IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Dua Bocil Yang Mengemaskan


__ADS_3

Ivanna Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju pulang ke rumah. Ia sudah membeli beberapa makanan kesukaan keponakan kembarnya yang sudah berusia 5 tahun. Dengan senyum yang mengembang, ia bersemangat jika sudah di hadapapkan dengan dua bocil yang begitu mengemaskan itu.


Hingga perlahan mobil memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan pintu utama rumah mewahnya. Ia segera keluar, tak lupa membawa beberapa kantong kresek dengan senyum bahagia.


"Bocil, Nana pulang!" teriak Ivanna setelah membuka pintu.


Naren dan Nayla yang mendengarkan suara Ivanna langaung berlari mengejar aunty cantik mereka


"Nana!" teriak Naren dan Nayla.


Mereka berpelukan seperti ibu dan anak yang sudah lama tidak bertemu.


"Nana, lala kangen!" ucap Nayla yang begitu lengket dengan Ivanna.


"Naren juga!. Nana kenapa pulangnya lama?" tanya Naren melepaskan pelukannya secara perlahan dan menatap Ivanna.


"Nana 'kan sekarang udah gantiin Opa untuk bekerja, makanya Nana sibuk! Maafin, Nana ya!" ucap Ivanna dengan rasa penuh bersalahnya.


"Nana, jagan sedih! 'kan Nana cari uang untuk jajan, untuk beli baju, untuk beli rumah!" ucap Nayla memeluk Ivanna erat.


"Iya, sayang. Nana cari uang untuk beli kue kesukaan lala dan Naren. Mau 'kan?" tanya Ivanna senang.


"Mau!" teriak Naren dan Nayla bersemangat.


"Hahaha, sekarang kita ke ruang makan, yuk! Habis ini Nana mandi dulu, terus kita belajar ya, oke?" ucap Ivanna tersenyum sambil menggandeng si kembar.


"Oke!" ucap mereka kompak.


Mereka segera pergi ke ruang makan untuk menghabiskan cemilan yang di bawa oleh Ivanna. Sambil tertawa, entah apa yang tengah di bicarakan, bahkan suara mereka sampai terdengar hingga ke ruang kerja Fajri.


Fajira yang mendengar keributan dari arah meja makan, segera menyusul. Ia hanya menggeleng ketika melihat tingkah Ivanna yang hampir sama dengan dua bocil itu.


"Kamu sudah jadi CEO masih aja seperti bocil, dek!" ucap Fajira menggeleng.


Ivanna hanya menyengir menatap Fajira sambil menggaruk tengkuknya.


"Oma mau ini?" tanya Naren.


"Apa itu, sayang?" tanya Fajira mengernyit.


"hmm ..." Naren memperhatikan makanan yang ia makan,


"Apa ini, Na?" tanya Naren memperlihatkan tahu brontak yang berisikan telur puyuh.


"Itu, tahu berantem, apa tadinya kata bapaknya, Nana lupa!" ucap Ivanna memakan dimsum yang ia beli di toko langganannya.


"Jangan banyak-banyak makannya! nanti alerginya kambuh, terus bisa gatal-gatal loh!" ucap Fajira memperingatkan.


"Okey, Oma!" ucap Mereka berbinar.


"Na, Lala mau coba itu!" ucap Nayla meminta makanan Ivanna.


"La, panggil aunty! gak boleh panggil Nana saja, sayang!" ucap Fajira memperingati.

__ADS_1


"Nana yang suluh, Oma!" ucap Nayla cemberut.


"Gak papa, Bunda. Kan lucu mereka panggil Nana aja!" ucap Ivanna menyuapi Nayla.


"Itu gak sopan, sayang!" ucap Fajira menatap Ivanna sambil mendengus.


Ivanna memang mengajarkan Naren dan Nayla untuk memanggilnya dengan panggilan Nana, karna itu terdengar lebih imut dan lucu.


"Nana, Oma benal. Itu gak sopan!" ucap Nayla mengernyit.


"Kan, Nana yang minta, sayang. Jadi gak papa!" ucap Ivanna mengelus kepala Nayla dengan lembut.


"Nana, Gak boleh gitu! Kata Daddy, sebagai anak yang baik, Kita halus mengholmati olang yang lebih dewasa. Jadi, mulai hali ini, Lala akan memanggil Nana dengan sebutan, Tina!" ucap Nayla bijak dengan cara bicaranya yang masih cadel.


"Tina? kok jadi Tina, la? Nana gak suka ih!" ucap Ivanna cemberut.


"Tina, itu Aunty Nana! Jadi, lala akan memanggil Nana, sebagai Tina. Tina Toon, hahaha" ucap Nayla menggoyangkan kepalanya khas Tina Toon.


"Hahaha," Fajira tertawa puas melihat Nayla yang tengah memberikan nama baru untuk Ivanna.


"Ah, Nana gak mau. Panggil Nana aja! Gak mau di panggil Tina!" ucap Ivanna kesal sambil cemberut.


"Hahah. Kamu tau, sayang. Cuma Lala yang bisa menistakan CEO besar!" ucap Fajira masih terkekeh.


Sore itu, mereka habiskan untuk mencari panggilan baru Ivanna. Memang, kehadiran Naren dan Nayla, sangat menghidupkan suasana rumah mewah dan besar itu.


Dengan sifat yang berbeda, membuat mereka saling melengkapi satu sama lain. Naren yang mewarisi sifat Fajri, tak jarang membuat Nayla menangis karena kejahilan saudara kembarnya.


