IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Kemarahan Ivanna


__ADS_3

Kata orang kehidupan rumah tangga yang indah itu hanya tiga bulan diawal pernikahan. Meraup manisnya cinta tanpa ada masalah sedikitpun.


Setelah itu akan banyak hal yang berubah, tergantung bagaimana cara menyikapi permasalahan yang datang.


Seperti saat ini, Sudah tiga bulan pernikahan Ivanna dan Carenza. Semua cinta tertuang dan tercurahkan dari keduanya.


Keegoisan terkadang muncul baik dari Ivanna maupun Carenza. Namun mereka tetap bisa meredam semua itu dan membicarakan setiap masalah dengan kepala dingin dan berakhir di ranjang.


Seperti beberapa hari ini, mood Ivanna selalu berubah-ubah. Jika pagi ia masih baik-baik saja, maka siang ia sudah seperti singa yang tengah mengamuk. Lagi-lagi Carenza harus bisa menahan dan meredam semua emosi Ivanna sambil menenangkan istri cantiknya.


Dengan sebuah pelukan dan kecupan manis, Ivanna bisa lebih tenang bahkan sampai terlelap didalam pelukannya.


Felicia juga sering menjadi sasaran kemarahan Ivanna, jika ada sedikit kesalahan dari gadis itu. Tak jarang ia sampai menangis dan berniat untuk berhenti, namun mengingat uang penalti yang harus dibayar, ia hanya bisa menahan hati dan melakukan pekerjaan dengan sangat baik.


Siang ini, Ivanna begitu kecewa dengan laporan para pimpinan perusahaan yang tidak sesuai dengan harapannya. Ivanna memarahi semua pimpinan dan meminta untuk di revisi dengan baik dan benar.


Bayangkan saja, mereka hanya di berikan waktu satu minggu untuk membuat laporan selama satu tahun. Melihat kemarahan Ivanna, Felicia terpaksa menelfon Carenza untuk menenangkannya.


Ketika rapat selesai pun, Ivanna masih mengomel hingga Carenza datang dan memeluk istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Sini cerita sama aku. Apa masalah kamu terlalu berat sayang?" Tanya Carenza lembut setelah Ivanna tenang.


"Aku gak tau, By. Bawaannya aku marah dan kesal saja kalau ada yang salah di mataku!" Ucap Ivanna lirih.


"Haidnya udah datang?" tanya Carenza mengecup kening Ivanna.


"Belum, Harusnya udah keluar kemarin. Aku kesal, By. Maafin aku ya, kamu sering kena imbas kemarahanku!" Ucap Ivanna terisak.


"Menangislah, lepaskan emosimu!" Ucap Carenza mengelus kepala Ivanna dengan lembut.


Ia membiarkan Ivanna menangis hingga sesegukan dan terlelap di dalam pelukannya.


"Aku gak tau masalah apa yang kamu fikirkan, sayang. Tapi aku yakin ada penyebab yang membuat kamu seperti ini!" Ucap Carenza mengelus kepala Ivanna dengan lembut.


Felicia masuk kedalam ruangan dan melihat Ivanna tengah tidur sambil memeluk Carenza. Ia Langsung memutar badannya agar tidak melihat adegan itu.


"Ada apa Felicia?" Tanya Carenza.


"Sepuluh menit lagi, Nona ada rapat bersama pimpinan Angkasantara, Tuan!" Ucap Felicia.


"Apa bisa diundur? Istriku baru saja terlelap!" Ucap Carenza tanpa mengalihkan pandangannya dari IIvanna.


"Bisa, Tuan! Nanti akan saya sampaikan!" Ucap Felicia.


"Apa pak Pandu ada?" Tanya Carenza.


"Beliau sedang meninjau lokasi proyek, Tuan!" Ucap Felicia.


"Hmm, ya sudah kalau begitu undur saja satu jam dari sekarang!" Ucap Carenza.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya permisi terlebih dahulu!" Ucap Felicia pamit dan keluar dari ruangan itu.


Carenza tersenyum menatap Ivanna. Walaupun masalah silih berganti, namun rasa cintanya semakin bertambah kepada sang istri.


Terlihat sangat mengemaskan, ia mengecup wajah Ivanna tanpa tertinggal barang se inci pun. Bahkan Ivanna tidak merasa terganggu, malah ia semakin mengeratkan pelukannya.


Setengah jam Ivanna tertidur, Emosinya sudah terlihat lebih baik. Carenza mengelus wajah Ivanna dan mengecupnya dengan lembut.


"Peluk, By!" Ucap Ivanna memeluk Carenza.


Ia menyalipkan tangannya agar bisa menyentuh perut sang suami. Ia menghitung ABS Carenza dan juga dada bidangnya.


"Kenapa, sayang?" tahya Carenza.


"Gak papa, By. Aku hanya mau megang aja! Apa Felicia masuk tadi?" Tanya Ivanna.


"Iya, sayang. Waktu kamu baru saja terlelap!" Ucap Carenza mewanti-wanti agar Ivanna tidak kembali emosi.


