
Ivanna baru saja menyelesaikan rapat pimpinan yang cukup menguras emosinya, melihat laporan yang masih tidak lengkap dan tidak beraturan.
"Huh, bisa-bisanya mereka berlaku seperti itu! Mentang-mentang aku anak kemarin sore, sehingga mereka mengira aku tidak paham tentang perusahaan. Huh, isi kepala kalian bisa aku tebak!" dengus Ivanna kesal.
Ia duduk di atas kursi kebesarannya sambil memijat kepala yang terasa begitu pusing.
"Felicia, tolong panggilkan, Mbak Fitry!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona!" ucap Felicia patuh dengan jantung yang masih berdetak kencang.
Tak berapa lama, Felicia, Fitry dan Pandu datang ke ruangan. Mereka berdiri di hadapan Ivanna menunggu perintah selanjutnya dari gadis cantik itu.
"Mbak, beri mereka semua surat peringatan! Saya tidak ingin hal ini terjadi lagi!" ucap Ivanna tegas.
"Baik, Nona!" ucap Fitry.
"Awasi mereka, Pak! Aku yakin ada yang tengah bermain denganku, usut tanpa di sadari!" ucap Ivanna bengis.
"Baik, Nona!" ucap Pandu.
"Bisa-bisanya mereka seperti itu! Apa ini pernah terjadi sebelumnya?" tanya Ivanna.
"Tidak, Nona. Saya rasa, mereka baru berbuat setelah anda menjabat!" ucap Pandu.
"Kurang ajar! Lihat saja, sampai dimana mereka akan berbuat seperti itu!" ucap Ivanna dengan wajah garangnya.
Setelah berbincang sedikit, Pandu dan Fitry keluar dari ruangan itu. Tinggal lah Felicia berdua dengan Ivanna. Gadis itu gemetaran melihat kemarahan Ivanna, padahal kemarin baru saja ia melihat Nona Mudanya merengek seperti anak kecil, sekarang sudah terlihat seperti singa, yang hendak menerkam mangsa.
Aduh, bagaimana caranya agar aku bisa meminta izin untuk pulang? Ibu dan Ayah sebentar lagi sampai di bandara!. batin Felicia.
"Ada apa?" tanya Ivanna yang menyadari jika Felicia tengah gelisah.
"Hmm, maaf, Nona. Keluarga Saya sebentar lagi akan sampai disini, hmm apa saya boleh izin sebentar?" tanya Felicia.
Ivanna menoleh dan melihat jam di tangannya.
"Kamu tenang saja, mereka akan langsung di bawa ke rumahmu dan Ayah kamu juga akan di bawa ke rumah sakit!" ucap Ivanna.
"Rumah saya, Nona? itu tidak akan muat,..."
"Rumah dinas!" potong Ivanna.
"Maksud, Nona?" tanya Felicia tidak mengernyit.
"Sepertinya kamu harus lebih peka dalam mencerna sesuatu!" ucap Ivanna mengernyit.
"Nona?" ucap Felicia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Belajarlah menyetir setelah ini!" ucap Ivanna lagi.
"Baik, Nona!" ucap Felicia tersenyum sambil menahan haru.
tok,... tok,... tok,...
"Permisi, Nona. Ini ada kiriman Bunga!" ucap Fitry masuk ke dalam ruangan Ivanna.
"Bunga?" tanya Ivanna mengernyit.
Fitry menyerahkan buket Bunga yang cukup besar itu kepada Felicia, agar bisa di periksa terlebih dahulu.
__ADS_1
"Saya permisi terlebih dahulu, Nona!" ucap Fitry keluar.
"Iya!" ucap Ivanna. "Dari siapa, Fel?" tanya gadis cantik itu.
"Hmm, tidak ada nama pengirimnya, nona. Hanya ada tulisan 'Semoga harimu menyenangkan, cantik! Dari aku, pengagummu!' dengan emotikon senyum dan kiss, Nona!" ucap Felicia.
Dari siapa? Tidak mungkin itu dari Tono, jelas dia tau jika aku tidak menyukai Bunga!. batin Ivanna mengernyit.
"Letakkan saja di sana, Fel! Apa jadwal kita setelah ini?" tanya Ivanna.
"Hari, ini setelah makan siang, Nona ada jadwal pertemuan dengan, Tuan Nathan Avicenna. Sore nanti jam 4, anda ada pertemuan dengan pengusaha asal jerman, mengenai produksi motor terselubung anda!" ucap Felicia mengernyit ketika membaca jadwal.
"Huh, tidak usah kamu sebutkan terselubungnya! Itu hanya karena belum resmi saja!" ucap Ivanna mendelik.
"Maaf, Nona. Jangan marah! saya hanya membaca apa yang ada di sini!" ucap Felicia menggaruk tengkuknya.
"Huh, dasar, kalian sama saja!" dengus Ivanna kesal.
Tak lama, pintu kembali terbuka, Fitry datang sambil membawa satu paper bag dan buket Bunga lagi. Ivanna mengernyit melihat Bunga yang datang, namun matanya lebih tertarik ketika melihat bingkisan berlogo Culun's resto.
"Bunganya letakkan di sana saja, Mbak!. Paper bagnya bawa kesini!" ucap Ivanna tersenyum tipis.
Fitri segera menyerahkannya kepada Ivanna. Gadis itu berbinar melihat beberapa puding yang begitu mengemaskan, dan beberapa cemilan lainnya.
Ah, kenapa kamu begitu manis, baby? Aku merindukanmu!. Batin Ivanna senang.
Ia segera mengeluarkan semua makanan yang ada di sana. Memotret dan menguploadnya ke sosial media, dan akan membuat beritanya semakin naik.
"Dari yang tersayang, Calon menantu Dirgantara selanjutnya! Love You, baby." tulis Ivanna di captionnya.
Ia juga menandai Fajri dan Safira, agar mereka bisa melihat dengan cepat berita bahagianya. Karena Ivanna belum mengatakan apapun kepada suami istri itu.
"Kamu mau, Fel? Ambil ini!" ucap Ivanna menyerahkan satu puding ikan kepada Felicia.
Ivanna mengirim pesan kepada Tono, dan memberi kabar, jika cemilannya susah di terima.
π© To Mr. Tono.
"Cemilannya mendarat dengan selamat! Kamu memang paling tau, kalau aku mulai lapar. Ah iya, ini gratis? apa kamu tidak rugi jika selalu memberikan aku makanan seperti ini terus, baby? sampai bertemu siang nanti, ya!"
Send.
Ivanna tersenyum dan kembali menyelesaikan pekerjaannya sambil memakan cemilan itu hingga tandas. Bahkan ia tidak peduli dengan ponselnya yang sudah tergeletak mengenaskan di dalam laci meja kerjanya.
πΊπΊ
Siang menjelang, Tono sudah menyiapkan makan malam spesial di dalam ruangannya, khusus untuk Ivanna, sang pacar tercinta.
Ia melihat ponselnya dan mendapatkan pesan dari Ivanna. Senyumnya semakin mengembang, ketika Ivanna mengatakan jika isa sudah berada di luar.
Tono berlari untuk menyambut sang kekasih. Beruntung ia sempat mengganti baju agar terlihat lebih keren dan menawan.
Ivanna sudah keluar dari mobil menggunakan masker. Ia tersenyum tipis melihat Tono yang terlihat tampan, namun ia lebih suka melihat Tono ketika menggunakan kemeja chefnya.
"Hai, sayang!" panggil Tono tersenyum manis.
"Ha-hai, baby!" ucap Ivanna gugup dan menunduk.
"Yuk, kita masuk!" ajak Tono menggenggam tangan Ivanna lembut.
