
"Sayang, aku pergi sebentar yang Ada masalah di restoran!" Ucap Carenza terburu-buru.
"Apa tidak bisa di wakilkan, Be? Kamu udah cuti, kan?" Tanya Ivanna mengernyit.
"Udah sayang. Maaf ya, ini gak bisa aku undur!" Ucap Carenza menatap manik mata Ivanna.
"Jangan pergi, ya! Di sini saja, biar aku kirim orang untuk menyelesaikan semuanya!" Ucap Ivanna memohon.
"Aku gak lama, Sayang! Sebentar saja, boleh ya?" Ucap Carenza memelas.
"Tapi kamu belum buatin aku susu!" Ucap Ivanna berusaha untuk mencegah Carenza.
"Tadi udah, sayang!" Ucap Carenza tersenyum.
"Kamu juga belum nyuapin aku buah!" Rengek Ivanna.
"Buahnya udah aku potong sayang, nanti makan sendiri ya!" Ucap Carenza mengambil kemejanya.
"Dedenya belum di tengok!" Ucap Ivanna cemberut sambil mengikuti langkah sang suami.
"Sayang, Aku cuma sebentar, gak lama kok! Boleh aku pergi, ya!" Ucap Carenza tersenyum sambil mengusap perut Ivanna dan mengecup pipi gembulnya.
"Hiks tapi dedenya mau di tengok, Ayah!" Ucap Ivanna merengek sambil menahan tangan Carenza dengan begitu erat.
"Sayang, aku pergi sebentar, gak lama!" Ucap Carenza menghela nafasnya.
"Hiks, tapi gk ada orang di rumah!" Ucap Ivanna menangis.
"Ada bunda, Sayang. Hanya sebentar, nanti siang aku pulang! Semoga masalahnya cepat selesai!" Ucap Carenza memohon.
"Hiks, pergilah!" Ucap Ivanna melepaskan pegangan tangannya.
"Aku pergi, Ya!" ucap Carenza tersenyum dan mengusap air mata yang menetes lalu mengecup wajah Ivanna tanpa tertinggal.
Carenza melangkah meninggalkan sang istri, namun harus terhenti ketika mendengar suara rengekan Ivanna kembali.
"Nanti kalau aku rindu gimana?" Rengek Ivanna menarik kemeja yang di gunakan oleh Carenza.
"Sayang, Aku cuma sebentar. Yuk antar aku ke depan!" Ucap Carenza menggandeng tangan Ivanna.
Ivanna masih cemberut namun mengikuti langkah Carenza keluar dari kamar. Ada rasa tidak rela yang hinggap di hatinya untuk membiarkan sang suami pergi hari ini.
"Mbak, Saya mau pergi sebentar, kamu jangan jauh dari istri saya!" Ucap Carenza kepada Atim.
"Baik, Tuan!" Ucapnya tegas.
"Nanti aja ya, perginya! Aku masih pengen di peluk!" Ucap Ivanna yang masih berusaha untuk mencegat kepergian Carenza.
"Sayang, Semakin cepat aku pergi, semakin cepat juga aku kembali!" Ucap Carenza berusaha untuk tidak emosi. "Nanti kita lihat dede, Ya!" sambungnya tersenyum.
Ia mencium bibir Ivanna dan sedikit melumaatnya. Ivanna juga ikut membalas, hingga rasa kecewa itu datang ketika Carenza melepaskan pagutan mereka.
"Dah, sayang!" Ucap Carenza tersenyum dan melambaikan tangannya.
Pak Sakti membukakan pintu untuk Carenza, dan ia juga ikut masuk setelah itu.
"Hati-hati, Pak! Jangan ngebut, kalau ngantuk berhenti dulu, harus fokus!" Ucap Ivanna sebelum mobil meninggalkannya pergi.
"Iya Sayang! Jangan risau, ya!" Ucap Carenza tersenyum.
Ivanna menatap kepergian Carenza dengan sendu, jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang dengan perasaan tidak enak yang menghampiri.
__ADS_1
Semoga tidak terjadi apa-apa! Tuhan lindungi suamiku!. Batin Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nona, Ayo kita masuk ke dalam!" Ucap Atim mengajak Ivanna.
"Iya!" Uca Ivanna lirih merasa tidak bersemangat.
Mereka segera masuk kedalam rumah. Fajira mengernyit ketika melihat wajah murung Ivanna yang tidak seperti biasanya.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Fajira menghampiri Ivanna dan memeluknya.
"Mas Eza katanya udah ambil cuti, tapi masih aja pergi kerja, Bunda!" Ucap Ivanna sedih.
Fajira tersenyum dan mengecup kening Ivanna dengan lembut. "Mas Eza kerja kan juga untuk Dede! Apa lagi sebentar lagi kamu mau melahirkan!" Ucap Fajira kembali memeluk Ivanna.
"Tapi kan Mas Eza udah cuti, Bunda!" Rengek Ivanna.
"Habis ini kalau Mas Eza masih pergi kerja, Bunda yang akan marahin! Sekarang dede mau apa? biar Bunda masakin!" Ucap Fajira tersenyum,
"Mau buah aja, Bunda!" Ucap Ivanna manja.
"Ya sudah, Yuk kita ke ruang makan!" Ucap Fajira membimbing Ivanna.
Atim dengan setia mengikuti kemanapun Ivanna pergi. Ia tersenyum melihat tingkah sang majikan yang merengek dengan manja dan mampu membuat siapapun gemas melihatnya.
