
Hubungan jarak jauh atau yang lebih dikenal dengan LDR, kerap kali terjadi dalam kehidupan. Membutuhkan kesabaran yang tidak batas, kejujurann, prinsip dan komitmen. Tentu saja, hal itu di perlukan untuk menahan semua godaan yang datang silih berganti, karena rasa kesepian.
Hari ini, Ivanna akan melakukan perjalanan bisnis pertamanya ke luar negeri selama dua bulan berturut-turut dengan jadwal yang begitu padat. Melebarkan sayapnya menggapai benua lain dan membuktikan jika ia mampu untuk bersaing di dalam dunia bisnis.
Wajah cantiknya terlihat murung, karena akan berpisah dari keluarga dalam waktu yang cukup lama. Semua perlengkapan sudah tersedia dalam beberapa koper. Ivanna, Felicia dan seorang ART akan ikut dalam perjalanan kali ini.
Bukan hanya ia yang terlihat sedih, bahkan anggota keluarga yang lain pun juga ikut bersedih, bahkan Fajri saja tidak pernah melakukan perjalanan bisnis selama ini.
Menatap diri dari pantulan cermin, Ivanna hanya bisa menghela nafasnya yang terasa berat. Mata sembabnya, menjadi saksi jika ia menangis semalaman karena tidak ingin berpisah walaupun hanya sebentar.
"Setiap keputusan itu pasti sulit, sayang. Menggapai masa depan harus ada yang dikorbankan! Gak ada salahnya berpisah sebentar, kalau kangen kita masih bisa video call, atau Bunda akan mengunjungimu!" ucap Fajira.
Ivanna membenarkan perkataan ibundanya itu. Demi masa depan, keluarga dan karyawan. Ia harus mengorbankan waktu kebersamaan mereka sejenak.
Tok..., tok..., tok....
"Sayang?" panggil Fajri membuka pintu kamar Ivanna.
"Iya, bang?" ucap Ivanna menoleh dan tersenyum.
"Adik Abang inimemang selalu terlihat begitu cantik dan memesona!" ucap Fajri memuji Ivanna.
Gadis itu langsung memeluk Fajri dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang Abang. Fajri mengelus lembut kelapa Ivanna sambil tersenyum.
"Dede titip keluarga kita, bang!" ucap Ivanna lirih.
"Iya, sayang! Kenapa kamu seperti ingin pergi jauh dan tidak akan kembali?" ucap Fajri terkekeh.
"Ihh, Dede serius!" rengek Ivanna.
"Iya, sayang. Itu tanggung jawab Abang. Harusnya Abang yang bilang, jaga diri kamu nanti. Uncle Joe akan menemani kemanapun kamu pergi!" ucap Fajri tersenyum dan mengecup kening Ivanna dengan lembut.
"Do'a kan Dede agar bisa sukses seperti Abang!" ucap Ivanna tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pasti, sayang. Walaupun IQ Abang lebih tinggi, tetapi kamu lebih pintar dari Abang! Jadi?" ucap Fajri.
"Jadi, jangan takutkan apapun, walau kita jauh, tetapi Dede tetap dalam penjagaan Ayah dan Abang!" ucap Ivanna tersenyum.
"Pintar! Sekarang kita harus segera pergi ke bandara, karena pesawat akan berangkat lebih cepat!" ucap Fajri.
Ingin rasanya ia pergi mengantarkan Ivanna hingga menuju negara yang terkenal dengan Big Bang itu, namun Safira lebih membutuhkannya saat ini. Mereka segera menuju ke bandara menggunakan beberapa mobil.
__ADS_1
Felicia pun juga di antar oleh keluarganya. Sementara dua bocil yang mengemaskan itu tidak berhenti menangis sambil memeluk Ivanna. Mereka tidak ingin Ivanna pergi jauh dalam waktu yang sangat lama.
"Bagaimana kalau Lala kangen sama, Nana?" tanya Nayla terisak.
"Gimana kalau Naren mau latihan bela diri lagi? Naren gak mau sama yang lain, Naren mau sama Nana Aja!" ucap Naren yang juga ikut menangis.
"Nanti latihan sama Ayah atau sama Opa sayang! Kalau kangen, kita masih bisa video call! Jangan nangis lagi ya! atau Nana akan nangis juga!" ucap Ivanna berkaca-kaca.
"Hiks, jangan pergi, Na! Lala mohon!" ucap Nayla memeluk Ivanna semakin erat.
Mobil sudah berhenti di loby bandara. Dua bocil itu tidak kunjung melepaskan pelukan mereka dari Ivanna. Sehingga Fajri terpaksa memisahkan mereka, karena jadwal keberangkatan pesawat semakin dekat.