Sementara Nayla, tumbuh menjadi gadis yang ceria. Perlahan ia bisa mencairkan sifat dingin Ivanna yang sudah mendarah daging. Mereka begitu dekat, karena Ivanna sering membawa gadis itu kemanapun ia pergi.


"Ah, aku belum melihat Ayah hari ini!" ucap Ivanna bergegas menyelesaikan ritual mandinya dan pergi ke kamar Irfan.


Tok,... tok,... tok,...


"Ayah?" panggil Ivanna.


"Masuk, sayang!" ucap Irfan dari dalam.


Ivanna perlahan membuka pintu kamar Irfan dan terlihatlah, tubuh lemah Irfan tengah duduk di atas kasur sambil bersandar. Dengan senyuman, ia merentangkan tangannya menyambut Ivanna dengan sebuah pelukan.


"Bagaimana keadaan, Ayah?" tanya Ivanna sambil memejamkan matanya di dalam pelukan Irfan.


"Ayah sudah semakin baik, sayang! Bagaimana hari pertamamu menjadi CEO?" tanya Irfan terkekeh.


"Baik, Yah! semuanya berjalan dengan baik!" ucap Ivanna.


Ia menceritakan semua tentang apa yang telah terjadi seharian ini. Ivanna juga menceritakan jika ia juga menerima proyek kecil untuk membantu teman lama. Irfan hanya tersenyum antusias mendengarkan cerita Ivanna.


Ia sudah mengetahui semuanya dari Pandu, termasuk permintaan Ivanna untuk mendapatkan asisten perempuan.


"Lakukan apapun yang ingin Dede lakukan! Tapi ingat, pikirkan juga risiko yang akan Dede dapat setelah mengambil keputusan nanti!" ucap Irfan tersenyum sambil mengelus kepala Ivanna.


"Iya, Ayah! Dede bosan, kalau harus berkutat dengan semua berkas-berkas itu. Jenuh! rasanya mau Dede lempar aja mereka semua dari jendela. Heran, gak ada habis-habisnya!" keluh Ivanna.

__ADS_1


"Seperti itu lah kerjaan Ayah setiap hari, sayang. Yang penting dede harus ingat, ada ratusan ribu orang yang bekerja pada kita, sayang. Jangan karena kamu lalai atau salah mengambil keputusan, mereka kahilangan pekerjaan dan berdampak besar di dalam hidup mereka!" ucap Irfan.


"Iya, Ayah. Nana akan ingat pesan, Ayah." ucap Ivanna kembali memejamkan matanya karena merasakan usapan yang begitu lembut dari tangan sang ayah.


Tanpa di sadari, Ivanna terlelap di dalam pelukan Irfan. Terdengar dengkuran halus keluar dari mulut Ivanna. Pria tampan itu tersenyum, gadis kecilnya kini sudah dewasa dan bahkan sudah mampu untuk menggantikannya. Walaupun ada rasa tidak rela, namun harus bagaimana lagi, Ada tanggung jawab besar yang harus mereka jalani.


"Mas?" panggil Fajira yang baru saja masuk ke kamar dengan membawa nampan yang berisi cemilan sehat untuk suaminya.


"Sstt, anak gadisku sedang tidur, sayang!" ucap Irfan berbisik.


"Aku panggil Fajri, saja. Itu kasihan, nanti punggung Ivanna bisa sakit, dada kamu juga sakit nanti, sayang!" ucap Fajira mengernyit.


"Gak usah, sayang. Biarkan saja!" ucap Irfan tersenyum dan mengecup kepala Ivanna dengan lembut.


"Mas!" seru Fajira yang khawatir.


"Gak papa, sayang! Apa kamu mau aku peluk juga?" tanya Irfan dan sukses membuat wajah Fajira memerah.


"Nah kan! Bilang aja kalau kamu juga pengen di peluk!" ucap Irfan terkekeh pelan.


"ihh!" Fajira mendelik kearah suaminya.


Sementara di perpustakaan, Naren dan Nayla sudah siap menunggu Ivanna yang tak kunjung datang. Mereka sudah membaca buku pelajaran untuk besok, namun aunty mereka tak kunjung datang.


"Nayen, kok Tina belum datang ya?" tanya Nayla mengernyit.


"Iya, Apa Tina udah tidur? Kita lihat ke kamarnya yuk!" ucap Naren mengajak Nayla.


Mereka berjalan sambil bergandeng tangan, menapaki anak tangga satu persatu menuju kamar Ivanna, namun mereka berpapasan dengan Fajira yang hendak turun ke bawah.


"Kemana, Sayang?" tanya Fajira lembut.


"Wah, Nyonya besal. Kami mau ke kamal Tina. hahaha," ucap Nayla usil dan tertawa.


"Kamu anak siapa sih? Mulutnya, astaga,l!" ucap Fajira gemas.


"Hehehe, anak Tuan muda Fajri dan dan Nyonya muda Safira!" ucap Nayla dan Naren kompak.


"Astaga!" Fajira meringis melihat kelakuan cucu kembarnya yang lebih berbahaya di bandingkan Fajri dan Ivanna waktu kecil.


"Hehe, kami pergi dulu Oma!" ucap mereka kompak.


"Eh, mau kemana, sayang? Tina ada di kamar Oma. lagi bobo!" ucap Fajira.


"Kan, betul kataku. Tina pasti capek, terus ketiduran!" ucap Naren kepada Nayla.


"Telus gimana?, Daddy dan Mommy juga balu pelgi!" keluh Nayla.


"Belajar sama Oma aja yuk!" Ajak Fajira.


"Yuk, Oma!" ucap Nayla berbinar senang.


Mereka kembali turun dan melangkah menuju perpustakaan untuk belajar bersama sambil menunggu waktu makan datang.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2