IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Aku Diusir? (Ivanna)


__ADS_3

"Ada apa, by? kenapa kamu terlihat cemas seperti itu?" tanya Ivanna mengernyit.


"Ada banyak ibu-ibu yang datang ke rumah, sayang. Mereka penasaran dengan kamu! Sekarang kita langsung pergi, ya!" ucap Carenza panik.


Ia memakaikan topi dan masker Ivanna dengan cepat tak lupa menambahkan kaca mata hitam agar tidak di kenali oleh orang lain. Ia segera menggendong gadis itu menuju mobil yang baru saja tiba ke tempat mereka berdiri.


"By, kenapa harus seperti ini?" tanya Ivanna sambil melepas atribut itu ketika Carenza mendudukkannya di atas jok mobil.


"Pokoknya kita harus pergi, sayang. Kalau sudah bertemu dengan ibu-ibu itu, kamu gak akan nyaman dan pastinya sulit untuk lepas dari mereka!" ucap Carenza menutup pintu mobil.


"Aku belum pamit, By!" ucap Ivanna melotot.


"Nanti kita telefon Ibu, sayang. Ini juga Ibu yang menyuruh, mengingat kamu bukan orang biasa!" ucap Carenza serius.


"Astaga, sayang. Itu gak sopan, dan..., dan aku di usir di hari pertama bertemu!" ucap Ivanna sedih.


"Sayang, Ibu bukan mengusir, tetapi mengamankan kamu!" ucap Carenza memegang pipi Ivanna.


"Aku jadi sedih!" ucap Ivanna cemberut dengan mata yang berkaca-kaca


"Jangan gitu, sayang!" ucap Tono memelas.


"Hiks..., tadi aku juga salah ngomong sama Ibu!" ucap Ivanna dengan air mata yang menetes.


"Salah ngomong gimana, sayang?" tanya Carenza terkejut sambil mengusap air mata Ivanna.


"Hiks..., Aku bilang, kamu dalam bahaya kalau kita bersama, By!" ucap Ivanna menangis.


"Maksud kamu gimana? aku gak paham, sayang!" tanya Carenza memeluk Ivanna dan mengusap kepalanya dengan lembut.


Sambil terisak, Ivanna menceritakan apa yang ia katakan tadi. Hanya helaan nafas yang terdengar keluar dari mulut Carenza.


"Aku pikir, kenapa. Jangan terlalu di fikirkan, sayang. Nanti aku jelaskan lagi kepada Ibu. Jangan nangis lagi ya!" ucap Carenza mengusap air mata yang masih meleleh itu.


"Hiks..., Aku takut nanti Ayah dan Ibu tidak memberikan kita restu!" ucap Ivanna yang masih terisak.


"Kamu berpikir terlalu jauh, sayang! Kalau Ibu gak merestui kita, masih ada banyak waktu untuk merebut hati orang tuaku lagi, hmm?" ucap Carenza menatap manik mata Ivanna.


Cup...,


Bibir manis itu mendarat cantik di kening Ivanna dengan penuh kasih sayang. Sambil memejamkan matanya, Ivanna merasakan kehangatan yang terasa mengalir begitu saja.


"Hiks...," Ivanna kembali menangis.


"Kenapa lagi, sayang?" tanya Carenza bingung.


"Hiks..., Kamu berani cium aku! Nanti kena marah sama, Abang!" rengek Ivanna.


"Maafkan, aku. Tapi abang gak tau, sayang!" ucap Carenza.


"Itu ada cctv berjalan!" ucap Ivanna menunjuk pak Sakti.


"Hehehe, ya sudah. Jangan menangis lagi, sayang. Atau kamu mau aku cium lagi?" ucap Carenza terlihat serius.


"Jangan!" ucap Ivanna menunduk sambil menutup mulut Carenza.


"Hehe, Jangan nangis lagi, ya!" ucap Carenza merapikan rambut Ivanna yang sedikit berantakan.


"Ayah dan Ibu gimana?" tanya Ivanna lirih.

__ADS_1


"Itu urusan aku nanti!" ucap Carenza memeluk Ivanna dengan gemas.


"Berhenti dulu, pak!" ucap Ivanna.


Mobil berhenti di pinggir jalan, Ivanna membetulkan riasan dan penampilannya sejenak.


Huft....


"Aku masih sedih! Apa kita bisa menelfon Ibu sekarang?" tanya Ivanna lirih.


"Sebentar, aku tanya sama Almira dulu!" ucap Carenza meraih ponselnya dan menghubungi sang adik untuk menanyakan situasi di rumah saat ini.


"Aman, bang! Mereka juga sudah pergi!" ucap Almira.


"Ya sudah, tolong berikan ponselnya kepada Ibu!" ucap Carenza.


"Halo, nak? kalian dimana?" tanya Ibu terdengar khawatir.


"Kami ada di pinggir jalan tol, Bu! Ivanna mau ngomong sama Ibu!" ucap Carenza.


Ia memberikan ponsel kepada Ivanna sambil tersenyum. Gadis itu mengambilnya dan menatap wajah Ibu yang ada di dalam ponsel pintar itu.


"Maaf ya, nak! Mungkin lain kali kita ketemu lagi, ibu-ibu di sini bahaya, Ibu takut kamu kenapa-napa, nak!" ucap Ibu merasa bersalah.


"Gak papa, Bu! Nana pamit pulang ya, mungkin kita akan lama bertemu lagi!" ucap Ivanna sedih.