"Gak mau!" teriak Naren dan Nayla.
"Gak boleh nangis, eh! malu dilihat sama orang!" ucap Fajri.
"Lala mau gendong sama Nana, Daddy!" ucap Nayla menangis.
Sementara Naren yang di gendong oleh Irfan berusaha menghentikan tangisnya, namun air mata itu seakan tidak ingin berhenti meleleh sedikitpun.
Ivanna hanya bisa menghela nafasnya yang terasa sangat berat. Ditambah Carenza sang kekasih belum terlihat batang hidungnya sama sekali.
Aku akan sangat kecewa jika kamu tidak datang, By!. Batin Ivanna
Mereka segera menuju ke ruang privat khusus keluarga Dirgantara, karena masih ada waktu 20 menit lagi sebelum pesawat Ivanna lepas landas. Jantung gadis cantik itu berdetak lebih kencang ketika Carenza belum juga tiba di sana.
Aku pasrah jika kamu memang benar-benar tidak datang. Batin Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca.
Dengan penuh harap ia berdo'a agar mereka bisa bertemu sebelum berpisah untuk sementara waktu.
πΊπΊ
Sementara itu di sebuah jalan raya yang terlihat tidak ada pergerakan sedikitpun, seorang laki-laki dengan wajah yang pucat, jantung yang berdetak dengan kencang dengan perasaan cemas yang selalu menghampirinya.
Tiiin..., tiiin..., Tiin....
Klakson mobil Carenza berbunyi dan saling bersahutan dengan pengendara lainnya. Ia terjebak macet sudah lebih dari setengah jam.
"Shiit!" umpatnya.
"Na, aku mohon jangan pergi dulu!" Ucapnya frustrasi.
__ADS_1
Ia sudah menghubungi salah satu karyawannya untuk mengambil mobil yang tengah ia kendarai.
"Pak?" Panggil karyawan toko baru saja datang.
"Ah, kamu bawa mobil ini ke resto yang di dekat Dirgantara CORP!" ucap Carenza yang langsung berlari di tepi jalan dengan sangat kencang berlomba dengan waktu agar bisa bertemu dengan Ivanna sebelum keberangkatannya.
"Aku mohon, jangan pergi dulu sayang! Aku mencintaimu!" ucap Carenza berlari semakin kencang.
Ketika sampai di jalan yang tidak mengalami kemacetan, Carenza segera menghentikan sebuah motor dan meminta untuk membantunya.
"Saya mohon, Pak! Pacar saya dalam bahaya! saya harus pergi ke bandara saat ini juga!" ucap Carenza memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baiklah, cepat naik!" ucap bapak itu.
Motor berjalan dengan sangat kencang menyelip semua kendaraan. Keadaan seolah mengerti situasi yang tengah di hadapi oleh Carenza, mereka tidak terjebak lampu merah satupun.
Carenza mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dari dompetnya untuk membayar bapak-bapak yang sudah menolongnya.
"Pak, ini. Terima kasih ya!" ucap Carenza langsung berlari menuju ruang privat room khusus untuk keluarga Dirgantara.
Jantungnya berdetak semakin kencang, sambil berdoa semoga Ivanna belum berangkat atau menaiki pesawat yang akan membawa gadis itu menuju masa depan.
"Ayolah!" ucap Tono ketika menghadapi kerumunan orang yang tengah mengantri.
"Permisi! Permisi!" ucap Tono berteriak.
"Hei, hati-hati!" ucap pengunjung yang lain.
Ia tidak lagi menghiraukan semua orang yang mengumpat kasar kepadanya. Ia terus berlari menuju ruangan yang berada palin depan menghadap ke landasan pesawat.
Ia melihat Ivanna sudah berjalan menuju jet pribadi keluarganya dengan beberapa orang yang lain. Namun ketika hendak memasuki ruangan itu, ia di cegat oleh satpam yang menjaga ruangan itu.
"Maaf, pak. Anda tidak bisa masuk!" cegat mereka.
"Pak, saya harus bertemu dengan Nona Ivanna, ada yang harus saya sampaikan! saya mohon!" ucap Carenza memohon dan memaksa agar ia bisa masuk.
Ada waktu 10 menit lagi untuk pesawat lepas landas. Ia berharap bisa bertemu dengan Ivanna satu menit saja.
"Pak, saya mohon!" ucap Carenza dengan air mata yang mulai mengalir.
"Maaf, Pak! Silahkan pergi!" ucap satpam itu tegas.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE