IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Mengirim Server!


__ADS_3

Ivanna beberapa kali pergi ke kamar mandi untuk melihat apakah Carenza sudah menemukan kotak itu atau tidak. Ia sangat berharap agar bisa di selamatkan dengan segera karena mengingat air asinya yang sudah jarang keluar.


Baby, Ayo ingat kotak itu, Aku mohon!. Batin Ivanna menangis.


Air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. Jika bukan karena bekas jahitannya masih basah, mungkin ia akan menebas semua orang yang ada di rumah ini, hingga bala bantuan datang.


Tiba-tiba saja ia tersentak ketika merasakan getaran halus pada gigi palsunya.


Deg!


Me-mereka menemukanku!. Batin Ivanna terbelalak dengan air mata yang semakin menetes.


Aku harus mulai bergerak secara perlahan, agar bisa mencari celah untuk meretas CCTV dan mengirimkannya kepada Abang!. Batin Ivanna.


Ia keluar dari kamar mandi dan melihat keadaan sekitar. Berjalan menuju pintu dan mengetuknya dengan pelan.


"Ada orang di luar? Saya sangat haus!" Ucap Ivanna sedikit berteriak.


"Sebentar Nona! akan saya ambilkan airnya!" Ucap Salah satu pelayan yang berjaga di depan kamar Ivanna.


Berhasil! Semoga dia membawa sebuah elektronik atau sejenisnya!. Batin Ivanna kembali ke kamar mandi.


Ceklek!.


Pelayan itu masuk dan melihat jika kamar Ivanna kosong. Ia mendengar percikan air dari dalam kamar mandi dan kembali berjalan hendak keluar.


"Hmm, Bisa bantu saya sebentar?" Tanya Ivanna keluar dari kamar mandi.


"Ada apa, Nona?" Tanya Pelayan ith mengernyit.


"Ada kecoa di dalam tong sampah yang ada kamar mandi! Bisa Anda mengusirnya?" Tanya Ivanna lirih sambil memegang perut bagian bawah.


"Kecoa? Apa anda membohongi saya?" Tanya Pelayan itu mengernyit.


"Untuk apa saya berbohong? Jika anda ingin memukul saya saat ini pun, saya tidak memiliki tenaga!" Ucap Ivanna memelas.


"Tumben anda berbicara! Selama berada di sini anda tidak mengeluarkan suara sedikit pun!" Ucap pelayan itu menatap Ivanna dari atas sampai ke bawah.


"Bukankah anda di beri pekerjaan untuk membantu saya?" Tanya Ivanna dingin.


"Iya, Anda duduk saja di sana! Saya coba lihat dulu!" Ucap Pelayan itu mendelik.


Ivanna tersenyum tipis, mangsa sudah masuk perangkap. Semoga aku memiliki cukup tenaga untuk menekan syarafnya!. batinnya.


Perlahan Ivanna ikut masuk kedalam kamar mandi dan berdiri tepat di belakang pelayan itu sambil mengeluarkan tenaga dalamnya.


"Tidak ada terlihat kecoa yang anda maksud, Nona!" Ucap pelayan tanpa menoleh.

__ADS_1


Tepat ketika ia menegakkan tubuh kembali, Ivanna menekan beberapa pusat syaraf pelayan itu hingga membuatnya terjatuh, lemas dan tidak bisa bergerak.


Bugh!


Badan pelayan itu tergeletak dengan mata yang masih terbuka. Ivanna tersenyum manis menatap kearahnya. Tanpa berbicara, ia segera memeriksa semua saku yang ada di baju pelayan itu.


Wajah datarnya berubah cerah setelah menemukan ponsel bermerek apel yang sudah di makan ulat berada di dalam saku pelayan itu.


Ivanna mengunci pintu, kamar mandi agar tidak ada orang yang masuk ketika ia bekerja nanti.


Ibu muda itu duduk di atas closet sambil melihat ponsel yang tengah ia pegang. Meretas sandinya dan mencari beberapa aplikasi yang akan Ia gunakan dan telah tersimpan di dalam emailnya. Pelayan itu hanya menatap Ivanna tanpa bisa melakukan apapun.


Tidak butuh waktu lama, semua CCTV dan alat sadap yang ada di dalam rumah sudah berada di dalam kendalinya. Ivanna tersenyum manis dan mengirimkan pesan kepada Fajri melalui Email.


"Bang, Dede baik-baik saja! Ini situasi yang ada di dalam rumah ini. Dede disekap di kamar paling atas, yang paling banyak kameranya. Kalau gak salah dengar, mereka akan datang lusa untuk melihat keadaanku! Cepat jemput Dede, kasihan baby boy karena asiku sudah semakin sedikit!"


Lampiran :


Link server CCTV.


Kirim!


Semoga abang bisa membaca pesanku dengan cepat!. Batin Ivanna.


Ivanna mematikan fungsi alat sadap yang ada di dalam kamar mandi dan menatap pelayan itu dengan lekat.


