih bersyukur dan menghargai orang lain.


🌺🌺🌺


__ADS_2