IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Menantu Kesayangan


__ADS_3

Ivanna tengah menahan kesal karena sang suami tercinta tak kunjung datang. Wajah cantiknya menjadi cemberut begitu saja.


Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, Felicia tengah menelfonnya pagi ini. Ia segera mengangkatnya dan tersenyum ketika mendengarkan rengekan dari gadis itu.


"Nona, kapan Nona akan kembali bekerja?" Rengek Felicia.


"Kenapa, Felicia? Saya akan lama istirahat dirumah, mungkin sampai anakku umur dua tahun!" ucap Ivanna menahan tawanya.


"Hiks, Tuan besar lebih pemarah dari pada, Nona!" Rengek Felicia kembali. "Eh, maaf, Nona!" Pekiknya.


"Kamu berani Felicia?" ucap Ivanna dingin sambil mengerjai gadis itu.


"Hiks, ampun Nona. Saya sudah di marahi oleh tuan Besar. Jangan lagi anda tambah!" Ucap Felicia serasa ingin menangis.


Ivann semakin kesulitan untuk menahan tawanya. Kasihan sekali nasibmu bekerja dengan Ayah, Felicia!. Batin Ivanna terkekeh.


"Ya sudah. Apa lagi masalahnya?" Tanya Ivanna.


"Hiks, Tuan menuntut saya perfeksionis, Nona. Anda kan tau kalau saya petakilan!" Ucap Felicia merengek.


"Ayah hanya membentuk mental kamu Fel! Atau kamu mau berhenti?" Tanya Ivanna semakin mengerjai Felicia.


Duar!


Gadis itu terdiam dan menangis. "Hiks, dari mana saya akan mendapatkan uang untuk membayar penaltinya, Nona? Hiks jangan pecat saya!" ucap Felicia menangis dan meraung.


"Makanya, kamu harus belajar banyak dari ayah, Fel. Ilmu yang diberikan oleh ayah itu sangat berharga. Karena kelak, perusahaan kita akan semakin besar dan berkembang. Kamu adalah orang yang sangat penting di perusahaan nanti. Jadi, kamu tidak boleh mengeluh, harus jadi wanita yang hebat dan tidak bisa di rendahkan oleh orang lain!" Ucap Ivanna.


Seketika Felicia terdiam, ia membenarkan apa yang diucapkan oleh Ivanna.


"Hiks, tapi saya gak akan kuat, Nona!" Ucap Felicia kembali merengek.


"Harus kuat, kamu hanya belum terbiasa, Fel! Bahkan abang lebih tegas dan pemarah dibandingkan ayah!" Ucap Ivanna.


"Hiks, saya tidak percaya, Jika tuan Fajri akan seperti itu!" Ucap Felicia tidak percaya.


"Haha, kamu akan mencobanya, Fel. Mungkin beberapa hari lagi!" ucap Ivanna.


"Hiks, benarkah? Hua, Nona bagaimana ini?" Ucap Felicia.


"Gak, papa! Kamu beruntung bisa bekerja dengan banyak pimpinan, Fel! Itu suatu keberuntungan! Belajar yang banyak dari mereka, Aku yakin kamu akan menjadi perempuan yg hebat dan bisa melakukan banyak hal!" Ucap Ivanna serius.


"Baiklah, Nona! Saya akan mendengarkan nasehat, Nona!" Ucap Felicia.


"Ya sudah, sana lanjut kerja!" Ucap Ivanna terkekeh.


"Hiks, iya Nona!" Ucap Felicia mematikan panggilan.


Ivanna tersenyum, ia tau bagaimana Irfan ketika sudah bekerja. Tidak ada senyum, tidak akan ada bergurau ataupun hal konyol lainnya, yang ada hanya serius, profesional dan Perfeksionis.


Ceklek!


Carenza masuk kedalam kamar dengan wajah yang berbinar senang sambil membawa sebuah nampan yang berisikan smothies yang ia minta dari sang mertua.


