IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Begitu Beruntung


__ADS_3

Di restoran, Tono termagu dengan air mata yang mengalir tanpa bisa dicegah. Saat ini, Ia sudah berada di dalam ruangannya, sehingga tidak ada yang mengetahui jika ia tengah menangis.


Ya tuhan, semudah ini engkau menaikkan derajatku? Sungguh aku begitu beruntung mendapatkan Ivanna. Sehatkan dia selalu, dan bantulah permasalahannya agar bisa selesai dengan baik!. Batin Tono terharu.


Ia semakin mencintai Ivanna dengan segala ketulusan hati yang dimiliki oleh gadis cantik itu. Tubuh tegap Tono luruh ke lantai, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Saham 5 persen di sana itu seharga 800 miliar? ya tuhan, aku membeli saham 10 persen hanya seharga 3,5 miliar!" ucap Tono terisak.


"Terima kasih, sayang. Kamu sudah membuat aku selalu merasa kuat!" ucap Tono menatap foto mereka yang terpampang besar di dalam ruangannya.


"Aku harus bekerja lebih giat lagi! Walaupun aku memiliki saham di perusahaan Nana, buka berarti aku bisa bermalasan!" ucap Tono dengan tekat yang begitu kuat.


"Aku akan benar-benar memecahkan rekor muri setelah ini!" Ia mengambil laptop dan menghubungi perusahaan properti yang tengah membangun cabang restonya, untuk menambah lima belas cabang lagi dengan semua sisa tabungan yang ia miliki.


"Aku pastikan, mereka tidak akan mampu untuk menyentuhku dengan cara apapun! Aku akan berdiri dengan usahaku sendiri!" ucap Tono mengecup cincin yang bertuliskan nama Ivanna di sana.


Hingga sore menjelang, ia kembali berkutat dengan semua peralatan dapur, membuat beberapa cemilan dan makan untuk gadis cantiknya.


Ketika asik memasak, ponsel Tono berdering. Ia mengernyit bingung, tidak ada orang yang pernah menghubunginya saat jam segini.


Ibu?. Batin Tono.


"Halo, Bu?" sapanya.


"Halo, Za. kamu di mana, nak?" tanya Ibu Tono.


"Aku lagi di resto, Bu. Eza lagi masak. Ada apa, Bu?" tanya Tono mengernyit.


"Ibu baru melihat berita, semua orang membicarakan perusahaan Dirgantara. Bukankah, perusahaan itu yang sedang membangun kandang ternak kita, nak?" tanya Ibu.


"Iya, Bu! Ada apa emangnya?" tanya Tono mengernyit.


"Apa tidak bisa di batalkan? Ibu takut jika...,"


"Bu, Itu hanya fitnah. Ada orang yang ingin menghancurkan nona Ivanna, Bu. Belum ada sejarahnya perusahaan Dirgantara mengalami kegagalan. Jadi ibu jangan risau, ya!" ucap Tono lembut.


"Apa kamu yakin, nak? bagaimana kamu tau?" tanya Ibu mengernyit.


"Eza mengenal Nona Ivanna, Bu!" ucap Tono.


"Kamu jangan bercanda, Za!" ucap Ibu terkejut.


"Ibu gak percaya? ya sudah. Tapi kalau Eza membawa calon menantu Ibu, apa ibu percaya?" tanya Tono tertawa.


"Sudah ada, nak?" tanya Ibu antusias.


"Sudah, Bu! Tapi Ayahnya belum mengizinkan untuk menikah!" ucap Tono lirih.


"Ah, tidak apa. Yang penting calonnya ada dulu! Jadi ini gak risau karena mikirin kamu normal apa tidak!" ucap Ibu.


Tono mendelik, entah bagaimana Ibunya bisa memiliki pemikiran seperti itu. "Eza masih normal, Bu!" ucapnya.


"Hahaha, ya sudah! Tapi kamu yakin kalau kandang kita akan bagus? gak akan roboh 'kan?" tanya Ibu lagi.


