IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Noah Wiliam Hartono


__ADS_3

Carenza mencolek-colek kaki Ivanna karena merasa tidak di hiraukan oleh sang istri.


"Baby? Kamu sudah bangun?" Tanya Ivanna tersenyum dan kembali berkaca-kaca ketika mengingat bayangan Jordan menendang punggung sang suami hingga patah.


"Sudah dari tadi, Sayang! Bagaimana keadaanmu?" Tanya Carenza lirih.


"Aku sudah lebih baik, Mas! Baby boy juga sudah terlelap. Sepertinya dia juga memiliki lambung yang sensitif sepertiku!" Ucap Ivanna lirih dan tersenyum.


Ia mengelus kepala Carenza dengan lembut. Mereka saling melempar senyuman dengan rasa rindu yang begitu membuncah, menyeruak keluar serasa ingin di lampiaskan.


"Sudah, jangan pandang-pandangan dulu! Nanti kebablasan, kan gak bisa ngapa-ngapain!" Ucap Ibu Alifa tersenyum karena mengerjai mereka.


"Ish, Ibu kenapa sih, namanya juga udah lama gak ketemu!" Ucap Carenza cemberut.


Semua orang tertawa, sementara Ivanna hanya tersenyum manis menatap sang suami.


"Apa ayah suah melihat baby boy?" Tanya Ivanna kembali berkaca-kaca.


"Sudah Bunda, Ayah sudah melihat baby boy yang begitu tampan, karena mirip denganmu!" Ucap Carenza tersenyum.


"Iya, begitu malang nasib baby kita!" Ucap Ivanna mulai terisak.


"Sudah, nak. Semuanya sudah berlalu, sekarang kita semua sudah kembali berkumpul. Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini dan membuat kita terpisah!" Ucap Fajira tersenyum.


"Aamiin, semoga saja!" Ucap Mereka semua.


"Abang mana, Bunda?" Tanya Ivanna yang baru menyadari jika Fajri tidak ada di antara mereka.


"Abang masih berada di sana untuk mengurus kasus ini, sayang. Katanya dua hari lagi akan pulang!" Ucap Fajira.


"Tapi abang gak kenapa-napa kan?" Tanya Ivanna khawatir.


Ia mengingat jika Fajri datang menjemputnya dengan berlumuran darah mulai dari kepala hingga ke sepatu.


"Gak papa, Abang baik-baik saja!" ucap Safira tersenyum.


Mereka semua percaya dengan ucapan Fajri, namun tidak dengan Ivanna. Ia dengan jelas melihat Fajri tengah meringis kesakitan waktu datang menemuinya.


Apa mungkin abang sengaja menutupi semuanya agar tidak membuat yang lain panik? Semoga abang memang baik-baik saja!. Batin Ivanna.


"Sayang, Aku mau lihat baby boy!" Ucap Carenza.


"Gimana mau lihatnya, Mas? Kamu lagi susah untuk duduk!" Ucap Ivanna.


"Aku bisa duduk, Sayang!" Ucap Carenza.


Ia meminta tolong kepada sang Ayah agar bisa membantunya. Dengan perlahan Carenza bisa duduk sambil bersandar pada headbord kasur dan tersenyum sambil merentanngkan tangan.


Fajira menggendong baby boy dan menyerahkannya kepada Carenza. "Hati-hati, Nak!" Ucapnya tersenyum.


Wajah Carenza berbinar senang dengan mata yang berkaca-kaca ketika melihat pria kecil nan tampan itu berada di dalam gendongannya.


"Anak ayah sayang!" Panggil Carenza tercekat "Ayah sudah membawa Bunda pulang dengan selamat! Nanti, kalau udah besar, harus jadi pria kuat dan pemberani ya nak!" sambungnya dengan air mata yang menetes.


"Eh, Babynya belum dikasih nama!" Celetuk Ibu memecah keharuan yang ada.


"Ah, iya. Mas, siapa nama baby kita?" Tanya Ivanna tersenyum.

__ADS_1


"Sayang, Anak ayah yang paling tampan. Sekarang, Ayah dan Bunda memberikanmu nama, Noah. Noah Wiliam Hartono!" Ucap Carenza tersenyum.


"Noah? Nama yang indah!" Ucap Ayah Hartono.


Nayla tersenyum manis menatap sang adik yang sudah terlelap di dalam pelukan Carenza.


"Hihihi, Lala tetap yang paling cantik!" Ucap Nayla tersenyum bahagia.


"Ihh, Bunda cepat sembuh ya, biar bisa punya adik cewek!" Ucap Naren mendelik sambil memijat kaki Ivanna.


"Ih, Naren gak boleh gitu! bilang aja iri karena ada saingan!" Ucap Nayla kesal.


"Naren gak iri kok, Justru abang senang karena punya saudara laki-laki banyak. Coba kalau sendiri? Perusahaan sebesar itu siapa yang mau mengelola? Lala mau?" Ucap Naren mendelik.


"Gak, mau! Lala nanti mau jadi seperti Oma! Jadi dokter cintanya Opa!" Ucap Nayla tertawa.


"Hahaha," Semua orang tertawa mendengarkan celotehan Nayla.


Ivanna memanggil Atim dan menatap wanita itu dengan penuh bangga.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Ivanna tersenyum.


"Saya baik, Nona. Justru saya yang harus bertanya kepada Anda! Maaf, Saya tidak bisa...," Ucap Atim.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik! Jangan merasa bersalah lagi!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Terima kasih, Nona," ucap Atim tersenyum. "Hmm, gadis itu sudah saya beri pelajaran, Nona!" Ucapnya lagi.


