
Hari yang di janjikan telah datang. Tono pagi-pagi sudah berada di kediaman Dirgantara untuk ikut sarapan bersama sekaligus meminta izin untuk mengajak Ivanna pergi ke rumahnya.
Sementara Fajri memasang siaga satu agar Safira tidak mendekat ke arah Tono dan mengulangi kejadian yang sama.
"Sayang!" ucap Safira geram.
"Pokoknya dia gak boleh tau kalau kamu lagi hamil, dan kamu jangan macam-macam!" ucap Fajri menatap Safira lekat.
"Tapi aku gak akan macam-macam, Mas! Ya tuhan, kenapa aku memiliki suami yang sangat pencemburu!" jerit Safira.
"Itu resiko kamu, sayang. pokoknya pagi ini kita sarapan di kamar!" ucap Fajri.
"Terserah kamu, Mas. Aku capek!" ucap Safira duduk di atas rantangnya.
Sementara di bawah, Tono tengah berbicara dengan Irfan yang terlihat sedikit keberatan dengan permintaan pria tampan itu.
"Tolong, Ayah! Ibu gak akan main-main kalau udah ngomong!" bujuk Tono.
"Tapi, ini terlalu cepat, nak!" Ucap Ayah.
"Hanya berkenalan saja, Ayah! Kali ini saja!" ucap Tono memohon.
"Baiklah, tetapi kalian harus di antar oleh pak Sakti, agar Ayah bisa merasa lebih tenang!" ucap Irfan.
"Baik, Ayah. Terima kasih!" ucap Tono tersenyum.
"Jangan macam-macam! Ayah selalu mengawasi kalian!" ucap Irfan menatap tono dengan tajam.
Mereka segera pergi menuju meja makan, karena semua hidangan sudah tertata dengan rapi.
"Hati-hati nanti di jalan ya! Sampaikan juga salam Bunda untuk Ibumu!" ucap Fajira tersenyum.
"Iya, Bunda. Nanti Tono sampaikan!" ucap Tono tersenyum.
Ivanna turun menggunakan tangga dan terlihat sangat anggun dan begitu cantik. Dengan sebuah tas yang berisi beberapa pakaian dan perlengkapannya. Ivanna berjalan menuju meja makan dan ikut sarapan bersama.
"Abang dan kakak mana, Bunda?" tanya Ivanna.
"Mereka sarapan di atas, sayang!" ucap Fajira tersenyum.
"Tumben!" ucap Ivanna mengedikkan bahunya. "Hai, sayang!" sapa Ivanna kepada dua bocil yang mengemaskan itu sambil mengecup mereka hingga puas secara bergantian. Hal itu membuat Tono merasa juga ingin di kecup.
"Nana mau pergi kemana?" tanya Nayla.
"Nana mau pergi sama uncle Tono, sayang!" ucap Ivanna tersenyum.
"Ikut!" ucap Nayla dan Naren bersamaan.
"Nana bukan pergi main, sayang! Nana pergi kerja, mau nunggu Nana kerja?" tanya Ivanna.
"Gak, mau! Nana kalau kerja seperti Opa! Seram!" ucap Nayla bergidik.
Irfan hanya bisa terkekeh sambil menatap cucunya.
"Masih mau ikut?" tanya Ivanna.
"Gak, jadi. Tapi Nana harus ajak kami jalan-jalan!" ucap Naren berbinar.
"Deal!" ucap Ivanna mengedipkan matanya.
"Ayah, apa boleh Dede pergi sama Tono?" tanya Ivanna.
__ADS_1
"Boleh, sayang. Tapi di antar sama, pak sakti ya! Jangan terlalu malam pulangnya!" ucap Irfan tersenyum.
"Terima kasih, Ayah!" ucap Ivanna tersenyum.
"Hati-hati nanti di jalan, sayang. Bunda sudah membuat beberapa kue untuk buah tangan kamu dan sudah ada di dalam mobil!" ucap Fajira.
"Ah, Bunda memang pengertian!" ucap Ivanna mengacungkan jempolnya.
Mereka melanjutkan sarapan dengan tenang. Setelah selesai, Tono dan Ivanna langsung pergi menuju kediaman keluarga Tono yang berjarak cukup jauh kurang lebih selama 45 menit dari rumah Ivanna.
"By, bagaimana peternakan kamu?" tanya Ivanna bersandar di bahu Tono sambil bergenggaman tangan.
"Huft, ada aja masalahnya, sayang. Kemarin 20 ribu bakal anak ayam gagal menetas, ini jumlah yang paling banyak dari sebelumnya!" ucap Tono lirih.
"Dua puluh ribu? itu banyak, By!" ucap Ivanna terkejut.
"Itulah, sayang. Aku bingung, kenapa bisa sebanyak itu. Biasanya cuma seribu atau dua ribu telur paling banyak!" ucap Tono.
"Terus gimana? sudah kamu telusuri penyebabnya?" tanya Ivanna.
"Sudah, sayang. Sebagian lampu untuk menghangatkan telurnya sempat mati. Makanya bisa seperti itu!" ucap Tono.
"Terus gimana?" tanya Ivanna.
"Ya, harus terima risiko. Aku rugi hampir mencapai 1 miliar!" ucap Tono.
"Besok jangan teledor lagi, ya! Itu uang yang cukup banyak. Pasti harga ayam akan mahal besok!" ucap Ivanna tersenyum.
"Itu makanya! Aku malah mikirin Stok ayam untuk resto!" ucap Tono.
