IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Baiklah!


__ADS_3

Semua orang sudah berkumpul di ruang makan, untuk makan malam bersama. Termasuk Felicia yang akan menginap di rumah Ivanna malam ini.


Ia masih begitu kagum karena bisa melihat secara langsung, bagaimana aktivitas keluarga sultan ini. Apalagi melihat Ivanna yang selalu bersandar di dada bidang Irfan bahkan sampai berebut dengan sang ibunda.


Kini ia tengah di hadapkan dengan hidangan yang begitu menggoda di lidahnya. Perut yang terasa sangat lapar, meronta-ronta untuk di isi secepatnya.


Ia duduk dengan canggung di sebelah Ivanna. Sementara Irfan sesekali menoleh ke arah gadis yang baru saja di bawa oleh Ivanna.


"Dede, bertemu dengan dia tadi pagi, Ayah! anaknya baik, pintar bela diri, akademiknya juga bagus. Gak banyak protes juga, boleh 'kan kalau Dede coba dulu, Ayah?" ucap Ivanna ketika di tanya.


Semoga, apa yang di harapkan oleh Ivanna, memang ada di dalam diri gadis ini!. Batin Irfan yang menghargai keputusan Ivanna.


"Apa, Ayah lelah?" tanya Ivanna di sela makannya.


"Ada apa, sayang?" tanya Irfan lembut.


"Hmm, ada beberapa file perusahaan yang sulit untuk Dede pahami, Ayah!" ucap Ivanna.


"Ya sudah, habis makan kita keruang kerja, ya!" ucap Irfan tersenyum. "Sekarang, habiskan dulu makanannya!" sambungnya.


Tidak ada lagi Irfan yang dingin dan kasar. Saat ini, hanya ada sosok seorang Ayah dan kakek yang begitu sabar, penyayang dan pastinya lemah lembut.


Hari ini, Felicia kembali dibuat tercengang dengan melihat bagaimana perubahan sikap orang-orang yang terdengar sadis dan kejam di dunia bisnis. Diam-diam ia berusaha untuk menahan tangisnya, ia begitu merasakan kerinduan kepada sang Ayah karena melihat interaksi antara Ivanna dan Irfan.


Mereka menghabiskan makanan itu dengan segera. Rumah besar itu terlihat lengang, karena bocah kembar nan mengemaskan itu tengah pergi.


Selepas makan, Ivanna segera pergi menuju ruang kerja, bersama dengan Irfan dan Felicia. Mereka mempelajari beberapa berkas yang sangat penting. Felicia yang cukup pintar, dengan mudah menyerap penjelasan dari Irfan.


Walaupun pria tampan itu menjelaskan dengan tegas dan berwibawa, namun apa yang ia jabarkan itu bisa di tangkap dengan mudah.


🌺🌺


Sementara di belahan dunia lain. Seorang laki-laki dengan mata yang berkaca-kaca dan rasa tidak percaya, melihat postingan sosial media milik Fajri.


"Apakah ini benar? aku tidak bermimpi 'kan? di-dia mengatakannya kepada dunia, jika ia merestuiku!" ucap Tono tidak percaya.


Tuhan, jadikanlah Ivanna milikku!. Batin Tono tersenyum senang.


Sedikit percaya diri, karena ia sangat yakin, jika laki-laki yang ada di dalam video itu adalah dirinya


Ia memilih untuk menghubungi orang tuanya yang berada di pinggir kota, dimana peternakan mereka berada.


Tuut,... Tuut,... tuut,....


"Halo, nak?" sapa Ibu Tono dari seberang telefon.


"Ibu, apa itu sudah tidur?" tanya Tono lembut.


"Belum, nak. Ada apa, kamu gak pulang malam ini?" tanya Ibu.


"Tidak, Bu. Hmm, Eza ada kabar baik untuk Ibu dan Bapak!" ucap Tono tersenyum dengan air mata yang siap untuk menetes.


"Kabar apa nak? Syukurlah jika kita kembali mendapatkan kabar bahagia!" ucap Ibu terdengar sangat bahagia.

__ADS_1


"Eza sudah mendapatkan calon istri, Bu. Tetapi gadisnya belum mau menjalin hubungan, namun Eza sudah mendapat restu dan keluarganya!" ucap Tono tercekat karena air matanta sudah menetes.


"Calon istri? Ah, syukurlah, akhirnya bujang lapuk Ibu ini akan segera memiliki pendamping hidup!" ucap Ibu penuh syukur tetapi terselip ejekan di sana.


"Ihh, Ibu mah! Eza belum lapuk, Bu. Masih 26 juga!" ucap Tono tiba-tiba saja cemberut.


"Hehehe, ya sudah kenalkanlah sama Ibu dan Bapak, bawa dia kesini ya, nak!" ucap ibu terkekeh.


"Tapi, Ibu harus menyiapkan diri, Bu. Dia bukan orang sembarangan!" ucap Tono terdengar serius.


"Apa dia anak juragan kambing, atau juragan onta?" tanya Ibu polos.


"Astaga, Ibu! Walaupun kita hanya peternak, tetapi Eza gak mau dapat istri anak peternakan juga!" ucap Tono cemberut.