"Hehehe, Maaf ya, Sayang. Kamu menungguku terlalu lama!" Ucap Carenza terkekeh dan mengecup kening Ivanna.


"Kamu dari mana saja?" tanya Ivanna cemberut.


"Hehe, aku keasikan ngobrol sama Bunda, Sayang!" Ucap Carenza tersenyum. "Ah, ini bunda membuat smothies, kamu mau coba?" Tanya Carenza berbinar.

__ADS_1


Glek!


Ah, aku takut kalau untuk mencoba makanan kamu, By!. Batin Ivanna meringis.


"Untuk kamu saja, By! Aku belum mau apa-apa!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Beneran kamu gak mau? Ini enak, sayang. Coba sedikit aja!" ucap Carenza.


"By, aku lagi hamil, gak boleh makan sembarangan!" Ucap Ivanna menolak.


"Tapi ini buah, sayang!" Ucap Carenza.


"Gak mau, By. Untuk kamu saja," Ucap Ivanna bergidik.


"Ah, baiklah. Apa kamu mau buah segar saja?" Tanya Carenza tersenyum.


"Iya, aku takut campuran yang lain gak sehat!" Ucap Ivanna menghela nafas.


"Baiklah, Aku ambilkan dulu buahnya!" Ucap Carenza kembali turun.


"Jangan lama-lama, Ya!" Ucap Ivanna tersenyum.


Carenza tersenyum dan segera keluar. Ketika membuka pintu ia berpapasan dengan Ibu yang hendak masuk.


"Ibu? Kapan datang?" Tanya Carenza berbinar.


"Baru saja," Ucap Ibu was-was, karena Fajira sempat bercerita tentang kelakuan Carenza. "Mau kemana, Za?".


"Mau ambil buah untuk Nana. Ibu masuk aja!" Ucap Carenza tersenyum.


"Iya!" Ucap Ibu mengerjabkan matanya berulang kali.


Ia memilih masuk dan melihat Ivanna tersenyum menatap karahanya.


"Ibu?" Sapa Ivanna tersenyum.


"Hai, Nak. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Ibu memeluk Ivanna.


"Baik, Bu. Ibu bagaimana kabarnya?" Tanya Ivanna terkekeh.


"Haha, Ibu Baik, Nak! Maaf ya semalam Ibu pulang gak pamitan sama Kamu!" Ucap Ibu tersenyum.


"Gak papa, Bu! semalam Nana juga sudah tidur," Ucap Ivanna tersenyum.


Ibu menatap menantunya dengan penuh kasih sayang.


"Ibu pikir kamu akan bersikap dingin dan tidak peduli kepada kami!" Ucap Ibu berkaca-kaca mengeluarkan isi hatinya.


"Gak mungkin Nana akan bersikap seperti itu. Ibu juga sama seperti bunda, kenapa harus ada perbedaan!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Ah, Terima kasih, karena kamu sudah memberikan kebahagiaan untuk ibu terutama Mas Eza mu!" Ucap Ibu.


"Sama-sama, Bu. Bagaimanapun, Ibu dan ayah sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Jadi, jangan sungkan ya, Bu!" Ucap Ivanna tersenyum sambil mengusap bahu ibu dengan lembut.


"Kamu juga, jangan sungkan untuk meminta apapun sama, Ibu!" Ucap Ibu tersenyum.


"Ah, sebenarnya Nana ada sesuatu yang Nana inginkan. Tapi pasti akan merepotkan ibu!" Ucap Ivanna lirih.


"Apa, Nak? Sini bilang sama Ibu, Selagi Ibu mampu, pasti akan Ibu penuhi!" Ucap Ibu antusias.

__ADS_1


"Hmm, Nana cuma mau tidur sambil di elus-elus sama ibu!" Ucap Ivanna tersenyum.


Ibu terkejut, namun hatinya begitu bahagia melihat Ivanna mulai berbaring dan meletakkan kepala di atas pahanya.