"Semoga untuk telur berikutnya bisa menetas lebih banyak!" ucap Ivanna mengelus lengan Tono dengan lembut.
"Iya, sayang!" Ucap Tono tersenyum manis dan mengecup kepala Ivanna dengan lembut.
Ah, kenapa aku merasa grogi seperti ini. batin Ivanna.
"Baby, apa ibumu galak?" tanya Ivanna.
"Iya, Ibu pemarah, sayang. Tapi habis itu langsung ketawa kok! Kenapa, apa sayangku ini grogi?" tanya Tono terkekeh.
"Hmm? Aku hanya takut kalau Ibu gak suka denganku!" ucap Ivanna lirih.
"Haha, Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, sayang?" ucap Tono tergelak.
"Ih, kan aku datang sebagai calon menantu, By. Bukan sebagai CEO!" rengek Ivanna.
"Hehe, tenang saja, sayang. Ada aku, kalau Ibu macam-macam, sepertinya punggungku cukup lebar untuk kamu bersembunyi 'kan?" ucap Tono semakin tertawa.
"Ih, kamu orang lagi cemas malah di ketawain!" ucap Ivanna cemberut.
"Lebih baik kamu berpikir positif biar gak grogi, sayang!" ucap Tono mengusap kepala Ivanna.
Perlahan mobil mewah Ivanna masuk ke dalam pekarangan rumah keluarga Tono. Jantung Ivanna semakin berdetak kencang ketika melihat pintu rumah itu terbuka.
Ya tuhan! Kenapa jantungku berdetak sekencang ini?. Bunda, Dede takut!. Batin Ivanna menjerit.
"By?" panggil Ivanna dengan wajah cemasnya.
"Jangan takut!, Yuk keluar, sayang! Itu Ibu dan ayahku sudah menunggu!" ucap Tono tersenyum.
"Tunggu!" rengek Ivanna.
__ADS_1
Ia masih belum siap untuk bertemu dengan calon mertuanya. Ia takut akan sebuah penolakan dari orang tua pangeran tampannya ini.
"Hei, tumben Nona muda yang dingin dan tegas ini tiba-tiba saja takut? Ada aku, kalau misalnya Ibu gak menerima kehadiranmu, kita berjuang sama-sama, sayang. Kamu mau, 'kan?" ucap Tono memegang kedua pipi Ivanna.
"Iya, jangan tinggalkan aku sendiri, nanti!" rengek Ivanna.
"Iya, sayang! yuk, kita turun!" Ajak Tono.
Ivanna memakai topi dan maskernya seperti biasa. Tono sudah turun dari mobil dan menyambut tangan Ivanna. Ia menggenggam tangan yang mulai terasa lembab dan dingin itu dengan lembut.
"Ini, Nona!" ucap pak Sakti menyerahkan sebuah kue sebagai simbol buah tangan sebelum ia mengeluarkan semuanya.
Ivanna menerima bingkisan itu tanpa menjawab ucapan pak Sakti. Bahkan ia menunduk karena sedikit takut melihat wajah sangar dari calon mertuanya.
"By!" seru Ivanna.
"Gak papa, sayang! Yuk, hati-hati jalannya!" ucap Tono tersenyum manis.
Mereka berjalan dengan perlahan menuju pintu utama, dimana ibu, Ayah dan adik Tono sudah menanti kedatangannya.
"Ibu, Ayah. Abang membawa calon istri!" ucap Tono tersenyum.
"Kenapa wajahnya di tutup?" tanya Ibu membuat mata Ivanna melotot.
Glek...
Ya tuhan, kenapa aku jadi penakut seperti ini? Ayo Ivanna, Bunda bilang jika kita bersikap baik, maka Ibu mertua juga akan baik! Jika mereka ketus dan pemarah harus tetap berbuat baik!. Batin Ivanna.
Ia mengangkat kepalanya dengan berani menatap Ibu Tono. Mata tajamnya bertemu dengan mata nyalang wanita paruh baya itu. .
Ternyata tidak semenakutkan itu. Batin Ivanna mulai bisa menguasai dirinya.
"Selamat pagi menjelang siang, Ayah, Ibu dan kakak!" sapa Ivanna.
"Kita masuk dulu, yuk!" ajak Tono yang melihat keadaan sekitar sudah ramai karena masyarakat yang ingin tau.
Mereka segera masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu. Hening, keluarga tono menatap Ivanna dari bawah sampai ke atas.
"Kenapa masih menggunakan masker, nak?" tanya ibu mengernyit.
"Apa Ibu sudah siap untuk melihat wajah calon menantu, ibu?" tanya tono tersenyum.
"Ya, ibu sudah siap! Buka lah nak!" Ucap Ibu mengernyit.
Siapa betul perempuan ini, sampai harus segitunya!. Batin ibu.
Perlahan Ivanna membuka topi yang ia pakai, rambut panjang indah nan hitam berkilau membuat siapa saja terpesona melihatnya.
1
2
3
Ivanna membuka masker yang tengah ia pakai. Terpampanglah wajah indah bak bidadari di hadapan keluarga Tono.
deg....
Mereka terkejut bukan main, siapa yang tengah di bawa oleh tono pagi hari ini. Ivanna hanya bisa menampilkan senyuman yang begitu manis dengan wajah yang merona.
"Hai, ayah, ibu, kakak!"
__ADS_1
πΈπΈπΈ
TO BE CONTINUE