"Hahaha, ya sudah. Siapa sih, perempuan beruntung mendapatkan hati anak Ibu ini?" ucap Ibu terkekeh.


"Eza yang beruntung, Bu. Eza yang begitu mencintainya. Dia gadis yang istimewa dan pastinya dia begitu di idam-idamkan oleh seluruh laki-laki di dunia ini. Hah, sangat beruntung Eza yang mendapatkannya, Bu. Dia cantik dan pandai dalam segala hal, bla, bla, bla," ucap Tono menceritakan bagaimana keadaan Ivanna.


Ibu mendengarkan cerita Tono sambil menghayalkan bagaimana paras dan bentuk calon menantunya nanti.


"Jadi siapa namanya, nak?" tanya Ibu antusias.


"Namanya, Ivanna, Bu. Ivanna Hanindya Dirgantara!" ucap Tono menahan senyumnya.


Deg,...


Hening, Ibu seolah tersambar petir mendengar ucapan anaknya.


"Za, apa kamu sedang bermimpi?" tanya Ibu serius.


"Jangan bercanda, Carenza!" teriak Ibu.


Tono langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia mendengarkan teriakan sang ibunda yang begitu tidak percaya dengan apa yang ia katakan.


"Sudah, Bu?. jika ibu tidak percaya, aku akan membawanya pulang ke rumah, jika Ivanna sudah memiliki waktu senggang!" ucap Tono.


"Astaga, nak. Kamu sedang bercanda? dimana kepala kamu terbentur, nak?" ucap Ibu frustrasi.


"Hehehe, Aku baik, Bu. Sangat baik! nanti aku akan kirim beberapa buktinya, agar Ibu bisa percaya kepadaku!" ucap Tono tergelak.


"Dasar anak nakal! jangan mimpi ketinggian nak, mereka sangat berbeda dengan kita!" ucap Ibu sewot.


"Itulah, yang membuatnya berbeda, Bu! Mereka tidak membutuhkan menantu kaya lagi, Bu!" ucap Tono tersenyum.


"Ya, semuanya itu serahkan kepada kamu. Karena kedepannya, kamu yang akan menjalani hidup! Jangan mimpi terlalu tinggi, nak. karena jatuhnya akan sangat sakit!" ucap Ibu memberikan petuah.


"Iya, Bu. Do'a kan Eza agar bisa mempersunting calon menantu, Ibu!" ucap Tono tersenyum.


"Iya, nak. Do'a Ibu menyertaimu!" ucap Ibu tersenyum.


"Ya sudah, Eza tutup dulu ya, Bu! Salam untuk Ayah dan adek-adek!" ucap Tono tersenyum.


"Iya, nanti Ibu sampaikan. Kamu baik-baik di sana! sering-sering menepuk pipi!" ucap Ibu mematikan panggilannya.

__ADS_1


Tono mengernyit, dengan perkataan sang Ibu.


"Sering-sering menepuk pipi? maksud Ibu?" ucap Tono menepuk pipinya.


Namun ia tidak menemukan alasan apapun dari sana. Ia memilih untuk menelfon Ivanna karena sudah sangat merindukan gadis pujaannya.


Tuut... tuut... tuut....


"Halo, Tono?" ucap Ivanna lirih.


"Halo, Na? Apa aku mengganggu?" tanya Tono lembut.


"Tidak, hanya saja aku merasa sangat lelah hari ini!" ucap Ivanna lirih.


"Apa aku perlu kesana?" tanya Tono.


"kamu pikir ini masih sore?" tanya Ivanna tersenyum.


Tono melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Eh, ternyata aku begitu lama mengobrol dengan Ibu!" ucap Tono.


"Hmm, besok ada beberapa karyawan untuk meninjau lokasi pembangunan, kamu dampingi mereka ya. Arahkan sesuai dengan keinginanmu dan rancangan kita waktu itu!" ucap Ivanna.


"Iya, apa kamu ikut?" tanya Tono penuh harap.


"Tidak, Jadwalku sangat padat. Aku begitu lelah dan bosan!" ucap Ivanna lirih.


"Itu karena kamu belum menerima pekerjaan ini dengan sepenuh hati, Na!" ucap Tono.


"Mungkin benar, Tono! huft,..." ucap Ivanna sambil menghela nafasnya.


"Hmm, video yang tadi sore?" tanya Tono menggantung.


"Kenapa?" tanya Ivanna.


"Hmm, maksud aku, Tuan Fajri sudah memberikan kita restu, apa kamu tidak ingin berubah fikiran, Na?" tanya Tono hati-hati.


"Hmm? Aku takut, jika kita tidak memiliki waktu untuk bertemu, Hingga tiga bulan kedepan, aku sangat sibuk!" ucap Ivanna penuh sesal.


"Tidak ada salahnya mencoba, Na. Hmm, atau kamu belum mencintaiku?" tanya Tono terdengar putus asa.


Hening, tidak ada yang mulai pembicaraan. Hanya helaan nafas yang terdengar dari mereka berdua.


"Apa kamu bisa bersabar untuk menghadapiku hingga aku memiliki waktu senggang?" tanya Ivanna.


"Tentu, tentu, Na!" ucap Tono cepat.


"Baiklah!" ucap Ivanna lirih.


Deg,....


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2