Tangan ibu terulur untuk mengelus kepala Ivanna dengan lembut. Ia tersenyum, walaupun sering melakukan hal ini, namun masih ada sedikit keraguan jika Ivanna keberatan ketika kepalanya di pegang oleh orang lain.


Ivanna pun juga menyadari, jika setelah menikah ia begitu sibuk dan jarang memiliki waktu untuk mengunjungi sang mertua.


"Sampai sekarang Ibu masih tidak percaya jika kamu adalah menantu, Ibu!" Ucap Ibu Alifa tersenyum.


"Hehe, karena Ibu masih melihat Nana sebagai pimpinan perusahaan, bukan sebagai wanita yang di cintai oleh Mas Eza!" Ucap Ivanna terkekeh.


"Ah, Mungkin ia. Apa lagi dengan status kamu sekarang!" Ucap Ibu tertawa.


"Nana hanya perempuan biasa, Bu! Jika Ibu melihat Nana sebagai seorang pimpinan, hanya ada rasa canggung antara kita!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Sepertinya Ibu harus meroba cara pandang Ibu. Apa kamu ingin Ibu perlakukan seperti Eza?" Tanya Ibu terkekeh.


"Haha, kalau seperti menyayangi Mas Eza gak papa, Bu. Tapi Nana gak mau berantem sama Ibu, takut kualat!" ucap Ivanna terkekeh.


"Haha," Mereka tertawa bersama.


"Hmm, Apa ada keluhan, Nak?" Tanya Ibu lembut.


"Gak ada, Bu. Hanya saja, Nana gak boleh turun dari kasur kalau bukan di gendong sama, Mas Eza!" Ucap Ivanna cemberut.


"Sabar, dia memang gitu. Kalau Ibu sakit, Eza juga akan mengurus Ibu dengan begitu baik ya sekalian dia juga ingin bermanja!" Ucap Ibu tersenyum.


"Ah, pantas saja. Aku yang hamil, Mas Eza yang manja!" Ucap Ivanna terkekeh.


"Haha, sabar ya, Nak! Itu karena Ibu yang terlalu memanjakannya!" Ucap Ibu merasa tida enak.


"Gak papa, Bu! Justru Nana senang, karena Mas Eza berhasil membuat sifat dingin Nana mencair. Walaupun masih dingin dan ketus sama orang luar!" Ucap Ivanna terkekeh.


"Kalian memang saling melengkapi!" Ucap Ibu.


Ceklek!


Caranya masuk kedalam kamar sambil membawa beberapa buah-buahan yang sudah di kupas. Ia cemberut karena merasa sedikit cemburu kepada Ivanna, mengingat sang Ibu sudah lama tidak mengelus kepalanya.


"Bu, Eza juga mau seperti itu!" Ucap Carenza naik keatas ranjang setelah meletakkan buah itu.


"Aih, sana. Kaki Ibu gak kuat nahan kepala kamu yang besar itu!" Ucap Ibu mendelik.


"Ih, Ibu pilih kasih!" Ucap Carenza yang semakin cemberut.


"Biarin," Ibu mendelik dan melihat kearah Ivanna yang tengah tertawa. "Istirahatlah, Nak! Jangan hiraukan suamimu!" Ucap Ibu lembut.


"Ih, Ibu!" Ucap Carenza kesal. "Anak Ibu itu aku, bukan,!".


"Ssttt!" Ucap Ibu membekap mulut Carenza yang tidak mau diam. "Ivanna anak Ibu sekarang!" Ucapnya mengecup kening Ivanna.


Carenza membulatkan mata, sebenarnya ia hanya ingin berdebat dengan sang Ibu. Hatinya begitu senang melihat kedekatan mereka yang terlihat tanpa adanya batasan.


Mungkin jika aku menikahi perempuan lain, belum tentu mereka akan menerima Ibu seperti ini. Batin Carenza tersenyum.


Ia memilih untuk berbaring di samping Ivanna dan memeluk sangat istri dengan begitu manja. Sehingga membuat Ibu mendelik sebal melihat tingkah Carenza.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2