"Yakin, Bu! Bahkan Eza bisa membawa Nona Ivanna ke hadapan Ibu, jika masalahnya sudah selesai!" ucap Tono.


"Jangan bercanda! Sudah sana lanjut kerjanya!" ucap Ibu kesal.


"Iya, Bu. Selamat sore, Nyonya!" ucap Tono mematikan panggilannya.


Punya Ibu satu, tingkahnya beragam. Batin Tono tersenyum.

__ADS_1


Ia melanjutkan masakannya yang hampir jadi dan mengantarkan ke perusahaan Ivanna nantinya.


🌺🌺


Sementara di kantor, mereka sudah bisa bernafas lega, ketika semua bukti sudah lengkap terkumpul. Pak Pandu, ditemani oleh Joe dan beberapa anak buah yang lain segera pergi menuju kantor polisi untuk membuat laporan dengan tuntutan yang sangat banyak.


Di pastikan mereka akan mendekam cukup lama di penjara dengan denda yang sangat banyak dan ganti rugi yang akan menguras semua harta mereka.


Felicia sudah memberikan konfirmasi kepada para wartawan jika konferensi pers akan di adakan dalam beberapa hari kedepan.


"Setiap media cetak akan kami kirimkan undangan, untuk menghadiri pertemuan besok. Paling lambat konferensi pers akan kami adakan dalam 2 atau 3 hari mendatang. Mohon bersabar dan tidak membuat


onar, atau kami akan mengerahkan pihak yang berwajib untuk membubarkan rekan-rekan semua, karena kerumunan ini sangat mengganggu aktivitas perkantoran kami! Terima kasih. Mohon di pahami dengan sangat! Permisi!" ucap Felicia tegas dan membuat semua wartawan terdiam mendengarkannya.


Ia kembali masuk ke dalam gedung dengan perasaan yang bercampur, gemetaran takut dan rasa bangga, karena bisa mewakili perusahaan untuk berbicara di depan semua wartawan.


Tanpa menghiraukan semua pertanyaan yang terlantar dari mulut para wartawan, ia bergegas untuk kembali ke ruangan CEO dimana mejanya berada.


Sementara di dalam kamar, Fajira tersenyum sambil mengusap kepala Ivanna yang sudah terlelap dengan lembut. Gadis cantik itu menangis tersedu tepat ketika semua berkas telah lengkap dan Fajira datang sambil merentangkan tangannya.


Sudah hampir dua jam gadis itu terlelap, Bahkan Ivanna belum memakan bekalnya siang ini. Dengan terpaksa ia harus membangunkan Ivanna agar gadis cantik itu bisa mengisi perutnya sedikit saja.


"Dede, bangun, sayang!" ucap Fajira tersenyum.


"Engh, dede masih ngantuk, Bunda! Bentar lagi ya!" ucap Ivanna lirih dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Tapi Dede belum makan, sayang! Felicia juga belum makan tuh!" ucap Fajira.


"Iya, Bunda?" ucap Ivanna terkejut.


"Iya, tadi sudah Bunda suruh, katanya mau nunggu kamu bangun aja!" ucap Fajira.


Ia keluar dari ruangan dan melihat sang ibunda tengah menata hidangan di atas meja bersama dengan Felicia.


"Fel, apa wartawannya sudah pergi?" tanya Ivanna.


"Sudah, Nona. Sepertinya masih ada beberapa yang berkeliaran di sekitar sini, anda harus berhati-hati!" ucap Felicia.


Ivanna berjalan ke arah jendela kaca, ia melihat kebawah, dan benar saja ada beberapa wartawan yang masih menunggu dan mengintainya.


"Kamu hati-hati ketika pulang nanti!" ucap Ivanna.


"Baik, Nona! Pak Pandu baru saja menelfon, jika laporan kita sudah di terima dan sedang di proses, Nona! Kita bisa mengadakan konferensi pers besok sore!" ucap Felicia.


"Huft, syukurlah! Persiapkan semuanya!" perintah Ivanna.