Fajira mengupaskan beberapa jenis buah dan menyuapi Ivanna sambil bercerita bagaimana ketika ia hamil dulu. Sehingga kesedihan Ivanna bisa berkurang karena kepergian Carenza.
πΊπΊ
"Bagaimana, Kak? Saya tidak ingin adik saya kenapa-napa!" Ucap Fajri memohon kepada seseorang di balik telepon.
"Itu gampang, hari ini saya akan mengirimkan beberapa orang untuk membantumu!" Ucap Aldebra sang ketua Mafia.
"Haih, kau sudah besar, tetapi masih saja bertingkah seperti adik kecilku! Mana mungkin aku bisa menolak permintaanmu!" ucap Aldebra menghela nafasnya.
"Terima kasih, Kak! Aku berhutang banyak kepadamu!" Ucap Fajri terkekeh.
"Tidak! Aku yang berhutang banyak, bahkan aku berhutang nyawa kepadamu! Jika bukan karena kau yang menyelamatkan hidupku, mungkin Aku tidak akan bisa bertemu dengan putriku lagi!" Ucap Aldebra.
"Ah, sudah. Jangan di ungkit lagi! Tolong ya kak!" Ucap Fajri.
"Iya, kau tenang saja!" Ucap Aldebra tertawa.
"Berapa, kak?" Tanya Fajri.
"Apanya yang berapa? Kau mau aku tebas?" Bentak Aldebra.
"Cih, kau berani membentakku?" Ucap Fajri dingin.
"Cih, Jangan berani kau Fajri!" Ucap Aldebra bangis.
"Apa kakak sudah tidak menyayangiku lagi?" Tanya Fajri memelas.
"Cih, sudah! Kau urus semuanya. Kau cukup memberi mereka makan! Jangan keluarkan uang sepersen pun kepada mereka!" Ucap Aldebra.
"Baiklah, Kakak Aji yang tampan! Terima kasih banyak!" Ucap Fajri tertawa.
"Cih, ku jangan memujiku, Fajri! Kau bukan anak kecil lagi! Aku merasa geli!" Teriak Aldebra.
"Hahaha, bukankah kau dulu suka jika aku memanggilmu paman tampan?" Ucap Fajri sengaja mengerjai Pria paruh baya itu.
"Kau ingin mati?" Tanya Aldebra kesal.
__ADS_1
"Mana berani! Hahaha sepertinya aku harus kembali bekerja! Aku akan mempersiapkan semua keperluan mereka!" Ucap Fajri.
"Tidak perlu! Kau tinggal terima beres saja!" Ucap Aldebra.
"Ah, sekali lagi, terima kasih, Kak!" Ucap Fajri tersenyum.
"Sama-sama. Secepatnya akan aku kirimkan datanya!" Ucap Aldebra dan mematikan panggilan.
Fajri tersenyum, ketika mengingat kapan ia menemukan pria itu ketika remaja dan hampir saja meregang nyawa.
Tidak ada cara lain, Walaupun Dirgantara memiliki banyak tim keamanan, tetapi mereka tidak semuanya siap untuk menerima serangan yang akan datang. Batin Fajri menggerakkan giginya.
"Aksa, persiapkan semua keberangkatan mereka. Ikuti instruksi dari Tuan Aldebra untuk tahap selanjutnya!" Ucap Fajri tegas dengan mat yang menyalang.
"Bik, Tuan!" Ucap Aksa yang juga merasa geram.
Ceklek!
Tiba-tiba saja pintu terbuka, menampilkan sosok pria yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah melewati setengah abad.
"Om?" Sapa Fajri tersenyum. Ia begitu merindukan pria tua ini.
"Lama kita tidak bertemu, Boy!" Ucap Ray merentangkan tangannya.
"Aji rindu!" Ucap Fajri memeluk Ray dengan erat.
"Ah, pria kecilku sudah dewasa!" Ucap Ray tertawa.
"Apa kabar, Om?" Tanya Fajri terkekeh.
"Baik, Om baik! Kita langsung bahas saja bagaimana?" Tanya Ray serius.
"Boleh, Om. Silahkan duduk dulu!" Ucap Fajri tersenyum.
"Ayahmu sudah mengatakannya kepada Om, jadi apa yang akan kita lakukan?" Tanya Ray.
"Aku hanya ingin semua dalang ini tertangkap dan tidak ada yang mengusik lagi, Om. Ivanna juga sedang hamil, tidak mungkin ia harus ikut dalam hal seperti ini!" Ucap Fajri.
"Apa kamu sudah melacak nya?" Tanya Ray.
"Sudah, Om. Tetapi masih menjadi teka-teki, karena aku menemukan jalan buntu disetiap gerakku!" Ucap Fajri kesal.
"Semacam Sebuah permainan?" Tanya Ray.
"Iya, Sayangnya aku tidak bisa berfikir jernih karena menyangkut nyawa Ivanna!" Ucap Fajri lirih.
"Kita akan mengungkapnya bersama!" Ucap Ray.
Ddrrtt, ddrrtt, ddrrtt!
Ponsel Fajri berdering, ia segera mengangkat panggilan itu dan meendengarkannya dengaan seksama.
"Mobil yang dikendarai oleh pak Sakti menabrak truk tronton, Tuan! Mereka sudah di larikan kerumah sakit dan kemungkinan tidak ada yang selamat!" Ucap Bodyguard itu terdengar lemas.
Duar!
Fajri melotot dan langsung bergegas menuju rumah sakit untuk memastikan keadaan yang sebenarnya.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1