IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Berdebat


__ADS_3

"By, aku gak papa! Aku gak mau ke rumah sakit!" Ucap Ivanna memberontak ketika berada di dalam mobil.


"Itu pipi kamu bengkak, sayang! Nanti kalau gak di obati bisa memar!" Ucap Carenza tidak ingin di bantah.


"Padahal kalau di kasih batu es, bengkaknya bisa menyusut! Apa kamu ingin melihat asisstenmu itu?" ketus Ivanna tanpa menatap ke Arah Carenza.


"Kenapa kamu berfikiran seperti itu, sayang? Bahkan aku gak tau dia ada dimana sekarang!" Ucap Carenza mengernyit.


"Baguslah! Aku gak suka, By! Besok cari sekretaris cowok, aku gak mau kejadian ini terulang lagi!" Ucap Ivanna ketus.


"Baiklah tuan putri! Apapun akan haamb lakukan untukmu!" Ucap Carenza menggenggam tangan Ivanna dengan lembut.


Aku sedikit takut melihat kamu marah, sayang! Tapi aku juga gemas, kamu marah karena cemburu. Batin Carenza tersenyum gemas.


Hingga mobil berhenti di loby rumah sakit Dirgantara. Carenza langsung menggendong putri cantik itu menuju UGD agar bisa diobati. Kedatangan mendadak mereka membuat staf rumah sakit menjadi panik, ketika melihat Ivanna tengah digendong oleh Carenza.


"By, turunkan aku, atau kamu akan mendapat masalah!" Ucap Ivanna memberontak.


"Gak mau!" Ucap Carenza tegas. "Dokter, tolong calon istri saya!" sambungnya sambil memasuki salah satu bilik kosong di sana.


Ivanna hanya mendelik ketika auntynya masuk ke dalam bilik itu. Annisa langsung bergegas ketika mendengar Ivanna datang sambil di gendong.


"Kenapa, dek?" Tanya Annisa mengernyit.


"Nah, kebetulan onty ada disini!" Ucap Carenza. "Nana di tampar tadi sama asisten ku, jadi pipinya bengkak, Onty. Makanya aku bawa kesini!" Ucap Carenza menjelaskan.


"Hanya itu? Benar hanya itu?" Tanya Annisa tidak percaya.


"Iya, onty. Ayo obati pipi istriku, nanti semakin bengkak atau membiru, bisa bahaya!" Ucap Carenza memelas.


"Aih, kalian ini bikin satu rumah sakit geger tau gak!" Ucap Annisa kesal.


"Tau nih! Aku udah bilang gak papa, malah di bawa ke sini!" ucap Ivanna mengedikkan bahunya.


"Sini, onty lihat dulu!" Ucap Annisa melihat pipi putri kesayangan tuan raja ini.


"Ini gak papa! Ini onty kasih salep saja. Kedepan, jangan seperti ini lagi!" Ucap Annisa menggeleng.


"Iya, Onty!" ucap mereka menunduk.


"Sudah selesai! Sekarang Onty ingin bertanya sesuatu sama kalian!" Ucap Annisa serius.


"Apa mereka membawa gadis itu ke sini?" Tanya Ivanna tidak suka.


"Ia, dia mengalami pendarahan diotak. Sekarang, dia di ruang ICU karena dari tadi masih belum sadar juga!" Ucap Annisa serius.


"Benarkah? Ck, kenapa tidak mati saja, aku bosan berdebat terus dengannya!" Ucao Ivanna kesal.


"Hus!" Annisa menoyor kepala Ivanna. Ia tidak habis fikir dengan jalan fikir keponakannya ini.


"Sayang, ini nyawa anak orang lo!" Ucap Carenza melongo.


"Siapa suruh berani melawanku! Kamu juga hati-hati kedepannya jika tidak ingin mengalami nasib yang sama. Cari asisten cowok, atau kejadian ini akan bisa lebih parah!" Ucap Ivanna tegas.


"Ck, urusan rumah tangga itu di rumah, bukan di sini!" Ucap Annisa kesal melihat mereka.

__ADS_1


"Ihh, Terima kasih, Onty!" Ucap Ivanna cemberut.


"Udah, sana pulang!" Ucap Annisa mengusir Ivanna.


"Terima kasih, onty!" Ucap Carenza tersenyum manis.


"Iya, Sama-sama! Kamu manis banget kalau senyum, Za!" Ucap Annisa tertawa.


"Walaupun itu onty, aku gak terima jika ada yang memuji suamiku!" Ucap Ivanna ketus.


"Ck, dasar bocah! Udah sana pulang! Bisa darah tinggi onty dekat-dekat dengan kalian!" Ucap Annisa melanjutkan langkahnya.


"Tuh, kamu lihat, By! Kalau gak parah dan masih bisa diobati di rumah, gak perlu ke sini, Baby!" Ucap Ivanna menatap Carenza.


"Iya, sayang! Aku hanya khawatir sama kamu," ucap Carenza cemberut.


"Ya sudah. Yuk, kita pulang lagi!" Ucap Ivanna merentangkam tangannya.


Carenza segera menggendong Ivanna dan berjalan keluar rumah sakit tanpa menghiraukan tatapan orang di sekelilingnya.