"Baik, Nona!"


Mereka segera menyantap makanan itu dengan lahap. Fajira tiba-tiba saja pulang karena Fajri menelfon dan mengatakan jika Safira harus di larikan ke rumah sakit karena kekurangan cairan.


"Hati-hati, Bunda!" ucap Ivanna tersenyum manis.


"Iya, sayang! Jangan nangis lagi!" ucap Fajira tersenyum dan mengecup wajah Ivanna sampai puas.


"Iya, bunda! Love You!" ucap Ivanna melambaikan tangannya.


"Love You to, sayang!" ucap Fajira memasuki lift.


Ia kembali masuk ke dalam ruangan dan kembali menyantap makanannya. Hingga dering ponsel memecah keheningan di dalam ruangan itu.


"Halo, Baby?" sapa Ivanna senang.

__ADS_1


"Aku sudah di bawah, sayang! Apa aku boleh naik?" tanya Tono.


"Iya, naik saja! Apa kamu bertemu dengan, Bunda?" tanya Ivanna.


"Ia, baru saja, sayang. Bunda buru-buru tadi!" ucap Tono menaiki lift.


"Iya, kakak di bawa ke rumah sakit, By. Kata abang, dari pagi kakak gak berhenti mual!" ucap Ivanna.


"Ah, nanti kita besuk ya!" ucap Tono melangkah keluar dari lift.


"Iya, By. kamu sudah sampai?"


"Sudah, sayang. Aku matikan ya!" ucap Tono langsung mematikan panggilannya.


Ceklek....


"Baby?" panggil Ivanna dan langsung memeluk Tono dengan erat.


"Sayang! Are You oke?" tanya Tono.


"Hmm, aku baik! Duduk dulu, By!" ajak Ivanna.


Mereka duduk di sofa, Felicia tiba-tiba saja menjadi salah tingkah karena berada di antara Tono dan Ivanna.


Aduh sial banget, mana aku belum kenyang! Masa iya aku ngenes melihat mereka berpacaran!. Batin Felicia menyedihkan.


"Ah, iya. Baby, kenalkan ini Felicia, asistenku!" ucap Ivanna tersenyum manis menatap Tono.


"Hai, Felicia! Tolong jaga dan awasi Ivanna ya, Jangan sampai dia nakal ketika di luar!" ucap Tono terkekeh geli melihat wajah cantik Ivanna yang cemberut.


"Senang bertemu dengan anda, Tuan!" ucap Felicia kikuk dan merasa tidak enak untuk melanjutkan makannya.


"Makan saja, jangan hiraukan kami!" ucap Ivanna membaca ekspresi gadis itu.


"Ba-baik, Nona!" ucap Felicia bernafas lega.


Ivanna berdiri dan mengambil sebuah berkas yang berisikan perjanjian pembelian saham atas nama Tono.


"Ini berkasnya, By! Selamat, ya!" ucap Ivanna menatap manik mata Tono dengan lekat.


"Sayang!" ucap Tono lirih dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


Ia memegang berkas itu dengan tangan yang gemetaran. Membaca namanya tertera di sana dengan indah.


"Terima kasih, sayang!" ucap Tono lirih.


"Sama-sama! Kamu harus semakin bekerja keras, By. Jangan sampai karena ini, kamu menjadi malas untuk bekerja!" ucap Ivanna tersenyum sambil mengelus lengan Tono.


"Iya, sayang! Terima kasih. Aku begitu beruntung mendapatkan kamu! Aku mencintaimu Ivanna!" ucap Tono yang sudah terisak sambil memeluk Ivanna.


"Sama-sama! Jangan nangis ih, malu!" ucap Ivanna terkekeh namun matanya juga ikut berkaca-kaca.


Sementara Felicia hanya bisa menahan hati, karena menyaksikan adegan haru dari pasangan yang paling romantis se noveltoon ini.


Astaga nasibku, huaa!. Batin Felicia menjerit


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Sabar ya Fel πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2