"Kau dengarkan ucapanku, dan berkedip ketika setuju!" Ucap Ivanna tersenyum jahat.


"Kau ingin bergerak?" Tanya Ivanna dan di balas dengan kedipan.


"Saya bisa melakukannya, tetapi jangan sampai kau mengatakan kepada orang lain, tentang apa yang baru saja saya lakukan!"Ucap Ivanna menggenggam kerah baju pelayan itu.


Ia tidak berkedip dan hanya menatap Ivanna dengan tajam. Ivanna menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum menyeramkan.


"Baiklah, jika kau tidak mau! Ini jika dibiarkan terlalu lama bisa mengakibatkan kelumpuhan permanent!" Ucap Ivanna mengancam.


Pelayan itu hanya terdiam sambil mengalihkan pandangannya dari Ivanna.


"Baiklah, mungkin kau masih memikirkannya! Hmm, jika kau ingin membantu saya, kau akan saya lepaskan. Pikirkanlah dulu!" Ucap Ivanna.


Ia melihat jika emailnya sudah terkirim. Ia memanipulasi kamera agar tidak terlalu mengawasinya. Ivanna keluar dengan santai dan duduk di atas meja nakas dan memakan makanan yang sudah di sediakan.


Semoga kalian bisa langsung menemukan aku! Sungguh aku ingin membunuh wanita sialan itu saat ini juga!. Batin Ivanna begitu kesal.


Tak lama Chelsea datang sambil membawa sebuah kotak dan beberapa paperbag yang berisi keperluan Ivanna selama ada di sana.


"Ini keperluan anda, Nona. Lusa anda harus berdandan dengan cantik, karena akan bertemu dengan calon suami anda yang baru!" Ucap Chelsea.

__ADS_1


Ivanna bungkam, ia mengernyit tanpa menoleh sedikitpun ke arah Chelsea.


Cih, suami apaan? Gila ya! Mereka mau menikahkanku disaat aku masih memiliki suami dan baru saja melahirkan?. Ah, jeruk ini memang sudah mengalami sakit jiwa!. Batin Ivanna semakin kesal.


Brak!


Chelsea menggebrak meja dan membuat Ivanna terkejut.


"Kau dengar tidak?" Bentak Chelsea.


"Apa kau tidak di ajarkan tata krama? Apakah boleh berbicara ketika makan?" Ucap Ivanna ketus.


"Apa sebelumnya kau pernah menganggap saya ada?" Pekik Chelsea.


"Tidak!" Jawab Ivanna ketus dan melanjutkan makannya.


Chelsea menarik dagu Ivanna agar bisa menatapnya dan membuat ibu muda itu sangat kesulitan untuk mengontrol emosi.


Tahan, Na! Tahan! Lusa, Lusa kau akan keluar dari sini!. Batin Ivanna sangat kesal.


Ingin ia membunuh gadis jeruk ini memberikan kepada singa kesayangannya untuk dicabik dan di koyak dengan ganas.


"Kenapa? Bukankah kamu mencintaiku? Kenapa sekarang kamu memperlakukanku seperti ini?" Tanya Ivanna lirih dan berpura-pura sedih.


"Cih, saya memang mencintai anda Nona! Tapi ada hal penting dan besar yang harus saya lakukann, tanpa mementingkan cinta dan perasaan!" Ucap Chelsea tegas.


"Padahal, Aku sudah begitu baik telah mengizinkanmu untuk mendekatiku!" Ucap Ivanna.


Chelsea terdiam, ia melepaskan dagu Ivanna dan keluar dari kamar itu sambil membanting pintu.


"Syalan, kau jeruk!" Pekik Ivanna begitu kesal.


Ia berjalan menuju kamar mandi dan kembali menyalakan CCTV yang sempat ia alihkan sebentar.


"Kau masih belum ingin berubah pikiran? Kau masih punya waktu satu jam lagi untuk berpikir, atau lumpuh selamanya!" Ucap Ivanna begitu sadis.


Ia berjalan menuju ranjang dan duduk sambil memikirkan cara agar bisa keluar dari ini.


Aku pasrah! Dengan keadaan seperti ini, gak akan mungkin untuk melawan mereka semua. Kecuali jika aku memiliki senjata, mungkin bisa lebih mudah untuk keluar!. Batin Ivanna sedih.


Seseorang tengah menatap Ivanna dengan perasaan sedih. Mengawasi ibu muda itu melalui CCTV, ingin rasanya ia ada di sana dan memeluk Ivanna sambil menenangkannya.


"Apa dia merindukan anaknya? Eh, bukan. Apa dia merindukan anak kami?" Ucapnya bertanya. "Persiapkan penerbangan kita secepatnya!".


"Baik, Tuan!" Ucap sang asisten patuh.


Tunggu Aku sayang. Setelah ini kita akan hidup bahagia tanpa ada penghanggu seorangpun!. Batinnya tersenyum manis.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2