"Rapatku bagaimana, By?" Tanya Ivanna.


Glek!


Carenza tercekat, "Tadi aku minta Felicia untuk mengundurnya satu jam dan meminta mereka untuk mempersiapkan semuanya, Sayang. Hmm, jangan marah ya!" Ucap Carenza menjelaskan.


Ia masuk kedalam pelukan Ivanna dan mengecup gunung kembar sang istri.


Pria tampan itu menghela nafasnya lega. Ia memeluk Ivanna sambil merasakan tangan lembut sang istri ketika membelai kepalanya.


"Kenapa kalau bersamamu, aku merasa bisa mengemontrol emosiku, By? Huh, aku kasihan sama mereka, apa lagi sama Felicia yang sering aku marahi walaupun dia gak salah," Ucap Ivanna lirih.


"Cerita sini sama aku, kalau ada masalah, jangan di pendam sendiri. Kalau aku tidak bisa bantu, setidaknya aku bisa menjadi tempatmu berkeluh kesah!" Ucap Carenza lembut dan mengecup bibir Ivanna.


"Aku merasa gak ada masalah yang serius, tetapi emosi aku selalu meledak, mood aku selalu rusak dan aku lebih suku di peluk sama kamu, seperti ini!" Ucap Ivanna menghela nafasnya sambil memeluk Carenza.


"Betul gak ada masalah, sayang?" Tanya Carenza.


"Iya, By! Kalau ada pasti aku cerita seperti biasa!" Ucap Ivanna.


"Hmm, bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit untuk ceck up, sayang? Udah lama kita gak ceck up," Ucap Carenza .


"Hmm, iya By. Sebelum pulang saja nanti kita ceck upnya!" Ucap Ivanna.


"Kamu belum makan 'kan? Aku suapi ya?" Tanya Carenza.


"Iya, Boleh By!" Ucap Ivanna bersamangat.


Carenza menyuapi Ivanna dengan telaten. Beberapa hari ini, ia menemukan prilaku Ivanna yang sedikit aneh. Ada sedikit kecurigaan yang akan membawa kabar bahagia nantinya.


Tok, tok, tok!

__ADS_1


Felicia mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan Ivanna.


"Permisi, Nona! Rapat akan dimulai sepuluh menit lagi! Semua petinggi perusahaan sudah berkumpul di ruang rapat!" Ucap Felicia sedikit takut.


"Ah, sebaiknya kita pergi sekarang!" Ucap Ivanna melihat jam tangannya.


Ia meminum air mineral dan sedikit berkumur-kumur.


"Baby, gak papa kan kalau aku tinggal?" Tanya Ivanna mengelus rahang Carenza.


"Gak papa, sayang! Aku mau istirahat dulu, sebentar!" Ucap Carenza mengecup bibir Ivanna sebelum masuk kedalam kamar.


Gadis itu tersenyum, ia beranjak ketika mendengar Carenza sudah mengunci pintu. Ia berjalan keluar bersama Felicia menuju ruang rapat.


Ceklek!


Ivanna membuka pintu dan membuat semua pimpinan gelagapan dan berdiri. Mereka sedikit takut, karena rumor Ivanna tengah menyebar di kalangan eksekutif perusahaan,


Semoga kali ini mereka tidak membuat kesalahan, atau aku tidak bisa menahan diri lagi!. Batin Ivanna.


Satu persatu petinggi perusahaan sudah mejabarkan semua pergerakan mereka untuk membangun kembali perusahaan Angkasapura yang sudah di ganti menjadi Angkasantara.


Rapat berjalan selama dua jam. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan dalam tiga bulan ini selain menghidupkan kembali cabang yang sudah di tutup agar bisa kembali beroperasi.


Ivanna merasa tidak terlalu kecewa dengan presentasi mereka. Data yang ada, cukup membuka jalan untuk membangun kembali perusahaan itu.


"Dua bulan lagi, saya ingin mendengar semua cabang bisa dibuka kembali dan bisa beroperasi!" Ucap Ivanna tegas.


"Baik, Nyona!" Ucap mereka serentak.


"Rapat ditutup, Selamat sore!" ucap Ivanna beranjak.


Ia keluar dari ruangan itu tanpa amarah. Dann membuat semua atasan menjadi lega karena emosi Ivanna sedang stabil.


Wanita cantik itu berjalan menuju ruangannya dan masuk kedalam kamar. Terlihat Carenza baru saja mengerjab dan langsung tersenyum melihat Ivanna datang.


"Sudah selesai, sayang?" Tanya Carenza dengan suara seraknya.


"Sudah, By! Nanti kita pulang ke apartemen ya!" Ucap Ivanna.


"Iya sayang! Aku bersih-bersih dulu. Habis ini kita pergi ceck up dulu, ya!" Ucap Carenza berjalan ke dalam kamar mandi


Tak selang berapa lama, Carenza selesai membersihkan diri. Mereka segera pergi menuju rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Ivanna.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE.


Nah loo, Nana kepa tu gais?

__ADS_1


__ADS_2