"Gak papa, nak! Kita masih bisa mengirim kabar melalui ponsel! Maafin Ibu, ya! Huft, sebenarnya Ibu masih ingin mengobrol lagi dengan Nana, tapi menahanmu sama dengan membahayakan keselamatan kamu, gak papa ya nak! Ibu gak maksud untuk mengusir, hanya saja..." ucap Ibu meraaa bersalah.


"Nana, paham, Bu! Sehat terus ya, Ibu dan Ayah, kaka juga. Nana Lusa akan pergi keluar negeri, dan gak tau kapan pulangnya. Titip kak Eza ya, Bu! Jangan biarkan kakak dekat dengan perempuan apalagi sama sekretaris itu!" ucap Ivanna cemberut.


"Nafisya maksud kamu, nak?" tanya Ibu memastikan.


"Ah, jangan terlalu dipikirkan! Nanti Ibu jaga pacar kamu baik-baik!" ucap Ibu tersenyum.


"Terima kasih, Bu. Nana pamit, ya!" ucap Ivanna melambaikan tangannya.


"Iya, Nak! Hati-hati besok perginya. Titip salam untuk ayah dan bunda, ya!" ucap Ibu tersenyum.


"Iya, Bu. Nanti Nana sampaikan!" ucap Ivanna tersenyum.


"Baiklah, Ibu matikan, ya!" ucap Ibu tersenyum.


"Iya, Bu. Titip salam juga untuk, Ayah!" ucap Ivanna tersenyum.


"Iya, nak!"


Tut...


Panggilan itu berakhir, Carenza memandang Ivanna dengan senyum manisnya. Sementara gadis cantik itu juga ikut tersenyum dengan perasaan lega yang perlahan menghampiri.


"Gimana, Sayang? Sepertinya restu Ibu aman kok, gak akan terhalang hanya karena salah ucap tadi!" ucap Carenza tersenyum manis.


"Iya. Tapi tetap aja aku takut, By! ucap Ivanna cemberut.


"Gak usah terlalu di fikirkan, sayang. Jangan jadikan beban, yang penting hubungan kamu dan Ibu gak canggung. Sering tanya kabarnya walaupun hanya sekali sehari! Aku kenal bagaimana Ibu, sayang!" ucap Carenza memeluk Ivanna dengan lembut.


"Hmm, terus kita kemana? Aku belum mau pulang! Ini masih siang. Besok aku juga harus mempersiapkan keberangkatanku!" ucap Ivanna membalas pelukan Carenza.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Carenza sambil berfikir.

__ADS_1


"Hmm, terserah. Asal itu aman untuk kita!" ucap Ivanna.


"Bagaimana kalau menyewa pantai saja, Nona?" tanya pak Sakti.


"Ide bagus!" ucap Ivanna langsung menelfon Joe untuk memesan pantai secara privat untuknya dan Carenza saja.


"Apa gak terlalu berlebihan, sayang?" tanya Carenza sedih tidak setuju.


"Gak papa. Aku juga pengen mandi-mandi di pantai!" ucap Ivanna tersenyum.


"Ya sudah!" ucap Carenza pasrah.


Mobil segera melaju menuju pantai yang sedang di boking oleh Joe untuk Nona muda dan pacarnya.


Kurang lebih 20 menit mobil tiba di sebuah pantai yang terlihat cukup sepi dan masih di isioleh beberapa orang yang hendak meninggalkan lokasi itu.


"Baby, pake sunblock dulu biar kulitnya gak gosong!" ucap Ivanna mengoleskan cream itu ke kulit Tono yang tidak terlindungi oleh baju.


Pria tampan itu hanya bisa pasrah mengikuti keinginan sang pujaan hati, agar tidak mendapatkan amukan nantinya.


Mereka menunggu keadaan pantai itu sangat lengang terlebih dahulu, barulah mereka turun.


"Sini aku gendong, sayang!" ucap Carenza menawarkan punggungnya.


"Tahan ya! Aku berat, loh!" ucap Ivanna terkekeh sambil menaiki punggung kekar Carenza.


"Siap, sayang?" tanya Carenza mulai berjalan.


"Siap, Baby!" ucap Ivanna senang.


Carenza membawa sang Tuan Putri untuk mengitari pantai yang sangat luas, bersih dan sepi. Ia menurunkan Ivanna, agar gadis cantik itu bisa merasakan guyuran ombak di kakinya


"Jangan di lepas tanganku, By!" ucap Ivanna tersenyum.


"Iya, sayang!" ucap Carenza tersenyum.


Byur....


Ivanna menyipratkan sedikit air laut kearah Carenza, sehingga membuat pria tampan itu terkejut.


"Sayang!" seru Carenza.


"Hahaha, ayo kejar aku, By!" ucap Ivanna tertawa sambil berlari.


Tanpa menunggu lama, Carenza segera mengejar Ivanna hingga menangkapnya.


Hap...


Pinggang ramping itu berhasil di tangkap. Mereka tertawa dengan hati yang begitu bahagia. Merasakan sensasi berpacaran di tempat umum dengan privat tanpa ada yang mengganggu.


Hingga temaram senja mulai menampakan diri, pasangan sejoli itu sudah mulai kelelahan, hingga berbaring di atas pasir dengan nafas yang terengah.


"Huh, aku capek, By!" ucap Ivanna tersenyum tipis.


"Aku juga, sayang! Tapi seru!" ucap Carenza terkekeh.


Setelah puas bermai Pasangan sejoli itu segera pulang dan beristirahat. Mengumpulkan tenaga dan menyiapkan hati untuk menjalani chubungan jarak jauh untuk waktu yang cukup lama.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2