Setibanya di mobil, ia segera meletakkan Ivanna di jok depan, setelah itu ia juga ikut masuk ke dalam mobil.


Cuit!


"Adududuh!" pekik Carenza.


Ivanna mencubit pinggang Carenza dengan sedikit keras ketika ia selesai memasang seatbelt, dan membuat pria tampan itu meringis.


"Sa-sakit, sayang! Aku salah apa lagi? Aduh, sayang!" Ucap Carenza melepaskan tangan Ivanna dari pinggangnya.


"Banyak, yang!" Ucap Carenza cemberut sambil menngusap bekas cubitan Ivanna.


"Ck, aku bilang jangan tersenyum kepada orang lain! Cukup tersenyum di depanku!" Ucap Ivanna dengan nada cemburu yang begitu ketara.


"Astaga, sayang! Itu Onty kamu, adik ayah. Gak mungkin aku mau sama tante-tante!" Uxap Carenza frustrasi.


"Terserah, kamu memang gak mau ngerti aku!" Ucap Ivanna ketus.


Glek!.


Bagaikan di sambar petir, Carenza tidak percaya jika Ivanna mengeluarkan kata-kata seperti itu. Ia menatap gadis cantik yang ada di sampingnya dengan lekat.


"Apa kamu Ivanna? Nanaku yang cantik, manis, baik hati dan tidak sombong?" Tanya Carenza memegang bahu Ivanna dan mengguncangnya.


"Apa sih, By? Ah, aku mau pulang aja!" Ucap Ivanna mendelik.


"Dari mana kamu belajar kata-kata itu, Sayang?" Tanya Carenza masih tidak percaya.


"Dari FYP! Kenapa?" Tanya Ivanna.


"Coba bagian mana yang aku tidak mengerti kamu?" Tanya Carenza serius.


"Satu, kamu gak mau cari asisten baru. Dua, kamu tersenyum sama perempuan lain. Tiga, aku belum makan!" Ucap Ivanna mendelik.


Astaga, istriku memang benar-benar mengemaskan!. Batin Carenza menjerit.

__ADS_1


"Baiklah, Aku akan mencari asisten baru, aku gak akan semyum-senyum lagi sama orang, dan kita akan pergi ke resto untuk makan, habis itu kita pergi memeriksa persiapan nikahan!" Ucap Carenza tersenyum.


Ia mengelus pipi Ivanna dengan lembut. Suasana hati gadis cantik itu tengah buruk saat ini, namun ia hanya bisa mengikuti kemauannya agar urusan tidak semakin panjang.


Mereka segera menuju resto untuk makan terlebih dahulu. Carenza sudah memasak makanan untuk calon istrinya sedari tadi sehingga hanya perlu di panaskan saja.


"Baby, nanti habis nikah, kita tinggal dimana?" Tanya Ivanna sambil menerima suapan dari Carenza.


"Dimana kamu mau, kalau aku nyaman gak masalah sayang!" Ucap Carenza tersenyum.


"Kalau tinggal di rumah bunda bagaimana?" Tanya Ivanna.


"Boleh, sayang!" Ucap Carenza tersenyum. "Hmm, kamu mau bulan madu kemana?" Sambungnya tersenyum genit.


"Bulan madu?" tanya Ivanna mengernyit.


Blush!


Ia melotot ketika menyadari maksud Carenza. Wajahnya merona dan terasa begitu panas dengan pertanyaan Carenza.


"Sayang, apa kamu sakit? wajahmu sangat merah!" Tanya Carenza menatap Ivanna sambil menahan tawanya.


"Ih, kamu ngomong apa sih!" ucap Ivanna begitu malu.


"Nanti kita cuti sebulan ya sayang! Aku mau meengajakmu berkeliling!" Ucap Carenza tertawa.


"Keliling kemana, By?" Tanya Ivanna.


"Keliling Indonesia! Kamu mau 'kan?" Ucap Carenza tersenyum.


"Mau dong!" Ucap Ivanna antusias.


"Ah, syukurlah. Aku fikir kamu gak mau!" Ucap Carenza tersenyum bahagia.


"Asal bersamamu aku mau, By!" Ucap Ivanna menyandarkan kepalanya di bahu Carenza.


"Ah, sayang. Aku belum pernah merasa sebahagia ini!" Ucap Carenza.


"Hehe, bahagianya terasa berbeda ya, By!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Iyaa, sayang. Hmm, aku mau punya anak banyak nanti, apa boleh?" tanya Carenza begitu antusias.


"Ih, kamu ini, belum lagi menikah udah mikirin anak!" Ucap Ivanna mendelik dan wajah yang kembali merona.


"Sayang, semuanya harus di rencanakan dengan baik, mulai dari pesta, bulan madu, jumlah anak sampai tunjangan masa tua! Jadi, kita juga harus mempersiapkannya, sayangku!" Ucap Carenza seolah bisa menyakinkan Ivanna.


Gadis itu menatap Carenza dengan lekat. "Baby, jangan bohong, aku gak bisa kamu kibuli!" Ucapnya terkekeh.


"Hehe," Carenza tergelak sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Mereka melanjutkan acara makan pagi menjelang siang itu sambil bercanda satu sama lain. Satu minggu lagi, mereka akan melepas masa lajang dengan sebuah pernikahan yang begitu mewa dan sangat berkesan nantinya.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2