"Oh ya? Apa dia masih ada?" Tanya Ivanna.


"Masih, Nona. Tuan Fajri melarang saya!" Ucap Atim.


"Bunda ada yang di sembunyikan dari abang? Apa abang belum boleh tau, karena masih kecil?" Tanya Naren lirih sambil menatap Ivanna dengan lekat.


"Iya, sayang. Ada hal yang boleh abang ketahui dan ada yang belum boleh!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Apa harus menunggu Abang besar dulu, baru bisa mengetahui semuanya?" Tanya Naren.


"Iya, sayang. Sekarang yang penting, Abang dan kakak belajar dengan rajin, gak boleh ngeluh dan harus bersikap baik. Agar nanti kalau besar bisa menjadi anak yang berguna dan menggantikan Daddy, ataupun Bunda nanti!" Ucap Ivanna tersenyum sambil mengelus kepala Naren dengan lembut.


"Iya, Bunda! Abang akan selalu mengingat kata-kata bunda!" Ucap Naren tersenyum dan memeluk Ivanna.


Noah sudah terlelap dan sesekali tersenyum, namun ia seperti tidak ingin lepas dari orang tuanya karena merasa begitu rindu. Sehingga Ivanna dengan pasrah memangku sang anak dan juga membaringkannya sesekali.


Satu persatu orang mulai meninggalkan kamar untuk beristirahat. Hanya tersisa, Atim didalam kamar.


"Bisa tolong kunci pintu sebentar, Mbak?" Ucap Ivanna.


"Baik, Nona!" Ucap Atim yang paham maksud Ivanna.


"Bagaimana keadaan sebernarnya?" Tanya Ivanna serius.


"Chelsea sudah saya pukul hingga babak belur! Namun hati saya masih belum puas, Nona. Itu pun saya susah untuk meminta izin. Sementara Tuan Jordan, kedua belah kakinya harus di amputasi karena anda menembak tepat di bagian engselnya!" Ucap Atim.


"Apa abang terluka?" Tanya Ivanna.


"Maaf Nona, saya tidak boleh memberitahukannya!" Ucap Atim dengan wajah menyesal. "Kini semuanya tengah di urus oleh Tuan Fajri, Nona!" Sambungnya.

__ADS_1


"Bagaimana hubunganmu dengan Bryan? Saya bisa melepaskanmu untuk memulai hidup yang baru. Lupakan masa lalu dan capailah apa pun yang kamu inginkan!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Saya belum memikirkannya, Nona. Izinkan saya untuk selalu berada di samping anda!" Ucap Atim menunduk.


"Baiklah, saya tidak memaksa! Tetapi jika kamu ingin lepas, pergilah. Rumah ini akan selalu terbuka untukmu!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Terima kasih, Nona!" Ucap Atim.


"Terima kasih juga karena sudah mau bertaruh untuk menyelamatkan saya!" Ucap Ivanna.


"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Nona. Jangan berterima kasih!" Ucap Atim.


"Tidak, saya memang harus berterimakasih untuk itu. Kamu boleh meminta apa saja selama satu hari ini!" Ucap Ivanna.


Atim termagu, apa ia salah dengar atau ivanna memang mengucapkannya.


"Apa Anda serius, Nona?" Tanya Atim.


"Serius!" Ucap Ivanna.


Ia mengambil back card dari dalam dompet dan menyerahkannya kepada Atim. "Pergilah berbelanja semua keperluanmu!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Saya tidak membutuhkan itu, Nona!" Ucap Atim menolak.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Ivanna.


"Maaf, jika ini terdengar lancang, Nona. Tetapi saya hanya ingin memeluk anda sekali saja, Apa boleh?" Tanya Atim.


Ivanna tersenyum, "Tentu saja!" Ucapnya sambil merentangkan tangan.


Atim dengan ragu memeluk Ivanna dengan lembut. "Saya merasa begitu lega melihat anda baik-baik saja!" Ucapnya meneteskan air mata.


"Saya baik-baik saja karena kamu selalu ada, Mbak!" Ucap Ivanna mengelus lembut punggung Atim.


"Terima kasih banyak, Nona!" Ucap Atim melepaskan pelukan Ivanna yang terasa begitu nyaman.


"Sama-sama! Ini peganglah, anggap saja bonus dari saya!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Baik, Nona. Terima kasih!" Ucap Atim menatap kartu itu.


Padahal ia memiliki satu kartu untuk membeli semua keperluan Ivanna didalam rumah.


Ia berpamitan keluar untuk melakukan beberapa pekerjaan yang sudh menumpuk karena kepergiannya.


Tepat ketika ia membuka pintu, Felicia datang dengan tergesa-gesa dan juga menangis.


"Hiks, Nona. Saya merindukan Anda!" Ucap Felicia masuk dan langsung memeluk Ivanna.


"Felicia, kamu apa kabar!" Tanya Ivanna tersenyum.


"Hiks, saya tidak bisa fokus bekerja lagi karena anda hilang, Nona!" Ucap Felicia menangis.


Atim segera menarik gadis itu agar bisa terpisah dari Ivanna, sehingga membuatnya cemberut kesal


Mereka kembali mengobrol untuk melepas rasa rindu. Sementara Carenza yang sudah terbaring langsung terlelap karena merasakan usapan lembut dari Ivanna.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2