__ADS_1
Gadis cantik itu hanya terdiam mengikuti langkah kaki laki-laki itu. Bahkan ia melupakan keberadaan Felicia yang audah mematung di tempatnya tadi.
Ia begitu terkejut melihat Ivanna yang menggandeng tangan laki-laki dengan begitu mesra. Matanya masih membola hingga pak Sakti menyadarkan lamunan gadis itu
"Apa, Nona tidak mengetahui hubungan mereka?" tanya Pak Sakti.
Felicia hanya menggeleng, dengan wajah polosnya.
"Astaga! Harusnya Nona bisa lebih tau, karena Nona adalah asisten pribadi!" ucap Pak Sakti menggeleng.
"Tapi, Nona tidak bercerita kepada, saya, Pak!" ucap Felicia.
"Kamu harus lebih peka! Karena Nona gak akan mau bercerita, kecuali orang itu sudah mengetahuinya!" ucap Pak Sakti, masuk ke dalam resto.
Felicia yang bingung, memilih untuk mengikuti kemana Pak Sakti melangkah. Ia juga ikut memesan makanan sambil menanti Ivanna keluar.
Sementara di dalam ruangan, Ivanna duduk di samping Tono sambil menatap hidangan yang begitu menggoda selera. Tono menatap Ivanna lekat dengan wajah yang berbinar.
"Sayang?" panggil Tono lembut.
"Iya?" ucap Ivanna menoleh.
Deg,...
Mata mereka beradu dan terkunci. Dengan jarak yang begitu dekat, membuat jantung keduanya berdetak lebih kencang. Hingga beberapa saat, mereka memalingkan wajah agar tidak terjadi sesuatu yang bisa membuat Tono tewas oleh Fajri.
"Hmm, aku belajar menu baru dari Bunda, sayang. Kamu mau coba?" ucap Tono gugup.
"Hmm? Apa buna sudah pernah membuatnya?" tanya Ivanna.
"Belum, tetapi aku selalu minta saran dari, bunda, sayang!" ucap Tono tersenyum.
Ada beberapa menu di sana, asa seafood pastinya, ayam bakar spesial, tak lupa juga dilengkapi dengan makanan penutup yang begitu menarik.
"Ini, sayang!" ucap Tono menyerahkan piring yang sudah berisi makanan itu.
"Terima kasih, Baby. Hmm, kali ini aku bayar, ya! Masa setiap makan, aku selalu gratis!" ucap Ivanna cemberut.
"Jangan, aku gak mau menerimanya! Cukup kamu cintai aku setiap hari, sayang. Itu udah sangat lebih dari cukup!" ucap Tono tersenyum.
"Jangan seperti itu, cinta ya cinta. Bisnis tetap bisnis, Baby!" ucap Ivanna mengernyit.
"Ya sudah, terserah Tuan Putri saja! Tapi Aku tidak menerima bayaran, jika aku mengirim makanan Kepadamu!" ucap Tono dengan nada tegas dan tidak mau di bantah.
"Baiklah!" ucap Ivanna tersenyum manis.
"Ah, jangan tersenyum, sayang! Aku gemas!" pekik Tono.
"Hehe, gemas? wajah dingin ini membuat kamu gemas? Astaga, sepertinya mata kamu harus di periksa!" ucap Ivanna dengan wajah yang merona.
"Hahaha, Apa aku boleh memelukmu?" ucap Tono penuh harap.
"Peluk? Hmm, mungkin itu tidak bisa setiap saat dan tanpa alasan! Kecuali pegangan tangan saja boleh!" ucap Ivanna.
"Huh, baiklah'" ucap Tono pasrah.
Ivanna melihat ada semburat rasa kecewa di wajah Tono, namun itu harus ia lakukan untuk melindungi san menjaga diri.
Mereka menghabiskan makanan itu sambil sesekali Ivanna menyuapi Tono. Pria tampan itu memang sangat pandai mencuri hati Ivanna sang gadis dingin hanya karena perlakuan manis saja.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE