IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Rebutan Perhatian


__ADS_3

Ivanna menemui Fajri di teras belakang yang terdapat kolam ikan di sana. Walaupun ia kesal, namun ia tau jika Fajri hanya khawatir, dan menyimpan sedikit trauma karena ia pernah hilang beberapa tahun yg lalu.


"Bang?" Panggil Ivanna dan membuat Fajri terlonjak


"Kenapa, sayang?" Tanya Fajri salah tingkah.


Ia sedikit takut jika Ivanna sudah marah, bukan takut dengan kemarahannya, namun Ivanna lebih memilih diam dari pada harus berdebat lebih lama lagi.


"Apa abang sengaja?" Tanya Ivanna lirih.


Fajri tercekat, ia tidak bisa berbohong dengan keluarganya dari dulu.


"Maafin abang, Sayang. Abang hanya khawatir, apa lagi gak ada Uncle Joe di samping kamu!" Ucap Fajri lirih.


"Dede paham, tapi bukankah abang sudah memberikan kepercayaan kepada Mas Eza untuk menjagaku? Kalau abang masih khawatir, kenapa abang memberi izin dan restu untuk dede menikah dengannya?" Tanya Ivanna lembut.


Fajri terdiam, tangannya terulur untuk memeluk Ivanna dan langsung disambut oleh wanita cantik itu.


"Abang hanya khawatir, sayang. Maafkan, Abang!" Ucap Fajri lirih.


"Dede paham, Bang!. Tetapi sekarang dede sudah menikah, ada suami yang harus dede ikuti, dia bisa melindungi dede, Tetapi abang harus percaya kepadanya!" Ucap Ivanna mengelus kepala Fajri lembut.


"Maafin abang karena sudah mengacaukan honey moon kalian!" Ucap Fajri penuh sesal.


"Gak ada yang kacau, Bang. Hanya saja, kekhawatiran abang berlebihan!" Ucap Ivanna meregangkan pelukannya.


Fajri menunduk, "Apa dede baik-baik saja?" Tanya Fajri ketika melihat sedikit bercak kemerahan di lehernya.


"Dede baik, bang! Jangan risau lagi, nanti abang sakit mikirin dede yang baik-baik saja!" Ucap Ivanna lembut.


"Iya, sayang!" Ucap Fajri tersenyum sambil menatap Ivanna lekat.


Kamu gak tau jika kejadian itu membuat abang trauma sayang! Abang tidak begitu percaya kepada laki-laki manapun untuk menjagamu!. Batin Fajri.


"Bang, Dede yakin, Mas Eza bisa menjaga dede dengan baik. Jangan sampai sikap abang, membuat suamiku merasa tidak berguna! Maafin dede harus berbicara seperti ini. Bukan dede gak butuh Abang lagi, tetapi, biarkan mas Eza membuktikan jika ia mampu, Bang!" Ucap Ivanna meyakinkan Fajri.


"Akan abang coba, sayang!" Ucap Fajri lirih.


"Abang sudah makan?" Tanya Ivanna lembut.


"Belum, sayang," Ucap Fajri lirih.


"Ayo, sini dede temani makan! Abang juga punya tanggung jawab, ada kakak dan anak-anak yang harus abang jaga!" Ucap Ivanna mengomel sambil menarik tangan Fajri menuju meja makan.


Tanpa mereka sadari, Carenza berdiri tak jauh dari sana. Ia termenung, ternyata apa yang ia fikirkan memang benar adanya. Fajri hanya memberi restu tetapi tidak untuk kepercayaannya.


Ia masih cukup memahami bagaimana takutnya Fajri jika Ivanna jauh darinya. Bahkan untuk honey moon saja mereka harus membawa 7 bodyguard dan 3 art termasuk Atim.


Antara sedih atau kecewa, tetapi aku juga harus membuktikan jika aku bisa menjaga Ivanna dengan baik. Huft, apa aku akan seperti Fajri ketika Almira menikah nanti?. Batin Carenza menerawang.


Ia hanya bisa menghela nafas untuk meredakan rasa yang tengah mendominasi dirinya saat ini. Carenza memilih untuk pergi ke dapur dan mengganggu Fajri yang tengah bermanja dengan adiknya.

__ADS_1


Ketika sampai di ruang makan, ia melihat jika Fajri tengah di suapi oleh Ivanna. Ia duduk di samping sang istri dan memeluknya dari samping.


"Sayang, kamu ngapain?" Tanya Carenza manja sambil mencium pipi Ivanna.


Fajri mendelik tidak suka melihat ada yang mengecup pipi Ivanna selain dirinya.


"Aku lagi menyuapi Abang, Mas.Kamu butuh sesuatu?" Tanya Ivanna lembut. "Makan lagi, Bang!" Sambunnya kepada Fajri tak kalah lembut.


Pria tampan itu membuka mulutnya dan menerima suapan dari Ivanna. Sementara Carenza malah mendelik kesal ke arah Fajri.


"Sayang, apa kamu lupa sama aku?" Tanya Carenza cemberut.


"Jangan seperti itu, By! Sabar ya, aku lagi menyuapi abang. Kakak lagi istirahat di kamar," Ucap Ivanna mengelus kepala Carenza dengan lembut.


"Suap lagi, sayang!" Ucap Fajri membuka mulutnya.


Ia sengaja mengunyah dengan pelan agar makanannya tidak cepat habis.


"Sayang, lihatlah. Abangmu makan dengan begitu pelan. Apa dia sengaja untuk mengganggu waktu bermain kita?" Rengek Carenza dengan cemberut.


"Cih, semoga kalau adik gua hamil, lo yang selalu merasakan ngidamnya!" Ucallp Fajri kesal.


Carenza tidak menanggapi perkataan Fajri, justru ia sengaja mengecup leher Ivanna hingga berbekas di hadapan Fajri dan membuat pria tampan itu mulai meradang. Namun sebisa mungkin ia tahan karena perutnya masih begitu lapar.


"Sayang, abang tambah, ya! Abang masih lapar," Ucap Fajri ketika nasinya tersisa sedikit.


"Modus!" Ketus Carenza.


Dihadapkan dengan dua laki-laki possesif dan pencemburu ini membuat Ivanna harus memiliki stok kesabaran yang teramat besar. Jika tidak, mungkin mereka akan ia tendang menggunakan hils maut hingga mereka pingsan.


"Abang masih mau tambah, atau sudah?" Tanya Ivanna memberikan suapan terakhir kepada Fajri.


"Sudah, sayang. Temani abang istirahat sebentar ya! Abang merasa mual!" ucap Fajri.


"Sayang, tapi kita mau bikin adonan lagi. Ayolah, kan abang sudah punya istri! Lihat adik aku sudah keras" Ucap Carenza cemberut dan melihat ke arah celananya


Ivanna menelan ludahnya kasar, melihat itu ia juga ingin merasakan kembali nikmatnya memadu kasih, namun ia juga kasih kepada sang Abang karena ia kembali merasa ngidam.


"Sebentar saja, sayang. Sampai abang tertidur!" Ucap Fajri memelas.


"Ck, lo ngapain sih bang. Kan udah punya istri, masih aja gangguin istri orang!" Ucap Carenza kesal.


"Suka-suka gua dong! Ivanna juga adik gua!" Ucap Fajri tidak mau kalah.


Kepala Ivanna serasa ingin meledak saat ini karena perdebatan mereka. Ia memejamkan mata dan menarik nafas sedalam-dalamnya.


"Diam!" Teriak Ivanna yang sudah tidak tahan lagi.


Fajri dan Carenza terdiam, mereka masih saling menatap tajam satu sama lain. Bukan Fajri tidak ingin mengalah, jika ia tidak bisa tertidur dengan cepat maka ia akan mengeluarkan semua isi perutnya kembali.


Sementara Carenza wajahnya sudah memerah karena menahan hasrat yang sengaja ia bangun sendiri.

__ADS_1


"Tolong saling mengalah satu sama lain! Aku hanya satu, kalau bisa di bagi dia, bagi saja sekarang!" Ucap Ivanna kesal.


"Pergilah!" Ucap Fajri mengalah.


Ia beranjak dan hendak menuju ruang tamu, belum lagi melangkah, ia sudah berlari menuju kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya.


Ivanna terkejut dan langsung menyusul Fajri. Semua makanan yang ia suapin tadi kembali keluar.


"Bang?" Panggil Ivanna.


"Pergilah, sayang. Abang gak papa! Hoek, hoek!" Ucap Fajri kembali mual.


"Mas? Mas?" Panggil Ivanna panik.


Carenza datang dengan segera, ia terhenyak ketika melihat Fajri yang sudah terlihat lemas sambil bersandar di dinding. Ia segera membantunya untuk keluar dari sana setelah Ivanna membersihkan kaki Fajri yang terkena muntah.


Mereka membawa Fajri ke ruang tengah dan membaringkannya di atas sofa. Carenza sedikit menyesal karena tidak mau mengalah. Fajira segera datang untuk melihat keadaan putranya yang sudah tergeletak di atas sofa.


"Kakak mana, dek?" Tanya Fajira.


"Kakak lagi mabok, Bunda. Lagi istirahat sama anak-anak di kamar!" Ucap Ivanna.


"Pantas saja abangmu uring-uringan! Pawangnya lagi tidur!" Ucap Fajira meringis. "Kalian istirahatlah, biar bunda yang menjaga abang di sini!" sambungnya.


"Dede ke kamar dulu, Bunda!" Ucap Ivanna menarik tangan Carenza.


"Ia, sayang!" Ucap Fajira tersenyum.


Setibanya di kamar, Ivanna membawa Carenza untuk duduk di atas ranjang. Ia menatap wajah suaminya yang terlihat murung, Ivanna hanya bisa menghela nafas sambil mengelus rahang Carenza.


"Baby?" Panggil Ivanna lembut.


"Maafin aku!" Ucap Carenza menunduk.


"Ada hal dimana kamu harus mengalah, By! Bukan tanpa sebab abang memintaku untuk menyuapinya, dan kamu harus bisa peka dengan hal kecil seperti itu!" ucap Ivanna lembut.


"Maafin aku sayang!" Ucap Carenza memeluk Ivanna.


"Gak papa, By. Apa kamu masih mau?" Ucap Ivanna mengelus tengkuk Carenza.


"Hmm, adikku udah tidur lagi!" Ucap Carenza lirih.


"Ya sudah, kita istirahat ya!" Ucap Ivanna.


Carenza mengangguk, ia segera masuk ke dalam pelukan Ivanna dan membenamkan wajah di area favoritnya.


Ivanna hanya bisa menahan diri untuk tidak emosi. Tidak mungkin juga ia menyalahkan Fajri atau Carenza. Namun tindakan mereka yang selalu tidak ingin mengalah, membuatnya jengah dan kesal setiap saat.


Mereka terlelap hingga siang menjelang dengan saling berpelukan satu sama lain.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2